
Happy reading 😍
...🌹🌹🌹🌹🌹...
"Mari Jeanny, aku antar pulang." Andi menawarkan diri untuk mengantar Jeanny pulang.
"Terima kasih, tapi. Aku pulang sendiri saja, rumahku tidak jauh dari sini." tolak Jeanny dengan halus, karena dia tidak ingin merepotkan Andi. Karena dia belum begitu mengenal sosok Andi.
"Walaupun belum terlalu malam, tidak baik gadis sendirian didalam taxi. Sekarang sering terjadi kejahatan didalam taxi, bukan aku ingin menakut-nakuti ya," kata Andi.
Jeanny belum menanggapi perkataan Andi, dia celingukan menatap jalan raya yang terlihat mulai sepi. Karena jalanan ini jalan menuju komplek perumahan, sehingga tidak seramai jalan raya utama.
"Ayo Jeanny, kau tidak di mana. Mungkin saja rumah kita searah," kata Andi.
Jeanny menyebutkan alamat rumahnya kepada Andi.
"Ini perumahan dekat jembatan yang sudah tidak terpakai lagi itu kan?" tanya Andi.
"Iya, lewat dari jembatan itu," ucap Jeanny.
"Ayo, rumah kita searah. Aku tinggal di perumahan sebelum jembatan itu," kata Andi.
"Perumahan Luxor?" tanya Jeanny.
"Iya," sahut Andi.
"Duluan Luxor, aku di perumahan Mutiara," kata Jeanny.
"Ternyata kita bertetangga," ujar Andi.
"Ayo Jeanny, makin lama di sini makin habis darah kita diisap nyamuk." Andi berkali-kali memukul nyamuk yang nemplok di wajah dan lengannya.
Jeanny tertawa melihat Andi sibuk memukul nyamuk yang nempel di kulitnya.
Andi dan Jeanny naik kedalam mobil.
"Aku merepotkan lagi ini," ujar Jeanny.
"Aku senang direpotkan gadis cantik sepertimu," ujar Andi seraya melirik Jeanny yang duduk di sampingnya.
"Ternyata, Mas Andi suka menggombal ya! Jeanny panggil Mas ya, karena Mas itu lebih tua dari Jeanny," kata Jeanny.
"Iya, mau panggil Mas boleh. Abang boleh, asal jangan panggil Om ya. Karena aku bukan Om.. Om," ucap Andi.
Jeanny tertawa, karena Andi orang yang sangat humoris. Sehingga, Jeanny selalu tertawa jika Andi bergurau.
"Mas ini seperti pelawak saja," ucap Jeanny.
"Dulu, cita-cita mau jadi pelawak. Tapi, setiap naik panggung saat ada lomba lawak. Penonton tidak ada yang tertawa," ucap Andi.
"Mas, rumah yang ujung itu," ujar Jeanny, saat mobil yang dikemudikan oleh Andi memasuki perumahan Mutiara.
Mobil berhenti didepan rumah Jeanny.
"Tidak ngundang mampir ya Mas, sudah malam," kata Jeanny.
"Tidak apa-apa, semoga besok-besok jika aku datang di undang masuk ya," kata Andi.
"Iya Mas, terima kasih ya. Sudah bantu Jeanny."
"Bantuan kecil, besok bisa ke bengkel sendiri?" tanya Andi.
"Bisa Mas, sekali lagi. Terima kasih ya Mas," ucap Jeanny, sebelum mobil yang dikemudikan oleh Andi berlalu.
🌹🌹
Derrt...
Suara bel apartemen Agra berbunyi, dengan mulut ngedumel. Agra berjalan dengan langkah pelan membuka pintu apartemen.
"Siapa tamu yang datang tak diundang? menyebalkan sekali. sudah ini masih sakit," ucap agak dengan kesal sembari melangkah ke arah pintu.
Pintu terbuka, dua wajah yang tidak diharapkannya tepat berada didepannya.
"Betulkan, dia pasti berada di apartemennya," kata Michael.
"Kenapa kalian datang?" tanya Agra
"Kenapa kau tidak mempersilakan kami masuk ?"tanya Michael.
"Kenapa Bro kok jutek? lagi PMS ya?" Tanya Michael.
"Hai Bro, kenapa kau berada di apartemen?" Tanya Albert.
"Apa kalian mau semalaman berada di depan pintu?" Tanya Agra seraya melangkah meninggalkan Michael dan Albert di depan pintu.
"Hei Bro, kenapa langkahmu seperti itu?" Tanya Michael.
"Seperti habis sunat saja Bro, apakah kau sunat kedua kalinya?" tanya Albert sembari tertawa melihat cara berjalan Agra yang lucu.
"Berisik kalian..!" Kesal Agra.
"Apa yang terjadi padamu Bro? apa kau mengganggu anak gadis orang?" Michael tertawa melihat Agra duduk dengan hati-hati.
"Apa yang dikatakan Michael, apa benar?" Albert memicingkan matanya, menatap Agra dengan lekat.
Agra hanya diam dia, menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa dan memejamkan matanya.
"Terus terang Bro, kau kenapa apa?" jiwa kepo Michael membuat dia mendesak Agra untuk mengatakan apa yang terjadi padanya.
Agra membuka matanya dan menatap Michael
"Ada bisul di pahaku puas..!"
Michael dan Albert tertawa terbahak-bahak.
saking kesalnya, Agra mengambil bantalan kursi. Dan melempar kepada kedua temannya tersebut.
"Tawa terus sepuasnya..!" seru Agra dengan kesal.
"Mau apa kalian datang? apa hanya mau menertawakan aku saja? kalau sudah puas, kalian pulang sana! aku mau tidur."
Agra merebahkan tubuhnya di sofa.
"Hei bro, jangan tidur dulu. Aku ada berita yang kurang mengenakkan," kata Albert.
"Karena berita ini aku mencarimu, ponselmu juga tidak aktif. Aku menghubungi Jerry, dan dari dia aku tahu. Kau berada di apartemen," kata Albert
Agra bangkit dan duduk.
"Berita apa? apa sudah diketahui siapa yang melakukan teror?" tanya Agra.
"Amir diketemukan tewas di rumahnya," tutur Albert.
"Apa!? bunuh diri atau dibunuh?" kaget Agra.
"Belum diketahui, bunuh diri atau dibunuh. Tapi ada diketemukan surat, yang menyatakan bahwa dia bunuh diri karena malu telah melakukan kesalahan." cerita Albert.
"Menurut kepolisian, tidak ada ditemukan kekerasan di tubuhnya. Dan rumahnya dalam keadaan bersih tidak ada barang yang hilang," kata Albert.
"Mungkin saja, pembunuh itu membuat seolah-olah Amir bunuh diri," kata Michael.
"Bisa saja," sahut Albert.
"Sepertinya, musuh keluargamu bukan orang sembarangan Agra. Kau harus lebih berhati-hati, kita tidak tahu apa yang bisa dilakukan orang itu," kata Michael.
"Agra, kau juga harus mendapatkan pengawalan. Kematian Amir ini bisa kita simpulkan, orang ini sanggup menghilangkan nyawa orang. Dia tahu, kita mengintai Amir," kata Albert.
"Siapa orang ini? kenapa dia melakukannya? kemarahan apa yang ada dalam dirinya, sehingga dia sanggup membunuh orang?" tanya Agra pada kedua temannya.
"Yang pastinya, orang ini sudah tidak waras! apalagi Amir mengatakan dia seorang wanita. Wanita yang sangat mengerikan..!" seru Michael.
"Apakah kau punya kekasih selain Malika Agra? kekasih yang membencimu, karena kau memilih Malika sebagai istrimu," tanya Michael.
"Sandra! apa mungkin Sandra yang melakukan? dia kan sangat mencintaimu. Di mana dia sekarang? sudah lama kita tidak mendengar kabarnya," kata Albert.
"Tidak, bukan Sandra. Sandra sudah bahagia, suaminya warga negara asing. Kalau tidak salah, dia tinggal di Amerika," kata Agra.
"Coba kau ingat-ingat Agra, mungkin saja ada gadis yang sudah kau kecewakan tanpa kau sadari apa ada sekretaris lain yang menyukaimu selain Malika?"
"Betul apa yang dikatakan Michael Agra, coba kau ingat-ingat. Mungkin saja ada gadis yang selama ini memberikan perhatian kepadamu, tapi kau tidak memperhatikannya. Bagaimana? apa ada karyawan yang menyukaimu?" Albert menimpali perkataan Michael.
"Isi dalam otak kalian semakin ngawur," ujar Agra, yang tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh kedua temannya.
...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...
...Bersambung ...