My Daughter'S Teacher

My Daughter'S Teacher
Bertemu penggoda



Happy reading 😍


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...


Lisa merengek, minta agar jarum infus yang ada ditangannya dibuka.


"Jangan dibuka yang sayangnya Opa." bujuk Abraham Barend pada sang cucu.


..."Sakit Opa." Keluh Lisa....


"Opa tahu sakit, tapi. Ini obat untuk membuat cucu Opa yang cantik ini sehat kembali, biar bisa bertemu dengan teman-teman di sekolah," ucap Abraham.


"Lisa tidak mau sekolah..!" seru Lisa kesal.


"Pa." Alma memberi tanda pada Abraham, agar jangan mengungkit-ungkit mengenai sekolah.


Abraham mengerti dan tidak mengungkit-ungkit mengenai sekolah lagi pada cucunya, Lisa.


Lisa terus merengek, membuat Opa dan kedua Omanya kelabakan membujuk anak umur lima tahun itu untuk berhenti merengek.


...Pintu kamar terbuka, Agra masuk. Matanya langsung menatap tubuh putrinya yang berada di atas ranjang....


"Lisa." Agra langsung memeluk putri kecilnya.


"Sakit Papa." lagi-lagi Lisa menunjuk kearah infus yang ada ditangannya.


"Sabar ya sayang, nanti kita tanya dokter ya...! kalau Lisa sudah sembuh, dan dokter pasti sudah mengizinkan untuk melepaskannya."  Agra duduk di atas ranjang pasien, kemudian mengangkat Lisa untuk duduk di atas pangkuannya.


Tidak lama kemudian, Lisa kembali tertidur dalam pelukan hangat Papanya.


..."Bagaimana? apa yang katakan oleh dokter?" tanya Agra....


"Flu, dan radang tenggorokan. Besok juga sudah bisa pulang, tadi dilakukan cek darah. karena dokter takut terkena demam berdarah, dan hasilnya negatif. Tidak terkena demam berdarah.' Alma, Mama Agra yang menjelaskan kepada Agra.


🌹🌹


Jam tujuh malam, Jeanny turun keluar dari kamarnya. Tas sandang yang biasa menemaninya saat hang out dengan teman-temannya, disampirkannya dipundaknya.


"Jean, jangan pulang terlalu malam ya. Udara malam tidak bagus, Jean juga baru saja sehat," ujar Mama Jean.


"Iya, Ma. Jean hanya mau nemani Valerie saja."


Ten..ten...suara klakson mobil terdengar dari depan rumah.


"Ma, Jean berangkatnya." pamit Jeanny. Setelah dia mendengar bunyi klakson mobil Valerie yang menjemputnya.


"Ya, hati-hati bilang pada Valerie. Jangan ngebut," kata Mama Jeanny, Amira.


..."Ya Ma," jawab Jeanny....


Sampai depan rumah, Valerie dan Bella sudah berdiri di samping mobilnya.


"Ikut Bella, tadi kata Valerie tidak ikut," ujar Jeanny.


"Malas di rumah sendirian, Mama dan Papaku pergi undangan. Dari pada aku bengong sendiri di rumah, lebih baik aku ikut bersama kalian shopping," kata Bella.


Setengah jam kemudian, ketiganya sudah berada di salah satu pusat perbelanjaan yang cukup besar dan lengkap.


"Val, kita kemana dulu?" tanya Jeanny.


"Bagaimana kalau kita makan dulu," kata Bella.


"Makan, apa kau sudah lapar Bella?" tanya Jeanny pada temannya tersebut.


Bella menganggukkan kepalanya, sembari mengelus-elus perutnya. Menandakan, bahwa perutnya minta diisi.


"Bagaimana Val? Bella lapar." Jeanny bertanya pada Valerie yang sedang melihat-lihat tas yang menarik minatnya.


..."Apa?" tanya Valerie pada Jeanny....


"Hey Nona! jangan beli tas terus, tasmu sudah menumpuk dalam satu lemari," ujar Bella seraya menarik tangan Valerie menjauh dari toko tas branded yang menarik mata Valerie yang hobi koleksi tas branded.


"Aku belum punya tas yang seperti itu, tasnya sangat imut," ujar Valerie.


"Semua tas kau bilang imut, sekarang kita isi lambung dulu. Perutku sudah melakukan demonstrasi, apa kalian tidak dengar semua anggota dalam perutku sudah saling serang," kata Bella.


Ketiganya memasuki restoran yang belum begitu ramai oleh pengunjung.


Setelah makanan yang mereka pesan datang, mereka menikmati makanan mereka masing-masing sembari berbincang-bincang.


Tiba-tiba, datang dua orang wanita dan berhenti didekat meja Jeanny. Yang seorang memandang dan menyapa Jeanny dengan gaya arogan.


"Hei! kamu Jeanny kan?" tanya wanita tersebut kepada Jeanny.


Jeanny yang sedang menikmati makanan spaghetti yang dipesannya mendongak melihat wanita yang berdiri di samping mejanya.


"Siapa Jean?" tanya Bella yang duduk di depan Jeanny, disisi Valerie.


..."Tidak kenal," jawab Jeanny....


Sombong sekali, gayanya seperti nyonya besar saja," gumam Valerie yang tidak suka dengan gaya Yulia menyapa dan memandang Jeanny.


"Ada apa ya Tan? apa Tante mengenal saya?" tanya Jeanny.


"Yulia, dia memanggilmu tante," ujar teman Yulia sembari tersenyum senang, melihat Yulia dikira Tante -tante. Karena temannya tersebut juga kurang suka dengan sifat Yulia yang sombong dengan teman-temannya sendiri.


"Hey! aku bukan tante-tante ya, aku ini masih muda..!" seru Yulia marah, karena dipanggil tante oleh Jeanny.


"Apa aku setua itu dimatanya?" dalam benak Yulia.


Bella dan Valerie tertawa, melihat Yulia marah.


"Maaf ya mbak," ujar Jeanny mengganti panggilannya terhadap Yulia.


"Mbak ada perlu dengan saya ya? apa Mbak salah satu orangtua murid saya?" tanya Jeanny, karena dia tidak mengenal Yulia. Orang yang telah merebut Yudha darinya.


"Aku istri Yudha, kau mengenal Yudha kan?" tanya Yulia.


...Deg.....


Mendengar wanita itu menyebutkan nama Yudha, Bella dan Valerie sontak bangkit dari duduknya dan beranjak mendekati Yulia dan berdiri di samping kursi Jeanny.


Jeanny, tidak menunjukkan ekspresi apapun di wajahnya. Wajahnya kini datar.


"Hei! kau dengarkan apa yang aku katakan? aku ini istri Yudha, mantan kekasih mu," ucap Yulia.


Jeanny mendongak menatap Yulia, matanya sedikit memicing menatap wanita yang telah mengambil Yudha dari sisinya.


Jeanny menggeser piring spaghetti yang baru dimakannya sedikit, dia kemudian berdiri dan menatap wajah Yulia dengan datar.


"Aku tidak tuli Mbak, aku mendengar apa ya Mbak katakan. Terus, apa maksud mbak mengatakan pada saya. Apa Mbak begitu bangganya, hanya karena telah menjadi istri dari laki-laki yang bernama Yudha itu..!" Jeanny menatap tubuh Yulia dari atas sampai bawah.


"Ternyata selera laki-laki itu..." Jeanny tidak melanjutkan ucapannya. Senyum sinis terlihat di bibirnya.


"Seleranya, selera tante-tante Jean." celetuk Bella.


"Betul apa yang kau katakan Bella, selera Yudha turun drastis. Yang dulunya level sepuluh, sekarang turun ke level 6 atau level 7 lah. Maaf ya Mbak," ucap Valerie.


"Kalian menghinaku?" kesal Yulia.


"Maaf Tante, kami bukan menghina. Kami mengatakan yang sebenarnya, coba Tante tanya kepada orang-orang. Tante itu seperti tanteku yang berumur 40 tahun." ledek Valerie.


"Aku baru berumur 30 tahun ya..!" balas Yulia.


"Yul, sudahlah. kau ini membuat kita malu saja." ujar temannya.


"Tante 30 tahun, kami ini baru 20 Tante. wajar kami memanggil Tante." balas Valerie.


"Maaf ya mbak, Mbak itu sudah membuat selera makan kami terganggu. Tolong jangan ganggu kami lagi mbak," kata Bella.


"Diam kau! aku tidak ada kepentingan denganmu, aku hanya ingin memberi peringatan kepada temanmu itu. Agar jangan berharap lagi dengan Yudha, karena Yudha sudah menjadi suamiku. Dan ini, hasil buah cinta kami," ucap Yulia seraya mengusap perutnya yang sudah sedikit terlihat.


Aku tidak akan mengganggumu, jika kau tidak mengganggu suamiku, Yudha..!"


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...


...Bersambung...