
Happy reading 😍
...🌹🌹🌹...
Amira kembali dengan membawa kotak yang berisi obat-obatan.
"Makan dulu, setelah itu minum obat." titah Amira pada putrinya, Jeanny.
"Ma, jika Jean minum obat. Jean akan ngantuk saat mengajar nanti, kan malu jika murid-murid melihat gurunya tertidur." tolak Jeanny untuk minum obat, karena takut mengantuk saat mengajar.
"Tidak minum obat, tidak ada pergi bekerja," ujar Amira pada sang putri dengan tegas, tidak ingin menerima bantahan.
"Tidak minum obat, tidak ada pergi bekerja," ujar Amira pada sang putri dengan tegas, tidak ingin menerima bantahan.
"Jean. turuti kata Mama, Minum obatnya..!" titah Jamie.
"Ih.. baiklah." Jeanny mengerucutkan bibirnya.
"Makan dulu." Jamie mendorong sang adik untuk duduk, baru dia ikut duduk di samping Jeanny
"Papa mana ma?" tanya Jamie.
"Belum pulang joging, mungkin Papa sudah asyik ngobrol dengan bapak-bapak di lapangan. Hingga lupa pulang," ujar Amira.
Kebiasaan sang suami, setelah pensiun menjadi karyawan Bank. Joging, setelah itu. kumpul-kumpul dengan bapak-bapak yang punya nasib sama, yaitu para pensiunan.
Jamie dan Jeanny menyelesaikan sarapan pagi, baru Papa pulang dari joging.
"Mau kemana Jamie?" tanya Papa Jamie.
"Mau mengantar Jeanny Pa," jawab Jamie.
"Mobil Jeanny belum keluar dari bengkel?" tanya Andre, Papa Jamie.
"Belum," jawab Andre.
"Apa mobil jeanny belum keluar dari bengkel? apa begitu parah kerusakannya?" tanya Papa sembari mendudukkan bokongnya di kursi depan, di samping Jamie yang duduk menunggu Jeanny.
"Mobil lama Pa, sudah harus masuk museum," ujar Jeanny yang baru keluar dari dalam rumah.
"Apa Papa tidak ada niat untuk membelikan jenny mobil baru Pa?" tanya Jeanny.
"Tunggu Jeanny ulang tahun ya, papa akan belikan Jeanny mobil baru," ucap Papa.
"Betul ya Pa, jangan bohong ya Pa. Abang mau belikan Jeanny apa sebagai kado ulang tahun?" tanya Jeanny kepada abangnya Jamie.
"Abang akan memberi uang kepada Papa, untuk tambahan membeli mobil baru," kata Jamie.
"Asyiknya..!" seru Jeanny dengan gembira.
Papa dan Jamie saling pandang, keduanya gembira melihat Jeanny tertawa senang. Setelah beberapa hari belakangan ini, tidak terdengar suara tawa yang keluar dari mulut Jeanny, begitu dalam rasa sakit yang ditorehkan oleh Yudha kepada Jeanny. Sehingga perubahan pada Jeanny membuat orang yang mengenal kepribadian Jeanny merasa kehilangan.
"Belum pergi? mama kira sudah berangkat, sudah jam berapa itu. Nanti telat sampai sekolah," ujar Amira.
"Ma, sekolah tempat kerja Jean hanya membutuhkan waktu setengah jam dari rumah," kata Jeanny.
"Ini bawa." Amira memberi termos stainless kepada Jeanny.
"Apa ini ma?" tanya Jeanny.
"Air rebusan jahe, minum. Biar tidak batuk," kata Amira pada putrinya, Jeanny.
"Jeanny tidak batuk," ujar Jeanny.
"Sudah, minum saja. Bagus untuk flu dan batuk," kata Amira.
"Jean kenapa?" tanya Andre, Papa Jeanny.
"Flu Pa, tapi. Mama dan Abang membuat Jeanny seperti kena penyakit mematikan."
"Hus! mulut," ujar Jamie.
"Papa baru pulang, sudah sarapan?" tanya Amira, saat melihat suaminya duduk bersama dengan kedua anaknya di teras depan.
"Sudah, tadi Papa sarapan dengan Pak Handoko."
"Apa Bu Handoko sudah pulang ?" tanya Amira.
"Belum, Pak Handoko pulang. Karena ada anak Pak Handoko yang berada di rumah sakit, Pak Handoko terlihat kurus," ujar Andre, sang suami.
"Pak Handoko tidak apa-apa, hanya Bu Handoko yang sedang sakit. Dan beberapa hari ini sedang berada dalam perawatan di rumah sakit." Amira, yang menjawab pertanyaan Jamie.
"Sakit apa ma? kelihatannya Tante itu sehat-sehat saja?" tanya Jeanny.
"Leukemia, sekarang. Bu Handoko sedang melakukan kemoterapi," ujar Amira.
"Sudah sana pergi, Jamie jadi mengantar Jeanny?" tanya Amira.
"Jadi Ma, nanti Jamie tunggu di sekolah saja. Pulang tidak lama kan Jean?" tanya Jamie.
"Tidak bang, jam 9 sudah pulang," sahut Jeanny.
...🌹🌹🌹...
Dalam perjalanan menuju sekolah tempat Jeanny mengajar, Jamie melihat Jeanny diam. Pandangan matanya menatap keluar jendela.
"Jean, apa laki-laki itu masih menganggu?" Jamie membuka suara, untuk memecah keheningan didalam mobil.
"Siapa bang?" tanya Jeanny.
"Penghianat itu?"
"Tidak Bang, dia sudah punya istri. Dan untuk apa dia mengejar Jean lagi?"
"Jangan rahasiakan pada Abang, jika orang itu datang mengganggu," kata Jamie
"Iya."
"Jika dia datang menganggu ke sekolah, katakan pada Abang. Jangan rahasiakan." Jamie sedikit tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Jeanny.
"Iya Bang."
"Jangan iya..iya saja, awas. Jika Abang tahu, Jean masih mau bertemu dengannya. Abang tidak akan kasih ampun laki-laki itu."
"Jean tidak akan mau kembali padanya Bang, Jean masih punya pikiran yang waras," kata Jean.
"Bagus! Abang pegang janji Jean.
"Bang, lihat..!" Jeanny menunjuk kearah gadis yang naik motor gede, yang berhenti tepat di samping mobil yang dikemudikan oleh Jamie. Saat lampu merah.
"Kenapa? apa kenal?" tanya Jamie sembari melihat kearah yang di tunjuk Jeanny.
"Tidak! Jeanny suka, melihat gadis yang naik motor gede."
Gadis yang naik motor gede menoleh ke arah mobil yang dikemudikan oleh Jamie, sepertinya dia merasa diamati orang yang berada didalam mobil.
"Pria itu." gumam gadis yang naik motor gede, saat melihat Jamie. Karena kaca mobil Jamie yang transparan, sehingga bisa keberadaan orang yang ada didalam mobil.
Jamie yang diamati gadis yang naik motor gede tidak tahu, karena helm menutupi seluruh wajahnya.
"Apa Jean mau beli motor gede sebagai hadiah ulang tahun?" tanya Jamie.
"Huh.. tidak Bang, Jeanny suka saja melihatnya. Tapi untuk mengendarainya, Tidak! Jeanny masih sayang dengan nyawa."
"Kalau mau, Abang akan belikan," kata Jamie.
"No, thanks." tolak Jeanny.
Eva, gadis yang mengendarai motor gede penasaran dengan Jamie. Sehingga, dia mengikuti mobil yang dikemudikan oleh Jamie.
"Aku harus mengetahui, di mana dia tinggal. Apakah wanita yang bersama dengannya didalam mobil itu adalah istrinya? pasti istrinya? tidak mungkin pria sesempurna itu belum mempunyai istri."
Eva terus mengikuti mobil Jamie, sampai mobil tersebut masuk kedalam area parkir sekolah. Dan Jeanny turun.
Motor Eva berhenti sedikit jauh dari gerbang sekolah, dia melihat Jeanny turun dan masuk kedalam dalam gedung sekolah.
"Apakah itu istrinya? ah..potek hatiku, istrinya sangat cantik. Sedangkan aku...?" gumam Eva. Dia melihat busana yang dikenakannya, seperti busana kena tembak peluru. Sana-sini bolong, walaupun sudah mendapatkan omelan dari kedua orangtuanya. Tapi Eva tetap dengan style yang membuatnya nyaman.
Setelah merasa tidak ada harapannya untuk berkenalan dengan pria yang menarik perhatiannya sejak pertama bertemu beberapa tahun yang lalu, Eva melajukan motornya.
Niat awal Eva mengikuti mobil Jamie, ingin berkenalan. Tapi, diurungkannya. Karena melihat Jeanny yang sangat sempurna di matanya.
...🌹🌹🌹...
...Bersambung...