
Happy reading 😍
...🌹🌹🌹🌹🌹🌹...
"Calon ibu seperti apa dia ini? sedang kondisi hamil, minum-minuman beralkohol. Sampai mabuk begini, buat onar di rumah orang di pagi hari lagi." gerutu Susan.
Sedangkan Yulia, yang sedang mereka bicarakan. Bersandar dengan mata terpejam di tembok.
"Ma, apa tidur dia?" tanya Hendra pada istrinya.
"Perempuan gendeng." ngedumel Susan, Mama Yudha.
"Hei Yulia, kenapa kau pagi-pagi buat onar di rumah orang?" tanya Susan.
"Mama mertua, aku mencari Papa anakku," ucap Yulia dengan mata yang setengah terbuka.
"Aku mencari suamiku Mama mertua, di mana dia. Woi..suamiku Yudha! istrimu datang...!" Peking Yulia.
"Hei! Jangan teriak-teriak." Susan dan Hendra kaget, karena Yulia memanggil Yudha dengan suara yang sangat keras.
"Aku ingin bertemu dengan suamiku, Mama mertua Papa mertua..!" Seru Yulia dengan tubuh yang bergoyang kiri dan kanan.
"Kau mabuk?" Tanya Hendra, yang sedari tadi mengamati Yulia.
"Hehehe...aku tidak mabuk Papa mertua, tapi kenapa Papa mertua dan Mama mertua ada dua ? apakah kalian kembar? kalau kalian kembar, anakku kemungkinan bisa kembar juga. Hore...!" Pekik Yulia dengan gembira seraya bertepuk tangan.
"Ma, bawa masuk. Kelakuannya ini membuat kita malu saja, kita akan menjadi bahan ghibah tetangga." Titah Hendra, sang suami pada istrinya.
"Pa, suruh pulang saja. Mama malas ngurusnya, hubungi orangtuanya."
"Papa, tidak ada nomor orangtuanya. Bawa saja masuk, kita hubungi Yudha saja. Biar dia yang mengurusnya," kata Hendra, Papa Yudha.
"Ihh.. merepotkan saja perempuan ini, kenapa dia ke sini? Kenapa tidak pulang ke rumahnya saja." gerutu Susan sembari menarik tangan Yulia untuk masuk kedalam rumah.
Susan memapah Yulia yang berjalan sempoyongan sembari bicara tidak jelas.
"Pa bawa kemana dia ini, Mama tidak akan sanggup jika membawanya kedalam kamar Yudha lantai atas."
"Letakkan di sofa itu Ma, biar papa hubungi Yudha. Biar dia yang akan mengantarkan dia pulang," kata Hendra.
Lima menit kemudian, Hendra kembali. Setelah menghubungi putranya Yudha.
"Yudha tidak bisa mengantarkan dia pulang Ma," kata Hendra.
"Kalau tidak bisa, bagaimana ini? apa kita biarkan dia di sini? Mama tidak sanggup mengurusnya Pa, sadar saja dia menyebalkan. Apalagi saat tidak sadar begini."
"Yudha..!" suara Yulia berteriak memanggil Yudha.
"Aku datang Mas Yudha..!" Yulia kembali berteriak.
"Pa, bagaimana ini? tanya Yudha Pa, alamatnya. Pesankan taxi saja."
"Ma, walaupun kita tidak menyukainya. Kita jangan melepaskannya begitu saja, kita harus mengantarkan. Bagaimana jika ada apa-apa ditengah, kita yang akan disalahkan. Bagaimana pun, dia ini menantu rumah ini," ucap Hendra.
"Terserah papa lah, Mama ingin dia cepat pergi dari sini. Mama pusing menghadapinya, Papa tanya alamatnya pada Yudha."
"Kita kan sudah pernah ke rumahnya Mama, apa Mama lupa," ucap Papa Yudha.
"Kalau menyangkut Yulia, Mama lupa segalanya Pa."
"Ayo Ma, kita bawa masuk mobil. Biar kita antarkan dia pulang," kata Hendra.
"Tapi kita belum sarapan, Pa ."
"Bagaimana bisa sarapan Ma, jika mendengar ia mengomel tidak jelas begitu," sahut sang suami.
"Kita sarapan di luar saja ma." titah Papa Yudha.
Betapa kaget kedua orangtuanya Yulia, saat Yulia pulang dalam keadaan kacau.
"Jeng, kami ngantar kan Yulia ini," ujar Susan, mama Yudha.
"Kenapa dengan anak saya Jeng ?" tanya Mama Yulia.
"Bagaimana kami tahu, ia datang sudah kacau begitu," jawab Susan, Mama Yudha.
Yulia yang tidak sadar karena tidur, atau karena pingsan pengaruh alkohol. Terpaksa di gendong oleh Papanya.
Setelah mengantarkan Yulia kedalam kamarnya, kedua orangtuanya Yulia menemui tamunya. Yaitu orangtuanya Yudha.
"Semalam dia katanya ada acara kantor, kenapa Yulia jadi seperti ini? Yudha mana? kenapa tidak dia yang mengantarkan Yulia?" tanya papa Yulia.
"Yudha ada tugas keluar kota dari kantor," sahut Papa Yudha.
"Pak Hendra, bagaimana rumah tangga anak-anak kita ini? Kenapa mereka tidak seperti pasangan suami istri yang sebenarnya, Yudha tidak pernah menemani istrinya. Istrinya sedang hamil ! dia tidak perduli," ucap Papa Yulia.
"Mau bagaimana lagi Pak, pernikahan mereka ini terpaksa. Dan saya tidak ingin mencampuri kehidupan mereka, biarlah mereka yang menyelesaikan masalah mereka sendiri," ucap Papa Yudha.
"Tidak bisa begitulah Pak Hendra, bagaimanapun juga kita harus ikut campur. Putri saya selama menjadi istri putra bapak tidak pernah mendapatkan haknya sebagai seorang istri," kata Pak Darmawan.
"Iya Jeng Susan, putri saya sangat kasihan. Lihatlah, karena sedih dengan kehidupan pernikahannya. Dia sampai begitu." Darti menimpali ucapan suaminya.
"Sedih dari mana Jeng Darti? Yulia begitu bahagianya, sampai bisa mabuk-mabukan sampai pagi. Dia lagi hamil, apa dia tidak memikirkan anak yang ada dalam kandungannya itu?"
"Karena pikirannya yang sedih, dia melampiaskan dengan kumpul-kumpul bersama dengan teman-temannya," kata mamanya.
"Dengan mabuk-mabukan begitu? buat onar dengan berteriak didepan rumah orang. Seharusnya dia berpikir, dia sedang mengandung. Ada nyawa yang harus di jaganya, saya jadi curiga. Apa benar dia hamil, karena kelakuannya tidak mencerminkan dia calon ibu." Tutur Mama Yudha, yang sangat menyayangkan dengan apa yang dilakukan Yulia pagi hari di depan rumah yang dalam keadaan tidak sadar karena alkohol.
"Jeng Susan, Yulia tidak mabuk. dia hanya letih saja. Makanya bicaranya ngawur." Tutur Mama Yulia, yang tidak mengakui bahwa Yulia mabuk.
"Letih model baru ya Jeng Darti? bicaranya seperti orang mabuk begitu ?" sindir Susan.
"Mas Yudha! I love you Mas...!" teriakan Yulia dari kamarnya, memanggil nama Yudha dengan meneriakkan I love you, buat kaget yang mendengarnya. Kedua orangtuanya dan orangtuanya Yudha.
"Nah tuh..! Bukan mabuk, apa namanya? teriak-teriak nggak jelas." sindir susah, mama Yudha.
"Itu anak, buat aku mati muda saja. Aku sudah berusaha supaya mertuanya tidak menganggap dia mabuk, malah teriak-teriak nggak jelas." suara hati Mama Yulia yang jengkel dengan kelakuan putrinya tersebut.
Darti secepatnya bangkit dari duduknya, dengan langkah lebar dia menuju kamar Yulia.
"Pak Darmawan kami permisi ya, kami sudah mengantarkan Yulia dalam keadaan selamat. Saya harapkan pak Darmawan bisa menjaga Yulia, dia lagi mengandung lho Pak. Sepertinya, dia tidak memikirkan anak yang ada dalam kandungannya," kata Hendra, Papa Yudha.
"Bagaimana perbincangan kita mengenai rumah tangga anak-anak kita pak Hendra?" tanya Darmawan, Papa Yulia.
"Begini sajalah Pak Darmawan, nanti saya bicarakan dengan putra saya. Sekarang putra saya tugas ke luar, seminggu" kata Papa Yudha.
"Baiklah, saya tunggu kabarnya," sahut Papa Yulia.
🌹🌹
Jeanny turun dari taxi, tanpa melihat kiri kanan dia masuk ke dalam bangunan sekolah. Tiba-tiba, tangannya ditarik.
Dan
"Kau..!"
Mata jeanny terbelalak, melihat orang yang menarik tangannya. siapakah dia??
...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...
...Bersambung...