
Happy reading 😍
...🍂🍂🍂🍂🍂...
Di kediaman keluarga Barend, tiga orang menunggu kedatangan Agra dengan tidak sabar.
"Ada apa Agra menyuruh kita berkumpul?" tanya Mama Agra pada sang suami, Abraham Barend.
"Papa tidak tahu, hanya tadi Agra nyuruh Papa pulang sesegera mungkin," jawab Abraham Barend.
"Apa Agra ingin mengatakan masalah teror? apa peneror itu sudah diketahui?" pertanyaan berseliweran didalam benak Abraham Barend.
"Semoga apa yang aku pikirkan, bukan. Jika Agra mengatakan masalah teror tersebut, Mama dan Alma pasti akan khawatir." Benak Abraham.
Abraham khawatir, Agra akan mengatakan mengenai teror yang diterimanya belakangan hari ini.
"Kenapa lama sekali? Abra, apa kiranya yang ingin dikatakan oleh Agra?" tanya Gracia pada sang putra.
"Ma, Abra tidak tahu. Abra juga penasaran, apa yang ingin dikatakan oleh Agra."
"Pasti sangat penting, kalau tidak penting. Agra tidak akan menyuruh kita berkumpul di sini," kata Alma.
Tidak begitu lama, Agra pulang dengan wajah yang tidak terlihat baik-baik saja.
"Nah..itu dia, kami sudah menunggu lama. Kau baru pulang, ada apa?" tanya Gracia, Oma Agra.
"Tadi Agra, ke kantor dulu sepulang dari bertemu klien," jawab Agra.
Agra duduk, dan membuka lilitan dasi dilehernya.
"Ada apa Agra, terlihat wajahmu tidak baik-baik saja. Apa..?" Abraham, Papanya tidak melanjutkan ucapannya.
Agra tahu, apa yang ingin dikatakan oleh Papanya. Agra menggelengkan kepalanya, kepada Papanya
"Agra akan menikah," ucap Agra.
Tiga pasang mata membesar, tidak ada yang bersuara beberapa detik.
Sampai..
"Terulang kembali, kau ingin menikah tanpa mengenalkan gadis yang ingin kau nikahi. Hari ini, sama dengan apa yang kau lakukan saat kau ingin menikah dengan Malika." tutur Oma Agra, Gracia dengan raut wajah yang sedih. Kecewa, sekali lagi. Agra telah menyakiti keluarganya, terutama sang Oma yang sangat menyayanginya.
Alma, Mama Agra bangkit dari duduknya. Kemudian duduk di samping Mama mertuanya yang sangat terpukul dengan apa yang baru disampaikan oleh Agra.
"Agra, kali ini. Gadis mana yang ingin kau nikahi?" tanya Abraham, Papanya.
"kalian juga mengenalnya," kata Agra.
"siapa? Ajeng?" Tanya Mamanya, karena hanya Ajeng pernah mereka jodohkan dengan Agra. Tetapi Agra menolaknya.
Gracia tidak ingin bertanya, karena kabar yang diberikan Agra tadi. Masih membuatnya shock, sehingga dia tidak bisa berpikir apapun lagi. Dia hanya menunggu Agra menyebutkan nama gadis ingin dinikahinya.
"Aku hanya ingin Jeanny menjadi cucu mantu, Agra. Telah mengecewakan aku sekali lagi." Suara hati Oma Agra.
"Oma, jangan sedih dulu. Oma pasti bahagia, ketika mengetahui dengan siapa Agra akan menikah," kata Agra.
"Oma tidak akan bahagia! Oma sudah memilihkan gadis untukmu, tapi. Kau menghancurkan keinginan Oma, sekali lagi." Oma Gracia menitikkan air mata.
"Ma, sudahlah. Jangan nangis lagi, nanti darah tinggi Mama naik," kata Alma, menantu Gracia.
"Mama tidak perduli, Agra cucu yang tidak mengerti perasaan Omanya. Baiklah, jika kau sudah memilih gadis untuk kau nikahi. Jeanny, akan Oma jodohkan Fandi," ucap Oma Gracia dengan kesal, mata Oma menatap Agra.
Melihat Omanya menangis, Agra menghampiri Omanya dan duduk di samping Oma Gracia. Lalu merangkul sang Oma.
"Jangan peluk-peluk Oma." Gracia menepiskan tangan Agra yang memeluknya.
"Oma, jangan marah ya. Agra sayang Oma," kata Agra.
"Sayang..sayang, tapi menyakiti hati Oma terus! apa yang Oma minta, tidak pernah dipenuhi. Itu yang katanya sayang?"
"Agra, katakan kepada kami. Siapa gadis yang ingin kau nikahi?" tanya Abraham, Papa Agra.
"Pasti seorang sekretaris! Agra kan hanya bisa menikah dengan level sekretaris," ucap Gracia kesal.
Gracia, Oma Agra. Spontan menoleh kearah Agra.
"Guru?"
"Iya oma, dia seorang guru. Oma senang kan, Agra menikah dengan seorang guru?" tanya Agra.
"Oma senang, tapi. Jika gurunya itu adalah Jeanny."
"Agra, jangan berteka-teki. Katakan terus terang, siapa gadis itu?" tanya Abraham, Papa Agra.
"Baiklah, guru itu Jeanny. Besok Papa, Oma dan Mama datang ke rumah Jeanny," kata Agra.
"Jeanny! menikah dengan Jeanny?" Gracia tidak percaya dengan apa yang baru saja Agra katakan.
"Kapan kalian dekat?" tanya Abraham.
Akhirnya, Agra menceritakan kenapa dia harus menikah dengan Jeanny.
"Agra, Papa kecewa dengan perbuatanmu itu. Ucapan itu tidak bisa menjadi lelucon, bagaimana jika orang lain mendengar. Mereka pasti menjudge, Jeanny sebagai gadis liar. Apalagi dia seorang pendidik, bisa-bisa dia dikeluarkan dari tempatnya bekerja." tutur Abraham.
"Oma juga kecewa, tapi juga senang. kesalahpahaman itu membuat kau harus menikah dengan Jeanny, tapi. Bagaimana tanggapan Jeanny, apa dia mau menerima pernikahan ini?" tanya Oma Gracia.
"Agra tidak tahu, Agra tinggalkan. Dia masih pingsan," jawab Agra.
"Pingsan..!" seru ketiganya secara bersamaan.
Bugh..
Tangan Oma Gracia langsung memukuli Agra, karena membuat Jeanny pingsan.
"Aduh! cukup Oma, satu hari ini sudah dua orang yang memukul Agra," kata Agra.
"Kau layak mendapatkan itu semua," ujar Gracia, Oma Agra.
🍂🍂
Dalam kamarnya, Jeanny menangis meraung-raung. Seperti ada orang yang meninggal dalam keluarganya, karena tangisannya terdengar sangat pilu.
"Jeanny tidak hamil, Ma! Mama harus percaya pada Jeanny. Ayo, kita ke rumah sakit. Periksa, bahwa Jeanny tidak hamil. Jeanny masih perawan..!" seru Jeanny dengan kesal.
"Jean, Papa sudah memutuskan Mama tidak bisa mengatakan apapun lagi Jean," kata Mama Jeanny.
Di luar kamar Jeanny, Jamie yang baru saja sampai rumah kaget.
"Pa, itu semua tidak betul! Jeanny tidak mungkin melakukannya Pa, Papa tidak bisa menikahkan Jeanny dengan laki-laki yang belum kita kenal." Jamie menentang keras keputusan Papanya, untuk menikahkan Jeanny dengan Agra.
"Kita belum cukup mengenalnya, memang. Tapi, belum tentu dia jahat. Contohnya ,Yudha. Kita sudah cukup lama mengenalnya, lihatlah. Apa yang dilakukannya pada Jeanny, dia selingkuh dan menghamili gadis lain," kata Papa.
"Tapi, pria itu duda. dan sudah punya anak lagi, sedangkan Jeanny masih anak gadis, Pa." Jamie keberatan dengan status duda Agra.
"Apa salahnya duda? status duda bukanlah suatu kejahatan," kata Papanya.
"Dengan menikahnya Jeanny, Yudha tidak akan bisa menggangunya," kata Papanya.
"Papa tahu, Yudha masih sering mengganggu. Walaupun Jeanny tidak mengatakannya."
"Tapi masih banyak pria yang singel, kenapa harus menikah dengan duda?" Jamie tidak rela, Jeanny menikah dengan seorang pria yang sudah pernah menikah.
"keputusan Papa sudah final, dan tidak bisa di ganggu gugat lagi. Jeanny harus menikah dengan pria itu," kata Papanya, Andre.
Kemudian, Papanya meninggalkan Jamie.
"Papa!" panggil Jamie, tapi Papanya tidak mengindahkan.
"Ah ..! siapa pria itu? aku harus mencari tahu, jika dia orang yang suka main wanita. Aku akan menggagalkan pernikahan itu." gumam Agra.
...🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂...
...Bersambung...