My Daughter'S Teacher

My Daughter'S Teacher
MDT



...Happy reading...


...***...


Agra melepaskan bibirnya dari bibir Jeanny, dan menarik tubuhnya yang tiba-tiba bergairah saat menyentuh bibir Jeanny.


"Aku sudah gila..!" Agra meremas rambutnya, karena hampir kebablasan.


Agra bergegas turun dari ranjang, dan masuk kedalam kamar mandi. Entah apa yang dilakukan oleh Agra didalam sana, hanya Tuhan dan malaikat. Atau juga iblis melihat juga.🤭


Begitu Agra masuk kedalam kamar mandi, mata Jeanny terbuka sedikit demi sedikit.


"Ah.. kenapa badanku lemas, seperti baru membawa beban berat. Hei..! kenapa aku didalam kamar, bukannya tadi aku di pantai. Dan Mbak Lira mengajakku untuk naik ke atas kapal, untuk melihat lumba-lumba. Kenapa aku berada di atas ranjang, didalam kamar." Jeanny bingung dengan keberadaannya sekarang, yang berada di atas ranjang.


Jeanny juga merasa, tubuhnya polos. Tanpa ada benang yang melekat ditubuhnya, yang ada hanya selimut dibentangkan di atas badannya. Untuk menutupi kepolosan badannya.


"Nah..kemana bajuku? ahh..Agra mesum pasti yang sudah membukanya..!" pekik Jeanny kesal.


Matanya mencari keberadaan Agra, dan telinga Jeanny mendengar suara shower didalam kamar mandi.


"Laki-laki mesum sedang didalam kamar mandi, kemana bajuku..?" Jeanny mencari keberadaan bajunya disekitar ranjang, tetapi. Apa yang di carinya tidak ketemu.


"Ahh..!" Jeanny memukulkan tangannya ke kasur, mulutnya manyun.


Ceklek..


Pintu kamar mandi terbuka, Agra keluar sembari mengeringkan rambutnya yang basah. Tubuh bagian atasnya polos, hanya handuk yang melilit di pinggangnya.


"Abang...!" pekik Jeanny, membuat Agra kaget. Tidak mengira Jeanny sudah bangun, dan duduk di atas ranjang dengan mata melotot menatap kearahnya.


"Sudah bangun?" sapa Agra santai, seraya mengeringkan rambutnya dan melangkah mendekat ke ranjang.


"Mana baju Jeanny? kenapa Abang suka sekali membuka pakaian Jeanny?" tanya Jeanny dengan ekspresi wajah yang terlihat kesal, karena dia malu. Agra pasti sudah melihat lekuk-lekuk tubuhnya. Karena saat ini, tubuh Jeanny benar-benar polos.


"Tidak mungkin aku membiarkan baju basah di bawa tidur," sahut Agra.


"Baju basah? Abang mengada-ada! bilang saja, Abang itu mau meraba-raba..." Jeanny menyilang kan kedua tangannya didepan dadanya, matanya memicing menyelidiki kecurigaan terhadap Agra.


"Abang tidak sudah melakukan ITU kan?" curiga Jeanny, karena melihat Agra keramas di waktu tengah hari.


"Itu apa? otakmu selalu mengarah ke hal-hal yang negatif saja.." Agra melemparkan handuk yang dipakainya untuk mengeringkan rambutnya kepada Jeanny, dan tepat jatuh di atas kepala Jeanny.


"Huh..! jorok." Jeanny melempar handuk kembali kepada pemiliknya.


"Bang, kenapa aku di sini? tadi aku di pantai, mau pergi dengan Mbak Lira melihat lumba-lumba. Apa kapal yang kami naiki kena hantaman ombak? Mbak Lira bagaimana Bang? apa dia selamat?" pertanyaan beruntun meluncur dari mulut Jeanny.


"Kau ini, kalau mau pergi jalan-jalan itu lihat-lihat temannya. Jangan orang yang kasat mata diikuti..!" Agra duduk di sisi pembaringan, dan tubuhnya masih menggunakan handuk di lilit di pinggangnya.


"Kasat mata ? siapa yang kasat mata? jangan nakut-nakutin ya..!"


Agra mengambil ponselnya, dan menunjukkan apa yang terlihat dari CCTV pengawas kepada Jeanny.


"Lihat ini..!" Agra menyerahkan ponselnya kepada Jeanny.


Jeanny melihat dirinya berjalan menuju tengah laut sendirian, tidak ada Mbak Lira bersama dengannya.


"Loh..! Mbak Lira mana? tadi itu, ada Mbak Lira! tanganku ini dipegang Mbak Lira, ombak kencang tuh..." Jeanny menuturkan, apa yang terjadi saat dia berjalan menuju kapal.


"Kapalnya mana? di depan itu ada kapal, kami akan lihat lumba-lumba." Jeanny menoleh menatap Agra.


"Jika kami telat sedikit saja tadi, bukan lihat lumba-lumba kau Jean. Kami yang melihat tubuhmu terapung..!"


"Abang mendoakan aku tenggelam...?"


Bugh..


Tangan Jeanny memukul pundak Agra kesal.


"Aku tenggelam, Abang mau nikah ketiga kalinya dengan Mikaela..? dasar laki-laki tidak punya perasaan..!" Jeanny melemparkan ponsel Agra kedepannya, kedua tangannya memeluk selimut agar tidak merosot. Jeanny beringsut untuk turun dari ranjang.


Agra melingkarkan tangannya ke perut Jeanny, Agra Jeanny tidak turun dari ranjang.


"Dengarkan dulu, jangan marah terus." Agra meletakkan dagunya di bahu Jeanny.


"Cerita apa? Abang mau bilang, aku mengarang cerita. Bahwa sebenarnya, tidak ada kapal. Dan tidak ada Mbak Lira?" Jeanny memiringkan sedikit kepalanya, melihat Agra.


"Iya, tidak ada Lira dan tidak ada kapal. Apa tidak percaya dengan video tadi?"


"Video yang sudah dilakukan proses editing, mau menipu aku pastinya. Iya kan? awas..!" Jeanny mendorong dagu Agra yang nemplok di bahunya.


Agra menceritakan apa yang dikatakan oleh Pak Kadir, dan membubuhi sedikit hal-hal yang tidak dikatakan oleh Pak Kadir. Seperti, karena Jeanny masih perawan. karena itu setan suka dengannya.


"Apa hubungan perawan dengan setan?" kening Jeanny mengernyit, mendengar penuturan Agra.


"Karena, Lira itu wanita. Dia tidak suka mendapatkan saingan gadis perawan," ujar Agra.


"Lira, maafkan aku. Jangan kau datangi aku ya! aku hanya ingin menggoda Jeanny." gumam Agra dalam benaknya.


"Saingan, seharusnya dia saingan sesama setan. Bukan dengan manusia yang masih bernapas.." Jeanny tidak percaya dengan apa yang diceritakan oleh Agra.


"Ayo, kita temui Pak Kadir. Jika tidak percaya dengan apa yang aku katakan." Agra melepaskan pelukannya, dan berdiri di sisi ranjang.


"Ayo." Agra menarik tangan Jeanny untuk turun dari ranjang.


"Dengan hanya memakai selimut begini, apa kata orang. Melihat aku keluar dengan tidak sopan."


"Pasti orang mengatakan, setelah kerasukan. Otaknya eror." Agra menertawai Jeanny.


"Abang waktu membuka bajuku, tidak melihat tubuhku kan?"


"Sedikit, mataku terbuka sedikit. Tapi, tanganku ini yang selalu menyenggol." Agra mengambil pakaiannya, dan langsung membuka handuk yang melilit pinggangnya dihadapan Jeanny.


"Abang..!" Jeanny langsung menarik selimut menutupi wajahnya.


"Apa?" tanya Agra santai, tanpa ada rasa malu. Karena telah polos dihadapan Jeanny.


"Apa tidak ada malu sedikitpun dirimu itu, buka baju didepan orang? mataku sudah tercemar..!" gerutu Jeanny.


"Tubuhku ini halal untuk kau lihat, untuk kau sentuh juga halal." Agra mendekati Jeanny dan menarik tangan Jeanny untuk menyentuh dadanya.


"Hih...!" jeanny mencubit dada Agra dengan keras, tapi. Agra tidak terpengaruh, karena dada Agra yang keras tidak terasa oleh cubitan tangan Jeanny.


"Cepat pakai baju laki-laki mesum..!" seru Jeanny.


Agra tertawa, melihat Jeanny ngedumel dibawah selimut.


Setelah selesai memakai pakaiannya, Agra menarik selimut yang menutupi tubuh Jeanny.


"Sudah, aku sudah memakai baju," ujar Agra.


Jeanny menarik selimut yang menutupi wajahnya, dan melirik Agra yang sudah rapi.


Agra memberikan paper bag kepada Jeanny, lalu kemudian Jeanny beringsut turun dari ranjang.


Ketika Jeanny melewati Agra, saat ingin masuk kedalam kamar mandi. Dengan iseng, Agra menarik ujung selimut yang melilit tubuh Jeanny.


"Agra...!" pekik Jeanny seraya menendang Agra.


Agra menghindari tendangan kaki Jeanny, dan tertawa


"Hahaha..! maaf."


...****...


To be continued