My Daughter'S Teacher

My Daughter'S Teacher
Marah



Happy reading 😍


...🌹🌹🌹...


Iya, aku sudah mendapatkan mangsa yang lebih kaya dan lebih tampan darimu. Dan lagi, pria itu tidak duda sepertimu. Kau itu tidak pantas menjadi suamiku dan ayah dari anak-anakku nantinya," ucap Jeanny panjang lebar, karena kesal dengan apa yang dikatakan oleh Agra.


Mata Agra berkilat menatap wajah Jeanny, rahangnya mengeras. Terlihat sekali, Agra marah mendengar apa yang dikatakan oleh Jeanny mengenai dirinya yang tidak pantas untuk menjadi suaminya dan ayah dari anak-anaknya.


"Siapa dia? berani-beraninya menghinaku." Agra benar-benar emosi.


Matanya tajam menatap bibir Jeanny yang komat-kamit mengumpatnya, dengan perkataan yang membuat otaknya membara. Dan ingin melakukan sesuatu kepada bibir yang komat-kamit ters8.


Dan.


Tiba-tiba, tangan Agra menarik tengkuk Jeanny dan langsung melekatkan bibirnya ke bibir Jeanny.


Mendapatkan serangan mendadak, mata Jeanny terbelalak. Bibirnya terbuka sempurna, sehingga ciuman bibir Agra berlabuh sempurna dibibir Jeanny. Agra tidak sulit untuk melakukan eksplorasi bibir Jeanny, lidah Agra bebas bermain-main didalam rongga mulut Jeanny.


Mata Jeanny melotot, tubuhnya lemas dan otaknya tidak bisa berpikir jernih lagi. Tangannya menegang lurus dikedua sisi pahanya.


Sampai Jeanny tersadar, saat merasakan tangan Agra masuk kedalam bajunya dan meremas dua bukit didepan dadanya.


Begitu tersadar dengan apa yang dilakukan oleh Agra, Jeanny seketika mengigit bibir Agra. Sehingga tautan kedua bibir terurai, dan terdengar suara Agra mengumpat sembari memegang bibirnya.


"Kau serigala betina! kenapa kau menggigitku?" Agra mengusap bibirnya, dan terlihat jemari tangannya yang mengusap bibirnya berdarah.


"Kau pria mesum! enak saja kau menciumiku..!" seru Jeanny dengan mata melotot menatap Agra.


"Kau yang membuat aku melakukannya, kenapa kau menghinaku..!" balas Agra.


"Sudah sepantasnya kau dihina! kau pria mesum, hidung belang duda kesepian laki-laki miang...!" seru Jeanny tanpa ada titik koma dalam rentetan ucapan yang diberikannya kepada Agra.


"Terima kasih Nona, ucapan yang sangat menyenangkan. Dan harus kau ingat, seminggu lagi aku tidak akan seperti yang kau sebutkan tadi. Ada kau yang akan menghangatkan ranjang ku, aku tidak akan jadi pria mesum dan duda kesepian lagi," kata Agra dengan suara yang datar.


Agra mendekatkan bibirnya ke telinga Jeanny, napas Agra menyapu telinganya. Membuat bulu halusnya di sekujur tubuh Jeanny meremang.


"Ada kau yang akan menghangatkan tubuhku di atas ranjang, aku akan menikahi dirimu." bisik Agra.


Cup


Agra mengakhiri bisikan, dan kemudian mencium pipi Jeanny yang merona merah,karena gugup. Napas Agra sangat terasa menerpa telinganya.


Jeanny benar-benar tidak bisa bernapas dengan normal dibuat Agra, napasnya tersengal-sengal menahan emosi yang siap-siap meledak.


"Kau..kau.. tidak waras! aku tidak mau menikah denganmu..!"


"Oh ya, kita lihat saja nanti. Kau akan menjadi teman tidur, pria mesum ini.


"Dalam mimpimu!!" ucap Jeanny dengan geram.


Melihat Jeanny marah, senyum tipis menghias bibir Agra.


Tiba-tiba, pandangan mata Agra menatap wajah Jeanny dengan lekat.


"Apa kita pernah berjumpa? selain di rumah sakit dan di rumah ini?" tanya Agra, karena tiba-tiba dia merasa pernah melihat Jeanny.


"Pernah! waktu itu aku melakukan ini, bug...!" kaki Jeanny menendang keras daerah aset berharga Agra.


"Aaarhg..!" pelukan Agra langsung terlepas, karena Agra membungkuk memegang daerah terlarangnya yang kena tendangan Jeanny.


"Dasar duda mesum! rasain..!" seru Jeanny sebelum lari meninggalkan Agra.


"Dasar gadis sialan! awas kau, aku akan menjadikanmu istriku secepatnya..!" umpat Agra kesal.


"Sial..! aku akan menikahi dirimu, aku akan memenuhi keinginan Oma untuk menikah. Dan, kau yang akan menjadi pengantin wanitanya...!" seru Agra dengan berjalan ngangkang keluar dari dalam kamar Lisa, melalui pintu penghubung antara kamarnya dan Lisa.


Jeanny berlari turun dan langsung menuju taman belakang.


Melihat kedatangan Jeanny dengan berlari, Alma dan Gracia menatap wajah Jeanny dengan heran dan bertanya.


"Kenapa Jeanny?" tanya Alma.


"Tidak apa-apa Tante, saya harus pulang Tante. Mama saya baru menghubungi, mau minta ditemani pergi undangan pernikahan anak teman Mama," ucap Jeanny memberi alasan.


"Iya, Tante tadi mau tunjukkan koleksi bunga anggrek Tante." timpal Alma.


"Lain kali Tante, Oma. Oh ya, Lisa mana ya ? tadi di kamar tidak ada," kata Lisa.


"Lisa pergi dengan Bi Anah, tiba-tiba Agra ingin semangka. Di rumah tidak ada semangka, semua pelayan tidak ada di rumah. Yang ada hanya Bi Anah. Terpaksa Bi Anah yang pergi, Lisa ikut," ucap Alma.


"Pasti pria mesum itu yang menyuruh Lisa pergi dengan Bi Anah, dasar brengsek. Enak saja dia mencicipi bibirku." umpat batin Jeanny yang geram.


Dengan perasaan kesal, Jeanny pulang. Ditengah perjalanan. Jeanny yang badmood membatalkan niatnya untuk pulang, dia mengarahkan mobilnya menuju rumah Bella.


Sampai di rumah Bella, Jeanny langsung menghempaskan tubuhnya ke ranjang sahabatnya tersebut.


"Hei Non, ranjang ku itu masih aku gunakan. Jangan sampai roboh..!" seru Bella.


"Apa ranjang mu ini ranjang rongsokan! sehingga baru aku tiduri langsung ambruk?" tanya Jeanny dengan suara yang kesal.


"Ada apa? kenapa wajahmu kesal begitu? apa laki-laki dan perempuannya mengganggumu lagi?" tanya Bella.


"Laki-laki menyebalkan! mesum!" pekik Jeanny.


"Bisa-bisanya dia mencium bibirku! bibirku ini..!" Jeanny menunjuk bibirnya dengan jemarinya.


"Apa!? Yudha menciummu! pria kurang ajar, sudah punya istri masih berani mencium mu? Jeanny, kau harus mencuci bersih bibirmu. Jangan nanti bibirmu terkontaminasi bibit penyakit, mungkin saja dia baru mencium perempuan itu. Lalu dia mencium mu. Hih...!" ucap Bella panjang lebar.


Jeanny termangu mendengar perkataan Bella.


"Hei! kenapa kau diam saja, apa kau masih membayangkan ciuman Yudha?" tanya Bella.


"Yudha! siapa yang di cium Yudha? apa kau di goda Yudha? apa dia mencium mu?" pertanyaan beruntun keluar dari mulut Jeanny.


"Huh..najis ya, di cium oleh bekas mu Jean."


"Kenapa kau menyebut namanya?" tanya Jeanny.


"Kau datang-datang ngamuk, bilang baru di cium," ucap Bella.


"Tapi bukan Yudha," jawab Jeanny.


"WHAT!? siapa yang berani mencium mu?" tanya Bella.


Jeanny menceritakan tentang kejadian saat dia datang ke rumah muridnya yang sedang sakit.


"Duda semakin didepan, perjaka masuk selokan," ujar Bella sambil tertawa, setelah Jeanny selesai bercerita.


"Kau juga, kenapa kau menghinanya? jika aku tadi mendapatkan penghinaan seperti yang kau katakan padanya, aku akan memperkosa gadis itu. Agar dia terikat padaku terus," kata Bella.


"Kau ingin memperkosa gadis? kau kan gadis juga?"


"Hei Markonah, umpama! umpamanya aku seorang pria," ucap Bella.


Jeanny hanya nyengir.


"Kenapa selama ditinggal kawin, semakin dibelakang otakmu Jean?"


"Kawin, nikah!" seru Jeanny.


"Jean, bagaimana rasa bibir duda? apa sama dengan bibir Yudha?"


"Bibir Yudha dan bibir duda, rasanya seperti di cium kuda Nil," ucap Jeanny ketus.


"Aku belum pernah di cium kuda Nil, apa kau pernah?" tanya Bella dengan tertawa , melihat Jeanny kesal.


"Aaarhg..! jangan ingatkan aku dengan yang namanya ciuman..!" pekik Jeanny kesal.


Jeanny mengambil bantal, dan menutup wajahnya.


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...


...Bersambung...