My Daughter'S Teacher

My Daughter'S Teacher
Dendam masa lalu



Happy reading 😍


...🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁...


Maharani masuk kedalam Mika, matanya menelusuri area kamar Mika.


"Mana dia, Malika..!" Maharani mencari sosok Malika didalam kamar, tapi. Sosok Malika tidak terlihat.


Kenapa dia? Apa dia kabur lagi? Dasar perempuan tidak punya rasa terima kasih, aku sudah membantunya..!" Maharani geram, karena Malika tidak ada didalam kamarnya.


"Bi..!" Suara Maharani menggelegar memenuhi ruang dapur, membuat perempuan tua yang sedang sibuk dengan aktivitas kesehariannya yaitu mengurus dapur kaget.


"Iyahh...!" Pekik Bi Salmi seraya memegangi dadanya, karena kaget mendengar suara Maharani.


"Mana Malika?" Tanya Maharani dengan tatapan wajah yang menyeramkan, tidak ada pernah ada senyum di raut wajah yang masih terlihat cantik. Di usianya yang tidak muda lagi.


'Non Mika keluar Nyonya," jawab Bi Salmi.


"Keluar? Kemana? Apa dia membawa barang yang banyak?" Tanya Maharani.


"Tidak Nyonya, Non Mika hanya membawa ponsel. Dan tidak naik mobil, dia jalan kaki. Mungkin Non Mika hanya jalan-jalan di sekitar daerah sini." Tutur Bi Salmi.


"Namanya Malika! bukan Mika..!" Sergang Maharani, karena Bi Salmi terus mengucapkan nama Mika berulang kali.


"Maaf Nyonya..maaf, saya salah," ucap Bi Salmi seraya menundukkan kepalanya, dia takut akan mendapatkan sasaran kemarahan Maharani yang temperamental.


Maharani sempat mendelik kan matanya dengan tajam menatap Bi Salmi, sebelum meninggalkan dapur.


Sepeninggal Maharani, Bi salmi mengelus dadanya.


"Dasar majikan kejam." gerutu Bi Salmi.


"Malika Malika terus yang dipuji-puji, Malika sudah mati kok diingat-ingat. tapi apa Malika itu adalah Mika ya. wajah mereka kan mirip." Bi Salmi bicara sendiri, dia tak melihat. Orang yang sedang di cari oleh majikannya, berada di balik pintu luar dapur.


"Aku harus melakukan penyamaran, untuk mendapatkan peninggalan Opa Ramli. Aku tidak ingin harta keluarga Basri jatuh ke tangan nenek peyot yang tidak ada hubungannya dengan keluarga Basri, cukup sudah kau memperalat Malika untuk menggoda Agra. Aku tidak akan mau kau peralatan Maharani, kau membunuh Oma dan mamaku untuk masuk kedalam keluarga Basri." batin Mikaela.


"Malika, kau jangan kembali lagi. Aku harap, ikan hiu sudah memangsa tubuhmu. Karena kau telah menghancurkan keluarga Basri dengan bersekutu dengan Maharani." gumam Mika.


Ketika Bi Salmi ingin keluar membuang sampah, Bi Salmi kaget melihat Mika yang duduk di samping pintu dapur.


"Non Mika di sini, tadi Non di cari oleh Oma Non Mika," ucap Bi Salmi.


"Bi, dia bukan Oma. Oma sudah meninggal bersama dengan Mama," ujar Mika dengan ketus.


"Non Mika jangan begitu, Nyonya Maharani sepupu Oma Non Mika," ujar Bi Salmi.


"Sepupu? sepupu yang sanggup menghancurkan rumah tangga sepupunya, apa bisa dikatakan sebagai sepupu?"


"Non Mika, Non sudah ingat semuanya?" tanya Bi Salmi dengan suara yang pelan, karena takut ketahuan oleh Maharani.


"Aku tidak pernah hilang ingatan Bi, operasi hanya mengeluarkan tumor yang bersarang di dalam sini. Tapi bukan ingatanku ini," kata Mikaela.


"Jadi Non tahu, Non ini Non Mikaela. Bukan Malika?" tanya Bi Salmi.


"Tahulah Bi, Malika sudah mati. Aku tahu, Maharani ingin aku menjadi Malika. Aku bukan Malika, walaupun kami kembar tapi otak kami tidak sama. Aku tidak bisa seperti Malika yang mau saja diperalat oleh Maharani untuk membalaskan dendamnya pada Stevano Barend. Maharani sudah tidak waras Bi Salmi." tutur Mikaela.


"Tidak bisaΒ  Bi, aku harus mencari surat wasiat Opa Ramli. Hanya aku satu-satunya keturunan keluarga Basri yang tersisa, daripada harta dikuasai oleh nenek sihir itu. Lebih baik harta aku sumbangkan ke panti asuhan." tutur Mikaela.


Malika dan Mikaela Basri Putri Sania Basri hasil dari pernikahannya dengan pemuda dari Belanda, pernikahan Sania tidak berumur panjang. Usia putrinya dua tahun, sang suami meninggal dan Sania kembali ke Indonesia.


Kembali ke Indonesia, baru diketahui oleh Sania. Bahwa Papanya telah menikahi sepupu Mariam, yaitu Maharani. Karena Maharani tertangkap basah tidur bersama dengan Ramli Basri. Opa, Malika dan Mikaela.


Tetapi, pernikahan itu hanya formalitas saja. Tidak ada tidur bersama, apalagi satu kamar. Karena, Ramli merasa tidak pernah ada rasa pada Maharani. Karena Maharani menjebak Ramli untuk membalaskan dendam pada Stevano Barend, pemuda yang dicintainya.


Karena status Ramli Basri di mata dunia bisnis, satu tingkat dengan keluarga Barend. Maharani ingin menggunakan tangan Ramli Basri. Tapi, keinginannya tidak dapat terlaksana. Karena kedudukan Maharani hanya istri yang tak terlihat.


Dendam Maharani mulai terbalaskan, dengan kematian satu persatu keluarga Basri. Kematian Ramli, lalu Mariam dan Sania. Membuat Maharani bebas semaunya dengan harta keluarga Basri.


Apalagi, keluarga dari pihak Ramli Basri tidak ingin mencampuri urusan keluarga Basri. Hingga, Maharani semakin merajalela, meracuni pikiran polos Malika dan Mikaela. Tapi, racun Maharani tidak berhasil pada Mikaela. Dan Mikaela pergi meninggalkan Indonesia, tinggal dengan keluarga dari Papanya yang berada di Belanda.


Malika, gadis yang sangat cantik. Dan sedikit liar, berhasil menjadi kaki tangan untuk menghancurkan keluarga Barend. Dengan masuknya Malika menjadi sekretaris Agra Barend, dan lalu menjadi kekasihnya dan lalu menjadi istri.


Dari tangan Malika, Maharani bisa masuk untuk mengacaukan keluarga Barend. Karena rasa cinta Agra pada Malika, membuat Agra rela meninggalkan keluarga Barend. Membuat Maharani senang, karena dendamnya sudah terbayar. Tapi, Malika masih berjumpa dengan kekasih hatinya yang tidak direstui oleh Maharani.


Dan mengakibatkan kematian Malika, dan melalui Mikaela. Maharani ingin menghancurkan hidup keluarga Barend lagi.


...***...


Jeanny masuk kedalam mobil yang dikemudikan oleh Agra, hari ini rencananya calon pengantin yang belum ada rasa di hati masing-masing akan melakukan fitting baju.


"Untuk apa fitting baju." Jeanny terus ngedumel dalam perjalanan menuju butik.


"Apa kau ingin baju pengantin mu kebesaran atau kekecilan?" Agra membuka suaranya, setelah hanya sebagai pendengar Jeanny bicara.


"Oh.. ternyata kau bisa bicara juga, aku kira kau itu bisu." sindir Jeanny.


"Aku menjaga suaraku, untuk apa bicara jika tidak penting sekali." balas Agra.


"Hei..! aku tidak ingin pernikahan yang meriahnya," ujar Jeanny.


"Siapa hei di sini? kau itu harus sopan dengan orang yang lebih tua..!" Agra memprotes cara Jeanny bicara dengannya, yang menurutnya tidak sopan.


"Maaf orang tua, hamba salah." balas Jeanny.


"Sial! aku terpaksa menikah dengan orang tua." gumam Jeanny dengan pelan, tapi telinga Agra masih dapat menangkap apa yang dikatakan oleh Jeanny.


Agra menghentikan laju mobilnya.


"Kita sudah sampai?" tanya Jeanny seraya celingukan melihat di mana dia saat ini.


"Mana butiknya?" Jeanny tidak melihat ada butik ditempat Agra menghentikan mobilnya.


"Kita berhenti bukan karena sudah sampai butik! dengarkan aku."


Agra memegang kedua bahu Jeanny, dan membuat Jeanny menghadap kearahnya.


...🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁...


...Bersambung ...