My Daughter'S Teacher

My Daughter'S Teacher
MDT



Cerita hanya fiktif, mungkin diluar sana ada cerita seperti ini..🙏


...***...


Agra merangkul pinggang Jeanny saat memasuki gedung perusahaan, di lobby. Jerry, sang sekretaris sudah menunggu kedatangan sang Boss.


"Nyonya Jeanny." gumam Jerry, saat melihat keberadaan Jeanny di sisi sang Boss.


"Semoga dia tidak mengungkit lagi masalah pekerjaan rangkap menjadi dokter gadungan." gumam Jerry dalam hati.


"Selamat pagi Tuan, Nyonya." sapa Jerry dengan menundukkan sedikit kepalanya.


"Pagi Pak dokter." Jeanny yang membalas sapaan Jerry.


Deg..


Agra dan Jerry sama-sama tersentak, karena Jeanny memanggil Jerry dengan panggilan Pak dokter.


"Nyonya, panggil Jerry saja. Di sini, saya hanya sekretaris dan bukan dokter," kata Jerry dengan sedikit gugup.


"Baiklah."


"Sudah kau lakukan, apa yang aku perintahkan?" tanya Agra, seraya melangkah menuju lift.


"Sudah Tuan.." sahut Jerry.


Melihat kedatangan Agra Barend dengan sang istri, mulut-mulut karyawan+62 mulai bergerak. Ada yang menyukainya dan ada juga yang tidak suka, karena mereka merasa. Sang Boss tidak sepadan dengan Jeanny hanya seorang guru TK, dan masih muda. Yang baru mau memasuki usia 22 tahun. Mereka yang tidak suka, beranggapan. Sang Boss harus menikah dengan wanita yang sepadan, dan seumuran dengan sang Boss Agra Barend. Yang sudah mau memasuki usia 32 tahun.


"Lihatlah, Boss tidak cocok dengan istrinya itu. Boss seperti sedang berjalan adiknya." mulut karyawan+62 yang gerak cepat, jika sudah menyangkut hal-hal yang berbau pergosipan.


"Bilang saja kau cemburu!" ledek karyawan +62 yang suka dengan istri sang Boss.


"Sebagai karyawan, kita mau kan melihat Boss kita bersama dengan wanita yang sepadan. Lihat wanita seperti itu yang ada di samping Boss, seperti melihat Boss dengan anak ibu kantin " ledekan kembali keluar dari karyawan+62.


"Ih..kalian itu pada tidak sadar diri ya, jika dilihat. Kalian itu seperti anak jin yang nyaru menjadi manusia." balas karyawan+62 yang baik kepada karyawan+62 yang jahat.


Agra terus melangkah, dengan merangkul sang istri. Dia tidak perduli dengan pandangan mata yang menyorot kepadanya.


"Bang, apa perlu kita berjalan seperti kembar Siam begini?" tanya Jeanny dengan suara yang nyaris berbisik.


"Perlu, biar tidak ada pikiran orang untuk meraih apa yang sudah Agra Barend miliki."


"Tuan..tuan..!" terdengar suara seorang wanita yang memanggil manggil nama Agra Barend.


Tiga langkah kaki berhenti seketika, saat mendengar panggilan suara memanggil Agra.


Tiga kepala menoleh ke arah asal suara.


Zoya, karyawan+62 yang memanggil Agra Barend dengan keras.


"Gila Zoya, berani sekali dia memanggil Boss." suara karyawan yang heran dengan kelakuan Zoya.


"Urat malunya sudah putus." tutur yang lainnya.


"Ada apa?" Jerry langsung berdiri didepan sang Boss, saat Zoya ingin mendekati Agra.


'Pak Jerry, saya ingin memberikan ini pada Tuan." Zoya menunjukkan cup yang berada ditangannya. terlihat seperti minuman coffee , terbaca dari tulisan yang ada di cup tersebut .


"Untuk apa kau beri coffee pada Tuan Agra?" Jerry memicingkan matanya, dia curiga dengan tingkah Zoya sejak Agra mengambil alih perusahaan dari tangan sang Papa. Zoya selalu mendekati Jerry dan bertanya mengenai sang Boss, Agra Barend.


"Coffee ini sangat enak, Tuan pasti akan suka. Awas Pak Jerry." Zoya mendorong tubuh Jerry kesamping, agar dia bisa berhadapan dengan Agra langsung.


Agra memandang Zoya biasa saja, tidak ada senyum di bibirnya.


"Perempuan tidak waras." gumam Jerry dalam hati.


"Tuan, ini saya bawakan coffee. Untuk menemani hari Tuan di pagi hari." Zoya tersenyum, tangannya terulur memberikan coffee yang berada ditangannya kepada Agra. Matanya, tidak sedikitpun memandang Jeanny yang ada di sisi Agra. Mungkin dalam pandangan matanya, Jeanny mahluk kasat mata.


"Terima kasih Mbak, Abang tidak suka coffee kan?" Jeanny mengambil coffee yang diberikan oleh Zoya.


"Itu untuk Tuan Agra." Zoya tidak terima, Jeanny yang mengambil coffee yang ingin diberikannya kepada Agra.


"Mbak, suami saya tidak minum coffee. Lambungnya tidak bisa menerima minuman yang namanya coffee, saya yang suka coffee. Terima kasih, atas coffee gratisnya." tutur Jeanny.


Agra tidak tertarik dengan apa yang terjadi dihadapannya, dia menarik tangan Jeanny untuk melanjutkan langkahnya yang terganggu dengan karyawan+62 yang ganjen dengan sang Boss.


"Tuan..!" panggil Zoya, seraya ingin mengikuti Agra menuju lift.


"Nona Zoya! jaga batasan anda, jangan melakukan perbuatan yang membuat anda akan rugi..!" Jerry menyorot tajam menatap Zoya yang menatap lift yang membawa Agra kelantai atas.


Dari luar lift, Zoya bisa melihat Agra Barend memeluk Jeanny. Karena dinding lift yang terbuat dari kaca.


Dalam lift.


"Ini coffee dari wanita pemuja Abang, ternyata. Di kantor ini ada wanita pengganggu, untung tadi ikut." Jeanny memberikan coffee pemberian Zoya kepada Agra, mulutnya ngedumel.


Agra mengambil coffee dan meletakkannya ke atas lantai lift.


Agar meraih pinggang Jeanny, dan memeluknya dengan erat.


"Kenapa? cemburu?" mata Agra menatap wajah Jeanny dengan lekat.


"Ih.. cemburu? no way..!" Jeanny mencebikkan bibirnya.


Jemari Agra memegang dagu Jeanny, dan mendekatkan bibirnya. Dan langsung menyerang bibir yang mengerucut karena kesal.


Luma-tan bibir Agra pada bibir Jeanny, tidak lepas dari pandangan mata para karyawan. yang melihat kearah lift yang membawa keduanya kelantai paling atas.


"Ahh.. sialan! kenapa liftnya terlalu cepat naik." gerutu para karyawan+62 yang suka melihat adegan yang dipertontonkan oleh Agra didalam lift.


Mulut-mulut karyawan+62 terus berkicau, melihat pemandangan langka yang dilakukan oleh sang Boss. Yang tidak malu mempertontonkan adegan ciuman didalam lift disaksikan oleh mata para karyawan yang saat itu berada didalam lobby.


"Sepertinya, istri Boss berhasil membuat Boss yang biasanya jaga image didepan umum. Menjadi terbuka, lihatlah tadi. Boss tidak sungkan mencium istrinya didalam lift." Tutur karyawan yang tadi menyaksikan apa yang dilakukan oleh Agra dan sang istri didalam lift.


Didalam lift khusus karyawan, ada hati yang tersakiti. Yudha, mendengar apa yang menjadi perbincangan hangat di perusahaan, begitu dia tiba tadi.


"Jeanny ikut suaminya." gumam Yudha dalam benaknya.


"Pak Yudha, tidak lihat tadi. Ya..?" tanya salah satu rekan kerjanya, yang sama-sama ingin menuju ruang kerjanya.


"Lihat apa?" Yudha pura-pura tidak mengerti dengan pertanyaan yang diajukan oleh rekannya tersebut.


"Adegan dewasa yang dipertontonkan oleh Boss."


"Oh.. biar saja, itu kan istrinya. Ini gedung miliknya juga, untuk apa kita turut campur. Kita sebagai bawahan, kerja saja." Yudha berkata dengan wajah yang datar.


Ting..


Pintu lift terbuka, Yudha langsung keluar. Tanpa mengatakan apapun pada rekannya tersebut.


"Kenapa Pak Yudha, omongannya tidak biasanya ketus begitu? Mungkin lagi badmood." gumam rekannya tersebut, seraya masuk menuju ruangannya.


Agra dan Jeanny tiba dilantai yang mereka tuju, lantai ruang kerja khusus petinggi perusahaan.


"Abang ini!" Jeanny memukul lengan Agra, setelah lift berhenti dilantai ruang kerjanya.


"Kenapa lagi Nyonya?"


"Abang itu main cium saja, tidak lihat tempat! Apa Abang lupa, lift tadi tembus pandang. Apa yang kita lakukan tadi pasti menjadi tontonan orang."


"Tidak ada yang salah dengan apa yang kita lakukan tadi, Abang mencium bibir istriku sendiri. Bukan bibir istrinya orang."Agra tidak merasa bersalah dengan apa yang dilakukannya.


To be continued