My Daughter'S Teacher

My Daughter'S Teacher
MDT



Selalu menekan tombol like setelah baca ya kakak-kakak reader 🙏


...Happy reading...


...***...


Polisi mengebrak meja kembali, membuat Andi yang sudah mengantuk dengan mata yang sudah setengah Watt. Kini, matanya menjadi terbuka sempurna.


Andi tegak, tadinya kepalanya sudah miring ke kiri dan kanan. Kini, tegak sempurna. Menatap wajah polisi yang mengebrak meja depannya.


"Polisi berada di depanmu, kau asyik tidur..!" semprot polisi.


"Saya letih Pak," kata Andi.


Setelah merasa keterangan Andi sudah cukup untuk memanggil Yulia, polisi menghentikan penyidikan sudah hampir jam 1 malam.


"Apa saya akan dibebaskan Pak?" tanya Andi dengan lesu, karena tubuhnya benar-benar sudah sangat lelah.


"Dalam mimpimu! kenapa? apa kau sudah sangat ingin tidur di ranjang rumahmu?" tanya polisi.


"Iya, Pak. Selama dalam pelarian, saya tidak pernah tidur dengan lelap. Saya takut ketangkap." curahan hati Andi.


"Makanya, kalau tidak siap menjadi orang jahat. Jangan jadi orang jahat..!" celetuk seorang polisi yang berada didalam ruang penyidikan.


"Khilaf Pak," jawab Andi.


***


Pagi tiba, Jeanny dan Lisa sedang menikmati sarapan paginya. Mereka hanya berdua berada diruang makan, karena Oma Gracia. Dan Papa dan Mama mertuanya sudah kembali sejak tadi malam.


"Ma, Papa kemana?" tanya Lisa.


"Papa, pergi ke kantor," jawab Jeanny.


"Kenapa Papa pergi ke kantor cepat sekali? Papa tidak mengucapkan selamat pagi pada Lisa." Lisa memanyunkan bibirnya.


"Papa tadi masuk kamar untuk mengucapkan selamat pagi. Tapi, karena Lisa belum bangun. Papa, hanya mencium Lisa." tutur Jeanny yang berbohong, dia tidak ingin membuat hati Lisa kecewa. Karena, Agra sejak meninggalkan rumah tadi malam. Tidak kembali sampai pagi tiba.


"Kenapa Papa tidak bangunkan, Lisa?"


"Nanti kita marahi Papa, saat Papa pulang ya?" bujuk Jeanny.


"Sekarang, habiskan makannya. Nanti, makanan nangis. Karena ditinggalkan di atas piring." sambung Jeanny kembali.


"Hahaha! masa makanan nangis ma?" tawa Lisa, saat mendengar perkataan Jeanny yang mengatakan makanan nangis. Karena tersisa di atas piring.


"Kata-kata orang dulu, Mama juga tidak pernah dengar makanan menangis," jawab Jeanny sambil tertawa kecil.


Seorang maid masuk kedalam ruangan makan


"Nyonya, ada sekretaris Den Agra," ujar Bi Ain.


"Sekretaris Bang Agra, siapa Bi?" tanya Jeanny, karena tidak mengenal sekretaris Agra.


"Tuan Jerry," jawab Bi Ain.


"Om Jerry, Lisa kenal." Lisa langsung berlari meninggalkan ruang makan, untuk menemui Jerry.


"Lis! habiskan makannya." panggil Jeanny, tetapi. Lisa sudah berada ditempat Jerry duduk. Karena, sudah terdengar suara kicauannya menanyakan keberadaan Papanya.


"Sudahlah Bi, bersihkan meja makannya. Lisa, tidak akan menghabiskannya lagi," ujar Jeanny pada Bi Ain.


"Baik Nyonya," sahut Bi Ain.


Jeanny bergegas menuju ruang depan, dan melihat Lisa sedang berbincang dengan seorang pria yang membelakangi pintu.


"Selamat pagi." sapa Jeanny.


"Pagi Nyonya." balas Jerry, seraya berdiri dari duduknya dan memutar badannya menghadap Jeanny.


"Anda! dokter itu kan..!? Jeanny ingat, saat pertama kali di bawa Agra ke rumah ini. Jerry datang sebagai dokter pribadi Agra.


"Anda sekretaris, merangkap jadi dokter? jenius sekali otak anda, Dok? bagaimana Pak dokter membagi waktu dalam bertugas?" tanya Jeanny yang penasaran dengan waktu yang di berikan Jerry kepada dua profesi yang berbeda yang di gelutinya.


Jerry kaget, dia melupakan penyamarannya yang disuruh Boss-nya. Agra.


"Aduh..! gawat, apa aku katakan saja. Bahwa waktu itu aku di perintahkan oleh Boss." batin Jerry.


"Mama, kata Om Jerry. Papa minta baju," kata Lisa, memecah keheningan. Karena, Jerry bingung untuk menjawab pertanyaan istri sang Boss.


"Baju? tanya Jeanny pada Jerry.


"Berapa pasang?" tanya Jeanny.


"Satu pasang saja, Nyonya," jawab Jerry.


"Tunggu sebentar, Lisa. Ayo kita ambil baju yang Papa minta," ujar Jeanny pada Lisa.


Begitu Jeanny pergi, Jerry menarik napasnya.


"Selamat, kenapa lupa aku. Waktu itu menyamar menjadi dokter, bagaimana jika tahu. Bahwa aku sebenarnya bukan seorang dokter? Nyonya pasti akan marah besar. Tapi, bukan salah aku. Tuan Agra yang punya rencana." Jerry bicara sendiri.


***


Di penginapan yang kecil, Maharani sedang mengomel dan mengumpat. Dia tahu, Mikaela sedang berada ditangan Agra.


Anak buahnya yang mengikuti Agra, membawanya mengetahui keberadaan Mikaela.


Beberapa jam sebelumnya, anak buahnya mendatanginya ke rumahnya. Dan mengatakan, Mikaela sekarang berada di rumah sakit. Dalam pengawasan Agra Barend.


Setelah, mendengar laporan anak buahnya. Maharani pergi meninggalkan rumahnya dan memerintahkan seluruh pelayan untuk meninggalkan rumah, agar. Tidak ada yang mengetahui tentang dirinya.


Di sini Maharani sekarang berada, di penginapan kecil. Bukan Maharani tidak mampu tinggal di hotel bintang lima, tapi. Dia tidak ingin keberadaannya terendus oleh Agra Barend.


"Sialan kau Mikaela! aku benar-benar akan melenyapkan kau, seperti aku melenyapkan seluruh keluargamu dulu..!" umpat Maharani dengan emosional.


"Bagaimana sekarang nyonya? apa yang harus kami lakukan?" Jabrik, orangnya yang selalu melakukan pekerjaan kotornya. Berdiri, menatap majikannya.


"Rencanakan plan B, aku tidak ingin gagal..!" seru Maharani.


Maharani mengibaskan tangannya, memerintahkan jabrik untuk keluar dari dalam penginapannya.


"Sekali lagi aku gagal..! Gracia, kau harus membayar mahal. Kau akan lenyap..!" senyum sinis menghiasi bibirnya.


***


Dua polisi pria dan satu polisi wanita kini berada di ruang tamu rumah Darmawan.


"Ada apa ya Pak, pagi-pagi sekali sudah datang?" tanya Darmawan dengan suara yang terdengar cemas.


Darti, yang duduk di samping sang suami juga cemas. Pertanyaan, terus memenuhi pikirannya.


"Ada apa ini? kenapa perasaanku ini mengatakan, polisi ini datang ada hubungannya dengan Yulia.." dalam benak Darti, Mama Yulia.


"Kami ingin meminta saudari Yulia untuk datang ke kantor polisi, ada yang ingin kami tanyakan," jawab polisi.


Polisi mengeluarkan surat panggilan terhadap Yulia, kepada Darmawan.


Dengan tangan gemetar, Darmawan mengeluarkan surat tersebut dari dalam amplop, dan mulai membacanya.


Degh..


Papa dan Mama Yulia kaget, saat membaca surat pemanggilan tersebut.


"Apa salah anak saya Pak? dia sedang mengandung, tidak mungkin dia bisa melakukan kejahatan. Sudah beberapa hari ini, Yulia bed rest. Dokter tidak mengizinkannya untuk bangkit dari ranjang." tutur Darmawan, Papa Yulia.


Polisi saling pandang.


"Boleh kami melihatnya?" polisi tidak langsung percaya dengan apa yang dikatakan oleh Papa Yulia, bisa saja. Itu alasan untuk menghindar dari panggilan polisi.


"Bagaimana Ma?" tanya Darmawan Papa sang istri.


"Biar saja Pa."


"Mari ." Papa Yulia mempersilakan polisi untuk mengikutinya, dan polisi wanita yang mengikuti Papa Yulia.


Mereka menuju kamar yang berada di lantai bawah, di sebelah kamar orangtuanya. Karena sulit untuk sang Mama untuk naik turun tangga, Papa berinisiatif untuk memindahkan kamar Yulia dikamar bawah. Walaupun, mendapatkan penolakan. Akhirnya, Yulia mau untuk menempati kamar tamu.


Papa Yulia mengetuk pintu kamar putrinya tersebut.


Tok..tok..


"Lia." panggil Papanya.


"Lia, ada yang ingin bertemu denganmu. Lia," ucap Darti, Mama Yulia.


Tok..tok..


...***...


To be continued