My Daughter'S Teacher

My Daughter'S Teacher
MDT



...Happy reading...


...***...


Eva menurunkan bantalan kursi yang menutupi wajahnya, dan melirik Albert kesal.


"Sialan! mana Michael?" tanya Eva.


"Pulang, kenapa? apa kau rindu ribut dengannya? kalau aku katakan ya, daripada kau mengejar laki-laki yang tidak jelas. Michael kejar."


"Huh..! Michael dan kau itu Bert, aku tidak minat..! dari belum akil baliq , aku sudah mengenal kalian berdua. Kudis di tubuh kalian saja aku tahu letaknya..!"


"Gila itu perempuan..!" ucap Albert sambil menekan tombol nomor Agra, tetapi. Nomor Agra tetap tidak dapat dihubungi.


"Siapa yang gila? aku ?" tanya Eva, yang mendengar umpatan Albert yang mengatakan gila.


"Apa kau perempuan?" tanya balik Albert.


"Sampai saat ini, aku belum ganti kelamin! apa kau ingin lihat..?" Eva berdiri dan pura-pura ingin membuka resleting celana jeans yang dikenakannya.


"Kau sudah benar-benar sinting..! buka, kalau berani." tantang Albert.


"Berani!" Eva memainkan bola matanya.


"Sudah sana, jangan ganggu aku dulu. Kalau kau tidak bisa bantu, aku harap jangan ganggu aku ." Albert kembali menghubungi nomor Agra, dan ponselnya Agra terus dengan nada panggil.


"Wow Agra..! angkat ponselmu!!" teriak Albert ditelpon.


"Ini hari libur, Agra pasti sedang dibawah selimut dengan istrinya. Kau itu saja, hari libur yang masih bekerja.."


"Ada apa? apa ada hal yang gawat? sehingga kau sibuk menghubunginya?" tanya Eva sembari melangkah menuju dapur.


"Mikaela kabur," ucap Albert.


"Biar saja dia kabur! untuk apa dipusingkan, biar saja dia gentayangan..!" seru Eva.


"Gentayangan! memangnya dia setan." Albert mengambil kunci mobilnya.


Melihat Albert mengambil kunci mobil dan jaket yang selalu dipakai Albert, Eva bertanya pada Albert.


"Mau pergi?"


"Iya," sahut Albert.


"Lalu, aku?" Eva menunjuk dirinya.


"Terserah, mau pulang. Atau kau mau ikut, aku butuh bodyguard."


"Boleh, aku cocok menjadi tukang pukul." Eva meraih tasnya dan berjalan setengah berlari mengikuti Albert yang sudah berada diluar apartemen.


*


*


Maharani mengamuk dan melempar anak buahnya dengan makanan yang dipesannya.


"Makanan apa ini..!" sergang Maharani sembari melempar makanan tersebut, kepada Samson yang disuruhnya untuk membeli makanan.


Wajah Samson bersimbah makanan dan kopi panas yang dilemparkan Maharani.


"Itu makanan yang anda pesan Nyonya." Samson menyingkirkan mie yang berada di atas rambutnya, bercampur dengan kopi yang panas.


Samson merasa wajahnya perih, karena kopi panas yang menerpa wajah dan bajunya.


"Tapi, yang aku pesan bukan restoran yang ini. Kau mau menipu aku ya..?" Maharani menekan dada Samson dengan tongkatnya.


"Maaf." Samson menundukkan kepalanya.


"Pergi!" titahnya pada Samson.


"Kau beli ditempat restoran yang biasa aku beli, Awas! jika kau mau menipu ku, aku tidak akan mengampuni mu..!" ancam Maharani.


Jabrik memberi tanda, agar Sansom segera keluar.


Begitu Sansom pergi, satu orang anak buahnya masuk.


"Ada berita apa? aku harap berita baik? jangan kau membawa berita yang membuat aku marah..!" Maharani duduk, dan menatap pria yang baru datang.


"Maaf Nyonya, gadis itu tidak terlihat ditempat yang kita curigai.


Plak..


Tongkat besi Maharani melayang, tempat menyentuh hidung pria yang membuat Maharani marah.


Hidung pria tersebut langsung mengucurkan darah segar


"Keluar..! jangan nampak kan wajahmu..!" seru Maharani.


Jabrik mengambil tongkat Maharani, mengelapnya. Baru kemudian memberikan kepada sang pemilik.


"Kau! anak buahmu tidak becus bekerja..!" Maharani melotot menatap wajah Jabrik.


Jabrik berlutut membelakangi Maharani dan membuka bajunya.


Jabrik tidak berteriak, walaupun punggungnya sudah berdarah. Dia hanya menahan sakit, dengan menggigit bibirnya.


"Pergi, kau awasi anak buahmu. Jangan sampai aku melenyapkan kalian semua..!"


Jabrik bangkit dari berlutut, dengan jalan yang sempoyongan. Dia keluar, diluar. Rekannya, sudah menunggu. Mereka tahu, karena kesalahan mereka. Jabrik sebagai pemimpin selalu yang mendapatkan hukuman.


"Maaf, karena kerja kami yang tidak becus. Kau yang mendapatkan hukuman." ucap rekannya.


"Berbalik lah, biar aku obati lukamu itu."


"Tidak usah, hanya luka kecil. Aku pergi sebentar, jaga yang benar." Jabrik pergi meninggalkan rekannya.


Begitu Jabrik pergi, Samson tiba dengan membawa makanan yang baru kepada Maharani.


"Kenapa kalian semua?" tanya Samson, saat melihat rekan-rekannya berwajah kusut.


"Jabrik, baru saja mendapatkan hukuman. Aku sudah muak." beritahu rekannya kepada Samson.


"Sabar," ujar Samson sembari berjalan masuk menuju kamar Maharani.


Tok..tok..


Samson masuk dan memberikan makanan yang dibawanya ke atas meja.


Maharani melihat, tas tempat makanan tersebut. Tertulis nama restoran favoritnya.


"Pergi, jangan ganggu aku..!" ujar Maharani, tanpa melihat kearah Samson.


Samson keluar, dia menutup pintu kamar. Terlihat smirk di sudut bibirnya, entah apa yang ada dalam pikiran Samson saat dia keluar dari dalam kamar Maharani.


"Ayo kita makan, Joel. Ambil makanan kita didalam mobil, hari ini. Aku traktir kalian dengan makanan mewah, sama seperti yang Boss makanan," kata Samson dengan gembira.


"Asik..!" seru rekannya.


Pria yang bernama Joel berlari cepat menuju mobil Samson, dan kembali dengan membawa bungkusan. Dan membagikannya, kepada rekan-rekannya.


"Makan mewah kita, Sam. Ini untuk merayakan apa..?" tanya rekannya yang sedang menyesap kopi panas.


"Merayakan, apa yang sebentar lagi kita akan hadapi. Kebebasan..!" seru Samson, tangannya yang memegang kopi naik keatas.


"Hidup kebebasan..!" suara menyerukan kebebasan keluar dari mulut rekan-rekannya.


Samson dengan rekan-rekannya saling bertos , dengan membenturkan kopi yang mereka pegang.


Tiba-tiba.


Pintu kamar Maharani terbuka, semua serentak menoleh kearah pintu. Mereka terdiam dengan dengan mata yang terbuka lebar, saat melihat Maharani keluar dengan sempoyongan sembari memegang lehernya. Mulutnya terbuka, wajahnya memerah.


"A..a..a..a..!" Suara Maharani dengan tubuh yang sempoyongan melangkah menuju ketempat anak buahnya sedang menikmati makan sore.


Tidak ada yang mendekati Maharani, semua mundur. Saat Maharani mendekat.


Tiba-tiba, tubuh Maharani terjatuh. Badannya menggelepar, seperti ikan yang tidak mendapatkan air. Dari dalam mulutnya keluar buih, matanya mendelik dan terdengar suara geraman dari mulutnya yang berbuih.


Anak buahnya hanya menonton, tidak ada yang mendekat untuk memberikan bantuan. Semua terpaku, dengan pikiran masing-masing.


Terdengar suara mobil berhenti, semua kepala beralih melihat kearah orang yang baru turun dari mobil.


"Ada apa?" Tanya Jabrik, yang heran. Melihat rekan kerjanya memandangnya dengan ekspresi wajah aneh menurut penglihatan mata Jabrik.


Semua kepala beralih kearah Maharani yang terbaring di lantai, dengan mulut berbusa dan mata melotot.


Jabrik gegas menyeruak tubuh rekannya, untuk melihat apa yang dilihat oleh rekannya.


"Nyonya..!" pekik Jabrik, saat melihat Maharani terbaring dalam keadaan mengenaskan.


"Apa yang terjadi!? tanya Jabrik sembari memeriksa kondisi Maharani.


"Kami tidak tahu, kami sedang makan. Tiba-tiba nyonya keluar dari dalam kamar dengan sempoyongan, memegang lehernya." tutur Joel.


"Nyonya meninggal." gumam Jabrik, tangannya mengusap mata Maharani yang melotot.


"Meninggal! kenapa? apa nyonya kena serangan jantung?" tanya Samson.


"Bisa jadi," sahut Jabrik.


Jabrik menoleh kearah Samson, Sansom mengangkat kedua bahunya. Mengatakan, bahwa dia tidak tahu apa-apa.


"Bagaimana ini, apa kita harus laporkan pada polisi?" tanya Joel.


"Tidak usah, cepat bereskan tempat ini. Kita pergi, bawa nyonya Maharani pulang." titah Jabrik pada rekannya.


Semua bergegas melakukan apa yang dititahkan oleh Jabrik.


Akhir Maharani habis ditangan orang terdekatnya, uang tidak menjamin orang setia. Apalagi, kekejaman Maharani membuat ada hati yang tersakiti.


...****...


To be continued