My Daughter'S Teacher

My Daughter'S Teacher
Menuju ending



...Happy reading...


...***...


'Nona, untuk apa anda di sini?" tanya Jerry, dahinya mengernyit heran melihat Mikaela di perusahaan PT STAR.


"Aku ingin bertemu dengan Agra," kata Mikaela.


"Ada perlu apa anda ingin bertemu dengan Tuan Barend?" tanya Jerry.


Mikaela tertawa sinis melihat Jerry.


"Hei Tuan, kau tidak berhak ingin tahu urusan aku dengan Boss mu! katakan, di mana Agra?" Mikaela berkacak pinggang didepan Jerry.


"Tolong panggil sekuriti, bawa orang ini keluar dari dalam perusahaan. Dan, ingat wajahnya. Jangan sampai dia memijakkan kaki di lobby perusahaan.." titah Jerry pada karyawati bagian resepsionis.


"Kau..! awas kau, aku akan mengadukan kau pada Agra..!" teriak Mikaela, sampai orang yang berada di lobby mengarahkan pandangan ke arahnya.


"Apa lihat-lihat..!" senggang Mikaela pada orang-orang yang menatapnya.


Dua orang sekuriti datang.


"Pak, tolong bawa Nona ini keluar. Perintah Pak Jerry."


"Silakan Nona." dua sekuriti mentitahkan Mikaela untuk keluar.


"Tidak mau.!" tolak Mikaela.


"Silakan Nona, jangan sampai kami menyeret anda."


"Silakan kalau berani! aku akan memecat kalian semua, kalian tidak tahu. Aku ini adik ipar Boss kalian..!" Mikaela melotot menatap dua wajah sekuriti didepannya.


"Kami tidak perduli Nona, kami hanya mendengarkan apa yang dikatakan oleh Pak Jerry. Silakan Nona." sekuriti mempersilakan Mikaela untuk keluar dari lobby perusahaan.


Kedua sekuriti menarik Mikaela dengan paksa, sampai didepan kantor baru keduanya melepaskan Mikaela.


"Kurang ajar kalian, awas kalian. Aku akan melaporkan kelakuan kalian ini ke kantor polisi, biar kalian di penjara.! aku akan menuduh kalian karena telah melakukan pelecehan kepadaku..!" Mikaela marah.


Kedua sekuriti menundukkan kepalanya ke arah orang yang turun dari dalam mobil.


"Ada apa ini? kenapa ribut-ribut didepan perusahaan?"


"Nona ini ingin bertemu dengan Tuan Agra Barend, Tuan," ucap sekuriti pada pria yang berada dibelakang Mikaela.


Mikaela memutar badannya, dan melihat Abraham Barend berada dibelakangnya.


Mikaela tahu dengan Abraham Barend, dari majalah bisnis yang sering dibacanya


"Om, saya Mikaela," ucap Mikaela mengenalkan dirinya, pada Abraham Barend.


"Aku tahu, wajahmu mirip dengan wanita itu," ucap Abraham dengan datar.


"Om, saya ingin bertemu dengan Agra," kata Mikaela.


"Untuk apa kau ingin bertemu dengan Agra? apa kau mengenalnya, sehingga perlu untuk menemui putraku?" tanya Abraham Barend.


"Orang tua ini sangat dingin, tidak ada senyum di wajahnya." dalam benak Mikaela.


"Nona, ayo kita ke cafe depan itu. Ada yang ingin saya katakan pada Nona." Abraham Barend melangkah menuju cafe, tanpa menunggu Mikaela.


Kini, keduanya duduk berhadapan.


"Ada perlu apa Nona Mikaela menemui putra saya? kalau hanya untuk menganggu rumah tangga putra saya, saya harapkan. Untuk mengurungkan niat anda. Nona..!"


"Kenapa Om, saya Tante Lisa. Dia keponakan saya Om, dia berhak mengenal saya sebagai saudara Mamanya.


"Kenapa baru sekarang? saudara anda sudah meninggal 4 tahun yang lalu, baru sekarang anda muncul. Saya tahu, anda dulu juga tidak akur dengan saudara anda. Tolong, jauhi rumah tangga putra saya. Jangan sampai anda menyesal Nona." ancam Abraham Barend, tapi. Bibir Abraham Barend tersenyum, membuat Mikaela yang melihatnya merasa tidak nyaman.


"Om mengancam saya?" tanya Mikaela.


"Tidak! tapi jika kau merasa itu sebagai ancaman, dengarkan apa yang aku katakan. Pulanglah, dari mana Nona berasal. Jangan ikuti jejak saudaramu, Permisi." Abraham Barend bangkit dari duduknya dan berjalan menuju luar cafe.


Di luar cafe, mobilnya sudah menunggu.


"Gila! auranya sangat menakutkan." gumam Mikaela.


"Aku pulang saja, di sini bukan tempatku." Mikaela keluar dari dalam cafe, dan memanggil taxi yang berhenti di depannya.


"Bandara Pak," ujar Mikaela, yang memutuskan untuk kembali ke Belanda.


"Aku pulang saja, daripada menghadapi Om Abraham Barend. Laki-laki tidak hanya Agra Barend, di Belanda juga banyak laki-laki keren dan mapan. Untuk apa aku membahayakan diri mengejar laki-laki yang tidak bisa disentuh.


*


*


"Bagaimana bisa ada waktu luang Yudha, kau itu bukan pergi plesiran. Kau itu pergi sekolah, kenapa tidak mengambil S2 di Indonesia saja. Kenapa harus pergi keluar negeri?"


"Ma, peluang Yudha untuk maju lebih besar. Jika dia tamatan luar negeri," ujar Papa Yudha.


"Ma, hanya dua tahun. Tidak lama itu, Jika Yudha tidak bisa pulang. Mama bisa mengunjungi Yudha," kata Yudha.


"Baiklah, Mama tidak akan mengatakan apapun lagi. Apapun yang Mama katakan, kau sudah di terima di universitas sana. Tapi, mama harap. Kau jangan menikah dengan wanita luar ya," kata Mama Yudha.


"Mama, biarkan saja. Bagus kan, kita punya menantu bule."


"Huh..Papa."


Yudha tertawa mendengar perdebatan keduanya.


"Aku akan merindukan ini semua." gumam Yudha dalam benaknya.


"Sudah siap semua?" tanya Papa Yudha.


"Sudah Pa," sahut Yudha.


"Ma, Yudha berangkat. Jaga diri Mama, jangan suka marah dengan tetangga." gurau Yudha.


"Yudha, Mama mana pernah marah-marah." Mamanya menepuk pundak Yudha.


"Mama tidak mengantar ke bandara ya," ujar Mama Yudha.


"Iya, Ma. Nanti Mama mengantarkan Yudha, banjir air mata bandara," kata Yudha.


"Ledek terus, nanti saat Yudha menjadi orang tua dan anak-anak ingin pergi jauh. Yudha pasti seperti Mama."


"Iya, Ma." Yudha memeluk dan mencium pipi Mama.


"Jaga kesehatan Ma." ingatkan Yudha.


"Iya, Yudha juga jaga kesehatan. Makan yang teratur, jangan suka belajar sampai tengah malam," ucap mamanya.


Mobil yang dikemudikan oleh Papanya, mulai meninggalkan pekarangan rumah. Yudha mengeluarkan tangannya, melambaikan tangan kepada Mamanya yang menatap kepergian anaknya dengan perasaan sedih.


"Yudha! jaga diri baik-baik Nak..!" seru Mama Yudha dengan suara yang bergetar menahan tangisnya, dia tidak ingin memperlihatkan wajah sedih penuh air mata.


Yudha hanya menjulurkan kepalanya sedikit keluar dengan tangan melambai-lambai.


Begitu mobil sudah benar-benar menjauh, baru Mama mengeluarkan suara tangis dan air matanya.


"Semoga kebahagiaan sebenarnya, menunggumu di sana. Nak." gumam Mama Yudha.


*


*


Jeanny keluar dari dalam kamar mandi, matanya langsung membulat sempurna. Saat melihat tempat tidur acak-acakan, dengan tersangka utama sedang berada di atas ranjang. Seperti sedang mencari-cari sesuatu.


"Abang! kenapa tempat acak-acakan begitu?" Jeanny melangkah mendekati Agra dengan tangan melipat didepan dadanya.


"Candy lolypop Abang hilang, apa ketinggalan di apartemen?"


Pulang dari perusahaan, keduanya sudah kembali ke rumah. Agra memutuskan untuk tinggal di rumah lagi. Karena kondisi keamanan Jeanny dan Lisa tidak mengkhawatirkan lagi.


Mengetahui apa yang di cari oleh Agra, Jeanny melangkah menuju nakas di samping ranjang. Dan membuka laci nakas, mengambil candy lolypop yang di cari Agra.


"Ini yang Abang cari." Jeanny menyodorkan candy yang di cari-cari oleh Agra.


"Iya, kenapa ada pada Jean?" tanya Agra.


"Abang itu mau buat kita tidur dengan di gigit semut? nyimpan candy kenapa di bawah bantal? apa itu kenapa? aneh sekali."


"Mulut Abang pahit dan asam Jika tidak ngemut candy."


"Jangan biasakan Bang, tidur ngemut candy! apa Abang mau cepat tidak punya gigi? pasti Abang tidak sikat gigi kan?"


"Hehehehe..!" mulut Agra hanya mengeluarkan tawa.


"Awas, ya. menyimpan makanan di bawah bantal, Lisa saja tidak seperti Abang." lalu kemudian, Jeanny keluar dari dalam kamar.


"Selamat, untung tidak di buang Jeanny." Agra membuka bungkus candy dan memasukkannya kedalam mulut.