My Daughter'S Teacher

My Daughter'S Teacher
MDT



...Happy reading...


......***......


Walaupun kelakuan sang putri sudah membuat hati keduanya sakit, kecewa. Tapi, keduanya tetap akan mendampingi sang putri melewati ini semua. Apapun yang akan dihadapi oleh sang putri, Papa dan Mama Yulia akan tabah.


"Kau kan tidak terlibat dengan masalah Yulia, kenapa kau di panggil polisi? Jangan sampai Yulia menarik kau masuk kedalam permasalahannya." Mama Yudha terus mengomel.


"Ma, sudahlah. Kita tunggu saja kabar dari pihak polisi." Hendra, sang suami membujuk sang istri untuk tenang.


"Duduk sini Ma." Hendra menepuk kursi di sampingnya, untuk ditempati sang istri duduk.


Susan menghempaskan tubuhnya, sehingga kursi bergetar.


"Ma, pelan-pelan duduknya. Ambruk nanti kursi ini," ujar Hendra.


"Tidak mungkin ambruk Pa, badan Mama tidak segede truk gandeng." balas Susan.


"Yudha, apa Jeanny tidak di panggil juga?" tanya Hendra.


"Tidak tahu Pa," sahut Yudha.


Seorang polisi memanggil Yudha untuk masuk.


"Pak, anak saya tidak ditahan kan? putra saya tidak tahu apa-apa Pak, wanita itu istri putra saya. Tapi, hanya istri di atas kertas saja." tutur Susan kepada polisi yang memanggil Yudha.


"Kita lihat saja nanti Bu, keterangan putra ibu untuk melengkapi berkas penyidikan untuk tersangka Yulia Larasati," ujar polisi.


"Ma, tenang saja. Yudha tidak apa-apa, Yudha tidak ada sangkut pautnya dengan masalah Yulia." Yudha menenangkan Mamanya, yang takut dirinya akan ditahan.


"Ayo Pak Yudha." titah polisi pada Yudha.


Begitu Yudha hilang dari balik pintu kaca, Mama dan Papanya duduk kembali. Menunggu sang putra keluar dari dalam kantor polisi.


"Pa, apa kita tidak perlu menyewa pengacara untuk mendampingi Yudha?" tanya Susan.


"Untuk apa Ma, Yudha tidak membutuhkan pengacara. Anak kita tidak bersalah, untuk apa didampingi seorang pengacara." tolak Hendra, atas usul sang istri untuk menyewa pengacara untuk mendampingi Yudha.


"Pak besan, jika butuh pengacara. Saya ada kenalan pengacara yang bagus." Papa Yulia menawarkan pengacara yang dikenalnya kepada Papa Yudha.


"Terima kasih Pak Darmawan, Yudha tidak membutuhkannya. Saya yakin, putra saya tidak terlibat dalam masalah Yulia," kata Papa Yudha.


"Kami yakin, Yudha tidak bakalan terlibat dengan kasus Yulia." timpal Mama Yudha.


"Saya heran dengan putri Bu Darti, terbuat dari apa itu otak Yulia ya? bisa-bisanya merencanakan kejahatan kepada gadis yang tidak mengganggunya? apa salah Jeanny? gadis itu tidak pernah mengganggunya. Jeanny juga tidak pernah menganggu Yudha. Apalagi, sekarang ini Jeanny sudah menikah." tutur Susan.


"Menikah! gadis itu sudah menikah?" tanya Darti, yang kurang yakin dengan apa yang dikatakan oleh Mama Yudha.


"Gadis yang hampir menjadi menantu kami itu sudah menikah, suaminya. Pasti Yulia tahu," kata Susan.


"Yulia tahu? siapa? apa menikah dengan teman Yulia?" tanya Darmawan.


"Jeanny tidak mungkin mau menikah dengan teman Yulia, teman Yulia tidak bener semua. Mending dengan putraku, Jeanny menikah." ucapan nyelekit keluar dari mulut Susan.


"Jeanny menikah dengan Boss tempat Yudha kerja, Yulia bekerja satu tempat dengan Yudha kan? Yah.. Boss mereka berdua, suami Jeanny." cerita Susan.


"Yulia telah mengganggu orang yang salah, suami Jeanny tidak akan melepaskan orang yang telah berani menganggu istrinya." sambung Susan lagi.


"Pa, Yulia tidak akan bisa lepas dari jeratan hukum." mendengar apa yang dikatakan Mama Yudha, hati Darti semakin kalut.


"Sudahlah Ma, kita terima saja. Kita khawatir juga tidak berguna, tidak akan bisa membebaskan Yulia dari jeratan hukum."


Dalam ruang pemeriksaan.


"Jeanny adalah kekasih saya dulu Pak, sebulan lagi kami akan menikah." Yudha menceritakan hubungannya dengan Jeanny dan menceritakan juga ia terpaksa mengakhiri hubungannya dengan Jeanny dan terpaksa menikah dengan Yulia.


"Ternyata, ada cinta segitiga diantara anda. Istri dan mantan anda, apa anda masih menjalin hubungan istimewa dengan mantan anda? sehingga, istri anda merasa terancam sebagai istri anda sekarang ini?" tanya polisi.


"Pak, saya sudah melepaskan Jeanny dari sini dan sini" Yudha menepuk dadanya dan kepalanya.


"Walaupun berat Pak, saya sudah merelakan dia. Karena, dia juga sudah menikah Pak. Saya tidak ingin membuatnya tersakiti lagi, biar dia bahagia dengan keluarga barunya." Yudha menuturkan hubungannya yang tidak mungkin terjalin lagi dengan Jeanny, karena Jeanny sudah menikah.


"Istri anda mengatakan, bahwa anda masih menjalin hubungan dengan mantan anda itu. Sehingga, dia nekad untuk menculik mantan kekasih anda, Pak Yudha." tutur polisi.


"Apa yang dikatakan Yulia tidak benar Pak, saya tidak berhubungan lagi dengan Jeanny. Sejak menikah dengan Yulia, saya beberapa kali untuk mencoba mendekati Jeanny. Saya akui, tapi. Jeanny menolak saya Pak, nomor telepon saya saja diblokir oleh Jeanny Pak. Jika bapak tidak percaya, akan saya tunjukkan. Bahwa saya tidak berbohong"


Yudha mengeluarkan ponselnya, dan mencoba menghubungi nomor telepon Jeanny.


"Lihatlah Pak, nomor saya di blokir," kata Yudha dengan menunjukkan ponselnya kepada polisi.


"Saya tidak ada hubungan lagi dengan Jeanny, Yulia saja yang gila Pak."


Hampir dua jam Yudha di periksa oleh polisi.


Yudha keluar dari dalam ruang pemeriksaan, dan langsung diberondong pertanyaan oleh kedua orang tuanya.


"Bagaimana Yudha, apa kau terseret dengan kasus Yulia. Apa kau dipukul, untuk mengaku?" tanya Mamanya sambil memperhatikan sekujur tubuh putranya, Yudha.


"Mama, polisi tidak akan main pukul saja. Apalagi, Yudha tidak melakukan kesalahan apapun," kata Hendra, Papa Yudha.


"Tidak Ma, Polisi hanya menanyakan hubungan Yudha dengan Jeanny," kata Yudha.


"Yudha, apa kau tidak mau bertemu dengan Yulia?" tanya Mama Yulia yang baru keluar dari menjenguk Yulia didalam tahanan pihak kepolisian.


"Untuk apa putra saya menemuinya, nanti aura gelap mendekati putra saya," ujar Susan, Mama Yudha.


"Jeng Susan, bagaimana pun juga. Yulia masih istrinya Yudha," ucap Mama Yulia dengan suara yang biasa-biasa saja, tidak ada kemarahan mendengar apa yang dikatakan oleh besannya tersebut.


"Yudha, ayo kita temui Yulia," ujar Papa Yudha.


"Pa, untuk apa kita menjenguknya..!" Susan tidak suka mendengar sang suami mengajak Yudha untuk menjenguk Yulia.


"Ma, walaupun kita tidak suka dengan kelakuannya. Tapi, kita menjenguknya demi kemanusiaan. Apalagi dia sedang mengandung, mungkin saja. Itu cucu kita," ucap sang suami dengan bijak.


"Baiklah, kita juga tidak akan berdosa. Jika menjenguk pendosa seperti Yulia itu," ucap Mama Yudha.


Lagi-lagi ucapan nyelekit keluar dari mulut Susan, saking kesal dengan Yulia.


Akhirnya, Yudha dan kedua orangtuanya menjenguk Yulia yang berada didalam penjara pihak kepolisian.


Yudha dan kedua orangtuanya menunggu, Yulia dibawa keluar dari dalam penjara pihak kepolisian.


"Mama koq takut berada di sini. Bulu kuduk Mama berdiri," ujar Susan sembari mengelus kedua sisi lengannya.


Krit..


Terdengar suara pintu besi dibuka, dan terlihat Yulia di giring polisi.


"Mas Yudha..!" Yulia berjalan setengah berlari mendekati Yudha, dan kemudian menubruk tubuh Yudha dan menangis di dada Yudha.


Yulia memeluk tubuh Yudha, tapi. Yudha tidak membalas pelukan tersebut.


...***...


To be continued