
Happy reading 😍
...🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁...
"Apa aku salah rumah?" Jamie mengeluarkan ponselnya, dan melihat alamat yang diberikan oleh Jeanny.
"Benar, ini alamat yang diberikan oleh Jeanny. tapi, kenapa tidak ada orang yang bernama Arga?"
Jamie menggaruk-garuk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal.
"Apa dia sudah tahu aku akan datang? dan menyuruh bapak ini berbohong. Mungkin saja, dasar pria pengecut. Tidak bertanggung jawab, dia pasti bersembunyi..!" Jamie mengeluarkan kekesalannya.
"Katakan yang sebenarnya, bapak berbohong kan? pria yang bernama Arga tinggal di sini kan? pasti dia memerintahkan bapak untuk berbohong..!" seru Jamie seraya memberikan tatapan mata yang tajam pada orang yang berada dihadapannya.
"Ya Allah Pak! betul, di sini tidak ada orang yang bernama Arga! bapak tidak percaya? bapak silakan cari sendiri, silakan bapak masuk ke dalam." Pria yang bernama Mahmud membuka gerbang lebar-lebar, untuk Jamie masuk ke dalam untuk mencari orang yang di carinya.
"Bapak serius tidak berbohong?"
"Demi Allah Pak saya tidak berbohong," Jawab pria yang bernama Mahmud.
"Tapi saya diberikan alamat ini oleh adik saya," kata Jamie.
Jamie menunjukkan ponselnya kepada Pak Mahmud.
"Betul Pak Ini alamatnya, tapi orang yang bapak cari yang bernama Arga tidak ada."
"Kemana harus kucari Arga ini, sialan dia pasti telah menipu Jeanny dengan memberikan alamat palsu..!" Jamie melampiaskan kekesalannya.
Pria yang bernama Mahmud menatap Jeanny dengan lekat.
"Kalau boleh saya tahu Pak, ada keperluan apa bapak mencari orang yang bernama Arga?" tanya Mahmud.
"Pria yang bernama Arga telah mempermainkan adik saya, Pak," ucap Jamie penuh kekesalan.
"Oh.. laki-laki kurang ajar, bisa-bisanya mempermainkan wanita. Dengan memberikan alamat palsu, kalau saya tadi pun. Sudah saya pukul sampai tidak bisa jalan lagi pria itu," ucap Mahmud.
"Adik saya itu pernah kerumahnya Pak, karena. Anak pria itu murid adik saya," kata Jamie.
"Hah..!" Mulut Mahmud membola, jantungnya langsung berdetak kencang. Pikirannya langsung tertuju pada anak majikannya, yaitu Agra Barend.
"Apa Den Agra yang dimaksud oleh orang ini? dan dia salah nama. Agra menjadi Arga?" Dalam Benak Mahmud.
"Apa aku tanyakan saja ya? tapi. Bagaimana jika nanti orang ini ingin ribut dengan Den Agra, bisa kacau." Benak Mahmud lagi.
"Tapi kelihatannya, orang ini bukan orang pasaran. Yang kerjanya buat onar." pikiran Mahmud.
"Pak, apa bapak mungkin salah nama?" tanya Mahmud.
"Salah nama? tidak mungkin, adik saya mengatakan namanya Arga," jawab Jamie.
"Pak, Arga tidak ada. Tapi, Agra ada. Agra Barend namanya," ucap Mahmud.
"Apa aku salah orang? tapi aku mendengar Jeanny mengatakan Arga tadi," ucap Jamie.
"Adik bapak siapa namanya, mungkin saya tahu?" tanya Mahmud.
"Jeanny Anastasia, adik saya guru TK." Beritahu Jamie.
"Miss jeanny, gurunya Non Lisa. Putri Den Agra," ucap Mahmud.
"Bapak kenal adik saya?" tanya Jamie.
"Tidak begitu kenal Pak, tapi tahu. Karena Miss Jeanny beberapa kali datang kesini, kalau itu. Yang bapak cari bukan Arga, tapi Agra. Bapak salah namanya." tutur Mahmud.
"Jadi betul Pak, ini rumah Arga? e..eh maksud saya Agra?" Tanya Jamie.
"Betul Pak, tapi semua tidak ada di rumah. Tuan dan Nyonya pergi," kata Mahmud.
"Betul! bapak tidak berusaha mengelabui saya kan?"
'Ya Allah Pak, untuk apa saya mengelabui bapak. Dosa, Den Agra kekantor Pak. Tadi Den Agra balik, terus pergi lagi. Mungkin pergi kantor."
"Alamat kantornya?' Tanya Jamie.
"Bapak tidak akan buat ribut dengan Den Agra kan?" Mahmud memastikan, Jamie tidak akan membuat keributan di kantor sang majikan.
"Tidak Pak, saya hanya ingin bicara baik-baik dengan majikan bapak," jawab Jamie.
"Betul ya Pak, karena pekerjaan saya taruhannya. Jika sampai bapak buat keributan," kata Mahmud.
"Sumpah Pak, saya tidak akan macam-macam." Jamie mengacungkan dua jarinya.
Kemudian Mahmud masuk kedalam, tak lama kemudian keluar kembali dengan membawa selembar kertas alamat kantor Agra.
"Terima kasih Pak," ucap Agra.
"Betul ya Pak, jangan buat keributan." ingatkan Mahmud lagi.
"Betul Pak," jawab Jamie.
Jamie masuk kedalam mobilnya, dan mobil meninggalkan Mahmud.
"Semoga apa yang aku lakukan tidak apa-apa." gumam Mahmud.
**
Di perusahaan, Agra sibuk dengan berkas-berkas yang harus ditandatanganinya. Pikirannya tidak pada apa yang ada di atas meja kerjanya.
"Apa jadwal lagi ?" tanya Agra pada sang sekretaris, Jerry. Yang sudah kembali ke posisi awal, tidak menjadi dokter lagi.
"Nanti malam, ada undangan perayaan anniversary pernikahan Tuan Edward Chen," jawab Jerry sembari membaca jadwal kerja Agra hari.
"Kirim saja kado, aku tidak mood menghadiri perayaan-perayaan anniversary begitu."
"Baik Tuan." sahut Jerry.
Jerry kemudian keluar meninggalkan ruang kerja Agra. Di depan pintu ruang kerja Agra, Jerry mendapatkan pesan dari bagian resepsionis.
"Ada apa?" tanya Jerry dengan suara datar melalui sambungan teleponnya.
"Pak Jerry, ada pria ingin bertemu dengan Tuan Agra Barend." Beritahu bagian resepsionis melalui sambungan telepon.
"Siapa? apa sudah ada janji? dalam jadwal, tidak ada janji temu hari ini?" tanya Jerry melalui sambungan telepon.
Tidak ada janji temu Pak, dia mengatakan calon ipar Tuan Agra Barend," ucap bagian resepsionis dengan suara yang setengah berbisik.
"Apa!? tunggu, saya akan turun menemuinya." Jerry memutuskan sambungan teleponnya dan gegas turun ke lobby.
"Ipar Tuan Agra? siapa? apa Tuan Agra akan menikah kembali?" Jerry bicara sendiri.
Keluar dari lift, Jerry langsung menuju bagian resepsionis.
"Mana orangnya?" tanya Jerry.
"Itu Pak." Menunjuk kearah Jamie yang sedang balas pesan dengan Mamanya, yang terus mengingatkan Jamie untuk menahan emosinya.
"Pak."
Jamie mengangkat kepalanya, dan melihat kearah Jerry yang ada dibelakangnya.
"Anda ingin bertemu dengan Tuan Agra Barend?" tanya Jerry dengan sopan. Walaupun, dia belum mempercayai apa yang dikatakan oleh Jamie. Mengenai dirinya sebagai calon ipar Agra Barend. Tetapi, attitude Jerry sebagai seorang sekretaris CEO tidak di ragukan lagi. Dia harus tetap hormat kepada tamu Boss Nya.
"Iya, apa dia ada?" tanya Jamie.
"Kalau boleh saya tahu, ada keperluan apa Tuan. Biar saya sampaikan kepada Tuan Agra Barend, karena setiap pertemuan dengan Boss harus tercatat," kata Jerry.
"Saya ada urusan, bilang pada Arga. Saya, Jamie Abang Jeanny," ucap Jamie yang masih salah terus menyebutkan nama Agra.
Degh...
"Abang Jeanny, apa dia tahu dengan apa yang dialami Jeanny? aku akan ketahuan telah menyamar menjadi dokter gadungan. Ah.. Tuan Agra, kau telah membuat aku terlibat masalah." Suara hati Jerry.
"Apa Arga ada?" tanya Jerry.
"Tuan Agra Pak, bukan Arga," ujar Jerry.
"Ah..nama yang cukup sulit, lidahku tidak bisa menyebut Agra," kata Jamie.
"Itu bisa Pak," kata Jerry.
"Hanya sekali, bagaimana? Ada yang ingin aku bincang kan dengan Agar." Sekali lagi, Jamie mengubah nama Agra menjadi Agar.
"Agar, tadi Arga. Terserahlah, semoga di depan Tuan Agra tidak salah sebut." batin Jerry.
Jerry membawa Jamie naik menuju ruangan kerja Agra Barend.
Apa yang terjadi dengan pertemuan awal mereka? apa terjadi baku hantam??
...🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂...
...Bersambung...