My Daughter'S Teacher

My Daughter'S Teacher
Takut.



Happy reading 😍


🌹🌹🌹


"Ibu katakan tadi, ibu lemas kan. karena itu, harus di infus. Suster, tolong pasang infus pada ibu ini. Agar ibu ini tidak lemas lagi," kata dokter Fandi pada suster yang berada di ruang IGD.


"Apa infus! ditusuk jarum? Tidak..! Oma tidak mau ditusuk jarum, Jeanny. Tolong Oma, Bilang pada dokter. Oma tidak mau ditusuk jarum, kasih obat saja Oma. Dari pada ditusuk jarum..!" seru Oma dengan suara yang keras, sehingga terdengar sampai keluar IGD.


Alma, yang mendengar suara teriakkan Mama mertuanya masuk kedalam ruangan.


"Ada apa? kenapa Mama teriak?" tanya Alma.


"Alma! Mama tidak mau di suntik, kau saja yang di suntik ya," ucapnya pada sang menantu, Alma.


"Koq Alma? yang sakit kan Mama," ujar Alma.


"Oma, biar Oma cepat sembuh. Oma harus mau di infus untuk menambah tenaga, biar badan Oma segar kembali. Dan tidak lemas lagi. Tidak sakit Oma, hanya seperti digigit semut saja." bujuk Jeanny.


"Tidak mau, digigit semut juga sakit Jeanny! Oma mau pulang saja.  Oma sudah sehat," ujar Gracia, karena takut di suntik. Oma minta pulang.


Oma ingin turun dari ranjang pasien, tetapi ditahan oleh. Fandi.


"Oma, ingin rencananya berhasil kan? harus mau di infus," ujar Fandi dengan berbisik kepada Oma Gracia, matanya mengedip sebelah saat menatap Oma Gracia.


"Oma tidak mau di suntik, Oma tidak lemas." balas Oma pada Fandi, mata Oma mendelik menatap Fandi.


"Tidak bisa Bu, ibu tidak boleh pulang. Tadi katanya lemas, ibu harus menginap di rumah sakit satu malam ini. Bagaimana jika ibu pulang, dan tiba-tiba sakit kembali. Saya sebagai dokter akan kena marah oleh keluarga ibu, karena mengijinkan ibu pulang sedangkan ibu belum sehat," kata dokter Fandi dengan suara yang keras.


"Dasar cucu durhaka, Fandi sepertinya tahu. Aku hanya berpura-pura sakit, dia ingin mengerjaiku." dalam benak Gracia.


"Kalau tahu begini tadi, lebih bagus Alma yang kusuruh pura-pura sakit." dalam benak Gracia kembali.


"Oma kita pasang infus ya, tidak sakit kok. Biar Oma cepat sehat, apa Oma mau lama tidur di rumah sakit ini. Tidur di rumah sakit tidak enak Oma," kata Jeanny.


"Tapi, Oma takut sama jarum suntik Jeanny."


Pintu ruang IGD terbuka, Abraham masuk kedalam IGD dengan tergesa-gesa. Raut wajahnya terlihat cemas.


Dengan langkah lebar, dia mendekat ke ranjang pasien yang ada didalam ruang IGD.


"Bagaimana keadaan Mama, mana yang sakit?" tanya Abraham pada Mamanya, Gracia yang terbaring di atas ranjang dengan raut wajah kesal kepada Fandi.


"Mama tidak apa-apa, mama hanya pusing sedikit saja tadi. Sekarang sudah sehat, Mama ingin pulang saja. Tapi dokter tidak mengizinkan Mama pulang."


"Apa penyakit Mama?" tanya Abraham pada Fandi yang berdiri di ujung kepala ranjang.


"Hanya kelelahan saja."


"Apa tidak ada penyakit yang mengkhawatirkan? lakukan check up lengkap. Biar tahu, apa penyakit Mama," ucap Abraham pada Fandi.


Fandi bingung untuk menjawab pertanyaan dari Abraham, matanya melirik kearah Alma.


"Abra! Mama tidak sakit." Gracia yang menjawab pertanyaan Abraham, yang ditujukan kepada Fandi.


Melihat Fandi yang bingung, Alma menarik tangan sang suami keluar dari IGD.


"Pa, ayo kita keluar sebentar. Ada yang ingin Mama katakan kepada Papa," kata Alma pada sang suami.


"Abra, Alma! kalian mau kemana? jangan tinggalkan Mama dengan dokter ini..!" seru Gracia, saat melihat Alma menarik tangan Abraham dari dalam ruang IGD.


"Kami ingin melihat Lisa sebentar Ma, mau menyuruh Pak Dudung agar menghantarkan Lisa pulang saja. Karena, rumah sakit tidak bagus untuk anak kecil. Jeanny, tolong jaga Mama Gracia sebentar ya," kata Alma.


"Baik Tante," sahut Jeanny.


"Awas kalian pulang, dan meninggalkan Mama dengan dokter ini. Mama akan coret kalian dari anak dan menantu Mama." ancam Gracia dengan raut wajah yang masam.


"Mama, jangan marah-marah. Nanti, pusing Mama bertambah parah," kata Abraham pada Mamanya.


Diluar ruangan IGD.


"Pa, sebenarnya Mama tidak sakit apa-apa," ucap Alma pada suaminya.


"Apa! kalau tidak sakit, untuk apa Mama ke rumah sakit?" tanya Abraham dengan perasaan yang heran.


"Papa lihat tadi di dalam, ada gadis yang berdiri didekat Mama. Mama ingin menjodohkannya dengan Agra," kata Alma.


"Oh my God!" Abraham mengusap wajahnya dengan kasar.


"Mama tahu, tadi Papa itu menyuruh Pak Adi untuk mengemudikan mobil dengan kencang. Karena Papa sangat khawatir, ternyata. Ini hanya permainan." Abraham kesal, karena penyakit dijadikan permainan.


"Maaf, ini semua ide dari Mama. Papa kan tahu, kalau Mama sudah merencanakan sesuatu. Pasti tidak bisa dilarang," kata Alma.


"Seharusnya Mama beritahu pada Papa tadi, mama hanya sakit pura-pura," kata Abraham.


"Bagaimana Mama mau kasih tahu, baru bilang Mama Papa sakit. Papa langsung memutuskan sambungan telepon, Papa tahu dari mana. Kami di rumah sakit Mitra?" tanya Alma, karena tadi dia belum sempat memberitahu pada sang suami. Di rumah sakit mana Mama Gracia dibawa. Abraham sudah memutuskan sambungan teleponnya, karena panik.


"Papa tebak saja, pasti dibawa ke rumah sakit Mitra. Fandi kan dokter di sini," kata Abraham.


"Ruang IGD, Papa tahu dari mana?"


"Papa tanya pada Pak Dudung, dia dan Lisa duduk didepan rumah sakit," jawab Abraham.


"Sekarang bagaimana? kenapa Mama belum pulang?" tanya Abraham.


"Mama menunggu Agra datang, tadinya Mama minta dirawat inap. Tapi karena takut di infus, Mama minta pulang," kata Alma.


"Biar Mama di rawat saja, suruh Fandi pasang infus untuk Mama. Biar Mama tidak mempermainkan masalah kesehatan lagi."


"Pa, jangan marah dengan Mama. Mama lakukan itu karena ingin Agra menikah lagi, gadis yang didalam itu sangat disukai oleh Lisa. Cucu kita, selama ini. Lisa tidak pernah bisa dekat dengan siapapun juga, dengan Ajeng juga tidak bisa dekat. Tetapi, dengan Jeanny. Lisa cucu kita itu bisa langsung dekat," kata Alma pada sang suami.


"Ah.. kalian berdua, membuat Agra akan marah. Agra tidak ingin menikah lagi," ujar Abraham pada istrinya.


"Pa, apa Papa mau. Keturunan Papa berakhir sampai pada Agra saja? Lisa seorang perempuan, dia akan menikah. Dan ikut dengan suaminya, jika tidak ada anak laki-laki yang lahir dari keluarga Barend. Maka, penerus keluarga Barend akan putus! apa itu yang Papa inginkan?" tanya Alma pada suaminya.


Abraham terdiam, apa yang dikatakan istrinya menjadi pikirannya juga. Dia hanya punya satu anak laki-laki yaitu Agra barend, sedangkan Agra hanya mempunyai satu orang anak. Yaitu Lisa Mauren.


Abraham hanya anak satu-satunya dari Stevano barend dan Gracia, walaupun Stevano Barend mempunyai banyak saudara. Tetapi, tapi semua wanita.


Abraham bingung, di satu sisi dia ingin memiliki penerus keluarga Barend. Di satu sisi, dia takut Agra marah. Dan kembali meninggalkan rumah, seperti saat Agra menikah dengan Malika yang tidak direstuinya.


*


*


...Bersambung...