
Happy reading 😍
...🌹🌹🌹🌹🌹🌹...
Pintu terbuka dari luar dengan kedatangan Abraham Barend yang membuat mulut Gracia berhenti mengomel.
"Ada apa Ma? Kenapa Abra sampai mendengar suara Mama mengomel sampai didepan rumah sakit."
Abraham masuk kedalam kamar, lalu kemudian menutup pintu kamar dengan perlahan. Karena melihat sang cucu terlelap dalam tidurnya di atas ranjang rumah sakit.
"Tidak sekeras itu suara Mama mengomel ya, sehingga sampai ke depan rumah sakit..!" Gracia Mama Abraham, mendelik menatap putranya. Karena meledeknya yang sedang kondisi kesal.
Abraham tertawa kecil mendekati mamanya, dan memberi salim dengan mencium tangan sang Mama. lalu kemudian mendekati ranjang di mana sang cucu yang sedang tertidur pulas, karena pengaruh efek obat tidur yang dikonsumsinya.
"Sakit apa Lisa?" tanya Abraham pada sang istri, yang sedari tadi mengelus lengan Lisa yang terpasang infus. Karena Lisa mengeluh, merasa tidak nyaman dengan infus yang menempel ditangannya.
"Flu dan radang tenggorokan," sahut Alma.
Mata Alma memicing, saat melihat sang suami yang baru pulang dari luar kota dalam keadaan seperti baru keluar dari kubangan.
"Pa, kenapa pakaian Papa lusuh begitu? ada sobek itu, sebenarnya Papa pergi kemana?" Alma memicingkan matanya, melihat keadaan sang suami yang berantakan. Jauh dari kata rapi.
Sepatu boot yang dipakai Abraham juga penuh lumpur.
"Mama juga perhatikan tadi, kau kemana Abraham? setiap hari kerjaanmu selalu keluar kota terus. Awas ya, jika kau melakukan hal yang aneh-aneh..!" ancaman keluar dari mulut Gracia pada sang putra.
"Abra tidak keluar kota setiap hari Ma, hanya hari libur." sanggah Abraham atas perkataan Mamanya.
"Mama, dan Mama. Ah.. kenapa repot manggilnya, manggil istri Mama. Manggil Mama sendiri Mama juga." Abraham menggaruk tengkuknya.
"Ih... jangan mengalihkan pembicaraan..!" seru Gracia pada Abraham.
"Abra tidak mengalihkan pembicaraan Ma," kata Abraham.
Karena panggilan Abraham kepada kedua wanita yang sangat disayanginya itu, Mama. Keduanya sering bingung juga, Abraham ingin memanggil sang istri. Mamanya yang menjawab, begitu juga sebaliknya.
"Begini saja, Papa manggil Alma. Sayang saja ya," ujar Abraham pada sang istri.
"Geli ah..!" tolak Alma, saat Abraham ingin mengutarakan ingin memanggil sang istri dengan panggilan sayang.
"Panggil Alma saja, seperti dulu sebelum punya anak," kata Alma.
..."Ma, kan Alma," kata Abraham....
Keduanya masih berdebat mengenai nama panggilan, Gracia kesal memandang keduanya, karena mendebatkan yang tidak perlu menurutnya.
"Cukup kalian memperdebatkan hal yang tidak penting sekarang ini, Abraham. Jangan mengalihkan pertanyaan Mama, dari mama kau ? pulang-pulang badan Kumal begitu?" tanya Gracia.
"Iya, Pa. Dari mana?" tanya Alma pada sang suami, walaupun dia sebenarnya sudah tahu. Kemana suaminya itu pergi keluar kota selama ini.
Sejak menyerahkan semua urusan perusahaan pada sang putra, Abraham sering pergi dengan teman-temannya yang sudah tidak bekerja lagi. Kata lainnya, sudah pensiun dengan rutinitas pekerjaan kantor setiap harinya.
"Ma, ehh.. Alma, dan Mama tersayang. Abra pergi dengan teman-temannya sesama pengangguran main golf," jawab Abraham.
"Main golf! tidak mungkin main golf, pulang-pulang seperti gembel begitu.' Mamanya Gracia, tidak yakin dengan apa yang dikatakan oleh putranya. Abraham Barend.
"Sejak kapan Papa main golf, pulang dengan berantakan begitu?": tanya Alma.
"Jangan bohong Abra, Mama tahu. Kau itu berbohong," kata Gracia, Mama Abraham.
Satu detik... dua detik, tidak terdengar suara pekikan sang Mama.
...Sampai hitungan keempat......
...Bug......
Lemparan kipas yang selalu berada ditangan Mamanya, kini pindah mengenai tubuh Abraham. Putranya.
..."Mama..!" seru Abraham yang kaget karena kena kipas terbang dari Mamanya....
Matanya terbuka, dan melihat benda yang menerpa tubuhnya sudah berada di atas lantai. Dekat kakinya.
Alma tertawa kecil, melihat suaminya kaget mendapatkan lemparan kipas dari tangan Mamanya.
"Anak durhaka! sudah Mama katakan, tidak boleh ikut kegiatan yang tidak berfaedah begitu. Bagaimana jika tadi kau itu kena peluru nyasar, mereka mengira kau itu babi hutan dan menembak mu?" bibir Mama Abraham komat-kamit mengomeli sang putra, Abraham Barend.
"Ma.." Abraham ingin bicara, tetapi sang Mama mengangkat tangannya. Agar Abraham tidak berkata dulu, karena dia belum selesai mengeluarkan uneg-unegnya.
"Anak satu, tapi tidak menurut apa yang dikatakan oleh orang tua. Cucu satu, begitu juga. Kenapa tidak ada yang mau menuruti apa yang Mama katakan...!" seru Gracia dengan kesal, yang biasanya Gracia sabar. Kini, kesabarannya sudah mendekati titik terendah.
Alma yang tadinya tertawa, kini bibirnya mengatup sempurna.
"Kenapa? kenapa kau membantah perkataan Mama Abraham?" Gracia terisak, dia duduk dengan kepala menunduk.
Alma berdiri dan beranjak mendekati mertuanya, dan kemudian memeluk tubuh tua yang bergetar karena tangis.
"Ma, maaf." Abraham mendekati Mamanya, dan berlutut didepan tubuh sang Mama.
"Mama sudah melarang, kenapa kau tetap ikut kegiatan yang membuat Mama trauma setiap mendengar klub itu. Apa kau ingin seperti Papa mu, pergi meninggalkan Alma dengan kepala yang pecah kena salah sasaran tembakan?" Gracia menatap wajah putranya, Abraham.
"Ma." Alma menegang, saat mendengar perkataan mertuanya. Yang mengingatkannya kejadian sepuluh tahun yang lalu, Papa mertuanya pulang dengan keadaan meninggal karena salah sasaran, menurun rekan sesama yang hobi berburu. Tetapi ternyata, bukan salah sasaran. Setelah Gracia membawa kasusnya ke meja hijau.
Dan ternyata, rekan bisnisnya yang kalah bersaing yang melakukannya. Dan saat mereka pergi berburu, rekannya tersebut mengeksekusi papa Abraham. Stevano Barend, dan memberi alasan salah sasaran. Saat itu seumur Abraham Barend saat ini.
Gracia, berusaha untuk melupakan peristiwa itu. Tetapi dia masih sering memantau orang yang membunuh Stevano Barend, suaminya.
"Maaf Ma, maafkan Abra. Yang telah membuka luka hati lama Mama," ujar Abraham seraya menggenggam kedua tangan Mamanya yang berada di atas pangkuan sang Mama.
"Maaf, tapi kau terus melakukannya." Gracia, Mama Abraham menepiskan tangan Abraham yang memegang tangan.
Apa yang terjadi kepada ketiganya, teralihkan. Dengan suara menggeliat dari arah ranjang pasien.
Kepalanya ketiganya menoleh, dan melihat Lisa membuka matanya.
"Sakit.." lirih suara Lisa, matanya melihat kearah tangannya dan ingin membuka infus yang menempel ditangannya.
"Lisa, jangan sayang." Alma buru-buru menuju ranjang Lisa, begitu juga dengan Gracia dan Abraham.
"Sakit Oma." adu Lisa pada Alma.
"Cucu Opa, jangan di cabut ya."
"Opa." melihat Abraham, Lisa menangis dan menunjuk tangannya yang ditusuk jarum.
...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...
...Bersambung...