
...Happy reading...
...****...
Jeanny tidak mandi, dia hanya menghidupkan shower.
Jeanny menempelkan telinganya di pintu kamar mandi.
"Tidak terdengar apa-apa, bagaimana Jika dia berada di samping pintu kamar mandi. Begitu aku keluar, dia langsung menyergap ku."
Jeanny mengambil hanger kayu yang ada dalam kamar mandi.
"Aku gebuk pakai ini, dia pasti tidak akan bisa melawan. Tapi, bagaimana jika nanti dia pingsan. Ini kayu, aku akan masuk dalam penjara dan akan ketemu dengan perempuan itu dalam penjara. Tidak, aku tidak mau mengalami nasib seperti Yulia."
Jeanny mengembalikan hanger ketempat semula, lalu kemudian. Jeanny membuka pintu kamar mandi, Jeanny sedikit mengeluarkan kepalanya.
"Tidak ada, kemana dia? apa dia meninggalkan ku?" Jeanny keluar dari dalam kamar, dan melangkah menuju serambi depan resort yang langsung menghadap pantai.
"Apa dia ke pantai?" Jeanny mencari-cari sepatunya, dan tidak melihat keberadaan sepatunya tersebut.
"Sudahlah, nyeker saja. Orang ke pantai tidak memakai alas juga banyak."
Jeanny melangkah menuju pantai, suasana yang masih pagi. Membuat suasana pantai masih sepi.
Sampai ditepi pantai, Jeanny merentangkan kedua tangannya ke atas.
"Aahrg...!" pekik Jeanny.
"Jika kehidupan seperti ini, betapa indahnya. Tidak ada beban." Jeanny mendudukkan bokongnya di atas pasir.
"Aku membenci kalian..!" Jeanny meraup pasir dan melempar kearah ombak yang datang bergulung didepannya.
"Tidak baik membenci." terdengar suara dari belakangnya.
Jeanny menoleh, kearah belakangnya. Dan melihat seorang gadis yang berdiri dibelakangnya, menatap jauh ke depan.
Gadis tersebut melangkah menuju ombak, dia berhenti melangkah. Saat merasakan gulungan ombak menerpa kakinya.
"Gadis yang aneh." gumam Jeanny.
Selama 2 menit, gadis itu menatap jauh ke depan. Setelah itu, gadis tersebut kembali. Dan duduk tidak jauh dari tempat Jeanny duduk.
"Aku Lira," ucap gadis yang menyebutkan namanya, sebagai Lira.
"Jeanny." balas Jeanny.
"Apa kau tinggal di resort itu?" tanya gadis yang bernama Lira, kepada Jeanny.
"Iya, aku tiba tadi malam," sahut Jeanny.
"Sendiri?" tanya Lira.
"Bersama suami."
"Oh.."
"Di sini tempat yang menyenangkan untuk melarikan diri dari rutinitas yang membosankan di kota besar," kata Lira.
"Mbak Lira sudah lama tinggal di sini?" tanya Jeanny.
"Tidak apa-apa aku panggil Mbak Lira ya?" tanya Jeanny.
"Tidak apa-apa, kelihatannya. Jeanny masih muda," kata Lira, seraya mengamati Jeanny dari samping.
"Sudah dua tahun, dan. Aku tidak akan meninggalkan tempat ini."
"Mbak yang mengelola tempat ini?" tanya Jeanny.
"Tidak, aku tinggal di sebelah resort." beritahu Lira.
"Mbak tinggal bersama keluarga di sini?" tanya Jeanny.
"Iya, dengan suamiku. tapi. Aku di sini, suamiku tinggal di sana.." jemari telunjuk Lira mengarah ke arah lautan, Jeanny melihat ada guratan kesedihan dari raut wajah Lira.
"Suami Mbak nelayan?" tanya Jeanny, karena Lira menunjuk ke arah lautan. Dan di tengah laut terlihat, kapal nelayan sedang mencari ikan.
"Tidak, Mas Satria bukan nelayan. Dia, pria yang suka mendengar suara ombak. Sehingga, lebih suka tinggal ditengah laut. Mas Satria suka berada di dasar lautan melihat karang, ikan yang berenang. Apa kau suka Jeanny? kalau suka, Mas Satria dan aku bisa membawamu melihat keindahan bawah laut." tutur Lira.
"Aku suka Mbak, tapi. Aku tidak terlalu pandai berenang." balas Jeanny.
"Tidak perlu mempunyai keahlian berenang, aku juga tidak terlalu bisa berenang. Tapi, aku selalu pergi ke dasar laut untuk menemani Mas Satria, tetapi. Beberapa hari ini, Mas Satria melarang ku untuk menemuinya. Laut tidak bersahabat, kata Mas Satria. Ombak tinggi."
"Ih.. kenapa bulu kudukku merinding." batin Jeanny.
Jeanny mengelus kuduknya, hatinya tiba-tiba tidak nyaman. Jeanny melirik kearah Lira yang terus memandangi lautan.
Agra yang kembali ke dalam kamar, mencari keberadaan Jeanny.
"Jean..!" panggil Agra sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi.
Tidak terdengar sahutan dari dalam kamar mandi.
"Kenapa lama sekali dia didalam kamar mandi, Jean. Buka pintunya, atau aku dobrak..!" ancam Agra.
"Tidak terdengar suara air."
Agra memegang kenop pintu dan..
Ceklek..
Pintu terbuka.
"Tidak di kunci." Agra membuka pintu kamar mandi lebar, dan tidak melihat orang yang di carinya didalam kamar mandi.
"Kemana dia? apa mungkin dia keluar? aku cari keluar saja." Agra memutuskan mencari keberadaan Jeanny keluar kamar.
"Mas, apa melihat istriku?" tanya Agra pada pelayan resort.
"Ciri-cirinya Pak?" tanya pelayan tersebut.
"Pakai t-shirt putih, dan celana pendek warna hitam." Agra menyebutkan pakaian yang dikenakan oleh Jeanny.
"Tidak ada Pak, wanita yang di sebut oleh bapak tidak melintas dari depan sini," ucap pelayan.
"Terima kasih." Agra meninggalkan pelayan yang tidak memberinya informasi yang dibutuhkannya.
"Di mana dia?" Agra berhenti melangkah, matanya mengitari sekitar tempat dia berada.
"Ahh..! menyusahkan saja..!"
Pengelola resort yang melihat Agra kebingungan, mendekatinya.
"Maaf Pak, apa ada yang bapak cari?" tanya pengelola resort.
"Istriku, aku sudah hampir mengelilingi resort. Tidak ketemu juga."
"Kita lihat melalui CCTV Pak."
"Apa ada CCTV di sini?" tanya Agra.
"Ada Pak, tapi. Hanya luar resort, kolam renang dan tepi pantai. Dalam kamar tidak ada, karena takut terganggu private para tamu resort."
"Tunggu apa lagi, ayo. Bawa saya ke sana." titah Agra.
Didepan layar lebar yang berjajar, mata Agra mencari-cari Jeanny.
"Itu, di mana lokasinya?" Agra melihat Jeanny duduk di pasir, dan sepertinya sedang berbicara. Karena terlihat, pandangan matanya selalu mengarah kearah kiri.
"Astaghfirullah...!" pengelola resort kaget.
"Ada apa? kenapa bapak kaget?" tanya Agra, karena bapak pengelola resort kaget.
"Kita harus cepat ke sana..! Met, hubungi pihak keamanan. Suruh segera ke pantai B, darurat..! ayo Pak, kita harus secepatnya menuju ketempat istri bapak berada."
Tanpa menunggu lagi, pengelola resort berlari keluar kontrol keamanan. Agra ikut berlari dengan pikiran yang bingung.
"Pak, ada apa? apa istri saya dalam keadaan bahaya? tapi tadi istri saya hanya duduk-duduk, dia tidak main air?" tanya Agra sambil jalan setengah berlari mengikuti bapak pengelola resort.
"Neng Lira sepertinya sedang bersama dengan istri bapak," ujar pengelola resort.
"Neng Lira? siapa Neng Lira? tadi istri saya hanya sendirian Pak?" Agra bertambah bingung.
"Nanti saya ceritakan Pak, sekarang. Kita selamatkan istri anda dulu, jangan sampai Neng Lira membawanya."
"Membawa istri saya? kemana? apa Lira seorang penjahat? ahh.. Jeanny, kenapa kau selalu tersangkut dengan wanita yang jahat..! aku membawamu ke sini untuk refreshing, kau kena masalah di tempat ini..! Albert, aku akan menghajar mu. Tempat yang kau rekomendasi bukan membuat Jeanny tenang, tapi tempat dia semakin tidak tenang..!" Agra ngedumel sambil berjalan mengikuti bapak pengelola resort.
Jalan yang setapak, dan sedikit terjal. Membuat Agra hampir jatuh telungkup.
"Masih jauh Pak?" tanya Agra, karena sudah hampir 15 menit berjalan. Tempat yang dituju, belum sampai.
"Tidak jauh Pak," sahut pengelola resort.
Sepertinya, Jeanny kudu di rukiyah. Agar terbebas dari kejahatan ðŸ¤.
...****...
To be continued