My Daughter'S Teacher

My Daughter'S Teacher
MDT



...Happy reading...


...***...


Jeanny memicingkan matanya menatap Agra, sehingga Agra sedikit jengah mendapatkan tatapan mata Jeanny.


"Ada apa? apa tidak percaya dengan apa yang Abang katakan? serius, Abang tidak mengenal karyawan yang bernama Zoya." tegaskan Agra, dengan apa yang dikatakannya. Benar, dia tidak mengenal Zoya.


"Zoya, itu nama gadis yang beri Abang coffee," kata Jeanny.


"Oh..." mulut Agra membola.


"Hanya oh,' ujar Jeanny.


"Lalu, harus apa? Abang tidak tahu namanya Zoya, Abang itu banyak kerjaan. Dan tidak harus mengingat nama-nama setiap karyawan, yang tidak berhubungan langsung dengan Abang sebagai pimpinan. Kepala setiap divisi saja, Abang tidak terlalu mengenalnya. Yudha, itu kepala marketing. Baru saja Abang kenal, apalagi si Zoya. Abang juga tidak tahu, dia bekerja di bagian apa..?" tutur Agra.


"Baiklah, Jean percaya dengan Abang. Kalau begitu, bolehkan. Jean merekrut dia, dan beberapa karyawan yang lain?" tanya Jeanny.


"Apa dia bisa? melihat dari tampangnya saja, tidak menyakinkan," ucap Agra.


"Coba dulu, jika tidak bisa. Kembalikan lagi," kata Jeanny.


"Kenapa dia? cari yang kompeten, banyak baru tamat sekolah yang belum dapat kerja. Buka lowongan," kata Agra.


"Karena Jean tahu, dia suka dengan Abang," kata Jeanny.


"Hah..!" Agra sontak terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Jeanny.


"Iya, Zoya itu suka dengan Abang. Jean tidak mau kejadian dengan mantan dahulu terulang kembali, karena itu. Jean membawanya, biar dia tidak ada waktu untuk menganggu Abang," kata Jeanny yang menuturkan ketakutannya, kejadian dengan Yudha menimpanya lagi .


Agra memutar tubuhnya, dia memutar tubuh Jeanny menghadapnya. Dan kemudian, kedua tangannya menangkup wajah Jeanny.


"Sayang, Abang tidak akan melakukan apa yang sayang takutkan itu," kata Agra.


"Abang tidak, wanita itu.. Jean tidak percaya. Jika sudah suka dengan satu pria, wanita itu bisa melakukan apapun juga. Menjebak juga mereka sanggup lakukan," kata Jeanny.


"Apa sampai segitunya?" tanya Agra.


"Hahaha.." Jeanny tertawa.


"Apa Abang amnesia? lupa dengan apa yang Abang alami?"


"Oh..." gumam Agra.


"Jeanny akan mengawasi Zoya, jika dia berada didekat Jean. Dia tidak akan bisa melakukan apapun juga, jika dia masih ada di perusahaan. Dia pasti akan berusaha untuk mendekati Abang, ada Jean saja dia berani mendekati Abang. Heran dengan wanita jaman sekarang, pria yang sudah ada stempelnya juga yang di minati..!"


Agra tersenyum, melihat Jeanny ngedumel. Dia tidak pernah melihat Jeanny seperti saat ini, terlalu takut dengan masa lalunya.


*


*


"Bu, apa tidak bisa. Yulia kembali kedalam tahanan naik kendaraan kami saja?" tanya Mama Yulia, saat melihat wajah Yulia yang muram.


"Maaf Bu, ini sudah prosedur," ucap polisi yang mengawal Yulia.


"Sudahlah, Ma. Kita ikuti mobil yang membawa Yulia," kata Papa Yulia.


Mobil yang membawa Yulia mulai melaju meninggalkan rumah sakit, dan dibelakangnya. Mobil yang dikendarai Papa dan Mamanya mengikutinya.


Setengah jam kemudian, mobil tahanan yang membawa Yulia tiba di kantor polisi. Begitu juga dengan mobil yang dikendarai oleh Papa dan Mamanya.


Yulia ingin dibawa masuk, Mama Yulia bergegas melangkah cepat mengajar Yulia.


"Bu, tunggu." panggil Mama Yulia.


"Ma, Pa. kembalilah, Yulia tidak apa-apa. Mama dan Papa jaga kesehatan, Yulia minta maaf. Karena telah menjadi anak yang tidak berbakti, Maafkan Yulia." Yulia berkata dengan nada suara yang bergetar, tangannya yang diborgol diletakkannya didepan dadanya.


"Lia..!" sontak sang Mama menubruk Yulia dan menangis dengan tersedu-sedu, begitu juga dengan Yulia. Tadinya, dia berusaha untuk tegar. Tapi, tidak bisa lagi. Setelah mendengar suara tangisan sang Mama.


Papa Yulia juga menangis, saat mendengar permohonan maaf yang keluar dari dalam mulut putrinya. Selama ini, Yulia tidak pernah mengkhawatirkan kesehatan kedua orangtuanya. Apalagi untuk meminta maaf.


Permintaan maaf Yulia, membuat Papa dan Mamanya sangat terharu.


"Jaga diri Lia, Mama dan Papa akan mendoakan Yulia, agar Lia tetap dalam keadaan sehat selalu. Mama dan Papa akan menemui Lia setiap hari, jika dimungkinkan," kata Papa Yulia.


"Iya, Maafkan Lia. Pa, Ma" ucap Yulia.


Yulia dibawa masuk, dibawah tatapan mata kedua orangtuanya yang mengalirkan air mata. Karena sedih, melihat Yulia kembali menghuni sel penjara.


"Sudah, Ma. Ayo kita pulang."


Keduanya melangkah menuju mobilnya, dan pergi meninggalkan kantor polisi.


*


*


Semua duduk dalam keadaan hening, belum ada yang membuka suaranya.


Setelah Agra selesai mengatakan mengenai Lisa, dan kedatangan ayah kandung Lisa.


Oma Gracia memijat keningnya, Alma menundukkan kepalanya. Sedangkan kepala keluarga, Abraham Barend. Diam.


"Oma tidak mau tahu.....


To be continued