My Daughter'S Teacher

My Daughter'S Teacher
MDT



...Happy reading...


...***...


Di tempat berbeda, tetapi waktu yang sama. Seorang pria baru keluar dari dalam bandara.


"Akhirnya, aku tiba..!" pria tersebut merentangkan satu tangannya, sedangkan satu tangannya memegang kruk untuk menopang dia berjalan.


Mobil berhenti didepannya, seorang pria keluar dari dalam kursi kemudi. Dan membukanya pintu untuk pria tersebut masuk kedalam mobil.


"Kita kemana Tuan?" tanya asistennya, pada majikannya.


"Apartemen." titah Benny.


Mobil melaju meninggalkan area bandara, menuju apartemen.


"Apa kau sudah tahu, di mana rumahnya?" tanya Benny pada pria yang duduk di kursi kemudi.


"Sudah Tuan, dia tidak tinggal bersama dengan orangtuanya."


"Hm..!" gumam Benny.


"Ryan, apa aku bisa mengambilnya?" Benny membuka suaranya, di keheningan dalam mobil menuju apartemen.


"Apa Tuan Benny mau mendengar apa yang aku katakan?" Ryan Abdul menanggapi perkataan sang Boss yang sedang galau.


"Katakan saja." titah Benny pada Ryan Abdul.


"Putri anda tidak pernah mengenal anda Tuan, tiba-tiba datang orang yang ingin mengambilnya dan mengaku sebagai Papanya. Kalau saya yang berada di posisi putri anda itu, saya akan shock Tuan," ucap Ryan Abdul dengan gamblang, tidak ada takut di setiap perkataan yang dituturkannya.


"Dia masih lima tahun, dia akan melupakan pria yang dianggapnya sebagai Papanya," kata Benny.


"Tuan, anak berumur lima tahun tidak bisa dianggap anak kecil lagi. Dia sudah mengingat siapa orang tuanya, jika dia masih berumur dua tahun. Dia masih bisa melupakannya." tutur Ryan Abdul.


"Apa aku tidak bisa memilikinya..?" gumam Benny.


"Dasar kau Malika, kau menyembunyikan anakku. Kau memberikan anakku bukan ayahnya yang sebenarnya, membusuk lah kau di neraka..!"


Flashback


Benny berangkat ke rumah sakit untuk melakukan terapi pada kakinya yang belum sepenuhnya normal, di rumah sakit. Dia bertemu dengan wanita yang berteman dengan Malika, dan dia juga mengenal Benny sebagai kekasih Malika.


"Benny..!" seorang wanita menyapa Benny yang baru keluar dari dalam mobilnya, sedangkan sang wanita yang menyapanya. Baru ingin masuk kedalam mobilnya.


Benny langsung mengalihkan pandangan matanya, kearah suara yang memanggil namanya. Benny melihat wanita yang berdiri tidak jauh dari tempat dia berada.


"Kau..?" Benny lupa dengan wanita yang memanggilnya, karena kecelakaan yang dialaminya bersama dengan Malika. Membuat memory nya sedikit terganggu.


"Agnes, aku Agnes. apa kau lupa, aku teman Malika." Agnes mengenalkan dirinya, sebagai teman Malika.


"Oh..maaf, ingatanku sedikit bermasalah."


Wanita yang bernama Agnes menghampiri Benny.


"Apa kau sakit?" Agnes meneliti Benny dan berhenti di kruk yang berada ditangannya untuk menopang tubuhnya.


"Aku kecelakaan."


"Oh..maaf, aku tidak tahu. Bagaimana kabar Malika, aku sudah lama tidak bertemu dengannya. Apa dia tidak menemanimu ke rumah sakit?" tanya Agnes.


"Apa kau tidak tahu, Malika sudah tidak ada. Dia sudah meninggal." beritahu Benny.


"Hah..!" Agnes sontak terkejut, matanya bulat sempurna.


"Apa benar? kau tidak berbohong?" Agnes tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Benny.


"Untuk apa aku berbohong, ini kehidupan seseorang. Tidak bagus kita bohong, Malika sudah meninggal 4 tahun yang lalu ." tutur Benny.


"Malika sudah meninggal 4 tahun yang lalu, maaf. Aku tidak tahu, lalu. Bagaimana dengan anak kalian? pasti sudah besarkan?" tanya Agnes.


"Anak? maksudnya?" Benny bingung.


"Anak yang dikandungan Malika, terakhir aku bertemu dengannya. Dia mengatakan, sedang mengandung anakmu. Dan dia akan mengatakan padamu, apa dia tidak mengatakannya?" tanya Agnes.


"Dia mengandung, dengan suaminya. Bukan denganku," kata Benny.


"Suaminya? siapa? Malika tidak pernah mengatakan padaku dia menjalin hubungan dengan pria lain. Apa kau menuduh Malika menjalin hubungan dengan Boss tempat dia bekerja itu?"


"Dia menikah dengan Boss-nya itu, Agra Barend."


"Apa!? Malika menikah dengan Boss-nya, tapi dia mengatakan padaku. Dia tidak menjalin hubungan dengannya." Agnes benar-benar kaget dengan apa yang dikatakan oleh Benny.


"Dia meninggalkanku, karena aku pria yang tidak sederajat dengannya. Agra Barend, membuatnya bahagia." tutur Benny.


"Jadi, anak itu menjadi anak Boss-nya. Apa kau tidak tahu dia mengandung anakmu?" tanya Agnes.


"Dia tidak mengatakan apapun padaku, sampai akhir hayatnya. Dia tidak mengatakan apapun, mengenai anak yang dikandungnya."


"Apa dia mengugurkan anaknya yang bersamamu? berapa usia anaknya dengan Boss-nya tersebut?" tanya Agnes.


"5 tahun." jawab Benny.


"5 tahun, kalau dihitung-hitung saat dia mengaku hamil padaku. Benny, itu anakmu. Bukan anaknya dengan Boss-nya." tutur Agnes.


"Sialan kau Malika..!" seru Benny.


"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Agnes.


"Aku akan mengambilnya, dia putriku."


"Putri, anak Malika perempuan..?"


"Iya, dia melahirkan anak perempuan. Dan sekarang berada di Indonesia."


"Pasti, itu anakmu. Benny, Malika melahirkannya. Apa pria yang menikahi tidak tahu, bahwa anak itu bukan anaknya?"


"Mungkin Malika membohonginya," kata Benny.


"Aku akan mengambil apa menjadi milikku."


"Tapi, Benny. Kau harus hati-hati, jangan sampai nanti membuat anak itu menjadi trauma. Dia sudah besar, dan apakah Malika pernah mengenalkannya padamu?" tanya Agnes.


"Karena itu, dia tidak pernah membawa putrinya. Saat kami bertemu, karena dia takut. Anak itu dekat denganku," kata Benny.


Flashback end


"Apa yang dikatakan Agnes, sama dengan Ryan katakan." gumam Benny dalam benaknya.


*


*


Jeanny sampai di kantin, dan dia memesan teh hangat dan mie rebus. Setelah melihat karyawan makan mie rebus, dan membuat Jeanny ngiler melihatnya.


"Nyonya, saya kembali bekerja ya." office girl ingin kembali bekerja, setelah menghantarkan Jeanny sampai ke kantin.


"Mbak, boleh temani saya. Tidak nyaman, sendiri di sini," kata Jeanny.


"Apa tidak akan menganggu nyonya."


"Tidak Mbak, saya senang. karena ada teman, ayo Mbak. Duduk."


"Terima kasih," ujar office girl tersebut kepada Jeanny.


"Mbak mau pesan apa?" tanya Jeanny.


"Sama dengan Nyonya saja."


sembari menunggu pesanan di antar, Jeanny mengobrol santai dengan office girl yang diketahui Jeanny bernama Mira.


"Mbak Mira sudah lama kerja di sini?" tanya Jeanny.


"Baru 1 tahun ," jawab Mira.


Perbincangan mereka jeda, saat makanan yang mereka pesan datang.


"Apa nyonya tidak apa-apa makan itu?" tanya Mira, karena melihat Jeanny memasukkan cabe dan saus yang banyak keatas mie rebusnya.


"Ini tidak pedas mbak Mira, warnanya saja yang mengerikan. Cobalah." Jeanny mulai memasukkan mie kedalam mulutnya.


Mira bergidik melihat Jeanny memasukkan mie kedalam mulutnya dan terlihat biasa-biasa saja.


Tiba-tiba, terdengar suara anak kecil menangis dengan keras dari arah kantin.


"Anak siapa itu Mbak?" tanya Jeanny.


"Oh..itu anak karyawan nyonya, tidak ada yang jaga di rumah. Mereka membawanya, dan Bu kantin yang menjaganya."


"Mereka bayar?" tanya Jeanny.


"Iya nyonya, seikhlasnya. Bu kantin tidak mematok biayanya, karena Bu kantin hanya menjaga saja."


"Tapi kan bahaya, anak kecil di bawa ke dapur," kata Jeanny.


To be continued