
Happy reading 😍
...🌹🌹🌹🌹...
Mama, Alma kira tadi Oma mau mengakui ini semua hasil masakan Mama," kata Alma.
"Rencana tadi," sahut Oma.
Jeanny tertawa, mendengar gurauan Oma Gracia. Dia tidak menyadari, ada sepasang mata yang mengintai dari balik tirai.
Mata tersebut seperti sedang mengintai untuk memangsa buruannya.
"You wanted to be my wife so badly, let's play a game." gumam Agra dari balik tirai kamarnya.
Tiba-tiba, Jeanny merasa bulu kuduknya berdiri. Dia merasa ada yang sedang mengamatinya.
Kenapa perasaan tidak enak? apa rumah ini ada mahluk halusnya?" dalam benak Jeanny.
Mata Jeanny mengitari tempat dia duduk, sehingga tanpa disadarinya gelas minumannya jatuh dan isinya membasahi roknya.
"Ahh..!" Jeanny sontak berdiri, dan membersihkan air minum yang membasahi roknya.
"Basah Jeanny," ujar Oma menatap, sisi rok yang dipakai Jeanny basah.
"Miss Jeanny ngompol..!" seru Lisa sembari tertawa.
"Hei! senang ya lihat baju Miss Jeanny basah?" Jeanny pura-pura marah dan memanyunkan bibirnya.
"Hehehe..!" Lisa bukan takut melihat Jeanny marah, dia semakin tertawa.
"Kenapa?" Alma keluar dengan membawa buah-buahan.
"Baju Jeanny basah," jawab Gracia.
"Basah! bagaimana itu? keringkan pakai hair dryer saja," ucap Alma.
"Lisa ada hair dryer," ujar Lisa dengan antusias.
"Lisa, bawa Miss Jeanny kedalam kamar." titah Obut kepada Lisa.
Tidak usah Oma, sebentar lagi kering ini. Tidak terlalu basah ini," ujar Jeanny.
"Basah itu Jeanny, keringkan sana dikamar Lisa. Lisa, bawa Miss Jeanny kedalam kamarnya ya," ucap Oma.
"Oke..!"
Lisa langsung menarik tangan Jeanny, dan membawa Jeanny masuk kedalam kamarnya di lantai dua.
Lisa membuka pintu kamarnya.
"Ini kamar Lisa Miss, lihatlah. Lisa banyak punya boneka." Lisa menunjukkan bonekanya yang berbaris di ujung kepala ranjang, dan di atas nakas di samping ranjang.
"Banyak sekali, siapa yang berikan?" tanya Jeanny.
"Oma, Obut. Opa, dan Papa," jawab Lisa.
"Diantara boneka ini semua, mana yang paling Lisa suka?" tanya Jeanny.
"Hem.. mana ya? Lisa suka semua," jawab Lisa, yang bingung harus milih yang mana boneka yang paling dia suka.
"Kalau Miss Jeanny sukanya yang mana?" Lisa balik bertanya pada Jeanny.
"Ini, boneka kelinci sangat imut dan lucu." Jeanny mengambil boneka kelinci dari atas nakas dan memeluknya didepan dadanya.
"Boneka itu, Papa yang beli," ucap Lisa.
Deg..
Jeanny langsung melepaskan boneka tersebut, dan mengembalikannya ke tempatnya semula keatas nakas.
"Bisa juga dia membeli boneka yang lucu seperti boneka kelinci, sebenarnya, dia hanya pantas membeli boneka chucky. Wajah dia kan seperti boneka chucky sangat mengerikan." gumam Jeanny.
"Lisa, mana hair dryer nya ?" tanya Jeanny yang hampir lupa dengan niat semula untuk masuk kedalam kamar Lisa.
"Kamar mandi." Lisa menunjuk kearah kamar mandi.
Jeanny masuk kedalam kamar mandi untuk mengeringkan bajunya yang basah.
"Akhirnya, kering juga." gumamnya.
Ceklek
Suara pintu kamar mandi tertutup, Jeanny mengira Lisa yang menutup pintu kamar mandi. Karena Jeanny tadi tidak menutup pintu kamar mandi saat dia masuk kedalam.
"Sudah kering, ayo. Kita kembali ketempat Oma, nanti Oma heran karena kita terlalu lama di dalam kamar." kata Jeanny.
Jeanny meletakkan kembali hair dryer ketempat semula, yaitu lebih kecil yang ada dalam kamar mandi.
Jeanny memutar tumitnya, matanya langsung terbelalak saat melihat siapa yang bersama dengannya didalam kamar mandi. Bukan Lisa, tapi Papanya Lisa.
...Agra Barend...
Jeanny merasa pandangan mata Agra menatapnya sepertinya Jeanny mahluk yang aneh, dan patut untuk di waspadai.
Dan.
"Ke..Kenapa kau di sini? mana Lisa?" tanya Jeanny dengan suara yang gugup.
"Ini rumahku, dan ini kamar putriku," jawab Agra sembari melangkah mendekati Jeanny.
"Hei kenapa kau..! sana jangan dekat-dekat, awas! aku akan teriak..! seru Jeanny.
Agra tidak terpengaruh dengan apa yang dikatakan oleh Jeanny, langkahnya semakin dekat. Jeanny mundur, sampai tubuhnya mentok ke dinding.
"Apa yang ingin dilakukannya? apa dia ingin membunuhku dirumahnya ini?" dalam benak Jeanny.
"hei jangan mendekat, aku akan berteriak. stop..!" seru jeanny, seraya merentangkan tangan ke depan. agar Agra tidak dapat mendekatinya.
"Teriak lah! cepat lakukan..!" tantang Agra, agar Jeanny melakukan apa yang ingin dilakukannya tadi. Yaitu berteriak.
"Kau tahu, semua kamar kedap suara. begitu juga kamar Lisa, putriku."
"Kedap suara? tidak mungkin, Lisa masih kecil. Dia tidak membutuhkan private," ucap Jeanny.
"Biasanya, kedap suara dikamar Lisa tidak dihidupkan. Tapi, tadi..." Agra tidak meneruskan perkataannya, senyum misterius tercetak di bibirnya.
"kau..kau.. kau sengaja melakukannya ?" Jeanny panik.
Agra mengganggukan kepalanya, kini jarak keduanya semakin dekat. Jeanny tidak bisa melakukan apa-apa lagi, tubuhnya sudah mentok Kedinding.
"Kau mau apa? biarkan aku keluar?" tangan Jeanny berusaha untuk mendorong tubuh Agra yang berada didepannya, agar dia bisa keluar dari dalam kamar mandi. Tapi, tenaganya kalah dengan tubuh kekar Agra.
Tiba-tiba
Agra memepetkan tubuhnya ke tubuh Jeanny, sehingga tidak ada jarak lagi diantara kedua tubuh tersebut.
Tangan Agra mengungkung tubuh Jeanny, sehingga Jeanny tidak bisa bergerak meloloskan diri. Tubuh Jeanny terkunci diantara dua lengan Agra.
"Kau mau apa? biarkan aku pergi, apa kata Oma dan Tante Alma. Saat melihat kita berduaan didalam kamar mandi," kata Jeanny.
"Mereka akan bahagia, mungkin saja kita akan dinikahkan. Bukankah itu yang kau inginkan? seperti yang kau katakan pada Lisa tadi."
"Apa!?" Jeanny kaget, karena Agra mendengar apa yang dikatakannya pada Lisa. Tapi, sepertinya. Agra salah paham.
"Kau begitu inginnya menikah denganku, sehingga kau memperdaya anak kecil untuk melancarkan keinginanmu untuk menikah denganku."
"Kau salah paham, aku tidak memperdaya Lisa. Aku tidak ingin menikah denganmu..!" seru Jeanny sembari berusaha untuk mendorong tubuh Agra yang menempel ditubuhnya.
"Oh ya! kau sudah berubah pikiran, tapi aku sudah menentukan pilihan. Kita akan menikah seminggu lagi, aku akan memenuhi keinginanmu untuk menikah denganku," kata Agra.
"Tidak! kau tidak bisa menikah denganku, aku tidak mau. Awas! kau sudah gila!" Jeanny sekuat tenaga mendorong tubuh Agra, tapi. Lagi-lagi tenaganya tidak mampu untuk mendorong tubuh Agra.
"Tidak usah jual mahal! tadi kau begitu semangat menikah denganku, sampai-sampai kau mempengaruhi putriku. Sekarang, kau menolak ku. Kenapa? apa kau sudah mendapatkan mangsa yang baru, yang lebih kaya dariku?" sindir Agra.
"Iya, aku sudah mendapatkan mangsa yang lebih kaya dan lebih tampan darimu. Dan lagi, pria itu tidak duda sepertimu. Kau itu tidak pantas menjadi suamiku dan ayah dari anak-anakku nantinya," ucap Jeanny panjang lebar, karena kesal dengan apa yang dikatakan oleh Agra.
Tiba-tiba, tangan Agra menarik tengkuk Jeanny dan langsung melekatkan bibirnya ke bibir Jeanny.
...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...
...Bersambung ...