My Daughter'S Teacher

My Daughter'S Teacher
Tanggung jawab 2



Happy reading 😍


...🌹🌹🌹🌹🌹...


Jeanny celingukan mencari-cari batu untuk melempar Agra, yang tingkahnya membuat dia kesal.


Agra memasukkan kedua tangannya ke kantong celananya, dia tertawa melihat Jeanny yang kesal kepadanya.


Melihat Jeanny marah, ada kesenangan tersendiri dalam hatinya. Selama ini, tidak ada yang bisa membuat seorang Agra Barend tertawa. Kecuali putri kecilnya.


Sejak kepergian Malika menuju alam keabadian, Agra selalu berada dalam perasaan bersalah. Sehingga melupakan rasa senang didalam hatinya.


Hari ini, untuk pertama sekali Agra tertawa dengan orang yang baru dikenalnya. Biasanya, hanya Lisa. Putri kecilnya yang bisa membuat seorang Agra membuka mulut untuk tertawa.


"Hah! kenapa tidak ada sebutir batu di sini." jeanny terus menggerutu mencari batu, untuk menimpuk Agra.


"Hei..Miss Jeanny, apa yang sedang kau cari?" Agra mendekati Jeanny yang sedang membungkuk mencari batu dibalik deretan pot bunga.


"Jangan mendekat!" seru Jeanny.


"Tidak ada batu, emhh...ini saja." Jeanny melihat pot bunga, dan mengangkatnya.


"Hei! itu berat..!" seru Agra.


Tapi, Jeanny tidak mengindahkan peringatan Agra.


Jeanny membungkuk ingin mengangkat pot untuk melempar kearah Agra.


"Aduh...!" pekik Jeanny. Pinggangnya tiba-tiba terasa sakit.


"Sudah aku ingatkan! pot itu berat..!" seru Agra kesal.


Agra langsung mengangkat Jeanny dengan hati-hati, yang merintih kesakitan.


"Turunkan aku..!"


"Sudah aku katakan, itu berat. Kenapa kau keras kepala, kau itu sudah bukan anak kecil yang harus diingatkan selalu! Lisa saja yang masih kecil tidak ceroboh sepertimu..!" ngedumel Agra seraya mengangkat Jeanny masuk kedalam rumah.


"Turunkan aku pria hidung belang! kau mau ambil kesempatan di saat aku kesakitan."


"Diam!" ucap Agra dengan suara yang keras, sehingga. Jeanny spontan menutup mulutnya rapat-rapat.


Di depan pintu, seorang wanita menyambut kedatangan Agra.


"Bi, tolong siapkan air hangat." titah Agra pada wanita tersebut.


"Baik Den," sahut wanita tersebut.


Agra membawa Jeanny menuju sofa, dan mendudukkannya. Kemudian Agra pergi, tidak lama kemudian Agra datang kembali dengan membawa alat kompres yang sudah berisi air hangat.


"Mana yang sakit?" tanya Agra.


"Apa itu?" tanya Jeanny.


"Air hangat untuk mengompres badanmu yang sakit, mana yang sakit?" tanya Agra.


"Tidak ada yang sakit, aku ingin pulang," jawab Jeanny dengan ketus.


"Letakkan ini ditempat yang sakit." Agra memberikan kompres air hangat kepada Jeanny.


Dengan terpaksa Jeanny menerimanya dan melekatkan ke area sekitar pinggangnya yang nyeri.


"Sudah tidak sakit lagi, aku mau kembali ke sekolah," ujar Jeanny.


"Kau belum boleh pulang, kau harus bertanggung jawab atas apa yang kau lakukan pada aset masa depanku," kata Agra.


""Dia seperti anak gadis yang telah diperkosa, minta pertanggungjawaban. Ahh .. kenapa nasibku sial sekali." batin Jeanny.


"Baiklah, aku minta maaf. Aku akan membiayai pengobatan ITU mu itu, sampai sembuh. Bagaimana, sudah puas. Tuan..!"


"Aku tidak butuh uangmu, aku ingin kau bertanggung dengan apa yang kau lakukan padaku. Sehingga aku menjadi mandul," kata Agra.


"Kau tidak percaya, tunggu sebentar lagi. Dokter pribadiku yang akan menjelaskan padamu, betapa fatal yang kau lakukan padaku itu. Jika Oma tahu, bahwa kau telah membuat aku tidak berguna lagi. Karena tidak bisa memberikan cucu yang diinginkannya, yaitu cucu laki-laki, Oma pasti teramat sedih." Tutur Agra.


"Apakah sehebat itu tendangan kakiku? aku tidak percaya dengan apa yang dikatakannya." dalam benak Jeanny.


Jeanny melihat wajah Agra dengan lekat, dia mencari kebohongan dalam wajah pria yang duduk didepannya.


"Kenapa kau memandangku? apa kau baru sadar, bahwa aku ini ganteng?"


"Hoek..!" Perkataan Agra membuat Jeanny ingin muntah.


"Selain mesum, hidung belang.Ternyata, dia laki-laki yang narsis." gumam Jeanny.


"Den, Pak Jerry sudah datang," ujar maid yang menyambut Agra tadi.


"Suruh masuk ke sini." titah Agra.


"Siapa lagi itu? apa dokter yang dikatakannya tadi?" batin Jeanny.


Jerry masuk dengan memakai jas dokter, tangannya terlihat membawa tas yang sering dibawa seorang dokter.


"Apa yang direncanakan oleh Tuan Agra, sehingga menyuruh aku berpura-pura menjadi seorang dokter. Siapa gadis itu ?" batin Jerry .


Jerry bingung, pagi-pagi. Sang Boss, Agra Barend memberi perintah yang aneh. Karena menyuruhnya datang dengan memakai jas kebesaran para dokter.


"Selamat pagi Tuan, Nyonya," ujar Jerry kepada Agra dan Jeanny sembari menganggukkan kepalanya kepada keduanya.


Jeanny berdiri, dengan langkah lebar Jeanny mendekat Jerry yang memakai jas dokter. Lalu kemudian, Jeanny bersembunyi dibelakang tubuh Jerry. Tangannya memegang jas dokter Jerry.


"Maaf Dok, saya bukan Nyonya rumah ini. Saya korban penculikan pria yang di sana itu, orang gila itu telah membawa paksa saya Pak dokter. Pria itu tidak normal Pak, dia laki-laki mesum itu. Tolong selamatkan saya dokter, bawa saya pergi dari sini" ucap Jeanny, agar dokter tersebut menolongnya terbebas dari Agra.


Agra duduk dengan tenang, kedua tangannya bersedekap didepan dada. Terlihat senyum kecil di bibir.


"Tuan Agra tersenyum, walaupun samar. Suatu kemajuan." benak Jerry.


"Anda di culik Nona?" tanya Jerry, pura-pura tidak tahu.


"Ya...! saya di culik pria arogan itu. Lihatlah Dok, wajahnya itu terlihat seperti pria hidung belang. Dia itu Rajanya hidung belang, dia pria hidung belang level tertinggi." Jeanny berusaha agar Jerry yang berpura-pura menjadi dokter, mau membantunya.


"Dok..!" Agra memanggil Jerry, dan memerintahkan Jerry untuk mendekat.


"Dok, jangan ke sana. Ayo kita pergi." Jeanny menarik tangan Jerry.


"Saya dokter nyonya," ucap Jerry.


"Sudah saya katakan dokter! saya bukan nyonya. Saya ini korban penculikan pria hidung belang itu..!" seru Jeanny dengan sangat kesal.


"Maaf Nona, permisi. Pasien saya memanggil." Jerry meninggalkan Jeanny.


"Dan, kau gadis bar-bar. Duduk..!" titah Agra pada Jeanny.


Jemari telunjuknya menunjuk kearah sofa, agar Jeanny duduk.


"Tidak!" Jeanny membantah apa yang diperintahkan oleh Agra untuk duduk di sofa.


"Baiklah, jika kau tidak menurut aku. akan menghubungi polisi," kata Agra.


"Apa...! hanya gara-gara hal sekecil itu, kau ingin membawaku ke kantor polisi? Kau sungguh-sungguh pria yang arogan..!"


"Jika benar dia ingin melaporkan ku, apa yang akan dikatakan orang? tapi, aku membela diri. Sehingga menendang ITU nya." suara hati Jeanny.


"Ini bukan masalah kecil Nona, ini menyangkut kehidupan masa depanku. masa depan keturunan ku, karena perbuatanmu. Aku bisa tidak mempunyai keturunan lagi selain Lisa," kata Agra.


"Dok, katakan pada Nona bar-bar itu. Apa yang terjadi padaku, akibat tindakannya itu yang telah merugikan kesehatan alat produksiku." titah Agra pada Jerry yang menyamar sebagai seorang dokter.


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...


...Bersambung ...