My Daughter'S Teacher

My Daughter'S Teacher
Siapa??



Happy reading 😍


...🍂🍂🍂🍂🍂🍂...


Jeanny sudah berada dalam kamarnya, Mamanya menangis di sisi pembaringan Jeanny.


"Sudah Ma, jeanny baik-baik saja. Mama dengarkan, apa yang dikatakan Agra. Jeanny tidak tidak mengalami apapun juga, lihat. Tidak ada tubuhnya yang tergores." Tutur Andre pada istrinya, Amira.


"Kenapa Jeanny mau kabur dari rumah? Pa, batalkan saja pernikahannya. Jeanny tidak ingin menikah dengan Agra, Pa," ucap Amira, pada sang suami.


"Ma, Agra itu bisa melindungi Jeanny. Lihatlah, tanpa sengaja. Agra melihat Jeanny saat ingin kabur, jika Agra tidak melihatnya tadi. Tidak tahu apa yang akan menimpanya, Papa semakin yakin untuk menikahkan Jeanny dengan Agra." tutur sang suami.


"Apalagi dengan kejadian ini, Yudha pasti akan terus berusaha untuk mendapatkan Jeanny." Sambung Andre kembali.


"Apa Yudha yang melakukan ini semua Pa?" Tanya Amira pada suaminya.


"Kalau tidak dia, siapa lagi yang sanggup melakukan ini semua. Dia ingin memiliki Jeanny, dengan cara menculiknya. Dia akan memaksa kita menikahkan Jeanny dengannya." Tutur sang suami.


"Mama tidak habis pikir, kenapa Yudha menjadi sejahat itu? apa salah putri kita padanya? dia yang mengkhianati putri kita Ucap Amira dengan terisak.


Amira tidak dapat membayangkannya, apa yang terjadi pada Jeanny jika tidak ditolong oleh Agra. Jeanny pasti sudah hancur.


"Dia terlalu mencintai putri kita ma," jawab Andre, sang suami.


"Cinta? apa cinta itu namanya, sampai mau merusak masa depan putri kita?" Amira benar-benar kecewa dengan apa yang dilakukan oleh Yudha.


"Jika dia mencintai Jeanny, biarkan Jeanny mencari kebahagiaannya sendiri. Dia sudah bahagia dengan istri dan calon anaknya." sambung Amira.


"Papa, mau menemui Agra dan temannya. Mama temani Jeanny saja." lalu kemudian, Andre. Papa Jeanny keluar dari dalam kamar Jeanny untuk menemui Agra dan kedua temannya.


Di ruang tamu.


Langkah kaki terdengar terburu-buru masuk kedalam rumah, dan terlihat wajah Jamie berdiri didepan pintu.


"Mana Jeanny? apa dia tidak apa-apa?" Jamie menatap Agra dengan wajah yang berpeluh, walaupun mobilnya ber-AC. Tapi, karena panik dan marah membara dalam dirinya. Jamie merasa gerah.


"Di dalam kamar," jawab Agra.


"Ah...! dia tidak apa-apa kan?" Jamie menghempaskan bokongnya di kursi dekat Agra.


"Dia baik-baik saja," jawab Agra.


"Tapi orang yang menculiknya melarikan diri, maaf," ucap Agra.


"Yudha! pasti Yudha." geram Jamie.


"Apa tidak kita laporkan ke kantor polisi." timpal Albert.


Jamie melihat kearah Albert, dia baru sadar ada orang lain yang berada di ruang tamu rumahnya. Karena pikirannya yang tidak konsen, membuat dia mengabaikan sekitarnya.


"Mereka berdua temanku dan membantuku tadi, tapi mereka datang terlambat. Jika tidak bisa menangkap pria tersebut." tutur Agra.


"Saya Albert," ucap Albert seraya mengulurkan tangannya.


"Jamie." balas Jamie.


"Michael," ucap Michael.


"Jamie." balas Jamie.


"Terima kasih atas pertolongannya pada Jeanny," ucap Jamie.


"Kami tidak banyak membantu, Agra yang membantu," ucap Albert.


"Jamie, kita laporkan masalah penculikan Jeanny pada polisi." suara Papanya dari belakang Jamie duduk.


"Bagaimana jeanny Pa?"


Papa Jamie duduk, dan menghela napasnya.


"Dia belum bangun, tadi sudah di periksa oleh dokter. Obat tidur yang di minum Jeanny yang membuatnya tidak sadarkan diri." tutur Papanya.


"Besok laporkan Jamie." titah Papanya.


"Apa kau ingat dengan wajah orang itu kan?" tanya Jamie pada Agra.


"Ingat, aku juga merekam apa yang ingin dilakukannya," kata Agra.


"Mana rekamannya?" tanya Jamie.


"Awas kau Yudha, bukti yang ada tidak akan bisa membuat kau mengelak lagi," Ujar Jamie dengan suara yang emosional.


Agra mengeluarkan ponselnya, dan menunjukkan rekaman pria yang ingin melecehkan Jeanny.


"Iya, maaf. Aku hanya bisa merekam dari belakang, sehingga hanya punggung yang terlihat," ujar Agra.


"Pa." Jamie berdiri dan menunjukkan rekaman pria yang menculik Jeanny.


"Ini bukan Yudha, walaupun dari belakang. Papa yakin, ini bukan Yudha," ucap Andre, Papa Jamie.


"Om, siapa Yudha?" tanya Agra.


Andre mengalihkan pandangannya dari ponsel Agra ke wajah Agra.


"Apa aku ceritakan tentang Yudha yang bekerja di perusahaannya? ah tidak, aku belum tahu apa Yudha ada kaitannya dengan penculikan terhadap Jeanny sekarang ini. Setelah melihat pria yang ada didalam rekaman tersebut." Suara hati Andre, Papa Jamie.


"Yudha adalah calon suami adikku, sebulan sebelum pernikahan dilangsungkan. Yudha menikahi wanita lain yang telah dihamilinya ." tutur Jamie.


"Pria yang menculiknya itu bukan pria itu?" tanya Agra.


"Bukan, beda." timpal Andre, Papa Jamie.


"Maaf Pak, saya ikut campur. Jika ada yang bisa saya bantu, katakan pada saya." Albert menawarkan dirinya.


"Teman saya ini pengacara om," kata Agra.


"Besok bisa temani kami untuk melaporkan apa yang dialami Jeanny kepada polisi?" tanya Andre, Papa Jeanny.


"Bisa Om," sahut Albert.


"Agra, apa rencana kedatangan kedua orangtuamu besok jadi ke rumah?" tanya Andre, Papa Jamie.


Mata Albert dan Michael saling pandang, kedua heran dengan perkataan Papa gadis yang ditolong oleh Agra.


"Jadi Om, jam berapanya. Akan saya hubungi om nanti," ucap Agra.


"Baiklah." Andre, Papa Jamie menganggukkan kepalanya.


"*Agra merahasiakan sesuatu." batin Albert.


"Sepertinya, Agra ada hubungan dengan gadis yang ditolongnya tadi." batin Michael*.


🍂🍂🍂


Kedua temannya, Albert dan Michael menatap Agra yang sedang makan.


Agra mengangkat kepalanya, matanya melihat kearah kedua temannya


"Ada apa? kenapa kalian tidak makan? apa melihat wajahku kalian sudah tidak lapar lagi?" Agra melanjutkan makannya, perutnya terasa sangat lapar.


"Kau menyembunyikan kekasihmu itu dari kami? sejak kapan kau dekat dengan gadis itu?" Michael melipat kedua tangannya didepan dadanya.


"Kau mulai berahasia ya." timpal Albert.


Agra mendorong makanannya yang sisa sedikit, dan menyesap teh hijau.


"Agra," ujar Albert, yang tidak sabar menunggu apa yang Agra katakan mengenai lamaran yang akan dilakukan besok.


"Kau sudah mau lamaran, kami. Temanmu tidak kau beritahu," kata Albert.


"Baiklah, aku tidak dekat dengan gadis yang bernama Jeanny ini," kata Agra.


"Lalu, kenapa mau ada lamaran besok?" tanya Michael.


"Aku akan ceritakan," kata Agra


Agra mulai menceritakan awal mulanya, hingga dia terpaksa menikah dengan Jeanny. Karena gurauannya terdengar oleh orang tua Jeanny, dan membuat mereka salah paham.


Hahaha..! menikah karena gurauan, itu sangat cocok diberikan padamu Agra." ledek Michael.


"Bertemu jodoh karena gurauan." timpal Albert.


"Puas kalian..!" bentak Agra, karena kedua temannya tertawa terbahak-bahak. Hingga orang-orang yang duduk didekat meja mereka menoleh kearah meja mereka bertiga.


"Sorry Bro, kau sungguh beruntung. Mendapatkan dua anak dara." ledek Michael.


Degh..


Ucapan Michael membuat Agra mengingat Malika seketika, membuat pikiran Agra kembali pada pernikahan yang dilakukan dengan sederhana dan tanpa dihadiri oleh kedua orangtuanya dan Omanya. Sedangkan Malika, hanya didampingi oleh Mamanya. Karena Malika mengatakan, dia tidak mempunyai siapapun lagi.


...🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂...


...Bersambung...