
...Happy reading...
...***...
Agra pura-pura tidak mendengar dengan apa yang terjadi, dia fokus melihat gambarnya bersama Jeanny didalam ponselnya. Yang sebenarnya, telinganya terbuka lebar mendengar apa yang mereka perbincangkan.
"Jangan harap aku mengizinkan istriku pergi bersama dengan duda itu, alasan anak..cih..." batin Agra.
Dalam perjalanan pulang, Lisa selalu bercerita mengenai temannya tersebut.
"Papa, Lisa senang sekali. Minggu nanti akan pergi bermain dengan Maura, Lisa tidak sabar menunggu hari Minggu," kata Lisa.
"Tidak ada pergi bermain, Minggu nanti kita akan pergi. Tapi tidak dengan orang lain, hanya kita bertiga." Agra tidak mengizinkan Lisa kembali pergi dengan Maura.
"Papa, Lisa ingin bersama dengan Maura. Mama, kita pergi dengan Maura ya?" Lisa minta dukungan dari Jeanny.
"Bang, kita sudah janji Minggu akan pergi bersama dengan Maura," ujar Jeanny pada Agra.
"Kita? Siapa kita? aku tidak menjanjikan. Lisa, Papa tidak pernah berjanji akan pergi Minggu nanti. Hari Minggu ini, hari kita berkumpul dengan keluarga. Papa tidak akan izinkan, titik. Tidak ada boleh protes..!" Seru Agra.
Lisa yang ingin membantah perkataan Papanya, menutup mulutnya. Wajahnya terlihat kecewa dengan keputusan Papanya.
Jeanny juga hanya diam, melihat wajah Agra yang tidak ingin dibantah apa yang sudah menjadi keputusannya.
"Maura..Maura! mau pergi dengan duda itu saja, alasan Maura." dalam benak Agra.
"Papa akan mengantar Lisa ketempat Oma," ucap Agra.
Tidak ada sahutan dari jok belakang, Jeanny menoleh kearah belakang. Dan melihat Lisa tidur, dalam posisi duduk.
"Lisa tidur," ujar Jeanny.
"Bang, kenapa tidak izinkan Lisa pergi dengan Maura? Lisa sangat senang pergi bermain bersama dengan Maura," kata Jeanny.
"Bersama dengan Maura atau Papa Maura?" sindir Agra.
"Papa Maura? apa hubungannya dengan Papa Maura? Lisa berteman dengan Maura, mereka satu TK." jelaskan Jeanny.
"Lisa dengan Maura, kau dengan Papa Maura..!" ucap Agra dengan ketus.
"Apa!? Abang ngaco ya." kesal Jeanny mendengar tuduhan Agra.
"Siapa yang ngaco? aku lihat tadi. Betapa bahagianya kalian foto bersama, sampai orang menyangka kalian pasangan suami istri."
"Oh.. masalah foto, kami foto bisa saja. Tidak ada berdekatan, Jean hanya dengan Lisa. Mas Bagas dengan Maura.". tutur Jeanny.
"Mas Bagas, baru berkenalan satu dua jam. Sudah manggil Mas, Kalau seminggu tadi. Pasti sudah manggil Papi Mami..! Mungkin aku tidak datang tadi, bisa jadi. Sudah manggil Daddy mommy.."
Jeanny sontak menoleh kearah Agra, dia tidak mengira. Mulut Agra bisa mengomel seperti kaum wanita.
"Ternyata, mulut Abang ngalahin mulut emak-emak komplek rumahku," kata Jeanny.
"Semua suami akan marah, melihat anaknya mau menikah istrinya dengan Papa temannya! untung aku masih bisa menahan diri, jika tidak tadi. Si Agas itu sudah masuk ke UGD, remuk akan aku buat..!"
"Siapa Agas, Bang ?" tanya Jeanny.
"Calon suami barumu itu." ketus Agra.
"Hahaha..!" Jeanny tertawa lucu.
"Kenapa tertawa, senang ya..!" seru Agra dengan melirik Jeanny sekilas.
"Cie..cie .ada yang cemburu, ada yang larut berperan sebagai suami." ledek Jeanny.
"Siapa yang cemburu?" tanya Agra, yang merasa tidak cemburu.
"Situlah! tidak mungkin aku," ujar Jeanny.
"No! aku tidak cemburu, ya..!" Agra tetap tidak mengaku dia cemburu.
"Kalau tidak cemburu, kenapa ngamuk-ngamuk tidak jelas? tidak beri izin Lisa bertemu dengan Maura? kalau tidak cemburu, beri izin Lisa dan Maura hari Minggu nanti pergi bermain." tantang Jeanny.
Agra diam, tidak menanggapi perkataan Jeanny.
"Bang, bagaimana? izinkan Lisa pergi dengan Maura, ya?"
"Tapi, apa tapi? kalau ngomong jangan sepenggal, tuntaskan. Menyebalkan." Jeanny benar-benar harus memiliki kesabaran yang banyak dalam menghadapi Agra.
"Dasar agar-agar lembek..!" ejek Jeanny, mengganti nama Agra, menjadi agar-agar.
"Apa yang lembek? apa kau sudah merasakannya? sehingga kau mengatakan lembek? jika lembek, tidak mungkin ada Lisa."
"Dasar otak mesum, orang bilang apa? dia mikir apa? bolehkan?" Jeanny kembali membujuk Agra, untuk mengizinkan Lisa bertemu dengan Maura.
"Boleh, tapi. Bi Anah yang menemaninya," kata Agra.
"Bi Anah, kenapa tidak kita saja? kita juga bisa liburan," kata Jeanny.
"Tidak, Bi Anah yang harus menemani. Keputusan sudah final, tidak bisa dianulir lagi."
"Aku mau ikut," kata Jeanny.
"Tidak boleh! titik. kenapa membantah saja, nurut sama suami...!" seru Agra.
'Suami! aku merasa tidak punya suami, bukannya tadi Abang bilang. Aku jangan larut mendalami peran sebagai istri, sekarang. Abang juga jangan larut mendalami peran sebagai suami, nanti Abang tidak bisa keluar. Bagaimana, jika aku nanti bertemu dengan orang yang betul-betul sayang denganku. Abang nanti berat melepaskan ku." tutur Jeanny.
Ciit..
Mobil ngerem mendadak, untung jalanan sepi. Karena restoran yang mereka baru kunjungi berada dipinggiran kota.
"Abang..!" seru Jeanny, karena tubuhnya terdorong ke depan. Untung ada seat belt yang menahan tubuhnya, sehingga tidak mencium dasboard mobil.
Lisa juga terdorong ke depan, mengakibatkan Lisa terbangun dari tidurnya.
"Aduh..!" Lisa kaget.
"Sayang! tidak apa-apa?" Jeanny langsung menoleh kearah belakang, saat mendengar Lisa mengaduh.
"Kepala Lisa kena kursi." Lisa mengelus keningnya.
"Sakit?" ada rasa khawatir dalam nada suara Jeanny.
Sedangkan Agra, hanya diam. Matanya lurus menatap ke depan.
"Abang ini, kalau berhenti itu jangan mendadak. Mau cari bahaya, jangan bawa kami..!" perasaan Jeanny teramat kesal dengan tingkah laku Agra yang membahayakan jiwa.
"Lisa tidak apa-apa?" Agra membuka suaranya, dengan menoleh kearah belakang melihat putrinya, Lisa.
Lisa menggelengkan kepalanya.
"Papa jangan ngebut," ujar Lisa.
"Maafkan Papa ya, tadi Papa kaget. Karena tiba-tiba ada kucing melintas didepan mobil."
"Kucing? apa tidak kena tabrak mobil Pa?" Lisa bangkit dari duduknya, dan melihat kearah depan mobil.
"Tidak, kucingnya selamat. Pakai seat belt nya Lisa, walaupun duduk dibelakang. Tetap pakai seat belt ya." titah Agra pada Lisa.
"Iya Pa," sahut Lisa.
Agra melanjutkan perjalanan, menuju kediaman orangtuanya.
***
Di kantor polisi, Yudha duduk dihadapan kedua orangtuanya Yulia. Polisi menghubungi Yudha, karena kasus yang membelit Yulia berhubungan dengannya.
Tidak lama kemudian, orangtuanya Yudha datang.
"Yudha, apa yang kau katakan di telepon tadi benar?" tanya Mama Yudha.
"Iya, Ma," sahut Yudha dan menganggukkan kepalanya.
"Gila itu perempuan, saat hamil juga. Otaknya penuh dengan kejahatan," ujar Susan, Mama Yudha. Dia tidak perduli, didekatnya. Kedua orangtuanya Yulia mendengar apa yang dikatakan oleh besannya tersebut.
Kedua orangtuanya Yulia tidak menanggapi apa yang dikatakan oleh besannya, tidak ada kemarahan dalam hati keduanya. Apa yang dikatakan oleh besannya, benar. Mereka berdua sudah lelah, menghadapi apa yang dilakukan oleh sang putri. Di usia keduanya menjelang senja, sibuk mengawasi sang putri yang sudah cukup matang.
...***...
To be continued