My Daughter'S Teacher

My Daughter'S Teacher
MDT



...Happy reading...


...***...


Agra terus memasukkan makanan kedalam mulutnya, tidak sedikitpun dia mengangkat pandangan matanya dari makanan yang ada di atas piringnya.


Jeanny sesekali melirik wajah yang mengkerut, seperti jeruk nipis yang sudah lama disimpan didalam lemari pendingin.


"Sudah tua, masih merajuk seperti anak atas bawah gatel(ABG)." Yang hanya Jeanny ucapkan dalam benaknya.


Jika Agra mendengar apa yang diucapkan Jeanny dalam benaknya tersebut, mulut Agra mungkin sudah mengeluarkan bunyi. seperti bunyi terompet lebaran.


"Lihatlah, dia tidak mau minta maaf. Apa salahnya, jika dia minta maaf. Karena tidak membuka pintu kamar mandi tadi, padahal. Aku sangat ingin mandi bersama." yang hanya Agra ucapkan dalam benak.


Jeanny memasukkan makanannya yang terakhir kedalam mulutnya, lalu kemudian menyesap coklat hangatnya. Jeanny mengambil kain dan mengelap mulutnya.


"Bang, jam berapa kita balik?" akhirnya, Jeanny membuka mulutnya. Tapi, bukan minta maaf. Karena sudah tidak menuruti keinginan Agra masalah mandi bersama.


"Pulang yang ditanyakan, bukan ditanyai kenapa aku diam saja." ngedumel Agra dalam hati.


"Lah..masih model manyun." gumam Jeanny dalam hati juga.


"Orang tua, sok cool. Nggak pantes, pakai acara ngambek." gumam Jeanny dalam hati.


"Kenapa aku seperti ini dengan Jeanny? dengan Malika dulu. Aku masih bisa menjaga image sebagai pemimpin, dengan Jeanny. Kenapa aku ingin selalu diperhatikannya." gumam Agra, dengan sedikit melirik Jeanny melalui sudut matanya.


Jeanny bangkit dari duduknya, tanpa berkata apapun lagi. Jeanny meninggalkan Agra.


Agra sedikit mendelik, menatap punggung Jeanny yang melangkah menuju kamar. Langkah kaki Jeanny yang sedikit aneh, membuat pandangan mata Agra memicing.


"Pergi, apa dia tidak sadar aku sedang jengkel. Kenapa jalannya begitu? apa dia tadi jatuh didalam kamar mandi? itulah.. kualat dengan suami, jatuhkan." gumam Agra.


Agra bangkit dari duduknya, dengan secepatnya dia sedikit berlari mendekati Jeanny dan langsung menggendongnya.


"Abang..!" sontak Jeanny kaget, saat tubuhnya tiba-tiba melayang.


Agra diam, dia memutar tumitnya. Dan membawa Jeanny menuju ruang keluarga.


Agra meletakkan bokongnya di sofa, Jeanny berada di atas pangkuannya.


Jeanny bergerak ingin turun dari atas pangkuan Agra, tetapi. Belitan tangan Agra melingkar di perutnya dengan erat.


"Tadi pakai acara ngambek, sekarang. Main gendong." Jeanny mencebikkan bibirnya seraya menatap wajah Agra yang datar tanpa ekspresi.


"Bang, turunkan. aku bisa duduk sendiri, Abang lanjutkan saja mode diam. Seperti film bisu." jengkel Jeanny, karena Agra melilitkan tangannya erat di pinggangnya.


"Siapa yang mengambek?" Agra menarik wajah Jeanny, kini. Wajah keduanya saling bertautan mata.


"Abang lah? diam saja, sejak aku keluar kamar. Makan tanpa ngajak, untung perutku lapar. Sehingga, nggak perduli tidak di ajak makan. Aku nggak mau ikutan seperti anak kecil. Ikut ngambek , Abang itu merajuk ngalahin anak TK.." mulut Jeanny komat-kamit mengomel sembari menatap wajah Agra.


Mata Agra terus terarah kepada satu titik, yaitu bibir merah muda Jeanny. Yang polos, tanpa ada warna palsu yang menyentuhnya. Yaitu, warna lipstik. Karena, Jeanny jika di rumah tidak suka yang namanya dandan.


Bibir merah Jeanny yang komat-kamit membuat otak Agra menjadi black, tanpa kata apa-apa. Agra langsung meraup bibir Jeanny, tanpa sempat si punya bibir melakukan protes.


Setelah berhasil melepaskan semua benang yang ada ditubuhnya, Agra mulai meloloskan tubuh Jeanny yang masih berbalut pakaian lengkap, tidak ada protes. Jeanny membiarkan tangan Agra melepaskan benang demi benang.


Setelah kedua dalam keadaan polos, seperti bayi yang baru selesai mandi. Agra merebahkan tubuhnya di atas tubuh Jeanny, tidak ada kata-kata yang keluar dari dalam mulutnya. Agra masih dalam keadaan puasa bicara, tapi. Tangannya tidak ikut puasa, tangannya terus bergerilya dan merayap ke titik sensitif Jeanny yang sudah diketahui oleh Agra.


"Abang..!" desis Jeanny, saat merasakan jemari Agra sudah tidak bisa ditahan lagi pergerakannya.


"Apa." Agra mengakhiri puasa bicaranya, saat mendengar suara Jeanny memanggilnya dengan gemetar menahan hasratnya untuk minta dipuaskan.


"Cukup..!" ucap Jeanny dengan mata yang terpejam, bibirnya mengatup rapat. Takut dia mulutnya akan meracau.


"Tidak!" Agra terus melakukan explorer kedalam rongga mulut Jeanny, lidahnya bergerak didalam. Seperti sedang menari salsa. Sedangkan tangannya mengelus daging, yang ada di antara kedua pahanya Jeanny. Yang kini, sudah terbuka lebar.


"Aahrg..!" pekik Jeanny dengan suara yang parau.


"Please..!" suara lirih Jeanny keluar kembali.


"Ini sebagai hukuman, karena telah berani mengunci pintu kamar mandi. Ingat..! jangan pernah kunci pintu kamar mandi lagi..ingat didalam otak ini Nyonya Agra Barend.." Agra mengecup kening Jeanny.


Jeanny hanya menganggukkan kepalanya, matanya terpejam. Badannya sedikit melengkung, saat Agra menyapukan lidahnya di area dadanya.


Setelah merasa, Jeanny mendapatkan hukuman yang mumpuni. Tubuh kekar Agra menempatkan diri diposisi yang strategis, diantara dua paha yang terbuka lebar. Jeanny juga mengangkat paha tinggi-tinggi saat pahanya terbuka.(Bupati)


Dengan sekali tekan, tidak seperti yang pertama. Begitu penuh perjuangan untuk membobol gawang perawan Jeanny. Agra melakukan njit-njit dengan ritme yang pelan, dan lama-kelamaan. Ritmenya dipercepat oleh Agra, membuat dua gundukan daging Jeanny goyang-goyang. Bibir Agra meraup gundukan tersebut, secara silih berganti antara yang kiri lalu yang kanan.


Tangan Jeanny memegang pinggul Agra, jarinya mencengkram pinggul Agra. Kuku jari Jeanny yang sedikit panjang, mungkin sudah berbekas. Tapi Agra tidak merasakannya, karena reaksi tubuh Jeanny sudah membuatnya melupakan rasa sakit.


Setelah hampir napas keduanya habis, baru Agra menghentikan njut-njutan di atas tubuh Jeanny. Tubuhnya tepar, dalam keadaan masih menyatu.


Agra mengangkat kepalanya, memandang Jeanny. yang terpejam.


"Semoga, benihku ada didalam sini. Aku ingin mendapatkan putra, benar-benar putraku." batin Agra.


Agra melepaskan aset berharganya dari dalam tubuh Jeanny, dan kemudian mengangkat tubuh Jeanny.


"Abang" Jeanny membuka matanya sedikit, karena merasa tubuhnya melayang.


"Kita merendam, biar tidak tubuh rileks." Agra membawa Jeanny masuk kamar mandi, dan meletakkannya kedalam bathtub. Lalu kemudian, Agra memasukkan air dingin dan hangat secara bersamaan.


Jeanny hanya pasrah, badannya menyandar di bathtub. Tenaganya belum pulih, sendi-sendi yang ada ditubuhnya sepertinya sangat letih untuk menopang tubuh Jeanny.


Setelah memasukkan minyak esensial kedalam bathtub, untuk merileksasikan kedua tubuh yang sudah melakukan kerja berat. Agra masuk kedalam bathtub, duduk dibelakang tubuh Jeanny. Kepala Jeanny menyandar di dada Agra.


"Letih?" tanya Agra dengan berbisik.


"Hm.." yang keluar dari dalam mulut Jeanny.


...****...


To be continued