My Daughter'S Teacher

My Daughter'S Teacher
Satu bab menuju ending



...Happy reading...


Tiga pasang mata melihat Eva yang murung, sejak datang ke rumah Agra. Eva yang ceria dan selalu bicara kini hilang.


"kenapa anak itu?" Michael mengerucutkan bibirnya, menunjuk Eva.


"Eva, kalau begitu. Pasti patah hati, kita tidak tahu dia jadiannya kapan. Yang kita tahu, dia sudah patah hati saja," kata Albert.


Michael tertawa mendengar ucapan Albert.


"Sialan kalian, temannya sedih. Bukannya menghibur, ini mengejek..!" ketus Eva seraya mendelik kan matanya.


"Agra, Jeanny dan Lisa mana?" tanya Michael, karena. Sudah satu jam kedatangan mereka, Jeanny dan Lisa tidak terlihat wujudnya.


"Jeanny ke rumah orangtuanya dan Lisa ikut, Abangnya pindah ke Dubai." jelaskan Agra dengan ketiadaan Jeanny dan Lisa di rumah.


"Jamie..!" suara sedih Eva menyebutkan nama Jamie, membuat tiga pasang mata memandangnya.


Albert dan Michael tertawa, begitu tahu. Kenapa Eva bersedih. Sedangkan Agra tidak, karena sibuk dengan candy yang didalam mulutnya.


"Kau sedih karena Abang Jeanny pergi?" tanya Albert.


Eva menganggukkan kepalanya.


"Eva..Eva.. sudahlah, kau tidak jodoh dengannya. Move on, tiru Agra itu. Dia sudah move on dari istrinya terdahulu." nasihat Michael.


"Kenapa Agra cepat sekali move on," ujar Eva.


"Tanya pada orangnya," ujar Albert.


Eva menoleh kearah Agra, dan dahinya mengernyit. Saat sadar, ada yang aneh dengan diri Agra yang tidak di sadari ketiga temannya.


"Agra, apa yang kau hisap itu?" tanya Eva.


"Permen lollipop, mau?" Agra menawarkan permen yang ada dalam mulutnya kepada Eva.


"No! bekas mulutmu, hoek...!" Eva ingin muntah.


"Bukan yang ini, aku juga rugi memberi bekas dari mulutku. Bekas dari mulutku, hanya untuk Jeanny," kata Agra.


"Jeanny, kau beri bekas mulutmu? jorok kau," ujar Michael.


"Tidak apa-apa lah, kami kan suami istri," kata Agra.


"Suami istri benar, tapi. Kuman dalam mulutmu bisa berpindah kepada istrimu." terangkan Albert.


"Ciuman itu bagaimana, bukannya bisa tertular kuman?" Agra balik bertanya pada Albert.


"Ahh! pusing aku mendengar pertanyaanmu, kenapa permen Lisa kau makan?" tanya Albert.


"Ini bukan punya Lisa, ini punyaku," ujar Agra.


"Sejak kapan kau suka permen lollipop begitu, mirip bocah cilik saja kau Agra," kata Michael.


"Bukan hanya bocah kecil yang makan permen, orang yang menghilangkan kebiasaan merokok juga mengalihkannya kepada permen. Jadi, tidak ada yang aneh dariku ini." tutur Agra dan kembali melanjutkan makan permen lollipop.


"Guys, besok aku kembali ke Aussie," kata Eva tiba-tiba.


Tiga sahabatnya menatapnya.


"Kenapa? karena kau patah hati?" tanya Agra.


"Sebenarnya, bukan. Tapi, karena Papa sudah tidak bisa lagi bekerja berat. Kalian tahu kan, Papa baru saja operasi jantung. Tidak boleh bekerja dengan beban yang berat." cerita Eva.


"Baguslah, mungkin. Jodohmu ada di sana," kata Michael.


"Betul." timpal Albert.


"Kapan kau pergi?" tanya Agra.


"Dua hari lagi, guys. Aku sedih..!" Eva menunjukkan raut wajah sedih.


Tapi...


"Kami tidak..!" balas ketiga temannya, secara bersamaan.


"Sialan kalian..!" umpat Eva.


*


*


Agra sedang memandangi hasil kerjanya, wajahnya dan bajunya kena cat.


"Ternyata, aku berbakat menjadi tukang," ujar Agra.


Tiba-tiba ada tangan yang menyodorkan minuman dingin kepada Agra, tanpa melihat tangan siapa yang memberinya. Karena dia juga sangat haus, Agra langsung menerima dan membuka minuman kaleng tersebut.


Glek..glek..


Jakun Agra bergerak, saat dia meneguk habis minuman tersebut.


"Jean," ujar Agra dan menoleh ke arah sampingnya, karena mengira Jeanny yang memberinya minuman.


"Kau..!" mata Agra melotot, saat melihat Zoya yang memberi minuman.


"Saya tidak minta, untuk apa anda beri..!" ketus Agra.


"Saya mau memberikan anda minum Tuan, ayolah Tuan. Jangan marah-marah, Tuan jangan khawatir. istri anda tidak ada di sini, Tuan. Apa anda tidak marah? anda Tuan pemilik perusahaan diberi pekerjaan di luar ruangan yang begitu panas?"


"Bukan urusan anda! pergi, jangan ganggu saya.!" usir Agra.


"Tuan, saya bermaksud baik. Istri apa itu, buat suami sengsara," ucap Zoya, dan jemarinya ingin mengusap keringat di wajah Agra.


"Jangan sentuh wajah saya..!" Agra menepiskan tangan Zoya.


Dan..


Argha..


Agra memegang dadanya, lalu jatuh...


"Tuan..!" pekik Zoya.


"Agra..!" Jeanny yang datang membawa minum untuk Agra kaget, sontak melangkah cepat. Dan jongkok di samping tubuh Agra.


"Apa yang terjadi!?"


"Saya tidak tahu nyonya, saya beri Tuan minum dan tidak lama kemudian. Tuan pingsan." jelaskan Zoya.


"Panggil dokter..!" titah Jeanny pada Zoya.


Zoya langsung lari.


Jeanny dengan dibantu oleh beberapa orang wanita mengangkat Agra dan membaringkannya di sofa.


Tidak lama kemudian, dokter yang di panggil oleh Zoya datang.


"Bagaimana dengan suami saya Dok?" tanya Jeanny.


"Tidak apa-apa, apa bapak baru berolahraga?" tanya dokter.


"Tidak Dok, suami saya hanya bekerja ringan. Memperbaiki beberapa fasilitas taman." tutur Jeanny.


"Itu juga seperti olahraga, apa bapak baru minum minuman dingin?" tanya dokter.


"Tidak Dok, saya baru saja mau beri suami saya minum."


Zoya yang berdiri dibelakang Jeanny, langsung panik. Karena dia baru saja memberi Agra minuman dingin.


"Gawat, kalau ketahuan aku beri Tuan minum minuman dingin. Aku akan kena marah, aku pergi saja." gumam Zoya, dan tanpa ada yang tahu. Zoya melangkah mundur dan begitu tiba diluar ruangan kerja Jeanny, Zoya langsung kabur.


Sejak kejadian itu, Zoya hilang. Hanya ada sepucuk surat yang mengatakan dia resign.


*


*


Apa yang dikatakan oleh Lisa terjadi, Benny akhirnya Menikah dengan Erica.


"Mommy..!" seru Lisa, setelah selesai akad dilakukan.


"Terima kasih cantik, karena si cantik ini. Mommy Erica sangat bahagia," ucap Erica dan kemudian mencium pipi Lisa.


"Sama-sama mommy." balas Lisa.


"Daddy..!" Lisa memeluk Benny.


"Sayang, apa sayang bahagia?" tanya Benny pada Lisa.


"Iya, Lisa sangat happy..! happy Lisa segini..!" Lisa merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.


Benny dan Erica tertawa melihat kelucuan Lisa.


"Sekarang, Lisa punya Papa Mama. Dan Daddy dan mommy," kata Lisa.


"Sini." Benny membawa Lisa duduk di pangkuannya.


"Lisa, Daddy dua hari lagi akan kembali ke Belanda," kata Benny.


"Kenapa Daddy ke Belanda? kenapa tidak tinggal di sini saja?" tanya Lisa.


"Karena mommy dan Daddy kerja di sana." Erica yang menjawab pertanyaan Lisa.


"Kenapa tidak kerja di sini?" tanya Lisa kembali.


"Karena bisnis Daddy berpusat di Belanda, apa Lisa mau sesekali mengunjungi Daddy dan mommy ke sana?" tanya Benny.


"Mau, nanti saat Lisa libur sekolah. Lisa akan mengunjungi Daddy dan mommy," kata Lisa.


"Terima kasih sayang." Benny memeluk Lisa dan mendaratkan kecupan di keningnya.


"Daddy akan rindu dengan putri cantik ini." Benny mencubit lembut pipi Lisa.


"Sedang bicara apa ini? kelihatannya seru sekali?" Oma Gracia datang menghampiri tempat duduk Benny dan Erica, di mana mereka berbincang-bincang dengan Lisa.


"Oma." Benny berdiri, dan mendudukkan Lisa di samping Erica. Lalu, Benny menarik kursi untuk Oma duduk.


Satu bab menuju ending..