
...Happy reading...
...***...
Dengan terpaksa, Jeanny ikut kekantor.
"Mana senyumnya?" goda Agra.
"Ini." Jeanny memegang kedua sisi bibirnya, dan menariknya agar bibirnya tersenyum.
"Jangan ngambek, Abang akan memberikan kejutan spesial. Jean pasti akan loncat kegirangan," kata Agra.
"Apa .apa .! cepat katakan Bang, tidak sabar ini." Jeanny memegangi lengan Agra yang sedang mengemudi.
"Sabar, tunggu sampai kantor," kata Agra.
"Ih.. Abang, jangan bilang dulu. Kalau di skip sampai kantor..!" mulut Jeanny manyun, karena tidak sabar dengan apa yang di rahasiakan oleh Agra.
"15 menit lagi, sabar. Lisa yang masih kecil saja bisa sabar, kenapa Mamanya tidak sabar," kata Agra.
"Bang, kapan Lisa pulang. Rindu.?"
"Minggu depan, Oma di sana juga sekalian berobat."
"Oma sakit? kenapa kita tidak ikut?" Jeanny kaget, mendengar Oma sakit.
"Oma hanya cek up."
"Bukannya, Oma cek up di rumah sakit Mas Fandi?'
"Di tempat Fandi, Oma hanya cek up biasa. Di rumah sakit tempat Oma cek up ini, keseluruhan. Fasilitasnya lebih lengkap." jelaskan Agra, Kenapa Oma cek up kesehatan di rumah sakit luar negeri.
Mobil yang dikemudikan oleh Agra sendiri, tiba di depan gedung perusahaan. Sang sekretaris, Jerry sudah menunggu kedatangan Agra.
"Selamat pagi Pak Jerry." sapa Jeanny.
"Pagi Nyonya." balas Jerry.
"Bagaimana, apa yang saya katakan tadi malam sudah ditinjau kelayakannya?" tanya Agra.
"Sudah Tuan, Tim kelayakan sudah memeriksa semua. Dan gedung itu masih dapat di pergunakan, hanya perlu perbaikan sedikit. Karena sudah lama tidak di pergunakan."
Jeanny hanya sebagai pendengar, dia tidak mengerti apa yang diperbincangkan oleh keduanya.
"Ayo kita kesana?" Agra meraih tangan Jeanny dan menggandeng tangannya.
"Kemana?" tanya Jeanny.
"Lihat saja sendiri." Agra melangkah menuju samping gedung perusahaan.
Agra berhenti didepan bangunan tiga tingkat yang kosong, dan terlihat catnya terlihat mengelupas.
"Lihat." titah Agra, menarik Jeanny kedepannya. Dan Agra memeluknya dari belakang.
"Apa?" Jeanny belum ngeh dengan apa yang dikatakan oleh Agra.
"Kenapa otaknya lemah sekali, ini saja tidak mengerti," kata Agra.
"Ini gedung, Jean tahu. Tapi untuk apa? apa Abang suruh Jean mengecat dinding ini, agar Jean tidak bosan?" Jeanny memiringkan kepalanya sedikit, menatap Agra dibelakangnya.
Jerry tersenyum dalam hati, mendengar apa yang dikatakan oleh Jeanny.
"Ahh . nyonya, kau lucu sekali. Tidak mungkin Tuan menyuruh istrinya kerja kasar." ucapan yang hanya dikatakan oleh Jerry dalam hatinya.
"Apa kata orang, jika mengetahui. Seorang Agra Barend menyuruh istrinya untuk bekerja mengecat gedung," ucap Agra.
"Terus, untuk apa kita berdiri di sini?"
"Katakan Jerry.." titah Agra pada Jerry, untuk mengatakan pada Jeanny, untuk apa mereka berdiri didepan gedung yang kosong.
"Gedung ini milik perusahaan yang tidak di gunakan nyonya, dan di sini nanti akan dibuat untuk taman bermain." tutur Jerry.
"Taman bermain? taman bermain untuk anak-anak?" tanya Jeanny.
"Abang ingin membuat sekolah taman kanak-kanak dan tempat penitipan anak, dan yang mengurusnya. Istri Agra Barend, agar dia tidak bosan," ucap Agra.
"Sekolah? Abang ingin mendirikan sekolah?" Jeanny kaget mendengar Agra ingin mendirikan sekolah, untuknya.
"Iya, kenapa? apa tidak suka?" tanya Agra.
"Mendirikan sekolah, tidak mudah Bang. Kita harus mengurus perizinan, dan merekrut karyawan. Dan, guru-gurunya. Bagaimana?"
"Tenang saja, Abang punya teman. Dia bergerak di bidang pendidikan, nanti kita akan minta bantuannya. Asalkan istri Agra Barend senang, apapun akan Abang lakukan."
"Nyonya, sekolah ini adalah proyek amal. Keluarga Barend tidak akan jatuh miskin hanya menyisihkan sedikit hartanya untuk membantu sesama," kata Agra.
"Gratis..!" mata Jeanny berbinar-binar, saat mendengar Agra akan menggratiskan sekolah dan penitipan anak.
"Iya gratis, untuk sementara ini. Kita menerima murid TK dan penitipan anak saja dulu, nanti. Bisa kita bisa pikirkan untuk jenjang lebih tinggi, setingkat SD SMP. Dan SMA." Agra mengeluarkan ide dalam benaknya.
"Wow.. Abang sangat keren..!" seru Jeanny dan Jeanny melepaskan pelukan Agra, dia memutar badannya dan langsung memeluk Agra dengan wajah yang senang.
"Jerry, kau cari orang untuk mengurus ini semua. Jean, katakan kepada orang yang mengurus ini nanti. Apa yang saja yang dibutuhkan untuk membuat tempat bermain untuk anak-anak, dan desain kamar untuk tempat penitipan anak.
"Oke." Jeanny mengacungkan dua jempolnya.
*
*
Agra sibuk dengan laptopnya, sedangkan Jeanny sibuk melihat menggambar desain kamar khusus untuk tempat penitipan anak.
"Kamar harus ramah anak, jangan sampai nanti anak-anak tidak nyaman. Jangan ada barang-barang yang berbahaya, dan harus banyak boneka untuk kamar anak perempuan. Sedangkan anak laki-laki, warnanya harus putih dan biru." gumam Jeanny sembari menuliskan idenya didalam buku.
Agra senang, melihat Jeanny begitu antusias. Sudah dua jam, Agra tidak mendengar keluhan dari mulut Jeanny.
Agar menutup laptopnya, dan berdiri dari tempatnya duduk. Agra melakukan perenggangan, karena pinggangnya terasa kaku.
"Jean, apa tidak letih?" Agra melangkah menuju sofa, di mana Jeanny duduk.
Jeanny mendongak, menatap Agra. " Tidak, jika kita melakukan yang kita suka. Kita tidak akan merasa letih," ucap Jeanny.
Agra duduk di samping Jeanny, dan mengambil catatan yang dibuat Jeanny.
"Apa ini sudah semua yang dibutuhkan?" tanya Agra, setelah membaca catatan yang dibuat Jeanny.
"Baru ini, nanti di pikirkan lagi. Bang, kita harus mengurus surat izin pendirian sekolah. Kalau hanya penitipan anak saja, kita tidak perlu mengurus izin. Apalagi kalau hanya skala kecil, untuk lingkungan kantor saja. Ini, ruang lingkupnya besar."
"Jerry akan mengurusnya, dan nanti kita akan menemui teman Abang itu. Semoga, rumahnya masih di sana. Nomor teleponnya, tidak ada."
Tok..tok..
Pintu terbuka, Jerry masuk dengan tergesa-gesa.
"Tuan, ada orang yang memaksa ingin bertemu," ujar Jerry.
Agra meletakkan buku catatan Jeanny, lalu berdiri dan melangkah mendekati Jerry.
"Siapa? Mikaela?" Agra menyebut nama Mikaela.
Jeanny tersentak, saat nama Mikaela keluar dari mulut Agra.
"Perempuan itu lagi, mau apa dia? apa dia masih ingin menganggu Agra lagi?" gumam Jeanny dalam hatinya.
"Bukan Tuan, ini pria. Dia mengatakan, dia teman dekat Nyonya Malika," ujar Jerry.
"Benny.." Agra langsung menyebut nama Benny, yang dia tahu adalah teman dekat Malika.
"Di mana dia?" wajah Agra langsung berubah, saat mendengar Jerry menyebutkan pria yang ingin bertemu dengannya.
"Di lobby Tuan, dia bersikeras untuk menemui anda," kata Jerry.
"Bawa dia kesini." titah Agra.
"Baik Tuan." Jerry langsung keluar dari ruang kerja Agra.
Jeanny bangkit dan menghampiri Agra, yang berdiri tegak disamping meja kerjanya. Tangan Agra satu bertumpu pada sisi meja kerjanya. Jeanny memegang tangan Agra.
"Ada apa Bang..?" tanya Jeanny.
Jeanny melihat wajah Agra terlihat marah,garis rahangnya mengeras. Urat-urat lehernya menonjol.
"Bangsat..!! pria bedebah itu akhirnya datang..!" suara Agra datar.
Jeanny melihat sosok Agra, yang pertama dikenalnya. Dingin, tidak ada senyum di wajahnya. Kini, Jeanny melihat itu sekarang ini.
"Siapa Bang, apa ini ada hubungannya dengan Maharani? bukannya Maharani sudah tiada?"
"Ini tidak berhubungan dengan Maharani," ucap Agra.
Pintu kembali terbuka, Jerry datang bersama dengan dua orang pria. Yaitu Benny dan asistennya Ryan Abdul.
"Agra Barend, aku ingin mengambil milikku yang bersamamu..!" seru Benny.
To be continued