
Tekan tombol like ya kakak-kakak reader 🙏
...Happy reading...
...***...
"Bukti? apa buktinya, aku bukan Malika? kalian jangan mengada-ada." Mikaela marah.
Agra dengan suara yang datar, mengatakan bukti-bukti yang ada pada Malika. Dan tidak ada pada tubuh Mikaela.
"Malika tidak pernah memanggil aku dengan sebutan Mas, kalau kau Malika. Mana tanda tahi lalat hitam di tengku, jangan kau katakan sudah kau buang. Karena Malika sangat menyukai tanda tahi lalat hitam di tengkuknya itu. Karena Malika, tanda hoki. Dan, satu lagi. Ada bekas luka di lengan atas, itu juga tidak kau miliki." Agra menuturkan, tanda-tanda yang miliki oleh Malika.
"Kenapa aku lupa dengan luka di lengannya Malika? ternyata, Malika tidak memanggil Agra dengan panggilan 'MAS'. Ah..kenapa aku tidak selidik terlebih dahulu." dalam benak Mikaela yang kesal.
"Kenapa diam? apa kau tetap ingin mengatakan, bahwa kau Malika?" tanya Agra dengan sinis.
"Kau dan Malika sama pembohong!" seru Agra dengan marah.
"Siapa kau yang sebenarnya Nona Mikaela?" Albert menghampiri ranjang Mikaela dan berdiri tegak menatap Mikaela.
"Mereka tahu namaku? ternyata, mereka sudah menyelediki semua mengenai ku. Aku tidak mungkin berbohong lagi, aku katakan saja. Bahwa Maharani yang menyuruh aku untuk menyamar." suara hati Mikaela.
"Apa yang kulakukan ini bukan atas keinginanku sendiri, ada seseorang yang memerintahkan aku untuk menyamar menjadi Malika. Aku dan Malika saudara kembar, tapi. Kami tidak tinggal bersama, aku menetap di negara asal Papaku. Sedangkan, Malika. Tinggal di sini, bersama dengan orang yang menyuruh aku untuk berpura-pura menjadi Malika." akhirnya, Mikaela mengakui. Bahwa dia bukan Malika.
"Siapa orang itu?" tanya Agra.
"Maharani, dia orang yang memaksa masuk kedalam keluarga besar Basri. Maharani, istri kedua kakekku." Mikaela menuturkan hubungannya dengan Maharani.
"Maharani, orang yang di ceritakan oleh Oma." dalam benak Agra.
"Aku tidak tahu, kenapa Maharani memperalat Malika. Dan setelah Malika meninggal, Maharani meminta aku untuk menyamar sebagai Malika." cerita Mikaela.
"Tolong, lindungi aku dari Maharani. Aku hanya ingin mengambil apa yang menjadi hak mamaku yang dikuasainya," kata Mikaela.
"Agra, please! aku saudara istrimu, apa kau tidak ada rasa kasihan kepadaku. Ingat, aku saudara Malika. Istrimu. Satu-satunya," kata Mikaela.
"Aku juga ingin mengenal keponakanku, dia pasti mirip dengan Malika kan? dia anak saudaraku. Izinkan aku mengenalnya, dia peninggalan saudaraku. Aku yang lebih berhak, daripada istri yang baru kau nikahi itu sebagai ibu sambung bagi keponakanku." tutur Mikaela dengan berani, entah apa yang merasuki otaknya. Sehingga berani mengatakan itu pada Agra.
"Nona, tutup mulutmu! apa kau ingin Agra benar-benar melenyapkan mu?" tanya Michael.
"Diam tidak mungkin sanggup melenyapkan aku, aku mirip dengan Malika. Istrinya." benak Mikaela yang terlalu percaya diri, Agra tidak akan marah lagi padanya.
Wajah Agra terlihat merah, sorot matanya tajam menatap Mikaela. Saat Mikaela mengungkit Malika dan putrinya.
Melihat raut wajah Agra memerah, Albert memberi tanda untuk Michael agar siaga. Jangan sampai seperti tadi, Mereka kurang waspada. Sehingga, Agra bisa melampiaskan emosinya dengan menyakiti Mikaela.
"Agra, cukup. Pulanglah, sekarang. Biar aku yang menangani ini semua," kata Albert.
"Michael, kau bawa Agra keluar." titah Albert pada Michael.
"Ayo Agra, biar Albert yang mengurusnya," ujar Michael.
Agra keluar dari dalam kamar inap Mikaela, dan Mikaela memanggilnya. Agra diam, dia terus melangkah keluar dari dalam kamar.
"Agra, tolong aku. Jangan tinggalkan aku di sini. Nanti Maharani akan melenyapkan ku..!" seru Mikaela.
"Nona, cukup! jangan ganggu lagi Agra, sekarang. Katakan di mana rumah orang yang telah menyuruhmu untuk menyamar menjadi Malika?" tanya Albert.
"Aku tidak akan mau mengatakannya." Mikaela memejamkan matanya, pura-pura tidur.
"Nona, jangan main-main dengan aku. Aku bisa lebih gila dari orang yang telah menyuruhmu untuk menyamar sebagai Malika..!" bisik Albert dengan suara yang datar.
Mikaela membuka matanya, kaget. Wajah Albert berada didepan matanya. Hanya sejengkal jarak wajah Albert dan Mikaela.
"Hei! apa yang kau lakukan? kau ingin melecehkan ku..! aku akan laporkan kelakuan mu ini." ancam Mikaela.
"Belum kau keluar dari dalam kamar ini, kau sudah akan terbaring di bawah. Tubuhmu akan terbang melalui kaca itu..." Albert menunjuk jendela kaca dalam kamar Mikaela.
"Kau tidak akan berani.!" Mikaela tidak gentar dengan ancaman Albert.
"Apa pun akan aku lakukan, demi sahabat ku. Saudaramu, telah membuat hidup Agra susah. Kau kira Agra masih mencintai saudaramu itu? TIDAK!!"
"Sekarang, beritahukan. Di mana Maharani itu tinggal, jika kau masih ingin kembali ke negaramu!" ancam Albert.
"Betul-betul keras kepala wanita ini, sepertinya. Aku harus lebih keras kepadanya." batin Albert.
"Aku beri kau waktu sampai besok untuk mengatakannya, jika tidak. Aku akan memberikan kau untuk pemuas nafsu anak buah ku yang berada di luar sana."
Albert langsung keluar, dan mentitahkan kepada Dani dan Marco untuk menjaga Mikaela dengan ketat.
...***...
Brak.k..
Polisi memukul meja, karena Andi selalu menjawab pertanyaan polisi dengan jawab tidak tahu dan tidak bersalah. Membuat polisi marah, dan memukul meja didepan Andi.
"Katakan! kenapa kau menculik Jeanny Anastasya?" tanya polisi sekali lagi.
"Pak, saya tidak menculik gadis yang bernama Jeanny Anastasya. Saya juga tidak mengenalnya, bagaimana saya bisa menculiknya," ucap Andi.
"Kau tidak mau mengaku, baiklah. Tolong bawakan rekaman video tersebut." titah penyidik pada rekannya.
"Aku sudah letih, sudah satu harian aku di sini. Apa polisi ini tidak ada capeknya, mereka mengintrogasi sepanjang hari." batin Andi.
"Lihat! kau mengenal orang yang ada didalam video ini..?" polisi menunjukkan rekaman video dalam laptop.
"Tidak Pak! siapa orang itu, hanya terlihat punggungnya saja," ujar Andi.
"Kau tidak mengenal orang itu? baiklah, sekarang. Coba, kau perhatikan. Kaca didepan pria itu, terlihat jelas wajah pria tersebut," kata polisi pada Andi.
"Gawat, kenapa aku tidak perhatikan kaca itu? aku tidak mungkin mengelak lagi. Baiklah, aku masuk kedalam penjara tidak akan sendirian. Yulia, kau harus ikut juga menikmati tidur di lantai penjara yang dingin. Ini semua karena membantumu." suara hati Andi.
"Bagaimana? apa kau masih tidak mengakui, bahwa punggung itu adalah punggung mu?" tanya penyidik.
"Itu saya Pak, tapi. Saya tidak bersalah Pak! ini semua karena permintaan Yulia..!" Andi menyebutkan nama Yulia.
"Yulia, siapa Yulia? dan ada hubungan apa Yulia dengan gadis yang kau culik?" tanya penyidik polisi.
Andi menceritakan semua, mengenai Yulia. Dan hubungannya dengan Jeanny dan juga Yudha.
"Awas! jika kau membuat laporan palsu." ancam polisi pada Andi.
"Saya mengatakan yang sejujurnya Pak, ini semua kerjaan Yulia. Dia sebenarnya menyuruh saya untuk menjual Jeanny ke rumah pelacuran." tutur Andi.
...***...
To be continued