My Daughter'S Teacher

My Daughter'S Teacher
MDT



Jangan lupa untuk menekan tombol like ya kakak-kakak reader 🙏


...***...


"Dia!? Agra sontak kaget, saat melihat wajah yang berada di balik selimut.


Wajah Jeanny dengan mulut ternganga, rambut yang berantakan sebagian menutupi wajahnya.


"Argh..!" Agra memegang pelipisnya.


"Kenapa aku lupa, aku menikahinya semalam. Sialan! Gara-gara minuman keras yang diberi kedua teman laknat itu, aku lupa telah menikah..." Geram Agra, mengingat semalam dia ditantang Albert dan Michael untuk minum-minuman beralkohol. Padahal, dia sudah lama tidak menyentuh minuman keras. Sejak dia mabuk dan membuatnya malu.


"Aku hanya meneguk segelas, aku sudah melupakan apapun."


Agra melihat kembali ke arah Jeanny, keningnya berkerut saat melihat gaya tidur Jeanny yang tidak elok dipandang mata.


"Tidurnya sangat berantakan, dia ini anak gadis apa gadis ular. Tidur meliuk seperti ular, kaki di mana kepalanya di mana," ucap Agra yang melihat kepala Jeanny sudah hampir samping ranjang, sedikit lagi jika Jeanny bergerak. Kepalanya sudah menggantung.


"Tidurnya melebihi Lisa lasaknya, Lisa yang masih kecil saja tidur tidak seperti ini."


Tiba-tiba, senyum tipis menghias bibir Agra.


"Aku kerjain saja dia."


Agra dengan hati-hati, menarik turun celana piyama tidurnya Jeanny.


"Hahaha..!" tawa Agra langsung pecah, saat melihat apa yang ada dibalik celana piyama yang sudah turun sedikit.


Terlihat, pakaian dalam Jeanny yang bergambar motif kelinci.


"Hah..! pakaian dalam anak ABG." gumam Agra.


Dia ingat dulu, saat masih memakai baju biru putih. Michael yang jahil, sering melarikan pakaian dalam murid putri. Saat sedang pelajaran berenang, Michael diam-diam masuk ke bilik ganti putri. Saat para murid sedang mengikuti belajar renang, Dan, pakaian dalam itu mirip yang dikenakan oleh Jeanny saat ini.


"Umur saja yang tua, tapi. kesukaan, masih bocah." ngekeh Agra.


"Pengantin baru, untuk memanjakan suami. Pengantin wanita selalu memakai lingerie super seksi. Dia..!" Agra tersenyum seraya menggelengkan kepalanya.


"Sialan..!" Agra merasakan sesuatu mendesak diarea bawah tubuhnya.


"Tenang boy, kau tidak boleh tergoda. Walaupun halal, tapi. Itu bukan untukmu," ucap Agra pada si boy, yang minta dilepas dari sarungnya.


Setelah merasa, si boy mulai bisa diajak kompromi. Agra melanjutkan apa tadi dilakukannya.


"Baiklah, kita lanjutkan kembali."


Agra kembali melanjutkan apa yang dilakukannya tadi, dengan melakukan pergerakan yang sangat hati-hati. Tangan Agra berhasil menurunkan celana piyama tidur Jeanny, walaupun berkali-kali tangan Jeanny melakukan pergerakan memukul karena merasa terganggu. Tetapi, karena merasa masih sangat mengantuk. Jeanny tidak merasakan apa yang dilakukan oleh Agra.


"Beres, ternyata. kalau sudah tidur, dia tidak akan terganggu apa pun yang dilakukan padanya." senyum smirk terlihat di sudut bibir Agra.


Entah apa lagi yang ada didalam pikirannya, untuk mengerjai Jeanny.


"Bajunya, sangat sulit untuk di buka. Kancingnya saja aku buka."


Tangan terampil Agra bergerak membuka kancing baju tidur Jeanny dengan sangat hati-hati.


Lagi-lagi Agra tertawa, saat melihat kacamata Jeanny bergambar karakter kelinci juga.


"Saat kau ulangtahun nanti, aku akan memberi semua yang bergambar kelinci." gumam Agra sambil tersenyum.


Agra merebahkan tubuhnya ke sisi Jeanny, dan menarik kaki Jeanny ke atas tubuhnya. Agra membuat Jeanny yang memeluknya.


"Kita tunggu kau bangun nanti Nyonya, hehehe..." tawa Agra, membayangkan keributan yang akan dilakukan oleh Jeanny.


***


Yudha terbangun didalam mobilnya di tepi pantai, setelah pulang dari resepsi pernikahan Jeanny. Yudha pergi menuju pantai, di mana dia dulu dan Jeanny selalu pergi berdua.


Yudha membuka pintu mobil, lalu keluar. Matahari masih malu-malu menampilkan warna keemasannya.


"Selamat pagi dunia! semua orang bahagia. Aku yang sendiri di sini..!" pekik Yudha dengan sekeras mungkin.


Tubuh Yudha jatuh berlutut, hempasan ombak tidak membuatnya menjauh dari bibir pantai.


"Pilihanmu sangat tepat Jean, Tuan Agra Barend lebih sempurna. Dia memiliki semua yang kau butuhkan."


"Gara-gara kau Yulia, aku begini. Gara-gara kau..!" Yudha kembali meninju pasir, dalam bayangannya. Wajah Yulia terlihat di atas pasir.


"Habislah kau Yulia! matilah kau Yulia!" tangan Yudha menekan pasir yang ada didepan matanya.


...***...


"Bagaimana?" Albert kembali menemui dokter Jhon.


"Kau tidak pulang?" tanya dokter Jhon pada Albert yang sudah berdiri didepan meja kerjanya.


"Aku tidak pulang, kau sendiri. Pagi-pagi begini sudah ada di sini?" Albert balik bertanya pada dokter Jhon.


"Ada pasienku yang membutuhkan penanganannya, aku tidur di sini," ucap dokter Jhon sembari melakukan perenggangan ototnya yang kaku, karena tidur ranjang pasien.


"Bagaimana dengan gadis itu? apa sudah ada hasil CT scan nya?" tanya Albert.


"Kau sudah tahu identitas gadis itu? siapa keluarganya? karena kami tidak bisa mengambil tindakan medis, jika tidak tahu asal usulnya," kata dokter Jhon.


"Aku tidak tahu," jawab Albert.


"Apa dalam tasnya tidak ada kartu identitas sama sekali?" dokter Jhon mengingatkan Albert mengenai tas Mikaela.


"Kenapa aku bisa lupa, terima kasih. Nanti aku akan datang kembali, tolong kau jaga gadis itu," kata Albert, lalu keluar dari ruang praktek dokter Jhon dengan tergesa-gesa.


Albert berjalan dengan setengah berlari, dia masuk kedalam mobilnya.


"Dan, apa tas gadis itu ada di markas?" tanya Albert pada Dani, anak buahnya.


"Siapa?" Dani menjawab dengan suara seraknya, karena saat Albert menelponnya. Dani baru saja meletakkan kepalanya di atas bantal.


"Buka matamu! lihat ponselmu..!" seru Albert.


"Maaf Boss." gugup Dani, saat melihat nama siapa yang menghubunginya.


"Tas gadis itu, apa kau melihatnya?" tanya Albert.


"Tas? oh..ada Boss," sahut Dani cepat.


"Bawa ke apartemen, aku tunggu 15 menit lagi.' titah Albert, dan langsung memutuskan sambungan teleponnya.


"Boss Albert tidak mengizinkan aku tidak sejenak." gerutu Dani.


...***...


Aaarhg....!!"


Pekikan keras terdengar, membuat Agra terbangun dan menutup telinganya.


"Berisik..!" seru Agra seraya melempar Jeanny dengan bantal yang berada dalam pelukan Agra.


"Kau pria brengsek! kau menodai ku..!" semprot Jeanny, dan jari telunjuknya tepat ke arah wajah Agra. Selimut menutupi tubuhnya yang hampir polos.


"Aku? kapan aku menodai mu? lihat, aku masih berpakaian lengkap." Agra menunjuk dirinya yang masih memakai baju.


Tadi, setelah membuka baju Jeanny. Agra memakai pakaiannya dan kembali tidur.


"Kenapa kau tidur di sini?" tanya Jeanny.


"Kalau tidak di sini, lalu di mana?" tanya Agra.


"Di mana saja, tapi jangan di ranjang ku. Aku tidur di sini..!"


"Nyonya, apa kau sudah amnesia? kita sudah menikah. Suami istri itu tidur bersama."


...*****...


To be continued


Give away akan segera berakhir, beri vote. Untuk mendapatkan suvenir dari Author 🙏