
...Happy reading...
...***...
"Hahaha! perkosaan, mana buktinya? kita melakukannya atas dasar suka sama suka, Yulia..! Masih segar dalam ingatan ku, Yulia. Saat kau mende-sah dan meliuk-liuk seperti ular minta aku agar membuat kau puas, karena suamimu tidak pernah menyentuhmu..!" Andi membeberkan apa yang mereka lakukan, keduanya lupa. Di mana saat ini berada.
Polisi yang ada didalam ruang tersebut, hanya menonton. Melihat keduanya saling mengakui perannya dalam melakukan kejahatan.
"Kau bangsat..! Andi..!" seru Yulia.
"Kita sama-sama bangsat, kau yang lebih bejat! kau rela menyuruh aku untuk menculik gadis yang kau anggap akan menghambat cintamu untuk mendapatkan cinta suami hasil menjebak..!" ucapan Andi membuat Yulia ingin melayangkan tangan dan kakinya, tetapi polisi cepat tanggap. Dan segera menarik Yulia.
"Kau juga mau melakukannya! jika kau tidak mau, tidak mungkin akan terjadi." balas Yulia.
"Cukup! kami sudah dengar semua pengakuan kalian," ucap polisi.
Degh..
Yulia terdiam, dia sadar. Di mana saat ini berada. Dalam kemarahan, dia membuka semua tentang penculikan kepada Jeanny.
"Terima kasih Yulia, kau telah mengaku. Lihat Pak polisi, bapak dengarkan, dia sudah mengaku. Welcome to prison baby." ejekan keluar dari mulut Andi.
Andi, tertawa. Karena dalam kemarahannya pada Andi, Yulia telah mengakui. Bahwa dia dalang dalam penculikan Jeanny.
"Dasar keparat kau! Aku tidak akan membuat kau bebas, aku akan melaporkan mu. Karena telah memperkosa wanita hamil..!" Seru Yulia dengan emosional, wajahnya merah. Jika polisi tidak memeganginya, mungkin saja Andi sudah babak-belur dihajar oleh wanita hamil.
"Sepertinya, reuni mereka sangat seru." gumam polisi yang ada dalam ruangan tersebut pada rekannya.
"Iya, mereka saling membongkar aib masing-masing. Kita, tidak sulit lagi bertanya." balas rekannya tersebut.
Diluar ruangan, kedua orangtuanya Yulia cemas. Pengacara yang pergi meninggalkan mereka, untuk mendampingi Yulia belum keluar.
"Kenapa lama sekali Pa, Mama khawatir sekali ini. Mama takut, Yulia membuat masalah baru lagi." Darti berjalan ulang-alik didepan sang suami yang duduk bersandar di tembok.
"Ma, duduklah. Papa pusing, melihat Mama begitu," ujar Darmawan pada sang istri.
"Mama tidak bisa duduk Pa, Mama cemas. Jantung Mama ini berdetak tak karuan." Darti menekan kearah jantungnya.
"Makanya, duduk Ma. Pasrahkan saja Ma, apa yang akan diterima Yulia. Kita tidak akan bisa melakukan apapun juga, jika apa yang dituduhkan kepadanya benar-benar terbukti." tutur sang suami.
"Pa, apa kita harus beritahukan pada Yudha? bagaimana juga, Yulia masih istrinya," kata Mama Yulia.
"Tidak usah Ma, semakin tambah masalah. Yudha pasti akan menceraikan Yulia saat ini juga, dia tidak akan perduli. Wanita hamil tidak boleh di ceraikan." Darmawan menolak usul sang istri untuk mengatakan pada Yudha.
"Mereka juga tidak seperti suami istri, Yudha juga tidak ada kabarnya." ngedumel Darti, mengingat menantunya. Yudha, yang tidak pernah menampakkan batang hidungnya. Sejak pernikahan terjadi.
"Pernikahan yang salah Ma, Yulia memaksakan cintanya pada pria yang tidak menaruh perasaan padanya. Beginilah akibatnya."
Berita penangkapan orang yang menculik Jeanny sudah di ketahui oleh Albert, sebagai pengacara Jeanny. Albert, langsung menuju kantor polisi. Untuk mengetahui, siapa orang yang ingin melakukan kejahatan terhadap Jeanny.
Albert juga menghubungi Agra.
Di restoran yang bertema alam, Agra membawa Jeanny dan putrinya.
"Lisa, habiskan dulu makanan." panggil Jeanny.
"Lisa sudah kenyang, Lisa mau lihat burung-burung."
Restoran berada di tepi sawah, sehingga banyak bangau putih yang beterbangan disekitar lokasi restoran.
"Hati-hati, jangan sampai jatuh ke kolam." ingatkan Jeanny.
"Bang, ceritakan," ujar Jeanny.
"Emmh," sahut Agra, tanpa mengangkat pandangan matanya dari ponselnya yang ada ditangannya.
"Hei.. Tuan! jangan pura-pura lupa, kenapa harus ada bodyguard?" tanya Jeanny.
"Agar aman," jawab Agra, tapi. Dengan pandangan mata masih pada ponselnya, entah apa yang menarik di ponselnya. Sehingga, mata Agra fokus menatap ponsel.
Karena kesal, tidak ditanggapi dengan serius ucapannya. Jeanny menyambar ponsel Agra, dan menyimpannya dalam pangkuannya.
"Kembalikan," ujar Agra.
"Jawab dulu, dengan kalimat yang panjang. Jangan, hanya emmh..aman. Dan, satu lagi. Jika orang bicara. Pandang orang yang bicara..!" seru Jeanny, seperti mengajar murid-muridnya di TK.
"Kau memang istriku! tapi jangan terlalu larut dengan gelar itu..!" ucap Agra.
Jeanny tersentak, mendengar apa yang dikatakan oleh Agra.
"Ini, dan jangan kau kira aku menikmati gelar sebagai istrimu!" Jeanny meletakkan ponsel Agra di atas meja depan Agra, lalu kemudian bangkit dari duduknya dan turun dari gazebo.
Jeanny meninggalkan Agra dengan perasaan yang marah.
"Siapa yang menikmati gelar sebagai istrinya, tadi. Di perusahaan, main mepet saja. Seperti kembar Siam, sekarang. Marah-marah tidak menentu, apa yang dilihatnya didalam ponselnya? mungkin dia lagi berbalas pesan dengan gadis yang mirip istrinya itu." Jeanny ngedumel, sembari matanya mencari keberadaan Lisa. Sampai dia tidak melihat orang yang sedang jongkok didepannya.
"Aduh..!" teriak Jeanny yang hampir jatuh tertelungkup.
Dengan sigap, orang yang hampir membuat Jeanny jatuh menangkap Jeanny.
"Maaf Nona..!" seru pria yang memeluk Jeanny.
"Lepaskan aku..!" Jeanny mendorong tubuh orang yang hampir membuatnya terjatuh, dan kini memeluknya.
"Maaf..maaf..! aku bukan sengaja memelukmu, aku hanya replek. Saat melihat anda sampai terjatuh." pria tersebut melepaskan pelukannya.
"Aku juga minta maaf, aku kaget. Sehingga memarahi anda," ujar Jeanny.
"Anda tidak apa-apa?" tanya pria tersebut.
"Tidak apa-apa, maaf. aku tidak melihat anda tadi."
"Aku juga minta maaf, karena tadi membetulkan tali sepatu. Dan hampir membuat anda jatuh."
"Sepertinya, kita terus saling minta maaf," ujar Jeanny sambil tertawa.
"Ah..iya." pria tersebut tertawa juga.
"Anda sedang mencari apa Nona?" tanya pria tersebut.
"Mencari putriku," sahut Jeanny.
"Putri, kenapa gadis cantik. selalu sudah menikah." ucapan yang terakhir hanya dapat di ucapkan dalam hati pria tersebut.
"Iya, anak berumur 5 tahun. Apa anda melihatnya?" tanya Jeanny.
"Mungkin berada di sebelah sana, banyak burung bangau di sebelah sana. Anak-anak suka melihatnya." beritahu pria tersebut, dengan menunjuk arah kiri mereka.
"Terima kasih, aku akan kesana," kata Jeanny dan langsung pergi menuju arah yang dikatakan oleh pria tersebut.
"Tunggu."
Jeanny menghentikan langkahnya, dan sedikit memutar kepalanya menatap wajah pria itu.
"Ada apa?" tanya Jeanny.
"Bisa kita bersama-sama, aku juga mau mencari keponakanku. Sepertinya, dia juga ada di sana," ucap pria tersebut.
"Baiklah." Jeanny melanjutkan langkahnya.
"Nona, siapa nama anda? Kita belum berkenalan."
"Aku Jeanny," sahut Jeanny yang berjalan didepan, sedangkan pria itu berada dibelakangnya. Karena jalan setapak, sehingga tidak bisa dipakai jalan bersisian.
"Aku Bagas," ucap Bagas.
"Itu dia." Jeanny melihat Lisa sedang melihat bangau dengan seorang anak kecil sebaya dengannya.
"Lisa." panggil Jeanny.
Lisa dan temannya melihat kearah Jeanny.
"Miss Jeanny..!" seru teman Lisa, saat melihat Jeanny.
...****...
To be continued