My Daughter'S Teacher

My Daughter'S Teacher
MDT



...Happy reading...


...***...


Jeanny memandang ibu kantin yang menggendong anak kecil, yang tadi didengar Jeanny menangis.


"Berapa orang yang di jaga ibu kantin setiap hari?" tanya Jeanny pada Mira.


"Tidak tentu nyonya, yang pastinya. Setiap hari, ada saja yang membawa anak saat bekerja."


"Kenapa nyonya? apa nyonya tidak suka dengan apa yang dilakukan oleh ibu kantin?" tanya Mira, karena melihat Jeanny begitu serius melihat kearah ibu kantin yang sedang menenangkan anak yang sedang digendongnya.


"Bukan tidak suka, hanya khawatir saja. Dapur bukan untuk tempat menjaga anak kecil, bagaimana jika anak itu hilang dari pengawasan. Dan merangkak menuju panci panas, tidak dapat dibayangkan. Apa yang akan terjadi." tutur Jeanny.


"Betul juga ya nyonya, kenapa tidak terpikirkan." timpal Mira.


"Bukan tidak terpikirkan, di pikirkan. Tapi, tidak jika ada dukungan dari pihak perusahaan. Tidak bisa dilakukan apapun juga." tutur Jeanny, Mira hanya manggut-manggut saja mendengar apa yang dikatakan oleh Jeanny.


"Ayo kita kembali." Jeanny bangkit dari duduknya, dan mengeluarkan uang merah satu lembar dan memberikan pada Mira untuk membayar makanan yang mereka makan.


"Nyonya tahu jalan kembali?" tanya Mira.


"Jangan khawatir, aku bukan seorang yang cepat lupa jalan," ujar Jeanny dengan tertawa.


"Betul nyonya, tidak perlu saya antarkan?"


"Tidak perlu, ada orang yang akan mengantar. Jika aku salah jalan," kata Jeanny, yang tahu. bahwa ada anak buah Agra dilihatnya di kantin.


Sekelebat, dia melihat Togar yang pernah menjadi sopirnya dahulu.


Jeanny melangkah keluar dari kantin, seperti perkiraannya. Orang-orang Agra juga keluar dari kantin dan berjalan jauh dibelakangnya.


"Sampai kapan aku harus diikuti." gumamnya.


Jeanny mengeluarkan ponselnya, ingin menghubungi Agra.


Tiba-tiba, tubuhnya menabrak orang yang ada didepannya.


"Maaf..maaf..!" seru Jeanny, karena dia yang merasa bersalah. Berjalan, sambil memainkan ponsel.


"Ini kantor, bukan taman bermain. Anda harus memakai mata..!" semprot orang yang ditabraknya.


"Nona, saya sudah minta maaf," ucap Jeanny.


"Minta maaf, jangan karena anda istri pemilik perusahaan ini. Anda berlaku sesuka hati."


"Zoya, sudahlah. Kau juga salah, kenapa kau tidak jalan di jalur mu.." temannya yang bersamanya, menegur Zoya yang terlalu berlebihan.


"Kau, diam..!" Zoya marah kepada temannya tersebut.


"Oke, saya minta maaf. Puas..!" Jeanny mengatupkan kedua tangannya didepan dadanya.


Tap..tap..


Langkah kaki berjalan cepat menuju Jeanny.


"Nyonya, apa ada masalah?" tanya Jerry yang mendapatkan laporan dari orang yang mengikuti Jeanny, dan langsung bergegas menuju tempat Jeanny berada.


"Zoya, kau habis hari ini." bisik rekannya.


"Diam kau, tidak ada yang bisa menghentikan ku." balas Zoya dengan percaya diri sekali.


"Tidak apa-apa, masalah kecil," ujar Jeanny.


"Nyonya, anda di minta Tuan segera kembali," kata Jerry.


"Aku baru pergi setengah jam, apa dia sudah merindukanku?" tanya Jeanny pada Jerry.


Jerry hanya memberikan senyum tipis dibibir nya.


"Sekali lagi Nona, saya minta maaf." kemudian Jeanny pergi.


Begitu Jeanny pergi, Jerry menatap Zoya.


"Nona Zoya, itu kan nama anda?" Jerry memasukkan tangan kanannya kedalam saku celananya.


"Iya Pak Jerry." rekan Zoya yang menjawab, sedangkan Zoya diam.


"Maaf Pak Jerry, tadi saya tidak sadar." Zoya membuka suaranya.


"Anda jangan sombong, hanya karena anda putri Tuan Wibisono. Papa anda sudah tidak bekerja di sini lagi, dan dia tidak punya taring di sini. Hati-hati dengan tingkah anda, apa anda ingin turun jabatan. Apa anda belum mengambil pelajaran, saat jabatan anda turun menjadi SPG. Anda sekarang menjadi SPG kan?" Jerry memicingkan matanya menatap Zoya.


"Saya peringatkan anda, jangan buat ulah lagi. Jika tidak ingin anda turun jabatan menjadi seorang cleaning servis." Jerry pergi meninggalkan Zoya yang terpaku mendengar ancaman yang diberikan oleh Jerry.


"Zoya, kau dengar. Pak Jerry akan menurunkan kau menjadi cleaning servis."


"Cleaning servis, tidak. Menjadi SPG tidak apa-apa, aku masih bisa berdandan cantik. Menjadi cleaning servis? oh..tidak..!" pekik Zoya seraya berlari meninggalkan temannya.


"Nah..Lo, gila kan?" ejek temannya tersebut.


*


*


Yulia duduk di atas ranjang rumah sakit, di ujung kaki ranjang. Yudha berdiri.


"Mas Yudha, maaf. Aku salah, anak kita sudah tidak ada" kata Yulia.


"Yudha, maaf. Kami tidak bisa mengawasi putri kami." timpal Papa Yulia.


"Kami lalai." Mama Yulia menimpali ucapan sang suami.


"Mungkin anak itu tidak ingin lahir dari ibu pemabuk sepertimu." sindir Mama Yudha.


"Ma." Papa Yudha menyikut lengan istrinya.


"Apa Pa? Mama mengatakan yang sebenarnya, Papa dengarkan apa yang dikatakan oleh dokter. Dia itu keguguran karena terlalu sering mengkonsumsi alkohol, sehingga anak yang ada dalam kandunganmu itu keracunan alkohol. Jika kau tadi melahirkannya, anakmu bisa-bisa akan menjadi cacat Yulia. Kau itu harus mikir, Yulia..!" Mama Yudha tidak bisa lagi menjaga ucapannya, dia sudah teramat kesal dengan kelakuan Yulia.


"Jeng, sudah cukup menjelek-jelekkan putri saya. Putri saya sudah sangat terpuruk," kata Mama Yulia.


"Saya tidak menjelek-jelekkan putri Jeng Darti, apa yang saya katakan memang kenyataan. Jeng Darti harus legowo, apa yang saya katakan. Biar sekali lagi, putri Jeng Darti tidak bertindak sembrono lagi. Jangan menjebak laki-laki lagi, cukup putra saya yang menjadi korban." tutur Mama Yudha, yang melampiaskan apa yang ada dalam pikirannya.


"Cukup Ma, Yudha. Katakan, apa yang ingin kau katakan pada Yulia." Papanya menepuk pundak Yudha, agar menyampaikan apa yang ingin dikatakannya pada Yulia.


"Yulia, aku sudah memikirkan. Kita tidak bisa bersama lebih lama lagi, aku sudah memikirkan dengan matang. Tidak ada lagi perekat diantara kita. Mulai saat ini kamu bukan lagi istriku..! dengan talak tiga," ucap Yudha, tanpa basa-basi.


Yulia terperangah, begitu juga dengan kedua orangtuanya.


"Mas, kau tega menjatuhkan talak padaku? saat aku terbaring di sini, dan saat aku tersandung kasus hukum?' suara Yulia terdengar tidak terima dengan apa yang baru saja Yudha katakan.


"Lia, tenang Nak." Mama Yulia memeluk Putrinya yang terluka.


"Tenang! Mama menyuruh aku tenang? anak Mama baru di ceraikan laki-laki itu Ma! Mama menyuruh aku untuk tenang..?" Yulia mendelik menatap sang Mama.


"Pa, Lia tidak mau di ceraikan. Pa! suruh dia tidak menceraikan Lia," ujar Yulia pada Papanya yang hanya diam, berdiri di samping ranjang. Tangannya bersedekap di dada.


"Pak Darmawan, maafkan putra saya. Dia sudah tidak bisa mempertahankan pernikahan ini," kata Papa Yudha.


"Saya terima, apa yang dilakukan Yudha. Dari awal, pernikahan ini sudah salah," ucap Papa Yulia.


"Papa, kenapa Papa terima apa yang dikatakannya? Lia putri papa! Papa harus membantu Lia..!" seru Yulia pada Papanya.


"Lia! kau harus terima, jangan memaksakan kehendakmu. Orang tidak suka, terima..!" Papanya marah melihat kelakuan Yulia.


"Pak, kami permisi," ujar Papa Yudha.


"Maafkan Yudha Om, Tante. Saya tidak bisa mencintai putri Om dan Tante," kata Yudha.


Kedua orangtuanya Yulia hanya menganggukkan kepalanya.


"Papa! Mama! Lia benci kalian..!" pekik Yulia.


"Permisi" ujar Mama Yudha.


"Ayo Yudha." Mama Yudha menarik tangan putranya keluar dari dalam kamar.


Yudha dan kedua orangtuanya keluar, sumpah serapah dari dalam mulut Yulia sampai keluar dari dalam kamar.


'Untunglah, kau sudah terbebas dari cengkeraman wanita gila itu," ujar Mama Yudha.


"Ma, tidak boleh berkata begitu. Itu karena dia sangat mencintai putra kita."


To be continued