
Happy reading 😍
...🍁🍁🍁🍁...
Setelah dari butik, Agra membawa Jeanny menuju satu Mall. Untuk mencari cincin pernikahan.
"Untuk apa kita ke sini? Aku tidak suka pakai cincin." Gerutu Jeanny sejak dari dalam mobil, sampai ke Mall. Mulut Jeanny selalu berkicau, mengeluarkan ketidaksukaannya.
"Apa mulutmu itu tidak bisa diam sebentar saja?" Agra bosan mendengar Jeanny menggerutu terus sepanjang jalan.
"Mulutku diam, saat aku tidur saja," sahut Jeanny.
"Setelah beli cincin, kita langsung ke hotel. Kita tidur di hotel, biar mulutmu itu rehat sejenak," kata Agra.
"Hah..!' tangan Jeanny reflek memukul lengan Agra.
"Kenapa tangan dan kakimu itu suka sekali menganiaya orang?"
"Aku tidak akan menganiaya orang, jika orang itu baik.Tidak sepertimu, otak mesum..! kau kira aku gadis apa? main bawa tidur di hotel..!" Jeanny memanyunkan bibirnya.
"Apa aku bisa sabar dengan gadis ini, dia sangat berbeda dengan Malika. Malika gadis yang tenang dan sangat feminim, sedangkan gadis ini jauh dari kata itu." batin Agra.
"Mana tokonya? aku sudah letih berjalan, kalau tahu aku harus berjalan jauh hari ini. Aku tidak akan memakai high heels." Jeanny kembali mengeluh.
Agra tidak menjawab, dia masuk kedalam kedalam toko yang cukup besar. Dan seorang pramuniaga mendatangi Agra dan membawanya kesatu ruangan.
"Silakan Tuan, Nona." pramuniaga tersebut mempersilakan Agra dan Jeanny untuk duduk.
Kemudian, datang seorang lagi dan membawa satu box yang berisi cincin dengan berbagai macam bentuk.
"Pilih yang kau suka." titah Agra pada Jeanny.
"Pilih..pilih..!" mulut Jeanny ngedumel sembari matanya melihat kearah cincin yang tertata didalam box.
"Mbak, kenapa tidak ada cincin karakter bebek?" tanya Jeanny seraya memandang sang pramuniaga yang berdiri didepannya.
"Hah..!" bingung pramuniaga dengan perkataan Jeanny yang nyeleneh menurutnya.
"Untuk apa cincin karakter bebek, kau sendiri sudah mirip bebek. Mulutmu itu Jean tidak bisa diam, seperti mulut bebek. Cepat pilih..!" titah Agra.
"Tidak ada yang aku suka, aku cincin karakter hewan. Mbak, jika tidak ada bebek. Kelinci juga boleh," kata Jeanny.
"Jeanny..!" seru Agra, agar Jeanny memilih cincin yang ada dihadapannya.
"Maaf Nona, untuk desain cincin pernikahan. Tidak ada desain hewan," ucap gadis pramuniaga dengan sopan, dan senyum di bibirnya terus terukir.
"Aku akan pilih yang paling mahal, biar tahu rasa kau Tuan mesum. Dan, aku harapkan. Kau membatalkan pernikahan ini, karena aku gadis matre." batin Jeanny.
"Baiklah, mbak. Tunjukkan cincin yang paling mahal." titah Jeanny pada pramuniaga.
Pramuniaga memandang wajah Agra, dan Agra menganggukkan kepalanya. Agar gadis pramuniaga tersebut menuruti apa yang dikatakan oleh Jeanny.
Pramuniaga tersebut mengambil cincin yang bermata satu dan matanya sangat berkilau walaupun kecil.
"Ini Nona." pramuniaga menyerahkan cincin pada Jeanny.
"Ini, cincin sekecil ini sangat mahal?" Jeanny memasukkan cincin ke jarinya.
"Cara pembuatan cincin ini sangat rumit Nona, itu yang membuat cincin yang kecil selalu yang lebih mahal," jawab pramuniaga tersebut.
"Cantik." gumam Jeanny seraya menjauhkan jari tangannya yang tersemat cincin, agar dia dapat melihat keindahan cincin tersebut dijari tangannya.
Agra mengeluarkan kartunya dan memberikan pada pramuniaga tersebut.
"Hei.. tunggu dulu, berapa harga cincin ini?" tanya Jeanny untuk memastikan apakah cincin yang dipilihnya sudah yang termahal.
"150 Nona," jawab pramuniaga tersebut.
"Apa!? 150... ?" kaget Jeanny, dan melihat kearah Agra untuk melihat ekspresi wajahnya.
"150 ribu, ya ? Murah sekali," kata Jeanny, padahal dia tahu, toko yang mereka masuki bukan toko emas sembarangan, kan tidak mungkin ada barang seharga 150 ribuan.
"Kenapa dia tidak kaget mendengar harga cincin yang ingin aku beli." benak Jeanny.
Jeanny mendekatkan kepalanya pada Agra dan berbisik.
"Aku gadis matre, apa kau masih ingin menikahiku? Lihatlah. Cincin saja aku pilih yang paling mahal." bisik Jeanny.
"Kau akan bangkrut nanti, hartamu akan menyusut dengan cepat jika menikah denganku. Baru cincin, kau hari ini sudah kehilangan 150 juta. Baju pengantin, berapa tadi? ahh...aku tidak tanyakan tadi? bagaimana? batal saja ya?" mata Jeanny menatap wajah Agra dengan intens.
Agra menoleh kearah Jeanny, wajah keduanya sangat dekat. Jeanny spontan menarik mundur wajahnya.
"Jika aku jatuh miskin, cincinmu dan dirimu bisa aku gadaikan." balas Agra.
"What...!" mata Jeanny terbelalak, mendengar perkataan Agra.
Agra, menebarkan senyum tipis di sudut bibirnya.
"Nona, bungkus cincinnya.." titah Agra pada pramuniaga toko yang melayani mereka.
"Pria gila! enak saja dia akan mengadaikan aku." gumam Jeanny tak jelas.
"Ada apa? apa masih mau beli yang lain?" tanya Agra yang tidak mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh Jeanny.
"Tidak! cukup, nanti kira orang aku toko mas berjalan. Jika seluruh tubuhku ini dihiasi dengan aksesoris perhiasan." Tutur Jeanny.
"Hei..! kenapa kau tidak membeli cincin? apa kau takut dikira orang sudah menikah? kau sungguh tidak adil! jemariku diikat dengan cincin, sedangkan kau..!" kesal Jeanny, karena Agra tidak memakai cincin nikah.
"Aku tidak perlu tunjukkan pada dunia, bahwa aku sudah menikah," ujar Agra.
"Ini Nona, barang anda." gadis pramuniaga memberikan paper bag kepada Jeanny.
"Terima kasih Mbak," ucap Jeanny.
Agra, tanpa mengucapkan sepatah katapun. Langsung pergi keluar dari toko perhiasan.
"Pria yang tidak sopan, nyelonong pergi saja. Maaf mbak, orang itu lagi PMS," ucap Jeanny pada gadis yang melayani mereka tadi.
Gadis tersebut tersenyum pada Jeanny.
"Permisi Mbak," ujar Jeanny, laku bergegas mengejar Agra yang sudah jauh darinya.
"Gila itu orang, main tinggal saja. Baiklah, aku tidak akan mengikuti langkahmu. Aku akan mengikuti kaki dan hidungku ini, Ah..! aku lapar." Jeanny melihat restoran cepat saji, dan langsung masuk. Kemudian memesan makanan favoritnya.
"Rasain, bawa anak orang tidak diberi makan." ngedumel Jeanny, sembari memegang sepotong sayap ayam goreng.
Agra berjalan terus sembari mengutak-atik ponselnya, membalas pesan sekretarisnya. Jerry. Dia tidak menyadari, Jeanny tidak berada dibelakangnya.
Sampai diparkir, Agra membuka pintu mobil dan baru menyadari. Jeanny tidak bersamanya.
"Oh Tuhan! kemana gadis itu? satu hari ini dia sudah membuat aku darah tinggi, sekarang. Kemana dia?" Agra berkacak pinggang, memikirkan. Di mana Jeanny saat ini berada.
Agra mengambil ponselnya dari saku celananya dan menghubungi nomor Jeanny.
"Sial! dia tidak mengangkatnya." Agra kembali masuk kedalam Mall.
Agra melihat posisi ponsel Jeanny berada di satu restoran.
"Dia makan..!" gumam Agra, saat melihat Jeanny duduk di pojok restoran cepat saji.
Dengan langkah lebar, Agra masuk dan langsung menarik telinga Jeanny. Saking kesalnya dengan apa yang dilakukan oleh Jeanny, menghilang tiba-tiba.
Sontak Jeanny kaget, karena telinganya tiba-tiba ditarik.
"Aduh..!" Jeanny menepiskan tangan yang menarik telinganya, dan mendongak menatap wajah orang yang telah berani menyentuh telinganya.
...🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁...
...Bersambung...