My Daughter'S Teacher

My Daughter'S Teacher
MDT



...Happy reading...


...****...


Jalan yang setapak, dan sedikit terjal. Membuat Agra hampir jatuh telungkup.


"Masih jauh Pak?" tanya Agra, karena sudah hampir 15 menit berjalan. Tempat yang dituju, belum sampai. Kakinya sudah terasa keram, karena jalan yang menanjak dan menurun, membuat seorang Agra yang belakangan ini sering lalai mengolah tubuhnya. Menjadi kaku, saat tubuhnya dibawa jalan yang jauh.


"Tidak jauh lagi Pak," sahut pengelola resort.


"Tempatnya, dibalik batu besar itu..!" tangan pengelola resort menunjuk batu besar yang kokoh, tepat menghadang langkah kaki mereka.


"Kita melewati batu itu? bagaimana bisa?" Agra melihat batu itu cukup sulit untuk didaki.


"Ada jalan kecil, dari bawah batu itu. Warga sini, mengatakannya jalan tikus." beritahu pengelola resort.


"Kenapa Jeanny berjalan bisa sampai sejauh ini?" Agra bingung, dan tidak habis pikir. Jalan yang jauh dari resort dan begitu sulit dijalani, Jeanny bisa sampai ke tepi pantai.


"Sebenarnya, dari belakang kamar yang bapak tempati itu bisa menuju pantai tempat istri bapak tadi berada," kata pengelola resort.


"Kenapa kita tidak dari sana saja Pak, mungkin saja istri saya tadi menuju pantai dari sana."


"Kita mau cepat Pak, dari sana lumayan jauh. Dan jalannya juga, ahh..! nanti saja saya ceritakan, sekarang. Kita keburu mengejar waktu...." bapak pengelola resort tidak melanjutkan ucapannya.


"Juga apa Pak?" tanya Agra, yang penasaran dengan apa yang akan dikatakan bapak tersebut.


"Nanti saja Pak, pamali dikatakan ditempat seperti ini," ujar bapak pengelola resort.


"Tempat yang mengerikan, Albert. Kau betul-betul akan aku hajar." Agra benar-benar kesal dengan resort rekomendasi dari Albert.


Begitu mendekati pantai, dari arah berlawanan dengan Agra dan bapak pengelola resort. Terlihat beberapa pria sampai juga.


"Pak Kadir, gadis itu berjalan ketengah laut..!" teriak pria yang memakai baju khas seorang penjaga keamanan.


"Cepat kejar..!" titah Pak Kadir.


"Jeanny...!" pekik Agra memanggil Jeanny, dan berlari menuju ke arah laut.


Sedangkan, Jeanny. Tubuhnya sudah sampai sebahunya, jika ada ombak besar. Kemungkinan besar, Jeanny sudah tergulung dibawa ketengah laut atau di hempaskan ke bibir pantai.


Petugas keamanan terlebih dahulu sampai ditempat Jeanny, dengan cepat. Petugas tersebut mengangkat Jeanny.


"Jeanny..!" Agra mendekati petugas keamanan yang menggendong Jeanny.


"Ayo Pak, kita cepat meninggalkan air.." titah petugas keamanan tersebut.


Di tepi pantai, Pak Kadir menengadahkan kedua tangan ke atas. Bibirnya komat-kamit membaca Doa.


Setelah petugas keamanan resort dan Agra berada didekat Pak Kadir, petugas keamanan memberikan Jeanny yang hanya diam dengan mata terbuka kepada Agra.


"Jean! hei Jeanny..!" Agra duduk, Jeanny berada di pangkuannya.


Tangannya menepuk pipi Jeanny, tapi Jeanny tetap diam. Tidak merespon apa yang dikatakan oleh Agra.


Pak Kadir selesai berdoa, dan lalu kemudian mendekati Jeanny. Dan mengusapkan jemari tangannya ke wajah Jeanny, baru mata Jeanny terpejam.


"Pak, ada apa dengan istri saya?" Agra benar-benar khawatir, karena mata Jeanny menatap wajahnya tanpa berkedip.


"Tidak apa-apa Pak, ayo kita tinggalkan tempat ini." titah Pak Kadir.


Agra mengangkat Jeanny dan berjalan menuju jalan dia datang tadi.


"Permisi Neng Lira, bapak mohon Neng. Jangan ganggu penghuni resort," ucap Pak Kadir. Baru kemudian, Pak Kadir pergi meninggalkan pantai yang terkesan angker dari kacamata orang yang mengenal daerah sekitar resort.


Agra membawa Jeanny masuk kedalam resort, dan merebahkannya ke atas ranjang.


"Untuk ketiga kalinya, aku membuka pakaianmu. Dan untuk ketiga kalinya, kau pasti akan marah." Agra meloloskan baju Jeanny yang basah dari tubuh Jeanny.


Setelah meloloskan seluruh pakaian Jeanny tanpa kecuali, Agra tidak memakaikan sehelai benangpun ke badan Jeanny. Karena dalaman Jeanny basah, dan Agra semalam tidak membeli dalaman untuk Jeanny, dia hanya membeli celana pendek dan t-shirt.


"Semoga tidak marah." gumam Agra, saat dia menarik selimut menutupi tubuh polos Jeanny.


Agra keluar dari dalam kamar dengan membawa baju Jeanny untuk di Loudry pihak resort.


Pak Kadir masih berada didepan kamar Agra, untuk mengetahui kondisi Jeanny.


"Berikan pada saya Pak, biar pelayan resort yang akan membawa ke Loudry," kata Pak Kadir, saat melihat Agra keluar dengan membawa bungkusan plastik untuk tempat pakaian kotor.


Agra memberikan pada Pak Kadir, lalu Pak Kadir memberikan bungkusan tersebut pada pelayan yang melintas didepannya.


"Pak, saya butuh penjelasan. Kenapa istri saya tadi seperti tidak sadar? siapa Lira yang bapak katakan tadi?" tanya Agra.


Pak Kadir menarik kursi dan duduk tidak jauh dari tempat Agra duduk.


"Neng Lira dulu sering berkunjung ke resort ini, bersama dengan suaminya. Dan dia memesan kamar di pojok kanan bawah dekat pantai, setiap berkunjung ke sini." Pak Kadir menuturkan siapa Lira yang dikatakannya tadi.


"Dia sudah meninggal? kenapa?" tanya Agra.


"Dia sedih, karena suaminya meninggal saat sedang menyelam. Sebelum suaminya pergi menyelam, para pelayan resort mendengar mereka bertengkar. Tapi, tidak ada yang tahu penyebab pertengkaran mereka. Hari itu, dalam keadaan marah. Suaminya, Mas Satrio pergi kelaut. Dan terjadi kecelakaan, Mas Satrio tergulung ombak yang datang tiba-tiba. Sampai sekarang, tubuhnya tidak ditemukan. Neng Lira sedih, dan menunggu kepulangan suaminya di bawah pohon ditepi pantai. Tidak ada yang tahu, tubuh Neng Lira sudah terbujur kaku dibawah pohon. Dan di makamkan tidak jauh dari dekat pohon itu Pak, keluarganya membeli tanah khusus untuk memakamkan Neng Lira di sana. Di tempat dia menunggu suaminya." Pak Kadir mengakhiri ceritanya dengan mengusap air yang hampir jatuh di sudut bola matanya.


"Maaf, setiap bapak menceritakan cerita Neng Lira. Bapak selalu emosional, karena Neng Lira sudah menjadi langganan tetap resort ini. Saya dan para pelayan di resort sangat kehilangannya."


"Sampai sekarang, suaminya tidak ketemu?" tanya Agra.


Pak Kadir menggelengkan kepalanya.


"Sudah tiga tahun, Neng Lira meninggal sudah dua tahun. Mas Satrio tidak kembali, orang sering melihat ada wanita berdiri di bibir pantai. Tapi, begitu didekati. Wanita itu hilang, kenapa istri bapak bisa berbincang-bincang dengannya?" Pak Kadir juga bingung.


"Apa karena pikiran Jeanny yang pusing memikirkan kasus penculikan itu, karena itu mungkin mahluk ghaib bisa merasukinya." batin Agra.


"Karena kejadian ini, mungkin bapak ingin check out hari ini juga. Maaf Pak, pembayaran resort kami gratiskan, Pak. Sekali lagi, saya sebagai pihak pengelola resort mohon maaf. Atas ketidak nyamanan, selama bapak berada di sini." Pak Kadir mengatupkan kedua tangannya didepan dadanya.


"Setelah istri saya sadar, kami akan check out Pak. Jangan di gratiskan Pak, kejadian ini bukan kesalahan pihak resort juga. Kehadiran makhluk kasat mata, tidak bisa kita prediksi Pak. Mungkin, gadis itu suka dengan istri saya yang bawel itu." gurau Agra .


"Biasanya, dia hanya menampakkan diri. Tidak bisa berinteraksi dengan manusia seperti kita ini, makanya. Saya juga heran, kamar yang biasa mereka tempati jika datang ke resort. Sudah tidak ada, telah di ganti dengan kebun sayuran."


"Jam berapa bapak akan check out?" tanya pak Kadir.


"Setelah baju istri saya kering Pak," sahut Agra.


Pak Kadir berdiri, dan mengulurkan tangannya. dan di sambut oleh Agra.


"Sekali lagi, saya. Atas nama pihak resort, minta maaf kepada bapak dan istri." tutur Pak Kadir lagi.


"Ya Pak, saya juga minta maaf. Istri saya juga telah membuat bapak dan pihak keamanan resort sibuk."


...****...


To be continued