
Happy reading 😍
...🌹🌹...
Perasaan Jeanny sangat gembira, melihat kupu-kupu yang berterbangan di antara bunga-bunga. Sesekali, kupu-kupu juga hinggap di rambut dan tangannya.
"Abang," ucap Jeanny dengan suara yang pelan, tangannya menarik lengan Jamie. Untuk melihat kearahnya, karena tiba-tiba seekor kupu-kupu hinggap di hidung Jeanny.
Jamie melihat kearah Jeanny, dengan cepat Jamie mengeluarkan ponselnya. Dan membidikkan kamera ponselnya kearah Jeanny.
"Kupu-kupu nya menyukaimu Jeanny, hus..hus...!" Jamie mengusir kupu-kupu yang hinggap di hidung Jeanny, sehingga kupu-kupu itu terbang menjauh.
"Abang! kenapa diusir?" Jeanny memukul lengan Jamie karena mengusir kupu-kupu yang hinggap di hidungnya terbang, akibat perbuatan Abangnya.
Jamie tertawa, dan berlari menjauhi Jeanny yang kesal dengan perbuatan Jamie yang mengusir kupu-kupu dari hidungnya.
"Abang! ngeselin..!" teriak Jeanny dengan ekspresi wajah kesal, dia tidak perduli ada beberapa pasang mata melihatnya yang berlari mengejar Jamie.
Orang-orang yang melihat, mengira. Mereka berdua sepasang kekasih.
"Maaf Jean, damai..damai ya..!" Jamie menghentikan larinya, dan mengacungkan dua jarinya.
"Abang iri kan? karena tidak ada kupu-kupu yang mau hinggap ke tubuh Abang." ledek Jeanny.
"Abang tidak perlu dihinggapi kupu-kupu, karena Abang sendiri kupu-kupu. Abang suka hinggap di tubuh para gadis untuk menghisap sarinya," ucap Jamie dengan tawa di bibirnya.
..."Abang! dasar Playboy..!" seru Jeanny....
"Hei..! Abang bukan playboy, Abang hanya sedikit main-main. Sebelum dapat yang sesuai di hati dan kantong," ujar Jamie.
"Awas ya, jangan sampai ada perempuan datang ke rumah minta pertanggungjawaban Abang. Jika begitu, Abang sama saja dengan..." Jeanny tidak melanjutkan ucapannya dia, pergi meninggalkan abangnya. Jamie.
Jamie tersadar, bahwa ucapan yang berupa bergurau. Dianggap serius oleh Jeanny, dan membuat Jeanny teringat dengan Yudha yang telah menghamili wanita lain.
"Jean..!" seru Jamie seraya berlari mengejar Jeanny yang berjalan keluar dari pintu keluar.
Jamie menarik tangan Jeanny untuk menghentikan langkahnya. Kemudian Jamie memegang kedua bahu Jeanny.
"Jean, Abang tadi hanya bergurau," ujar Jamie.
Jeanny tidak menjawabnya, dia hanya memandang wajah Jamie dengan kesal.
"Jean, jangan marah ya. Abang tidak akan melakukan seperti yang dilakukan Yudha, Abang bukan Yudha," ujar Jamie.
Jeanny masih dengan mode diam, dan hanya memandang jamie dengan raut wajah merenggut.
"Please! jangan marah lagi ya, jangan diam saja. Ayo katakan apapun yang ingin Jean katakan, tapi apa yang Abang katakan tadi itu tidak serius. Abang hanya bercanda, Abang tidak akan pernah mempermainkan wanita. Karena Abang punya adik perempuan, Abang tidak ingin apa yang Abang lakukan berimbas kepada adik Abang sendiri." Jamie bicara panjang lebar, sedangkan Jeanny hanya memberikan tatapan mata yang datar.
..."Sudah..!" ujar Jeanny....
"Sudah," jawab Jamie seraya menganggukkan kepalanya.
"Jangan marah lagi ya, Abang takut lihat Jeanny marah. Wajah Jean seperti ingin memakan Abang bulat-bulat." Jamie berusaha bergurau, agar Jeanny tertawa mendengar gurauannya.
Melihat wajah Jamie, yang terlihat lucu. Jeanny tidak bisa lagi menahan tawanya.
"Hahahaha..!" suara tawa keluar dari dalam mulut Jeanny.
Satu tangannya menutupi mulutnya yang tertawa lebar, dan tangannya yang satu lagi memegangi perutnya.
Jamie bengong menatap Jeanny tertawa terpingkal-pingkal.
"Apa Jeanny kemasukan penunggu taman kupu-kupu?" suara hati Jamie.
"Rasain, Jeanny kerjain. Abang, Jeanny tahu. Abang itu tidak akan pernah bisa mempermainkan wanita, seperti tadi Abang mempermainkan Jeanny. Jeanny juga pura-pura marah, satu sama," ujar Jeanny.
..."Tadi, marah pura-pura? Jeanny tidak benar-benar marah ya?" tanya Jamie....
"Iya, bagaimana? bagus kan akting Jeanny?" tanya Jeanny seraya menaik turunkan alisnya, menggoda Jamie.
..."Jeanny..!" ujar Jamie....
"Week..!" Jeanny menjulurkan lidahnya, dan berlari meninggalkan Jamie.
"Dasar adik nakal..!" seru Jamie sambil mengejar Jeanny.
🌹🌹
Lisa pulang dari sekolah dengan raut wajah yang murung, sudah dua hari. Tidak ada senyum, seperti biasa saat dia pulang dari sekolah.
"Non, kita pulang. Atau main dulu ditempat bermain, banyak teman masih main itu?" tanya Bi Anah yang menjemput Lisa, karena Oma Alma dan Obut Gracia sedang pergi keluar kota.
"Pulang! Lisa tidak mau main," sahut Lisa dengan wajah yang ditekuk.
Bi Anah membukakan pintu mobil untuk Lisa masuk, setelah itu baru Bi Anah masuk kedalam mobil.
"Non, ada apa? kenapa merenggut begitu? sudah dua hari ini, Non Lisa pulang sekolah tidak gembira?" tanya Bi Anah.
"Lisa tidak mau sekolah lagi..!" seru Lisa dengan suara yang ketus.
"Kenapa? apa ada teman yang menganggu Non Lisa?" tanya Bi Anah.
Lisa menggelengkan kepalanya, dan Lisa memalingkan wajahnya menatap luar jendela kaca mobil.
Bi Anah tidak mengorek informasi lagi dari mulut majikan kecilnya tersebut, karena dia melihat Lisa tidak ingin ditanyai lagi mengenai apa yang membuatnya tidak ingin sekolah lagi. Seperti yang dikatakan olehnya baru saja pada Bi Anah.
Begitu tiba di rumah, Lisa langsung membuka pintu mobil. Tanpa menunggu dibukakan oleh BI Anah seperti biasanya.
"Kenapa Non Lisa Bi Anah..?" tanya Pak Jaka, sopir yang khusus untuk menjemput Lisa.
"Tidak tahu, sudah dua hari begitu bawaannya. Mungkin kangen dengan Oma dan Obut," jawab Bi Anah.
..."Kapan pulang nyonya berdua?" tanya Pak Jaka....
..."Hari ini, katanya," kata Bi Anah....
Dalam kamar, tanpa mengganti baju sekolahnya. Lisa telungkup di ranjang, tubuhnya bergetar dan terdengar suara tangisannya.
Bi Anah masuk kedalam kamar, sontak kaget. Melihat Lisa menangis. Bi Anah dengan langkah lebar menuju ranjang dan duduk didekat Lisa telungkup.
"Non Lisa kenapa? apa ada yang sakit? katakan pada Bi Anah ya," ucap Bi Anah dengan perasaan yang cemas, karena dia takut. Majikan kecilnya sakit.
Lisa tidak menjawab, suara tangisannya semakin terdengar keras.
"Aduh! kenapa Non Lisa? Nyonya tidak ada, apa beritahu pada Den Agra saja." dalam benak Bi Anah, yang bingung apa yang harus dilakukannya.
"Non, beritahu Bi Anah. Mana yang sakit, atau kita ke rumah sakit saja," kata Bi Anah.
..."Lisa tidak sakit..!" pekik Lisa....
"Kalau tidak sakit, kenapa menangis? apa rindu sama Oma dan Obut?" tanya Bi Anah.
..."Tidak..!"...
"Kalau tidak karena rindu dengan Oma dan Obut, lalu karena apa? bilang sama Bi Anah, jangan nangis saja. Kalau Non Lisa hanya menangis dan tidak mengatakan apa yang membuat Non Lisa sedih, bagaimana Bi Anah bisa bantu," kata Bi Anah.
Lisa membalikkan badannya, dan bangkit. dan kini, dia duduk didekat Bi Anah.
"Aduh! lihatlah, wajah Non Lisa sembab karena menangis.Jadi tidak cantik lagi," kata Bi Anah, dan kemudian mengusap wajah Lisa yang basah karena air mata.
..."Biar! Lisa tidak mau cantik!"...
"Katakan pada Bi Anah, ada apa? apa ada teman sekolah yang nakal?"
Lisa menggelengkan kepalanya.
..."Lalu, kenapa menangis?"...
"Miss Jeanny tidak sayang Lisa lagi!" seru Lisa, dan kembali menangis.
"Miss Jeanny tidak sayang Lisa?" tanya Bi Anah.
"Iya, Miss Jeanny tidak mau dekat Lisa," ujar Lisa dengan suara yang sedih.
...🌹🌹🌹...
...Bersambung...