My Daughter'S Teacher

My Daughter'S Teacher
MDT



Selalu tekan like ya kakak-kakak reader 🙏


...****...


Albert memutuskan sambungan teleponnya.


"Siapa yang sakit Bang?" tanya Jeanny yang mendengar percakapan keduanya tadi, bukan niatnya menguping. Tapi, karena Agra yang bertanya pada Albert. Siapa yang sakit? makanya Jeanny mendengar apa yang dikatakan oleh Agra.


"Tidak tahu, Albert tidak mengatakan apapun mengenai siapa yang sakit. Tidak apa-apa kan, kita ke rumah sakit dulu. Baru pulang?" tanya Agra.


"Tidak apa-apa," sahut Jeanny seraya memandang lurus ke depan.


Setelah menempuh perjalanan setengah jam, mobil yang dikemudikan oleh Agra tiba di rumah sakit yang dikatakan oleh Albert.


Albert sudah menunggu Agra didepan rumah sakit.


"Jeanny juga ikut? " batin Albert, saat melihat. Agra datang dengan membawa Jeanny.


Ada apa? kenapa kau menyuruhku datang kesini? apa Michael atau Eva sakit?" tanya Agra.


"Tidak! mereka baik-baik saja, ini.." Albert menjeda perkataannya, dia melirik Jeanny.


Jeanny melihat Albert melihat padanya, merasa. Bahwa, Albert dan Agra ingin membicarakan sesuatu yang tidak boleh didengar olehnya.


"Kenapa? apa ini rahasia? kalau begitu, aku pulang saja," ujar Jeanny dan langsung memutar badannya, ingin pergi meninggalkan rumah sakit.


Agra langsung mencekal tangan Jeanny, agar tidak pergi.


"Tidak ada rahasia diantara kami, katakan saja." titah Agra pada Albert.


"Baiklah, aku akan mengatakannya. Tapi, tidak disini. Ayo, kita ke kantin rumah sakit saja," kata Albert.


Ketiganya menuju kantin rumah sakit.


"Katakan." titah Agra.


Albert mengeluarkan ponselnya, dan menunjukkan gambar seorang wanita pada Agra.


"Lihat ini, apa kau mengenalinya?" tanya Albert.


Degh..


Agra tersentak, saat melihat wanita yang mirip dengan Malika berada di atas brankar.


"Malika? dia Malika?" Agra menatap Albert.


"Malika? istrinya, apa masih hidup?" dalam benak Jeanny.


Wajah Jeanny sontak berubah.


"Kami tidak tahu, dia Malika atau tidak. Ada dua identitas yang di milikinya, satu identitas atas nama Mikaela. Dan yang satu lagi atas nama Malika." tutur Albert.


"Dia Malika, aku tahu. Dia Malika..! di mana dia?" tanya Agra pada Albert.


"Ayo, dia berada di lantai dua no 1234. Michael menjaganya di sana," kata Albert.


Agra berdiri dan langsung pergi meninggalkan kantin rumah sakit dengan langkah lebar.


Sedangkan Jeanny, masih duduk dengan termangu. Menatap Agra pergi meninggalkannya, tanpa mengatakan apapun juga.


Ada perasaan aneh dalam dadanya, saat Agra pergi meninggalkannya. Walaupun, belum ada cinta. Tapi, Jeanny sedikit kecewa menerima perlakuan Agra.


"Apa segitu tak terlihatnya aku, sehingga. Dia tidak mengucapkan sepatah katapun padaku." batin Jeanny.


Albert menghentikan langkahnya, saat melihat Jeanny masih duduk.


"Ayo Jean," kata Albert.


"Jean tunggu di sini saja, mas Albert pergi saja." Jeanny menolak untuk ikut.


"Jean, maafkan Agra. Dia hanya.." Albert tidak melanjutkan ucapannya.


"Tidak apa-apa Mas, Jeanny paham. Mas pergi saja, Jean tunggu di sini. Jangan khawatir, Jean tidak akan menangis meraung-raung. Dan memaki teman mas itu," kata Jeanny sembari tertawa.


"Jangan kemana-mana, dan jangan sedih. Mas merasa, wanita itu bukan Malika. Dan, jika pun. Wanita itu Malika, Mas tidak akan membiarkan dia memasuki kehidupan Agra kembali," kata Albert.


Jeanny menganggukkan kepalanya, dan mengacungkan jari jempolnya.


Tiba-tiba, ada perasaan yang aneh dalam dadanya. Bukan perasaan cinta, seperti perasaan yang ada pada Malika dahulu.


Agra melepaskan kenop pintu, dia mundur. Perasaan yang tadinya menggebu-gebu begitu ingin bertemu dengan Malika, kini redup.


"Apa dia Malika? tidak! dia bukan Malika, Malika sudah tidak ada. Tidak ada yang bisa selamat, tempat kecelakaan itu sangat mengerikan." gumam Agra.


"Ada apa dengan diriku ini? kenapa aku seperti tidak ingin masuk kedalam?" gumam Agra.


"Agra, kenapa? apa kau tidak ingin masuk untuk melihatnya? kau harus mengenalinya Agra, agar kita cepat mengetahuinya. Siapa dia sebenarnya" ucap Albert.


"Ayolah, cepat kita kenali wanita. Siapa dia sebenarnya." Albert membuka pintu kamar dan masuk kedalam diikuti oleh Agra.


Michael yang sedang duduk di sofa, berdiri dan menghampiri Agra dan Albert.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Albert pada Michael.


"Masih seperti tadi, tidur. Dan tadi sempat terbangun, dia hanya menatapku. Aku takut melihatnya, tatapannya itu sangat mengerikan," kata Michael.


Agra bergerak mendekati ranjang, dan menatap wajah wanita yang tidur di atas ranjang rumah sakit.


Tiba-tiba, mata wanita yang sedang dipandangi oleh Agra terbuka dan menatap Agra.


"Mas Agra..!" wanita tersebut bangun dan turun dari ranjang, lalu kemudian memeluk Agra sembari menangis.


"Mas Agra, aku kembali. Malika mu kembali Mas Agra..!"


Agra membalas pelukannya, dan membelai rambutnya. Tubuh Agra menegang, dan melepaskan pelukannya.


"Kau masih sakit, tidurlah." titah Agra dengan suara yang datar.


"Tidak Mas, aku tidak sakit. Aku baik-baik saja, apalagi setelah bertemu dengan suamiku. Aku sehat kembali Mas."


Albert dan Michael tidak mengira, sambutan yang diberikan oleh Agra begitu dingin.


"Mas, aku merindukanmu. Aku selamat Mas, tapi. Aku hilang ingatan, sehingga aku tidak tahu untuk kembali kemana?'


"Betapa takutnya aku Mas, tidak bisa berkumpul denganmu lagi. Kini, kita akan tinggal berdua lagi mas," kata Mikaela.


"Tinggal berdua? apa kau melupakan putrimu?" tanya Agra.


"Putri? iya, kita akan tinggal bertiga." gugup Mikaela.


"Maaf, karena ingatanku yang belum pulih total. Aku melupakan putri kita," kata Mikaela sembari memijat keningnya.


"Istirahatlah, kau begitu kurus," ucap Agra sembari memegang kedua bahunya, dan mengelus lengan atas Mikaela.


"Aku tidak bisa hidup tenang Mas, ada yang hilang di sini. Tapi, aku tidak tahu apa yang hilang. Ternyata, aku melupakan suamiku. Yaitu, kamu Mas Agra." tutur Mikaela seraya mengusap dadanya


"*Ternyata, Agra sangat sempurna. Pantas Malika mengkhianati Maharani." dalam benak Mikaela


"Aku baru melihat gambarnya saja sudah jatuh cinta, kini. Dia berdiri di hadapanku, cintaku semakin membara. Kau harus menjadi milikku Mas Agra." batin Mikaela*.


Agra menuntun Mikaela untuk kembali ke atas ranjang.


"Baring lah, biar kau cepat sehat kembali. Aku akan menemui dokter," kata Agra.


"Jangan Mas, jangan tinggalkan aku. Aku takut Mas, begitu aku memejamkan mata. Mas Agra tidak ada di sisiku lagi." Mikaela memegangi tangan Agra, agar Agra tidak meninggalkannya.


Michael menatap keduanya dengan sinis, terutama. Mikaela yang menyamar sebagai Malika.


"Agra bodo...! kau tidak tahu, betapa licik istrimu itu! Malika, nikmati saja. Sebentar lagi kau akan terbuang, di campakkan Agra. Setelah dia tahu dibalik wajah cantikmu." Suara hati Michael, yang kesal melihat tingkah Malika yang menahan Agra agar tidak pergi meninggalkannya.


"Baiklah, kau tidurlah. Aku akan menunggumu di sini," ujar Agra.


Mata Mikaela, semakin sayu. Dan Mikaela akhirnya tidur kembali, karena efek obat yang berada dalam infus . Membuat Mikaela kembali tidur.


"Bert, beri pengamanan. Ayo kita bicara di luar." Agra keluar dari kamar inap Mikaela, diikuti oleh Albert dan Mikaela.


"Dia bukan Malika..!" ucap Agra begitu tiba di luar kamar.


......***......


To be continued