
...Happy reading...
...****...
Yudha berdiri dengan tubuh yang kaku, tidak ada ekspresi di wajahnya. Tidak ada niatnya untuk membalas pelukan Yulia, tangisan Yulia juga tidak menggerakkan tangannya untuk membalas pelukannya. Tidak lama kemudian, Yudha mendorong tubuh Yulia, dari dadanya. Dia meninggalkan Yulia, dan duduk di kursi.
"Duduklah." titah Yudha dengan suara yang datar dan dingin.
Yulia mundur, saat mendengar suara Yudha yang dingin. Jemarinya mengusap air mata di pipinya yang membasahi pipinya. Tangisan asli atau drama, tidak ada yang tahu. Hanya Yulia, Tuhan yang tahu. Oh.. author juga tahu🤭😝.
"Apa kabarmu Yulia?" sapa Mama Yudha.
"Ma, Pa. Kabar Yulia tidak baik, sangat sengsara di sini. Baru beberapa jam didalam sana, badan Yulia sudah bentol-bentol dan gatal." Yulia memberi salam kepada Mama dan Papanya Yudha, seraya mengatakan bahwa keadaannya tidak baik.
Kemudian, Yulia duduk di kursi depan Yudha duduk. Meja panjang memisahkannya dari Yudha, tadinya. Yulia ingin duduk di samping Yudha, tetapi. Mama Yudha menempati kursi samping Yudha. Dengan terpaksa, Yulia duduk berhadapan dengan Yudha, kedua tangannya diletakkannya di atas meja. Kedua matanya menatap wajah Yudha.
"Sialan! aku mau duduk di samping mas Yudha, Nenek tua itu menyerobot." dalam benak Yulia yang kesal dengan Susan, Mama Yudha.
Keempatnya duduk dalam diam, Yudha dengan terus menundukkan kepalanya. Yulia yang terus mengarahkan pandangan matanya menatap Yudha.
"Bagaimana kandunganmu?" tanya Papa Yudha, membuka keheningan, dengan menanyakan kandungan Yulia.
"Seharusnya, Lia masih harus bed rest. Tapi, Yulia tidak boleh keluar."
"Kalau tidak karena demi kemanusiaan tadi, malas aku menjenguk dan menatap wajah palsu mu itu Yulia." batin Mama Yudha yang terus ngedumel.( jangan ngedumel Ma, entar tambah kerutan di wajah)😄
"Bed rest didalam penjara saja juga bagus, tinggal tidur dan makan. Kalau di rumah tidak juga istirahat, pasti matamu nonton televisi terus," kata Mama Yudha.
"Dasar Nenek tua, dari tadi ngomongnya nyelekit terus, kalau tidak ingat aku harus minta tolong mas Yudha agar menemui Jeanny untuk mencabut laporannya. Sudah aku lawan kau Nenek tua." dalam benak Yulia.
"Mas Yudha, Yulia tidak bersalah Mas. Yulia tidak merencanakan penculikan terhadap Jeanny, percaya Mas..!" Yulia meraih tangan Yudha, tetapi. Yudha menarik tangannya dan meletakkan tangannya di atas pahanya.
Yulia menarik tangannya dan seperti Yudha, dia meletakkan tangannya di atas pahanya juga.
"Dasar gadis tidak bener! sudah terbukti salah, masih ngeyel tidak mau mengaku." batin Susan, Mama Yudha yang kesal, mendengar Yulia tidak mengaku apa yang dilakukannya.
"Sudahlah Yulia, tidak usah merasa tidak bersalah. Aku sudah tahu dari pihak kepolisian, sudah terbukti. Kau yang mendalangi apa yang terjadi pada Jeanny." Yudha menatap wajah Yulia, sembari menggelengkan kepalanya. Dia heran, Yulia masih terus berbohong. Padahal, bukti-bukti dan dari percakapan saling serang antara dirinya dan Andi sudah mengarah. Bahwa, dia yang mendalangi penculikan Jeanny. Dan Andi yang menjadi kaki tangannya.
"Bukan Mas Yudha, pria itu yang melakukannya. Dia suka dengan Jeanny, mungkin juga mereka sudah menjalin hubungan sejak lama dan Jeanny telah mengkhianati Mas Yudha," kata Yulia dengan lancar keluar dari dalam mulutnya, menjelek-jelekkan Jeanny.
Braak..
Yudha mengebrak meja, sehingga membuat orang yang ada dalam ruangan tersebut kaget. Begitu juga dengan polisi yang berdiri tidak jauh di belakang Yulia duduk.
Mata Yudha tajam memandang Yulia.
"Yudha..!" Mama Yudha memegang dadanya, kaget mendengar suara tangan Yudha memukul meja didepannya.
Papa Yudha spontan memegang bahu sang putra, dia takut. Yudha melakukan kekerasan pada Yulia dihadapan polisi.
"Mas..!" Yulia tersentak, karena meja tepat didepannya yang dipukul oleh Yudha.
Polisi mendekati tempat mereka duduk, dan memberikan peringatan kepada Yudha yang emosional.
"Pak, jaga tingkah laku anda." ingatkan polisi wanita pada Yudha.
"Maaf Bu." Mama Yudha minta maaf pada polisi tersebut.
"Yudha, jaga emosi. Jangan sampai kau juga akan berada didalam sini bersama dengannya." bisik Mama Yudha.
"Tahan..aku harus tidak emosi." benak Yudha.
Yudha menarik napas panjang dan mengeluarkan dengan pelan, untuk menstabilkan emosinya kembali.
"Jangan aku dengar kau menjelek-jelekkan Jeanny kembali, jika aku dengar kau menjelek-jelekkan Jeanny. Aku akan membuat kau mendekam di dalam jeruji besi dalam keadaan lama, cam kan itu Yulia. Pria yang melakukan kejahatan sudah mengakui, kau tidak usah sok bersih. Aku curiga, jangan-jangan. Anak dalam kandunganmu itu anaknya?" mata Yudha memicing menatap wajah Yulia.
"Betul Yudha, Mama juga curiga." timpal Mamanya.
"Mas, anak ini anak Mas Yudha. Yulia tidak bohong."
"Sudah, jangan bahas anak yang ada dalam kandungan. Kasihan dia, belum lahir sudah mendengar perdebatan mengenainya." Papa Yudha melerai perdebatan membahas anak yang dalam kandungan Yulia.
"Mas, aku mohon. Tolong bantu Lia," ucap Yulia.
"Minta bantu apa lagi kau Yulia? apa kau ingin melarikan diri, dan minta Yudha membantumu? jangan harap aku izinkan anakku ini membantu melarikan diri.." penolakan Mama Yudha, atas minta tolong Yulia.
"Apa?" tanya Yudha.
"Yudha." Mamanya memegang lengan Yudha.
"Sudah Ma, dengarkan dulu," ujar Papa Yudha.
"Mas, tolong Lia agar terbebas dari dalam sini," kata Yulia.
"Maksudnya?" Yudha belum ngeh dengan permintaan Yulia.
"Temui Jeanny Mas, minta dia agar mau mencabut laporannya. Minta dia agar mau damai saja Mas, Yulia tidak tahan berada didalam kurungan Mas. Yulia kasihan dengan anak dalam kandungan Lia ini, kalau mas Yudha yang minta. Pasti dia mau mengabulkan permohonan mas itu," ujar Yulia sembari mengusap perutnya, dan matanya mulai berembun.
"Mulai main drama, mau buat jahat. Giliran kena tangkap polisi, nangis bawang." dalam benak Mama Yudha, yang tersenyum sinis melihat Yulia yang menunjukkan raut wajah sedih.
"Bilang padanya Mas, tempuh jalan damai. Dan aku akan memberikan dia uang, Mas. Tolong, temui dia." tutur Yulia untuk Yudha menemui Jeanny.
Yudha menggelengkan kepalanya menatap Yulia, sedangkan Mama Yudha tertawa sinis melihat Yulia.
"Yulia..Yulia..! kau ingin minta aku untuk menemui Jeanny, dan minta dia mencabut laporannya. Mimpi kau Yulia, aku tidak akan melakukannya. Biar kau berhadapan dengan suaminya." dalam benak Yudha.
"Apa yang kau minta pada Yudha, tidak mungkin Yudha bisa bantu," ucap Papa Yudha.
"Kenapa? Mas, Jeanny pasti mau mendengarkan permintaan mu. Bilang, aku akan memberikan kompensasi atas kerugian yang dia terima. Berapa pun yang di mintanya, akan aku penuhi." tutur Yulia.
"Maaf Yulia, aku tidak akan ikut campur dengan masalah mu ini. Kau minta saja orangtuamu untuk menemui Jeanny, Maaf. Aku tidak bisa, jika pun aku bisa. Aku tidak akan mau meminta Jeanny untuk mencabut laporannya."
Yudha berdiri, begitu selesai bicara.
"Ayo Ma, Pa. kita pulang," ujar Yudha.
"Mas..!" Yulia ikut berdiri, dan beranjak mendekati Yudha.
"Kau temui sendiri, aku tidak bisa membantu."
"Mas..!" seru Yulia dan berlutut didepan Yudha.
"Hei ..!" Yudha kaget, karena Yulia berlutut di depannya.
...****...
To be continued