
Happy reading 😍
...🌹🌹🌹...
Bi Anah berteriak keluar dari dalam kamar Lisa dilantai atas, sembari berteriak memanggil kedua majikan.
"Nyah Obut, Nyonya Alma..!" teriakan Bi Anah bergema memanggil kedua majikannya tersebut, membuat Gracia yang sedang mengingat masa lalunya tersadar.
"Ada apa itu Ma?" tanya Alma yang sedang berbalas pesan dengan teman-teman arisan, berdiri dari duduknya.
"Bi Anah itu, kenapa orang itu?" Gracia juga berdiri dari dari duduknya.
Bi Anah datang dengan napas yang tersengal-sengal, karena badan tuanya sudah tidak segesit dahulu lagi untuk berlarian.
"Ada apa Bi Anah? kenapa teriak-teriak?" tanya Gracia pada pengasuh cucunya.
"Non Lisa...Non Lisa sakit, badannya panas Nyah Obut..!" seru Bi Anah dengan raut wajah cemas seraya memandang Gracia dan Alma.
Mendengar apa yang dikatakan Bi Anah, Alma dan Gracia langsung sontak melangkah dengan setengah berlari naik ke lantai dua menuju kamar Lisa.
"Bi Anah, siapkan mobil. Kita bawa ke rumah sakit." titah Alma pada pengasuh cucunya Lisa.
Bi Anah memutar tumitnya, dan berlari menuju rumah samping. Di mana para sopir dan pekerja yang lain beristirahat.
"Pak Dudung, siapkan mobil," ujar Bi Anah pada Pak Dudung yang sedang terkantuk-kantuk sembari mendengarkan lagu keroncong kesukaannya.
"Siapkan mobil, Nyonya mau pergi lagi? baru pulang, apa Nyonya berdua tidak ada kata letih ya?" tanya Pak Dudung.
"Cepat Pak dudung! Non Lisa sakit, bukan nyonya yang mau pergi! kita harus secepatnya membawa Non Lisa ke rumah sakit..!" seru Bi Anah pada Pak Dudung yang masih duduk.
"Iya.. iya," ucap Pak Dudung langsung berdiri, saat mendengar Nona majikannya yang sakit.
Tanpa menunggu perintah dari Bi Anah lagi, Pak Dudung berlari menuju mobilnya. Dan dia tahu apa yang harus dilakukannya, yaitu membawa mobilnya menuju pintu depan.
Bi Anah kembali masuk kedalam rumah, saat ingin naik kelantai atas menuju kamar Nona kecilnya. Dia bertemu dengan Alma yang menggendong Lisa.
"Bi, persiapkan baju Lisa. Bi Anah nyusul nanti." titah Gracia pada Bi Anah, pengasuh cucunya, Lisa.
"Baik Nyah," sahut Bi Anah.
Dalam mobil, tiba-tiba Lisa mengigau. Karena suhu tubuhnya yang teramat tinggi, dia terus memanggil nama Jeanny. Sehingga membuat kedua Omanya sedih.
"Ma, tubuh Lisa panas sekali. Dan terus menyebutkan nama Jeanny," ujar Alma.
"Apa yang harus kita lakukan, mau dikompres. Tidak ada air hangat," ucap Gracia.
"Nyah, gosok minyak Nyah," ujar Pak Dudung yang mendengar apa yang dikatakan oleh kedua majikannya.
"Tidak ada Pak Dudung, saking paniknya tadi saya sampai lupa membawa minyak. Untung tas berisi uang saya bawa," kata Gracia, Obut Lisa.
"Alma tidak bawa apa-apa Ma, Alma juga tidak ganti baju. Lihat, Alma hanya pakai daster ini," ucap Alma, yang baru sadar dia memakai daster.
"Panik, siapa yang ingat untuk ganti baju." Gracia menimpali ucapan Alma.
"Apa Pak Dudung ada minyak gosok?" tanya Alma.
"Maaf Nyah, saya tidak pernah bawa minyak," jawab Pak Dudung.
"Pak Dudung, bawa ke rumah sakit yang terdekat saja. Tidak usah ke rumah sakit Mitra," ucap Alma kepada sang sopir, Pak Dudung.
"Siap Nyah," sahut Pak Dudung.
Tidak lama kemudian, mobil memasuki rumah sakit yang terdekat dengan posisi mereka saat ini. Yaitu Rumah Sakit Ibu dan Anak. Karena jika mereka pergi ke rumah sakit Mitra, rumah sakit tempat Fandi bertugas. Alma dan Gracia takut, panas tubuh Lisa semakin tinggi.
Begitu tiba di rumah sakit, Pak Dudung bergegas turun. Dan membuka pintu untuk majikannya Alma turun dengan menggendong Lisa.
Alma turun dengan menggendong tubuh Lisa yang meringkuk didalam pelukannya.
"Pak Dudung kembali dulu, jemput Bi Anah dan pakaian Lisa. Mungkin saja Lisa akan di rawat.," ujar Gracia pada sopirnya, Pak Dudung.
Setelah memberikan pesan kepada Pak Dudung, Gracia bergegas mengikuti Alma yang membawa Lisa menuju IGD. Sampai di ruang IGD. Lisa langsung ditangani oleh dokter yang bertugas.
"Bagaimana Dok, apa yang terjadi pada cucu saya ?" tanya Gracia.
"Flu, dan radang tenggorokan. Apa cucu ibu kurang mengkonsumsi air putih, tenggorokannya terlihat merah sekali," ucap dokter setelah selesai memeriksa Lisa.
"Suster, tolong periksa darahnya juga." titah dokter kepada suster.
"Baik Dok," jawab suster.
"Untuk apa periksa darah Dok?" tanya Gracia. Obut Lisa pada dokter.
"Banyak pasien yang masuk rumah sakit beberapa hari ini, karena terkena demam berdarah. Untuk mengantisipasi kemungkinan terkena demam berdarah.Tidak ada salahnya kita periksa Bu," kata dokter.
"Lakukan Dok, kami serahkan pada dokter. Lakukan yang terbaik Dok," ucap Gracia pada dokter Aulia.
Kemudian dokter meninggalkan Lisa, karena pasien korban kecelakaan masuk ke IGD.
Oma dan Obut ngeri melihat korban kecelakaan, sehingga keduanya memalingkan wajahnya.
Karena tidur, Lisa tidak menangis saat darahnya diambil. Dia hanya menggeliat sesaat, jarum menembus kulitnya.
"Begini Bu, apa ingin tetap berada di IGD atau pindah keruangan saja untuk menunggu hasil pemeriksaan darahnya?" tanya suster kepada Alma.
"Bagaimana Ma?" Alma bertanya pada Mama mertuanya.
Pandangan mata Gracia, melihat ke area ruang IGD. dia melihat ada beberapa pasien yang terbaring dengan macam-macam penyakit. Dan pasien korban kecelakaan juga ada di IGD.
"Apa boleh kami pindah keruangan saja?" tanya Gracia, yang tidak nyaman melihat cucunya Lisa berada di sekitar orang yang sakit dengan bermacam-macam ragam penyakit.
"Boleh Bu, silakan ibu pesan kamar," kata suster.
"Terima kasih suster," ucap Gracia, Obut Lisa.
"Mama jaga Lisa ya, biar Alma yang mengurus kamar untuk Lisa. kita juga belum menghubungi Agra," kata Alma pada Mama mertuanya.
"Oh iya, kenapa lupa.Tapi Agra pergi keluar kota kan?"
"Walaupun dia tidak bisa pulang hari ini juga, yang pastinya. Kita sudah beri kabar, bahwa Lisa sakit," kata Alma.
"Abra juga beritahukan." ingatkan Gracia, untuk menghubungi Abraham yang sedang pergi keluar kota juga.
"Iya Ma, akan Alma hubungin," jawab Alma.
🌹🌹
Di pinggiran kota, Agra dan Albert sedang duduk didalam mobil. Mata keduanya fokus menatap kearah rumah yang terlihat sepi, seperti tidak ada penghuninya.
Ternyata, Agra keluar kota tidak ada hubungannya dengan pekerjaannya. Albert mendapatkan informasi dari anak buahnya, bahwa petugas keamanan yang di curigai yang menulis ancaman di dinding perusahaan. Berada di kampungnya, yaitu di daerah kaki gunung salak.
"Daerah yang sangat mengerikan, lihatlah. Pohon-pohonnya sangat tinggi, kita seperti kurcaci yang sedang sembunyi dibawah pohon," kata Albert.
"Walaupun jalanan sudah diterangi dengan lampu jalan, tetapi tetap saja mengerikan jika malam tiba," kata Agra.
"Signal ponsel juga tidak ada," kata Albert.
"Karena terhalang dengan pohon-pohon yang menjulang," kata Agra.
"Tapi untuk membangun tempat wisata, hotel. Tempat ini sangat cocok." sambung Agra kembali.
"Jiwa bisnismu berjalan dalam situasi apapun juga," ucap Albert sembari tawa kecil.
Tok...tok .
Pintu jendela kaca mobil Albert di ketuk, Albert kemudian menurunkan kaca mobilnya.
"Ada apa?" tanya Albert.
"Orang yang kita cari berada di warung ujung jalan Tuan, dia baru tiba di warung itu," ucap anak buah Albert.
"Tangkap, dan bawa ketempat biasa. Kami tunggu di sana." titah Albert pada anak buahnya.
"Baik Tuan."
...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...
...Bersambung...