
Happy reading 😍
🌹🌹🌹
Jeanny masuk ke dalam ruang kelas tempat dia mengajar.
"Kenapa wajahmu lesu sekali Jean? kenapa pakai masker? jangan bilang kau terpapar virus yang lagi trend itu." tanya Amelia, saat melihat Jeanny datang dengan lesu dan mengenakan masker.
"Flu," jawab Jeanny.
"Sekarang musim hujan, kau harus rajin minum vitamin untuk menjaga stamina," kata Amelia.
"Jean semalam sepertinya, Yudha menunggumu. Aku melihat mobilnya di depan sekolah, untunglah. Kau cepat pulang semalam," kata Amelia.
"Aku tiba di rumah, dia sudah berada di depan rumahku. Ternyata, dia menungguku dari sekolah?"
"karena kau tidak dilihatnya keluar, saat jam pulang sekolah. Mungkin dia mengira kau tidak kerja, makanya dia ke rumahmu. Gila ya Yudha, sudah menikah. Tapi tetap mengejarmu juga, apa dikiranya kau mau dengannya lagi? jejaka masih banyak, untuk apa yang dengan pria yang sudah punya istri," kata Amelia.
"Aku pusing menghadapinya, semoga saja kelakuannya ini tidak membuat istrinya datang melabrak ku. Karena dikiranya aku menggoda suami nya," ujar Jeanny kesal.
"Apa kau mengenal wanita itu? kau pernah melihatnya?" tanya Amelia.
"Tidak! wanita itu rekan kerjanya."
"Aku jadi was-was, bagaimana jika calon laki aku itu seperti Yudha? sepertinya, aku harus menyiapkan mental dulu. Dan jangan terlalu mencintai seseorang pria, jika mereka berubah. Hati kita tidak terlalu sakit," ucap Amelia, yang takut. Kekasihnya seperti Yudha.
"Tidak semua pria seperti Yudha, aku saja yang ketiban sial," ujar Jeanny.
"Miss Jeanny." suara kecil memanggil namanya, membuat Jeanny melihat asal suara.
"Lisa." sambut Jeanny.
Saat Lisa ingin memeluknya, Jean menolaknya. Terlihat raut wajah Lisa yang kecewa, mendapatkan penolakan dari Jeanny.
"Lisa, jangan peluk Miss Jeanny ya," ujar Jeanny.
"Miss marah dengan Lisa?" tanya Lisa dengan suara yang lirih, dan kedua bola matanya berkaca-kaca.
"Bukan! Miss tidak marah, lihat. Miss memakai masker, karena Miss terserang flu. Miss tidak ingin Lisa terkena flu juga."
"Miss tidak marah dengan Lisa?"
"Tidak sayang, Miss Jeanny tidak marah. Miss kurang sehat."
"Ayo Lisa, duduk. Kita tunggu kedatangan teman-teman ya." Amelia menuntut Lisa untuk duduk ditempat biasa dia duduk.
"Aku harus menjaga jarak dengan Lisa, aku tidak ingin pria itu mengatakan aku mengambil kesempatan untuk mendekatinya melalui putrinya. Apa aku minta pindah kelas saja? jika tetap mengajar didalam kelas ini, Lisa akan tetap mendekatiku." suara hati Jeanny yang merasa tidak nyaman mengajar, di mana Lisa putri Agra berada dalam kelasnya.
Amelia mendekati Jeanny yang sedang duduk melamun.
"Jean, kenapa? apa kepalamu pusing?" tanya Amelia, karena melihat Jeanny memijat keningnya.
"Sedikit," jawab Jeanny.
"Pulang saja Jean, biar aku sendiri menghandle di sini. Jika aku tidak bisa menghandle sendiri, aku bisa minta guru lain yang sedang kosong," kata Amelia.
"Nanggung," jawab Jeanny.
Dengan kepala yang pusing, Jeanny tetap melakukan kewajiban sebagai pendidik. Walaupun dia lebih sering duduk di duduk di kursinya, daripada berinteraksi langsung dengan para muridnya. Karena dia juga takut, para muridnya terpapar flu yang menyerangnya.
Akhirnya, satu jam berlalu. Bel jam pelajaran berakhir.
"Sudah sana, pulang! biar aku yang merapikan semua," ujar Amelia.
"Miss Jeanny masih sakit?" tanya Lisa dengan mata polosnya menatap wajah Jeanny.
"Iya," sahut Jeanny.
"Jadi, Lisa belum boleh peluk?" tanya Lisa.
"Maaf," ujar Jeanny.
"Besok boleh?" tanya Lisa.
"Besok weekend, kita libur. Semoga di hari Senin, Miss Jeanny sudah sehat. Dan kita bisa berpelukan," kata Jeanny.
"Hore! Lisa rindu, mau meluk Miss Jeanny. Lisa tidak sabar nunggu Senin," ujar Lisa dengan raut wajah dan suara yang gembira.
"Bye..bye Miss Jeanny, Miss Amelia," ucap Lisa sembari melambaikan tangannya.
"Bye..bye cantik." balas Jeanny.
"Bye..bye Lisa," ujar Amelia.
"Sudah sana pulang, apa kau bawa mobil?" tanya Amelia.
"Bang Jamie nunggu," jawab Jeanny.
"Tidak ada pacar yang menjemput, tapi ada Abang yang sangat perhatian. Sepertinya, tidak pacar juga tidak apa-apa," ujar Amelia.
"Yup! duluan ya, tidak apa-apa kan aku tinggal?" Jeanny merasa tidak enak meninggalkan Amelia menyusun buku dan cat yang berserakan di atas meja belajar para murid.
"Sudah sana pulang, sekarang kau yang sakit. Mungkin saja, besok. Aku yang mengalaminya," kata Amelia dan mendorong tubuh Jeanny agar pergi meninggalkan ruang kelas.
...🌹🌹🌹...
Tok..tok..
Belum Agra menyuruh orang yang mengetuk pintu untuk masuk, pintu ruang kerjanya sudah terbuka. Jerry masuk kedalam.
"Tuan, ada yang mencoret-coret dinding perusahaan," kata Jerry.
"Di mana? bagian dalam atau luar?" tanya Agra.
"Di luar Tuan, parkir bagian timur," jawab Jerry.
"Apalagi ini? kenapa terus ada orang yang ingin menganggu..!" Agra berdiri dari duduknya, dengan cepat dia berjalan keluar dari dalam ruang kerjanya dan diikuti oleh Jerry.
Agra dan Jerry berjalan dengan langkah lebar, tidak ada senyum di raut wajahnya. Orang tidak heran dengan sikap yang di tunjukkan keduanya, tetapi. Biasanya, kedua wajah itu hanya wajah datar yang terlihat. Saat ini, wajah tampan tanpa senyum dan garis rahang yang mengetat. Membuat orang yang berpapasan dengan Big Boss dan sekretarisnya, tidak ada yang berani menebar senyum atau menatap matanya langsung.
Begitu keduanya keluar dari lobby perusahaan, baru para karyawan yang berada di resepsionis berani berkicau membicarakan sikap Big Boss dan sang asisten.
"Kalian lihat, wajah Big Boss. Sepertinya sedang marah? apa ada yang tahu, kenapa wajah Boss seperti ingin menelan orang hidup-hidup?"
"Pak Jerry juga, wajahnya sama dengan Boss?"
"Untuk apa kalian tahu? jika kalian tahu juga, apa kalian bisa membantu ?" tanya rekannya yang lain.
"Tidak bisa membantu, tapi kan aku bisa membantu dengan cara memberi pijatan dengan tangan lembut ini." timpal Zoya yang ikut nimbrung.
"Zoya, eling. Jangan mimpi terlalu tinggi, jangan seperti Yulia. Kalian tahu, ternyata. Yulia sudah menikah dengan Pak Yudha, tetapi pernikahan mereka pernikahan terpaksa..!" ucap seorang karyawan yang sedari tadi diam, begitu Zoya datang dan ikut buka suara membicarakan Agra Barend. Baru karyawan tersebut buka suara, dengan membicarakan Yudha dan Yulia.
"Apa!? dari mana kau tahu? jangan menyebar gosip," kata Zoya.
"Rahasia.' karyawan tersebut berlalu, meninggalkan rasa penasaran mengenai apa yang baru saja dia katakan.
"Apa betul?" tanya gadis yang bekerja di resepsionis pada Zoya.
"Mana aku tahu." Zoya mengedikkan bahunya, dan masuk kebagian divisinya untuk melakukan pekerjaannya.
"Pak Yudha, bukannya dia sudah mempunyai kekasih?' tanya gadis yang masih berada ditempat, kepada rekannya yang bekerja di bagian resepsionis.
"Baru kekasih, yang sudah punya istri saja bisa pindah hati."
...🌹🌹🌹...
...Bersambung...