
Happy reading 😍
...🌹🌹🌹🌹🌹...
Lisa sudah berada didalam kamar perawatan, setelah diberi obat melalui infus. Suhu tubuh Lisa mulai menurun, tidak seperti saat di rumah sakit.
Dan hasil pemeriksaan darah, Lisa tidak terindikasi kena demam berdarah.
"Hasil pemeriksaan darah normal ya Bu, tidak terkena demam berdarah." beritahu dokter, yang datang memeriksa Lisa.
"Apa penyakit cucu saya dokter?" tanya Alma.
"Tenggorokannya mengalami peradangan Bu, beri banyak minum air putih ya ," ucap dokter.
"Jika suhunya sudah benar-benar normal, besok sudah bisa meninggalkan rumah sakit," ucap dokter Anak yang menangani Lisa.
"Terima kasih," ucap kedua Omanya Lisa secara bersamaan.
..."Sama-sama Bu, permisi." kemudian dokter meninggalkan kamar inap Lisa....
Begitu dokter keluar, Lisa membuka matanya. Tatapan matanya yang sayu menatap wajah Alma, Omanya dan Gracia, Obut (Oma buyut)
"Oma, sakit." Lisa merasakan sakit pada tangannya yang terpasang infus.
"Sabar ya cucu Oma, ini obat. Biar cucu cantik Oma cepat sembuh, biar kita pulang dan bisa sekolah," kata Gracia pada Lisa.
Mendengar ucapan Obut, Lisa seketika langsung menangis. Dan berkata tidak ingin sekolah lagi.
"Kenapa tidak mau sekolah sayang? bukannya Lisa suka sekolah?" tanya Alma, Omanya.
"Tidak mau! Lisa tidak mau sekolah!" pekik Lisa sembari menangis.
"Hei! ceritakan pada Obut, kenapa tidak mau sekolah?' Obut Lisa pura-pura tidak tahu, apa yang membuat Lisa tidak mau sekolah. Padahal, keduanya sudah mendapatkan informasi dari Bi Anah yang mengantar dan menjemput Lisa dua hari ini. Karena Alma dan Gracia pergi keluar kota.
"Sayang, katakan pada Oma. Apa ada teman-teman Lisa yang nakal, ganggu Lisa ?"
"Lisa, lihat Obut. Ada apa?" Obut memegang tangan Lisa.
"Mama," ujar Lisa dengan suara yang pelan.
..."Mama?" tanya Obut....
"Miss Jeanny, dia nggak sayang Lisa..!" seru Lisa.
"Kenapa dengan Miss Jeanny?" tanya Alma, Omanya.
"Miss Jeanny tidak pernah mengajar Lisa lagi! Miss Jeanny tidak pernah bicara dengan Lisa, dia membenci Lisa..!" seru Lisa, dibarengi dengan suara tangis dari dalam mulutnya.
"Miss Jeanny tidak mungkin tidak sayang Lisa, mungkin saja Miss Jeanny sibuk dengan murid-murid yang lain. Miss Jeanny kan guru, murid yang diajari Miss Jeanny bukan hanya Lisa kan." kata Alma, Oma Lisa.
"Miss Jeanny tidak berada di klas Lisa, Miss Jeanny tidak mau melihat Lisa lagi," ujar Lisa dengan ekspresi wajah yang sedih.
Oma dan Obut saling pandang, mendengar apa yang dikatakan oleh Lisa. Jeanny tidak menjadi guru Lisa lagi.
"Ma, apa yang terjadi sebenarnya? kenapa Jeanny tidak mengajar di kelas Lisa? apa itu untuk sementara atau selamanya?"
"Besok Mama akan ke sekolah Lisa, untuk minta izin karena Lisa belum bisa hadir disekolah. Mama akan tanya, kenapa Jeanny tidak mengajar di kelas Lisa," ucap Gracia.
"Lisa tidak mau sekolah..!"
🌹🌹
Agra dan Albert sudah sampai didalam gedung tua, mereka tiba bersamaan dengan kedatangan Michael.
"Kenapa kalian meninggalkan aku, kalian tidak setia kawan. Ingin olahraga karate tidak melibatkan aku," ujar Michael.
"Bukannya kau sibuk," ujar Albert kepada Michael.
"Pekerjaanku bisa aku tinggalkan, aku sudah lama tidak berlatih memukul dan menendang orang," ujar Michael.
Ketiganya berhenti berbicara, ketika satu mobil van warna hitam memasuki bangunan tua.
"Hei.. lepaskan aku..!" teriak pria tersebut.
..."Diam..!"...
"Kau yang diam! kau tidak tahu siapa aku, aku bisa membuat kau kehilangan nyawa dengan sekali pukul..!" ujar pria yang yang matanya tertutup tersebut.
"ini orangnya Tuan..!" seru pria yang berjalan didepan kedua orang yang memegangi orang yang matanya tertutup tersebut.
Kedua orang yang memegangi orang yang matanya tertutup, mendorong pria tersebut. Sehingga pria yang matanya tertutup jatuh ke lantai yang jorok dan bau.
"Aaarhg..! siapa kalian? jangan berani secara sembunyi-sembunyi begini! lepaskan ikatan ku, buka penutup mataku bangsat..!"
...Bug......
Pukulan kaki Michael mendarat di tulang kering kaki pria tersebut, membuat pria tersebut berteriak kesakitan. Dan mengeluarkan umpatan dari mulutnya.
..."Brengsek..! lepaskan aku biadab..!"...
"Kau Amir kan?" Agra berjalan mendekati pria yang bernama Amir tersebut.
"Kau siapa? kenapa tahu namaku?" tanya Amir.
"Tidak perlu kau tahu siapa aku? aku yang bertanya, dan kau hanya harus menjawab. Tanpa ada hak untuk bertanya," ucap Agra dengan suara berat dan datar.
"Buka penutup mataku, cepat!" teriak pria yang bernama Amir.
"Kami bisa membuka tutup matamu, tapi. Besok kau tidak akan bisa melihat matahari lagi, mau ?" tanya Albert.
"Kalian banci, cih! hanya bisa main keroyokan." ejek Amir sembari meludah.
"Diam kau..!" Albert memukul kepala Amir.
"Boss ingin bertanya padamu, jawab dengan sejujur-jujurnya. Jika kau masih ingin hidup, dan menghirup udara bebas di luar sana," ucap anak buah Albert.
"Kenapa kau menulis ancaman di dinding perusahaan PT Star?" tanya Albert. Sedangkan Agra hanya duduk di kursi kayu yang ada di bangunan tua tersebut.
Deg..
Amir menelan ludahnya, tubuhnya terasa lemas. Saat mendengar PT Star, tempatnya kerja menjadi sekuriti. Dan baru seminggu, dia meninggalkan tempatnya bekerja. Setelah mendapatkan uang yang cukup banyak, sebagai imbalan atas apa yang dilakukannya.
"Bagaimana mereka tahu aku yang melakukannya, sedangkan CCTV sudah aku rusak." suara dalam benak Amir .
"Kenapa? apa kau heran, kenapa kami tahu kau yang melakukannya," kata Agra.
"Kau pasti merasa sudah paling pintar karena sudah merusak CCTV, tapi kau tidak tahu. Gedung sebelah perusahaan ada CCTV dan tidak rusak, terlihat jelas kau yang menulisnya," kata Albert.
"Kenapa aku lupa, ah..sial." dalam benak Amir yang merasa bodoh, lupa dengan CCTV gedung sebelah.
"Katakan! kenapa kau melakukan itu, mengirim bangkai tikus dan ayam mati dan menggunting gambar Agra Barend? tanya Michael.
"Tuan, aku tidak mengirim bangkai seperti yang Tuan katakan. Aku hanya menulis kata-kata bernada ancaman didinding." akhirnya, Amir mengakui perbuatannya. Tapi hanya menulis dinding, sedangkan yang lainnya. Amir tidak mengakuinya, walaupun pukulan bertubi-tubi mendarat ke tubuh Amir.
Agra mengangkat tangannya, agar anak buah Albert menghentikan pukulannya dan tendangan kakinya ke tubuh Amir.
"Kenapa kau membenci keluarga Barend?" tanya Agra.
"Saya tidak membenci keluarga Barend Tuan, saya tidak ada masalah dengan keluarga Barend," kata Amir setelah tubuhnya babak-belur akibat tendangan anak buah Albert.
"Kalau tidak ada masalah dengan keluarga Barend, kenapa kau menuliskan ancaman kepada keluarga Barend?" tanya Michael.
Amir tidak menjawab, hingga membuat anak buah Albert melayangkan pukulan kembali ke bagian kakinya.
"Aaarhg..! cukup Tuan, akan saya katakan. Saya dibayar untuk melakukan itu Tuan," ucap Amir.
...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...
...Bersambung...