My Daughter'S Teacher

My Daughter'S Teacher
MDT



...Happy reading...


...***...


"Putra kita juga salah Ma, kenapa dia mau dekat-dekat dengan Yulia. Beberapa kali Yulia datang ke rumah dulu, dia selalu menyambut baik. Seharusnya, dari awal. Putra kita itu tegas." tutur Hendra, Papa Yudha.


"Mama sudah pernah ingatkan, Yudha. Tapi, dia mengatakan. Hanya teman."


"Pria dan wanita itu tidak bisa hanya menjalin pertemanan yang murni, ujung-ujungnya. Pasti akan main hati." tutur Papa Yudha.


"Mama, jangan ada niat buruk atas pernikahan Jeanny. Papa tidak suka..!" tegaskan Hendra, Papa Yudha. Yang tidak suka dengan apa yang baru saja dikatakan oleh istrinya.


"Mama masih berharap, Yudha dan Jeanny masih ada jodoh Pa! apa Papa tidak suka dengan Jeanny?"


"Ma, Papa suka Yudha menjalin hubungan dengan Jeanny, tapi. Itu dulu, saat Jeanny belum menikah. Sekarang, Jeanny sudah mempunyai suami. Papa tidak akan setuju, jika Mama mendukung Yudha merusak rumah tangga Jeanny. Ingat Ma, jodoh Yudha mungkin sudah di siapkan oleh Gusti Allah di luar sana. Belum saatnya saja, Yudha bertemu dengan rusuknya." tutur Papa Yudha.


"Yudha tidak berjodoh dengan Jeanny, titik..! jangan ada rencana Mama untuk menyatukan mereka kembali..!" tekankan Hendra.


"Semoga saja, jodoh Jeanny tidak lama dengan suaminya itu ." dalam benak Mama Yudha.


Di kantor polisi


Agra menunggu Jeanny yang sedang menjalani pemeriksaan, ditemani oleh Albert. Sebagai kuasa hukumnya.


"Yudha itu, mantan Jeanny? ternyata pemuda yang hebat." gumam Agra, setelah mendapatkan laporan dari Jerry mengenai posisi Yudha didalam perusahaan.


Dalam ruang pemeriksaan.


Jeanny dicecar pertanyaan dengan hubungannya dengan Yudha.


"Apa anda masih menjalin hubungan dengan suami tersangka?" tanya penyidik.


"Suami tersangka? maaf Pak, tersangkanya saja belum bapak katakan pada klien saya. Bagaimana klien saya bisa menjawab," ucap Albert.


"Oh..maaf, saya kira anda sudah mengetahuinya."


"Siapa tersangkanya? setahu saya, hanya pria yang mengaku bernama Andi?" tanya Jeanny.


"Andi hanya orang suruhannya, sedangkan otak dalang dari penculikan itu. Adalah seorang wanita yang bernama Yulia Larasati, apa anda mengenal wanita tersebut?" tanya penyidik.


"Yulia?!" mendengar nama Yulia disebutkan oleh polisi, Jeanny kaget. Dia tidak mengira, Yulia yang telah mengambil Yudha dari sisinya yang mendalangi itu semua.


"Anda kenal?" tanya penyidik.


"Tidak mengenalnya dengan dekat, hanya pernah bertemu beberapa kali," jawab Jeanny.


"Dia mengatakan, motif dibalik perbuatannya itu karena dendam pada anda. Dia menuduh, bahwa anda masih menjalin hubungan dengan suaminya." tutur penyidik.


"Apa!? bisa-bisanya dia berbohong! apa yang dikatakannya, tidak benar Pak. Saya tidak berhubungan lagi dengan suaminya, sejak saya memutuskan untuk mengakhiri hubungan. Karena batalnya pernikahan kami, saya berniat untuk menjalin hubungan dengannya lagi."


Albert mendengarkan apa yang dikatakan oleh Jeanny, sesekali dia menimpali apa yang dikatakan oleh Jeanny.


"Pak, saya sudah menikah. Suami saya berada di luar." Jeanny menunjukkan cincin nikah di jemari tangannya.


"Menikah, tidak menutup anda untuk menjalin hubungan dengan mantan anda," kata polisi.


"Itu bukan saya Pak, jika ada pengkhianatan didalam hubungan. Yang menyebabkan hubungan itu berakhir, haram untuk saya membinanya kembali," kata Jeanny.


Pertanyaan bertubi-tubi diberikan oleh polisi kepada Jeanny, membuat Jeanny kadang emosi saat menjawabnya.


"Pak, suami saya sudah sangat hebat! untuk apa saya main gila dengan mantan yang tidak bisa menjaga pandangan matanya dan otaknya..!" seru Jeanny, saking kesalnya dengan apa yang ditanyakan oleh penyidik polisi.


"Pak, pertanyaan anda jangan hanya itu-itu saja. Klien saya sudah katakan, dia tidak ada hubungan lagi dengan suami tersangka. Itu hanya alasan tersangka, agar tidak di salahkan..!" Albert mengeluarkan keberatannya, atas pertanyaan penyidik yang mencecar Jeanny dengan adanya perselingkuhan antara Jeanny dan Yudha. Yang membuat, Yulia melakukan kejahatan terhadap Jeanny.


Dua jam menjalani pemeriksaan, Jeanny keluar dengan kepala yang pusing. Karena pertanyaan polisi yang itu-itu saja, membuat pikiran Jeanny menjadi kusut.


Agra bangkit, dan menghampiri Jeanny yang lemas dan wajah terlihat tidak baik-baik saja.


"Kenapa?" tanya Agra.


"Ayo." Agra merangkul pundak Jeanny dan menuntunnya menuju mobilnya terparkir.


Agra memasukkan Jeanny kedalam mobil, memasang seat belt. Baru kemudian menutup pintu.


"Bert, kenapa? apa polisi mencecarnya dengan pertanyaan yang tidak masuk akal?" tanya Agra.


"Biasalah, pertanyaan penyidik seakan Jeanny yang memancing tersangka melakukan kejahatan," kata Albert.


"Apa kau tahu, ternyata. Dalang ini semua adalah, istri dari mantan istrimu. Wanita itu cemburu." beritahu Albert.


"Dalangnya seorang wanita? apa kita bisa menemuinya sekarang? aku akan katakan padanya, istriku tidak akan kembali pada suaminya..!" Agra geram, mendengar apa yang dikatakan oleh Albert.


"Jangan sekarang, lihat sudah jam berapa ini. Lagipula, kasihan Jeanny. Dia tidak baik-baik saja, Agra. Aku sarankan, bawa dia refreshing." saran Albert untuk Agra membawa Jeanny refreshing, untuk melepaskan beban yang baru diterimanya dari pertanyaan polisi yang menguras pikiran.


"Baiklah, aku balik dulu. Terima kasih, ih ya. Apa sudah ada kabar dari Maharani?" tanya Agra.


"Orang yang mengawasi rumahnya, mengatakan. Sudah beberapa hari ini, rumahnya sepertinya ditinggalkan oleh penghuninya. Tidak ada orang keluar masuk, di waktu malam juga rumah dalam keadaan gelap." tutur Albert.


"Bagaimana dengan gadis yang ada di rumah sakit?" Agra tidak menyebutkan nama Mikaela.


"Dia terus menanyakan mu, sepertinya. Dia jatuh cinta padamu, awas kau. Jika jatuh cinta padanya, jangan karena wajahnya mirip dengan Malika. Kau jatuh simpati padanya."


"Aku balik." Agra membuka pintu mobil dan masuk kedalam.


Agra membetulkan posisi kepala Jeanny yang miring.


"Jean!" Agra menepuk pipi Jeanny dengan lembut.


"Ee.." suara dari dalam mulut Jeanny.


"Kita ke rumah sakit ya?" jemari Agra merapikan rambut Jeanny yang menutupi sebagian wajahnya.


Jeanny menggelengkan kepalanya.


"Kau pucat Jean," ucap Agra.


"Pulang, pusing." gumam Jeanny dengan lirih, mata terpejam.


"Baiklah, apa sangat pusing kepalanya?" tanya Agra.


Jeanny menganggukkan kepalanya.


Agra menghidupkan mesin mobilnya, dan melajukan mobilnya dengan pelan. Karena dia takut, Jeanny akan semakin pusing dengan goncangan mobil yang kencang.


"Sialan wanita itu, aku akan membuat dia menyesal. Karena telah berani mengusik keluargaku." geram Agra, tangannya mencengkram stir mobilnya dengan erat. Sehingga, urat-urat jemari tangannya menonjol.


Agra mengambil ponselnya, dan menghubungi Jerry.


"Jerry, kau hubungi Yudha. Hari Senin, temui aku." titah Agra pada Jerry.


Tanpa menunggu Jerry mengatakan apapun juga, Agra sudah memutuskan sambungan telepon.


"Kebiasaan, aku belum mengatakan apapun juga. Tuan Agra sudah memutuskan sambungan telepon." gumam Jerry yang sedang bersama dengan klien yang ingin bertemu dengan Agra.


"Apa itu tadi Tuan Agra Barend?" tanya calon klien pada Jerry.


"Iya, Tuan Hartawan. Tuan Barend tidak bisa datang, dia dalam keadaan tidak baik." alasan Jerry, agar kliennya tidak kecewa.


"Apa Tuan Agra Barend sakit?"


"Sepertinya begitu Tuan, kita jadwal ulang meeting. Bagaimana Tuan?" tanya Jerry.


Tuan Hartawan bicara dengan sekretarisnya, dan baru menyanggupi untuk menjadwal ulang meeting dengan perusahaan PT Star.


...***...


To be continued