My Daughter'S Teacher

My Daughter'S Teacher
Dibayar tunai



Happy reading 😍


...🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺...


Keesokan harinya, Papa dan Jeanny berangkat kekantor polisi. Di kantor polisi, Albert sudah menunggu kedatangan keduanya.


"Jean, ini Tuan Albert. Dia yang akan mendampingi Jean dalam membuat laporan, polisi" kata Papanya Jean.


"Jangan panggil Tuan, Om. Panggil saja Albert. jeanny, jangan gugup ya," ucap Albert, saat melihat wajah Jeanny yang terlihat gugup memandang ke arah kantor polisi.


"Jean tidak pernah masuk kedalam kantor polisi Pak," kata Jeanny pada Albert.


"Jangan panggil bapak ah..! Panggil saja Mas, kak atau Abang juga bisa. Saya masih muda," ucap Albert sembari tersenyum.


"Iya Mas," sahut Jeanny.


"Nanti, apa yang ditanyakan oleh polisi jawab saja yang Jeanny ketahui. Dan jika tidak tahu, jawab saja tidak tahu," kata Albert pada Jeanny.


"Ayo." Albert berjalan didepan bersama dengan Andre, Papanya Jeanny. Sedangkan Jeanny berjalan dibelakang dengan sedikit menundukkan wajahnya. Jeanny yang biasanya tidak ada takut dengan apapun, kini ada rasa takut dalam dirinya. Karena dia belum pernah menginjakkan kakinya didalam kantor polisi.


"Seperti penjahat saja, masuk kekantor polisi." suara hati Jeanny.


Jeanny dan Albert masuk kedalam, sedangkan Papanya menunggu di ruang tunggu.


Satu jam berada didalam kantor polisi, akhirnya ketiganya keluar meninggalkan kantor polisi.


"Ah.. akhirnya, aku keluar juga dari dalam kantor polisi. Kenapa aku merasa seperti penjahat saja, yang baru menghirup kebebasan. Andi, entah itu namamu yang sebenarnya atau tidak. Aku berharap kau akan meringkuk di jail sebentar lagi, karena gara-gara kau kakiku ini menginjakkan kantor polisi." batin Jeanny.


"Sekarang, kita tunggu kabar dari polisi om. Semoga saja secepatnya kita akan menerima kabar baik dari pihak kepolisian." tutur Albert.


"Terima kasih Nak Albert," ucap Papanya Jeanny.


"Sama-sama Om, dan Jeanny. Sudah lega kan? tidak menakutkan gitu berada dalam kantor polisi kan?" tanya Albert pada Jeanny.


"Takut Mas, walaupun polisinya baik-baik dan ganteng-ganteng lagi. Tapi, entah Kenapa. Yang namanya kantor polisi sangat menakutkan, kesannya," jawab Jeanny.


"Polisinya ganteng-ganteng ya, tapi jangan didepan Agra. Puji polisinya ganteng ya," ujar Albert bernada godaan pada Jeanny.


"Ih.. Mas Albert." Jeanny malu diingatkan dengan apa yang dikatakannya mengenai polisi ganteng yang ada di kantor polisi.


"Takut, tapi masih sempat mengagumi polisi ganteng," ujar Papa Jeanny pada putrinya.


"Cuci mata Pa." balas Jeanny.


πŸ‚πŸ‚


Di satu rumah, pria yang bernama Andi sedang mondar-mandir menunggu kedatangan seseorang. Sesekali tangannya menyibak tirai dan mengintip keluar.


"Ah..! aku seperti buronan saja." pekik kesal Andi dengan menendang apa yang ada didekatnya.


"Kemana dia? kenapa dia belum datang juga? apa mungkin dia akan menipuku. Awas kau Yulia, aku akan membawamu masuk penjara. Jika aku sampai ketangkap oleh polisi..! Jika tidak karena kau sahabatku dan aku banyak berhutang budi padamu. Aku tidak akan mau membantumu, sialan kau Yulia..!" umpatan-umpatan terus meluncur dari dalam mulut Andi.


Ting tong...ting tong..


Bel, rumah Andi berbunyi. Andi gegas menuju jendela dan mengintai keluar, untuk melihat siapa yang berada didepan pintu rumahnya.


"Andi..,!" suara Yulia terdengar memanggil namanya.


Andi bergegas membuka pintu dan menarik tangan Yulia untuk masuk kedalam rumahnya.


"Pelan-pelan, apa kau ingin membuat aku jatuh..!" seru Yulia yang hampir telungkup, karena Andi menarik tangannya tiba-tiba.


"Mana uangnya, aku akan pergi dari kota ini," kata Andi.


"Kau itu begitu bodo..! kenapa bisa diikuti oleh orang, dan perempuan itu selamat..!" semprot Yulia.


"Lagipula, kenapa kau membawanya pulang. Kenapa tidak langsung kau jual saja..!" Yulia kembali memarahi Andi.


"Awalnya, tapi aku beri pesan padamu untuk membawanya pergi jauh. Kau, tidak membaca pesanku. Entah sedang apa kau dengan perempuan itu..!" sergang Yulia kesal pada Andi.


"Apa kau mengenali pria yang menyelamatkannya? bukan Yudha kan?" tanya Yulia.


"Aku tidak mengenalinya, aku pastikan. Itu bukan suamimu, walaupun aku belum pernah bertemu dengan suami. Tapi, aku pernah melihat wajah suamimu dari media sosialmu," kata Andi.


"Ciri-cirinya?" tanya Yulia.


"Pria itu sangat tinggi dan terlihat dari wajahnya, dia bukan Indonesia asli."


"Siapa orang itu?" gumam Yulia.


Yulia membuka tasnya, dan memberi uang kepada Andi.


"Ini, pergilah. Tinggalkan kota ini, jangan Kembali dulu ke sini." titah Yulia pada Andi.


"Terima kasih." Andi mengambil uang yang diberikan oleh Yulia dan memasukkannya kedalam saku bajunya.


"Kau mau kemana?" tanya Andi, saat Yulia beranjak menuju pintu keluar.


"Aku harus kerja, aku tidak sepertimu yang hidup dibawah ketiak wanita." sindir Yulia.


"Kau menghinaku! bagaimana denganmu, kita sama-sama buruk. Kau hamil, tanpa tahu siapa yang telah menanamnya." balas Andi geram, karena Yulia telah menghinanya. Padahal, mereka berdua sama saja.


"Kau..!" Yulia kembali dan mendekati Andi, Yulia ingin memukulnya. Tapi Andi menarik tangan Yulia, sehingga tubuhnya Yulia terbentur dengan tubuh Andi.


"Kau ingin menamparku! kau harus aku beri pelajaran..!"


Andi langsung mengangkat tubuh Yulia, dan membawanya masuk kedalam kamar.


"Lepaskan aku! kurang ajar kau Andi..!" pekik Yulia terdengar dari luar kamar.


"Kita bermain-main Yulia..!" seru Andi.


Brengg...


Andi mengoyak baju Yulia, sehingga tubuh mulus Yulia terpampang jelas didepan mata Andi.


"Kau biadab Andi! aku sedang hamil..!" seru Yulia seraya meronta-ronta, agar terlepas dari Kungkungan tubuh Andi.


"Jangan sok suci Yulia, di malam sebelum pernikahanmu saja kau masih mengerang kesenangan dibawah tubuhku..!" seru Andi yang sudah tidak berbusana, begitu juga dengan Yulia. Hanya kain segitiga minim yang menutupi tubuhnya yang sudah kelihatan membuncit.


"Kau semakin menggairahkan Yulia."


"Jangan Andi, kau akan menyesali ini semua..!" seru Yulia yang berusaha untuk turun dari ranjang.


"Tidak akan ada penyesalan Yulia, ini kado akan kepergian ku dari kota ini," ujar Andi seraya menarik segitiga minim Yulia, setelah segitiga minim lepas. Andi merenggangkan kedua pahanya Yulia dan langsung menancapkan Tuan perkasanya dengan kasar.


"Awww..!" pekik Yulia.


"Terima kadoku sebelum aku meninggalkanmu..!" seru Andi yang dengan kasar bermain-main di atas tubuh Yulia.


"Pergi kau Andi..!" Yulia berusaha untuk melepaskan penyatuan yang dilakukan Andi dengan kasar.


Tetapi, tubuh Andi seperti ada lem. Tidak bergeser dari atas tubuh Yulia.


"Tenang Yulia, nikmati saja dulu. Nanti, aku pergi meninggalkan kota ini. Kau pasti akan rindu dengan permainan ini." gumam Andi dengan terus bergerak liar di atas tubuh Yulia.


Umpatan dari dalam mulut Yulia berhenti, Yulia larut dalam permainan yang dilakukan oleh Andi. Kini, kedua lupa dengan sekitarnya. Yulia lupa dengan dirinya yang sedang hamil, Andi lupa dengan ketakutan akan kasus yang membelitnya saat ini. Yang ada sekarang ini, memuaskan napsu yang berkobar.


...πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€...


...Bersambung...