
Happy reading 😍
🌹🌹🌹
Begitu keluar dari dalam rumah sakit, Agra berjalan cepat menuju tempat mobilnya terparkir. Karena, ponselnya sudah penuh dengan pesan yang masuk dari sekretarisnya Jerry.
Agra menghentikan langkahnya, dan menoleh kearah Jeanny yang ragu mengikuti Agra menuju mobil Agra terparkir.
"Cepatlah, kenapa jalanmu lambat sekali seperti siput saja. Dasar kaki pendek...!" seru Agra kesal, karena Jeanny berjalan sangat lambat di mata Agra. Sedangkan Agra berjalan sangat cepat, kaki Agra yang panjang membuat langkah Agra lebar.
"Pak, saya pulang sendiri saja. Oma tidak kan tahu, anda tidak perlu mengantarkan saya pulang," kata Jeanny menolak untuk pulang bersama dengan Agra. Jeanny juga tidak nyaman berdua didalam mobil dengan pria yang menurut Jeanny sangat arogan.
"Naik, jangan banyak bicara," titah Agra dengan suara sedikit keras.
"Huh.. kenapa dia memaksa, tadi dia menolak. Kini dia memaksaku untuk ikut dengannya, dasar laki-laki Eskimo. Dingin." gumam Jeanny yang kesal, karena dipaksa oleh Agra.
"Saya pulang sendiri saja." Jeanny tetap kekeuh ingin pulang sendiri.
"Jangan membuat aku marah ya...! kita masih berada di area rumah sakit. Apa kau tidak tahu, Oma mungkin saja melihat kita," kata Agra.
Jeanny mengitari pandangannya, ke area rumah sakit. Dia mencari-cari keberadaan Oma Gracia, apa benar seperti yang dikatakan oleh laki-laki tersebut. Bahwa Oma mengintai mereka.
"Tidak ada, Oma masih berada di dalam rumah sakit. Bapak bohong kan," kata Jeanny.
"Kau itu bodo sekali, bukan Oma yang mengintai. Mungkin Mama yang diperintahkan Oma untuk mengintai kita, cepatlah.." titah Agra, agar Jeanny masuk kedalam mobil.
"Dasar manusia Eskimo! enak saja dia mengatakan aku bodoh." geram Jeanny, karena Agra mengatakan dia bodoh.
"Aku bodoh! dia gila." gumam Jeanny.
Dengan terpaksa dan langkahnya yang gontai, Jeanny menuju mobil Agra. Dan ketika Jeanny ingin membuka pintu bagian belakang, karena Jeanny tidak ingin duduk berdampingan dengan Agra.
Dan..
"Hei..! kenapa kau duduk dibelakang? apa kau kira kau itu Nona besar? dan aku sopir mu?" tanya Agra dengan suara yang datar, seraya menatap wajah Jeanny.
"Sial..! padahal aku tidak ingin duduk didepan bersama dengannya, bisa-bisa aku beku berada didekatnya." suara hati Jeanny.
Jeanny membuka pintu bagian depan, kemudian masuk kedalam mobil. Dalam mobil, Jeanny menatap keluar jendela kaca mobil.
Agra melajukan mobilnya, tetapi tidak melihat Jeanny memasang seat belt.
"Pasang seat belt! apa kau tidak pernah naik mobil? sehingga tidak tahu, setiap naik mobil harus mengenakan seat belt," ucap Agra dengan sinis.
"Kenapa semua ucapan yang keluar dari mulutnya begitu pedas! mungkin Tante Alma dulu ngidam cabe rawit level sepuluh, sehingga setiap kata yang yang keluar dari mulutnya sangat menyengat didengar. Dalam mulutnya hanya kata-kata yang pedas semua. yang ada." dalam benak Jeanny. Benar-benar kesal, mendengar apa yang dikatakan oleh Agra.
"Jika kau tidak mau menggunakan seat belt, jangan salahkan aku. Jika otak bodo mu itu akan semakin terbelakang, karena mungkin saja. Mobil ini akan menghantam mobil didepan, dan kepalamu itu terbentur dasboard mobil," ujar Agra.
"Maaf ya Pak, saya tidak pernah naik mobil. Karena kemana-mana saya itu naik pesawat." balas Jeanny dengan nada suara yang kesal terdengar, oleh gendang telinga orang yang mendengarnya. Dan kini, ucapan Jeanny telinga Agra yang mendengarnya.
Tapi.
Agra tidak menanggapi perkataan Jeanny, dia menekan pedal gas mobilnya dengan dalam. Sehingga, mobil yang dikemudikan oleh Agra meluncur dengan kecepatan yang lumayan tinggi.
Jeanny yang takut dengan mobil yang kencang, matanya terpejam. Kedua tangannya saling meremas.
Mulutnya komat-kamit membaca doa keselamatan, untuknya.
"Apa laki-laki ini ingin membuat aku kena serangan jantung, laki-laki ini sudah kehilangan akal sehatnya." suara hati Jeanny.
Tiba-tiba, mobil yang baru meninggalkan rumah sakit selama 5 menit berhenti tiba-tiba.
"Sudah sampai, cepat sekali?" gumam Jeanny, karena matanya terpejam.
Jeanny sontak membuka matanya, saat mendengar suara Agra yang menyuruhnya untuk keluar dari dalam mobilnya. Karena dia mengira sudah sampai didepan rumahnya.
"Sudah sampai? aku belum mengatakan alamat rumahku." batin Jeanny.
Begitu matanya terbuka, Jeanny melihat mobil berhenti didepan halte yang terlihat sepi. Hanya ada beberapa orang yang sedang menunggu bus yang yang akan berhenti di halte.
"Halte?" heran Jeanny, karena Agra menghentikan mobilnya didepan halte.
"Turun! aku sudah mengikuti permintaan Oma untuk mengantarmu," ujar Agra.
"Rumahku bukan di halte..!" seru Jeanny sembari menatap wajah Agra.
"Aku tidak perlu tahu di mana rumahmu, ingat Nona. Jangan berharap kau bisa mendekati aku, aku tidak akan terpikat dengan tipu muslihat rendahan mu. Apa kau kira dengan cara kau mendekati Oma, aku bisa terpikat denganmu. Walaupun kau tanpa busana di depanku, kau tidak akan bisa menggoyahkan imanku. Sekarang, silakan turun." perintah agra, agar Jeanny turun dari dalam mobilnya.
Jeanny terpaku, mendengar ucapan Agra yang menghinanya sangat melukai harga dirinya.
Tuduhan Agra yang bahwa Jeanny ingin memikatnya, sangat tidak berdasar.
Jeanny membuka pintu mobil, dia tidak ingin berada didekat Agra sedetikpun juga. Apa yang dituduhkan Agra itu sangat melukai harga dirinya sebagai seorang gadis.
Jeanny mengeluarkan satu kakinya keluar dari dalam mobil, dia menoleh sedikit menatap Agra yang menatap lurus ke depan.
"Aku tidak pernah mendekati Oma, dan aku juga tidak berminat dengan seorang duda yang arogan sok cool seperti anda..!" selesai berkata, Jeanny turun dari dalam mobil Agra.
Jeanny tidak menutup pintu mobil Agra, karena marah. Dan Jeanny juga memberikan kenang-kenangan dengan memberikan sentuhan yang sangat keras ke mobil Agra dengan tendangan kakinya.
Bug..
"Hei..apa yang kau lakukan?" teriak Agra, karena ujung sepatu Jeanny menendang mobilnya.
Jeanny tidak menanggapi, dia memberikan jempol terbalik kepada Agra.
"Tutup pintunya..!" teriak Agra.
Jeanny menolehkan kepalanya sedikit, dan berkata.
"Aku bukan pembantu..!" seru Jeanny.
Agra mengomel, karena dengan terpaksa dia menutup pintu yang dibuka lebar-lebar oleh Jeanny tadi.
"Dasar gadis tidak sopan, dia tidak cocok menjadi seorang guru..!" omel Agra.
Begitu juga dengan Jeanny, sembari jalan. Mulutnya tidak berhenti mengomel.
"Dasar pria arogan! apa dikiranya dia hebat, sehingga bisa seenaknya saja menghinaku..!"
"Dia menuding aku ingin mendekatinya, pria lajang masih banyak. Untuk apa aku dengan duda sok cool begitu." omel Jeanny.
Mobil yang dikemudikan oleh Agra melaju kencang, melewati Jeanny yang sedang berjalan menuju halte dengan bibir yang komat-kamit
Melihat mobil Agra melewatinya, dengan kesal Jeanny melempar tisu yang berada didalam genggaman tangannya.
Dalam mobilnya, Agra mengomel.
"Aku sudah sangat terlambat, gara-gara gadis gila.."
...🌹🌹🌹...
...Bersambung...