
Jangan lupa untuk beri like Vote dan komentar.
...***...
Begitu Yudha sampai didepan Agra Barend, Boss Nya. Mata Yudha melebar sempurna, saat melihat siapa yang ada di samping Agra. Begitu juga dengan Jeanny.
Degh...
Dua hati anak manusia yang masih ada cinta, kini berdetak kencang. Yudha gemetar, badannya lemas. Walaupun Jeanny memakai make-up yang tidak pernah dilihat oleh Yudha, tapi dia mengenali wajah kekasih hatinya itu.
"Mas Yudha, apa dia kenal dengan Agra?" pertanyaan dalam benak Jeanny.
Yudha menyalami Agra Barend, tapi matanya menatap Jeanny.
"Selamat Tuan," ucap Yudha dengan suara yang sangat pelan, tetapi matanya menatap sang pengantin wanita.
"Terima kasih," sahut Agra.
Apa yang terjadi antara Jeanny dengan Yudha. Luput dari pandangan matanya Agra, karena Agra berbincang-bincang dengan tamu undangan yang mengucapkan selamat padanya.
Dengan langkah yang berat, tubuh Yudha bergeser kearah Jeanny. Tangan Yudha terulur menyalami Jeanny dan Jeanny menyambut uluran tangan Yudha. Tangan Yudha yang dingin menggenggam erat tangan Jeanny dengan kedua tangannya.
"Selamat," ucap Yudha dengan suara nyaris tak terdengar.
"Selamat," ucap Yudha kembali dengan suara yang bergetar.
"Terima kasih." balas Jeanny seraya menatap wajah Yudha dengan lekat, dia melihat sudut mata Yudha berembun.
"Maaf Mas Yudha, kita tidak mungkin bersama lagi. Sakit yang mas torehkan sangat membekas dalam ingatan dan hati Jean. Berbahagialah mas Yudha. Istrimu adalah jodohmu." yang hanya mampu Jeanny ucapkan dalam batinnya.
Yudha melepaskan tangan Jeanny dengan pelan, berat rasanya dia melepaskan tangan Jeanny.
Yudha melangkah dengan gontai menuju Papa dan Mama Jeanny.
"Selamat Om," ucap Yudha.
Papa Jeanny menarik Yudha kedalam pelukannya, dengan erat dia memeluk pemuda yang hampir menjadi menantunya.
"Kau harus mencari kebahagiaan mu, lepaskan Jeanny." nasihat Papa Jeanny seraya memeluk Yudha dan menepuk-nepuk pundak Yudha, bagaimanapun. Dia mengenal Yudha sudah cukup lama. Dan dulu, dia sangat menyukainya. Karena Yudha sangat bisa berbaur dengan keluarga Jeanny.
Yudha hanya menganggukkan kepalanya.
"Selamat Tante, maafkan Yudha," ucap Yudha pada Amira, Mama Jeanny.
"Iya, maafkan Tante juga ya. Kita tak berjodoh menjadi menantu dan mertua," ucap Mama Jeanny sembari memegang kedua bahu Yudha, yang terlihat sangat rapuh.
Setelah selesai menyalami orangtuanya Jeanny, Yudha turun dari pelaminan. Dan tanpa melihat kiri-kanan, Yudha langsung keluar dari dalam ballroom tempat pesta. Dia melupakan Alex, temannya yang datang bersama dengannya tadi.
Sampai didekat mobilnya, Yudha masuk. Dan langsung menumpahkan kesedihannya.
"Kenapa..! Kenapa Jean! kenapa kau menikah? kenapa kau tidak menunggu aku berpisah dengan wanita itu..!" ratap Yudha dalam mobilnya, dia memukul-mukul stir mobilnya.
"Aku sudah kehilanganmu Jean! aku sudah kehilanganmu..!" air mata menetes dari kedua sudut bola matanya, dia tidak perduli dengan pandangan mata orang jika melihat dia menangis.
Yudha menghidupkan mesin mobilnya, dan kemudian melajukan kendaraannya.
Dalam ballroom
Sepeninggal Yudha, Jeanny melamun jika tidak ada tamu undangan menghampirinya untuk memberikan selamat.
"Hei..! kenapa diam? apa kau lapar?" Agra menyikut lengan Jeanny.
Jeanny menggelengkan kepalanya.
"Apa masih lama? aku sudah sangat letih," ujar Jeanny.
"Apa kau letih?" tanya Agra, karena melihat Jeanny selalu mengurut pahanya dan melepaskan high heels yang dipakainya jika sedang dalam posisi duduk.
"Iya, aku ingin baring di ranjang. Mataku sepertinya sudah akan redum, punggung dan kakiku tidak bisa dikatakan lagi," ujar Jeanny.
"Kalau tidak terbiasa pakai sepatu high heels, untuk apa dipaksakan," ujar Agra sembari melirik Jeanny yang kembali memakai sepatunya, saat ada tamu yang datang menghampiri mereka.
Albert dan Michael bergegas kembali, dan langsung menempati kursi yang ada didekat Eva yang sedang asik berbincang-bincang dengan Jamie.
"Aku bosan melihat kalian berdua, dengan Pak kapten sangat mengasikan. Wawasanku semakin bertambah." balas Eva.
"Jam, jangan dengarkan apa yang dikatakan oleh Eva. Eva bicara, diantara sepuluh yang dikatakannya. Delapan itu bohong semua, hanya dua yang benar." tutur Michael.
"Punya teman menjatuhkan teman sendiri " kesal Eva.
"Tidak apa-apa Va, aku tahu, mereka itu pasti sedang mengerjai mu. Sesama teman sering dilakukan, aku juga sering melakukannya pada temanku," kata Jamie.
"Tapi mereka sangat menyebalkan Pak kapten," ucap Eva.
"Pak kapten." kembali Michael meledek Eva.
"Va, kan sudah saya katakan. Jangan panggil Pak kapten, panggil saja Jamie."
"Mulutku sudah terbiasa menyebut Pak kapten dalam setiap doa malam ku."
"Biarkan saja Pak kapten, dia sudah menjadi bucin sejak lama kepada Pak kapten. Untung Pak kapten belum punya gandengan yang resmi." ledek Albert yang kali ini meledek Eva dan memanggil Jamie dengan Pak kapten.
"Cukup bahas aku, dari mana saja kalian. Baru kelihatan batang hidung kalian berdua?" tanya Eva pada Albert dan Michael.
"Kami diluar, cari-cari gadis yang masih fresh. Belum terkontaminasi dengan make-up yang tebal," ujar Albert.
"Apa ketemu?" tanya Eva, yang tahu arah dari pembicaraan Albert.
"Dapat satu, sudah kami amankan," jawab Michael.
"Albert, bagaimana dengan kasus penculikan Jeanny? apa sudah ada titik terang?" tanya Jamie.
"Polisi belum ada menginformasikan, dari hasil penyelidikan anak buahku. Pria itu sudah meninggalkan kota ini," kata Albert.
"Itu berarti, Jeanny belum aman untuk keluar rumah sendirian," ucap Jamie.
"Tenang saja, sekarang. Jeanny sudah menjadi tanggung jawab Agra, dia tidak akan membiarkan Jeanny mengalami hal itu lagi," kata Albert.
"Apa kalian tidak ada mencurigai istri dari mantan Jeanny?" pertanyaan Eva membuat ketiganya saling pandang.
"Kau tahu?" tanya Albert mengenai mantan kekasih Jeanny.
"Pak kapten sudah menceritakan tadi," jawab Eva.
Saat berbincang-bincang tadi, Jamie sempat menceritakan sedikit kisah cinta sang adik yang gagal menikah.
"Mungkin saja, ada kecemburuan. Karena mantan adikku itu masih sering menghubungi dan menemui Jeanny," kata Jamie.
"Nah...betulkan, jangan lupakan. Wanita yang cemburu itu, bisa saja melakukan hal-hal yang kejam." timpal Eva.
"Ternyata, otakmu bermaafan juga." ledek Michael.
"Memang otakmu, otak second." balas Eva.
Jamie dan Albert hanya dapat menggelengkan kepalanya, melihat tingkah Michael dan Eva seperti kucing dan anjing.
Satu jam kemudian, Jeanny meninggalkan ballroom. Lokasi resepsi, karena kedua kakinya sudah tidak bisa menanggung beban tubuhnya. Berkali-kali Jeanny hampir jatuh, jika Agra tidak sigap. Jeanny mungkin Jeanny sudah mempermalukan dirinya sendiri.
"Akhirnya..!" Jeanny langsung merebahkan tubuhnya telentang di atas ranjang.
"Mama, boleh Lisa baring juga?" tanya Lisa yang ikut dengan Jeanny.
"Ayo sini." Jeanny menepuk-nepuk ranjang di sampingnya.
Lisa langsung naik dan merebahkan tubuhnya, seperti Jeanny.
"Mama, apakah kami boleh ikut rebahan juga," ucap Bella dengan memakai suara anak kecil.
"Najis, kalau kalian berdua anakku.!" seru Jeanny sembari melempar kedua temannya yang berdiri di sisi ranjang dengan guling yang dipeluknya.
...****...
To be continued