
Tekan tombol like ya kakak reader 🙏
...****...
Jeanny melihat banyak tamu yang mengambil gambar mereka dengan camera ponsel. Jeanny langsung mengembangkan senyum di bibirnya.
"Ah..! kenapa aku lupa." ngedumel Jeanny dalam hati.
Didepan, Lisa berjalan dengan membawa bunga. Senyum senang selalu terukir di bibir mungil, akhirnya. Jeanny menjadi Mamanya.
Sampai di pelaminan, Lisa duduk di antara Jeanny dan Agra.
"Apa sekarang Lisa sudah boleh memanggil Miss Jeanny dengan panggilan Mama?" tanya Lisa sambil menatap Jeanny dengan mata kecilnya.
"Boleh sayang, Miss Jeanny sekarang sudah menjadi Mama Lisa," jawab Jeanny.
"Hore..!" Lisa langsung gembira dan loncat-loncat kecil didepan Jeanny.
"Terima kasih Papa.." Lisa memeluk Agra.
"Lisa senang?" Agra mengurai pelukannya dan menatap wajah putrinya.
"Senang, akhirnya. Lisa punya Mama, seperti teman-teman Lisa yang lain," jawab Lisa .
"Mama, Lisa senang sekali. Sekarang, Mama bisa tidur dengan Lisa," ucap Lisa sembari memeluk Jeanny dengan erat.
"Bisa sayang, Mama setiap malam akan menemani Lisa tidur."
"Sungguh?" tanya Lisa dengan mata berbinar-binar menatap Jeanny.
"Sungguh, Mama tidak bohong."
"Apa dia tidak ingin tidur satu kamar?" dalam benak Agra.
"Lisa sayang Mama," ucap Lisa.
Para tamu sudah mulai berdatangan, Agra dan Jeanny berdiri dan menyalami tamu yang mengucapkan selamat kepada mereka.
"Kenapa banyak sekali tamunya, apa seluruh Indonesia di undang?" tanya Jeanny pada Agra.
"Itu semua tamu dari rekan-rekan Papa, dan klien perusahaan. Teman Oma dan Mama," jawab Agra.
"Berapa banyak tamu yang di undang, keluargaku hanya 50 orang. Itu juga kami merasa sudah banyak sekali," kata Jeanny.
"Mungkin 2000 orang, urusan undangan Oma dan Mama yang handle," kata Agra.
"Apa!? 2000? sampai berapa lama kita menyalami 2000 orang?" Jeanny mendudukkan bokongnya, tubuhnya lemas seketika, setelah mendengar undangan yang disebar oleh keluarga Agra.
Wajah Jeanny sedikit ceria, saat melihat Abangnya datang menghampirinya.
"Selamat ya adik Abang yang paling manja," ucap Jamie seraya memeluk Jeanny dan memberikan kecupan di keningnya.
"Abang, bukannya tadi sudah Abang ucapkan selamat?"
"Tadi Abang baru mengucapkan selamat saja, sekarang ini Abang ingin memberikan peringatan kepada pria ini," ujar Jamie dan menepuk pundak Agra.
"Agra, aku serahkan adikku kepadamu. Bukan untuk kau sakiti! jika kau sampai menyakiti adikku ini, Eemm... siap-siap kau, aku akan memberimu hadiah ini." Jamie menunjukkan kepalan tangannya kepada Agra.
"Bagaimana jika adikmu, Jeanny yang menyakitiku?" Agra balik bertanya kepada Jamie.
"Biar kita adil, aku rela kau tinju," sahut Jamie.
Selagi mereka berbincang, rombongan teman Agra. Albert, Michael dan Eva menuju pelaminan untuk mengucapkan selamat kepada Agra dan Jeanny.
Eva, yang melihat Jamie. Sontak gembira, karena pria yang diidam-idamkannya tepat berada didepannya.
"Pak kapten..!" seru Eva, membuat Jamie yang sedang bicara dengan sang adik kaget dan menoleh kearah suara yang memanggilnya dengan panggilan mas kapten.
Semua mata memandang Eva yang begitu surprise, karena bertemu dengan Jamie.
Jamie menatap Eva.
"Apa kita kenal?" tanya Jamie.
"Belum, kita belum berkenalan. Tapi, saya sudah mengenal Pak kapten beberapa tahun yang lalu. Dan saya..." Eva tidak melanjutkan ucapannya, karena dia tidak ingin di cap sebagai perempuan penggoda.
"Apa Jamie pria yang dikatakan oleh Eva?" batin Agra.
Albert dan Michael juga merasa curiga, bahwa pria yang telah membuat seorang Eva yang cuek dengan para pria jatuh cinta adalah Abang Jeanny.
"Beberapa tahun yang lalu? aku tidak ingat," ujar Jamie.
"Wow, kalau mau ngobrol. Jangan di sini, lihat tuh . antrian orang mau beri selamat sudah panjang," ujar Michael yang berdiri dibelakang Eva.
"Adik saya," sahut Jamie.
"Adik," ujar Eva.
"Va, turun. lihat, banyak yang antri." bisik Albert.
"Maaf...maaf guys," ucap Eva dengan suara yang sedikit keras.
"ini cewek, aneh ." batin Jamie.
"Ayo Pak kapten." Eva menarik tangan jamie mengajaknya turun.
"Ee..aku mau dibawa kemana?" protes Jamie, karena Eva menariknya tanpa permisi padanya.
Eva tak perduli, dia terus menarik tangan Jamie.
"Gila itu si Eva, main tarik tangan orang saja," ujar Michael.
"Selamat ya," ujar Michael dan Albert dengan buru-buru, karena antrian semakin panjang gara-gara ulah Eva.
Di luar gedung hotel.
Maharani berdiri bersama dengan dengan Mikaela yang berdandan gaya berpakaian style Malika, gaun terusan panjang yang sangat disukai Malika sehari-harinya.
"Tutupi wajahmu dengan kerudung ini." Maharani mengeluarkan selendang dari dalam tasnya, memberikannya kepada Mikaela.
"Untuk apa aku tutupi, bukannya seharusnya Agra melihat wajahku agar dia mengejarku." Mikaela membuang selendang yang diberikan oleh Maharani, dan gegas dengan setengah berlari meninggalkan Maharani.
"Malika..!" pekik Maharani seraya mengejar Mikaela, tapi. Langkah Mikaela sudah jauh meninggalkan langkah kaki Maharani yang sudah mulai sepuh.
"Kurang ajar..! bisa-bisanya dia menipuku, awas kau Mikaela. Jika kau sampai mengkhianati aku seperti yang dilakukan oleh Malika, kau akan menemani saudara kembar mu itu didalam lautan," ucap Maharani dengan geram.
Mikaela terus menuju tempat ballroom hotel tempat pesta diadakan, dia tidak menyadari keberadaannya sudah menjadi pengamatan beberapa pasang mata.
"Boss, gadis yang mirip dalam gambar ada dalam hotel. Sepertinya dia ingin menuju ballroom." laporan anak buah Albert pada Albert, melalui sambungan telepon.
"Amankan dia." titah Albert.
"Baik Boss."
Anak buah Albert memberi tanda pada rekannya yang berjalan dibelakang Mikaela, dan tiba-tiba.
Bugh..
"Aa.a.h..!" pekik Mikaela, saat merasakan punggungnya terasa dingin.
"Maaf..maaf Nona, saya tidak sengaja," ujar pria yang tersandung dan minuman yang dipegangnya jatuh menerpa punggung Mikaela, dan gaun Mikaela basah.
"Dasar laki-laki bodo..! kalau tidak biasa jalan didalam hotel, kenapa kau masuk hotel..!" seru Mikaela kesal.
"Maaf Nona." laki-laki itu menangkupkan kedua tangannya didepan dadanya, mohon maaf pada Mikaela.
"Aahrg..!" geram Mikaela.
Mikaela bergegas menuju toilet, untuk membersihkan gaunnya yang terkena minuman dingin. Dua anak buah Albert mengikutinya dari belakang. Tiba didepan toilet, Mikaela meradang saat melihat tulisan didepan pintu toilet.
"Hotel besar, tapi. Toilet saja rusak." kesal Mikaela.
"Nona mau ke toilet?" tanya seorang wanita pada Mikaela.
"Iya Bu, baju saya basah," jawab Mikaela.
"Kalau basah begitu, lebih baik Nona minta izin untuk mengeringkannya di ruang istirahat pekerja hotel. Di toilet, tidak ada hair dryer," ucap wanita tersebut.
"Di mana ruang istirahat para pekerja hotel Bu?" tanya Mikaela.
"Ayo Nona, saya antarkan."
Wanita tersebut membawa Mikaela kebagian belakang hotel.
"Ini Nona, masuk saja. Saya tadi baru mengeringkan gaun saya yang basah."
"Terima kasih Bu." lalu kemudian Mikaela masuk, dan pintu tertutup dengan sendirinya.
Wanita yang mengantarkan Mikaela mengeluarkan ponselnya.
"Aman."
...****...
To be continued