
Happy reading ๐
...๐น๐น๐น...
"Dok, katakan pada Nona bar-bar itu. Apa yang terjadi padaku, akibat tindakannya itu yang telah merugikan kesehatan alat produksi ku ini." titah Agra pada Jerry yang menyamar sebagai seorang dokter.
"Dokter, jangan percaya apa yang dikatakan pria hidung belang itu. Pria itu yang telah melecehkan, karena itu. Aku menendang alat produksinya," kata Jeanny.
"Aku melakukan pembelaan diri, kalau tidak aku menendangnya tadi. Mungkin saja aku telah diperkosanya, dokter! dokter harus percaya padaku, dia. Pria hidung belang..!" seru Jeanny dengan suara yang berapi-api.
"Apa yang harus aku katakan? ah pusing aku memikirkannya, Tuan Agra ini. Bisa-bisanya dia ingin mengerjai gadis itu." batin Jerry.
"Bagaimana jika kita saling lapor? kau, laporkan aku. Dan aku akan melaporkan mu, impas kan," ucap Agra.
"Bagaimana, jika kita damai saja?. Bukannya damai itu indah," ujar Jeanny yang sudah mulai lunak.
"Bagus itu." Jerry menimpali ucapan Jeanny.
Jeanny melangkah mendekati Agra, dan berdiri tegak. Seperti sedang mengikuti upacara bendera.
Kemudian.
"Saya, Jeanny Anastasia minta maaf telah membuat ITU Nya Tuan Agra Barend lumpuh," ucap Jeanny dengan bersungguh-sungguh.
Jerry hanya tersenyum dalam hati, sedangkan Agra memicingkan matanya menatap Jeanny.
"Baiklah, aku akan memaafkan. Tapi, jika INI ku belum bisa normal, aku akan mencari mu. Dan, kau yang harus menyembuhkannya. Kau jangan mencoba menendangnya lagi, aku tidak akan beri ampun. Jika mengulanginya lagi."
"Dan kau juga, jangan berani mencium ku..!" balas Jeanny.
"Aku boleh pulang?" tanya Jeanny.
"Aku akan mengantarmu," ujar Agra.
"Tidak, aku tidak kembali ke sekolah. Anak-anak murid juga sudah pulang, ah..aku bolos." kesal Jeanny.
"Aku akan mengantarmu." titah Agra tidak ingin dibantah.
"Ahh.. kenapa kau suka memaksa," ucap jengkel.
๐น๐น
Jamie keluar dari dalam bandara, satu tangannya mengotak-atik ponselnya. Sedangkan satu tangannya menarik kopernya.
Bugh..
Karena terlalu fokus dengan ponselnya, Jamie tidak lihat jalan dan tubuhnya menabrak tubuh orang yang membelakanginya.
"Aduh..!"
Jamie menabrak tubuh seorang wanita, dan wanita tersebut jatuh tertelungkup.
"Maaf..maaf..!":seru Jamie seraya membantu wanita yang ditabraknya berdiri.
"Badanku sebesar ini kenapa tidak kelihatan?" Wanita yang ditabrak Jamie menepis tangan Jamie yang ingin menolongnya, wanita tersebut duduk dilantai bandara. Tangannya mengelus jidatnya yang mencium lantai.
"Maaf nyonya, jika ada yang sakit biar saya antar ke rumah sakit," ucap Jamie.
"Nyonya, hei..! Aku bukan Nyo.." mata wanita yang ditabrak Jamie bulat sempurna, saat matanya melihat siapa yang telah membuat tubuhnya telungkup dilantai bandara. Dan telah menjadikannya tontonan gratis.
"Pak kapten..!" gumamnya, Mata Eva. Wanitaย yang telah ditabrak Jamie berbinar-binar melihat Jamie, seperti melihat tumpukan berlian didepannya.
"Maaf Nona, saya tidak waspada. Sehingga membuat anda cedera," ujar Jamie.
Eva, hanya diam dengan mulut terbuka menatap wajah Jamie. Sehingga membuat Jamie jengah dengan pandangan mata wanita yang ditabraknya tadi.
"Hai Nona..! hai..!"ย Jamie menggoyang tangannya didepan wajah Eva yang termangu menatapnya.
"Hah..!" Eva tersadar dari termangu.
"Anda tidak apa-apa? apa ada yang sakit? ayo Nona, kita ke rumah sakit," kata Jamie.
"Tidak Pak kapten, tidak ada yang sakit. Ternyata, tabrakan membawa berkah." gumam Eva seraya terus menatap Jamie.
"Ayo Nona." Jamie mengulurkan tangannya, untuk membantu Eva berdiri.
Eva menyambut uluran tangan Jamie untuk membantunya berdiri.
"Terima kasih," ucap Eva.
"Betul, tidak ada yang sakit Nona?" tanya Jamie.
"Tidak ada Pak kapten, saya Evalia Pak kapten. Panggil saja Eva." Eva menyebutkan namanya.
"Maaf ya, saya telah menabrak Eva tadi. Sampai terjatuh," kata Jamie.
"Hah..!" mulut Jamie membola.
"Gadis yang aneh, senyum-senyum lagi. Di tabrak bukannya marah, minta di tabrak lagi. Ini tersenyum seperti orang gila, apa gadis ini ada kelainan?" batin Jamie.
"Maaf Nona, jika tidak ada yang perlu saya bantu lagi. Permisi." Jamie kemudian berlalu dari hadapan Eva.
"Pak kapten, aku rela kau tabrak lagi..!" seru Eva dengan suara yang lantang.
Jamie menoleh, tapi tidak menanggapi ucapan Eva.
"Ah.. kenapa aku tidak tanyakan tadi, apa dia sudah menikah apa belum? tapi, aku tidak melihat ada cincin nikah. Semoga dia masih single, dan gadis yang aku lihat bersama itu sudah putus." gumam Eva.
"Ih.. kenapa pikiranku sangat jahat."
Eva memutar tumitnya menuju arah terminal kedatangan, dan tiba-tiba. Matanya membesar..
"Malika!?"
Eva berlari mengejar wanita yang mirip dengan Malika, sampai keluar dari dalam bandara.
"Di mana dia? itu pasti Malika, tapi dia sudah mati. Apa mungkin Malika ada kembarannya? atau itu hantu. Aku harus menceritakannya pada Agra, tidak. Aku tidak akan menceritakannya pada Agra, aku cerita pada Michael dan Albert saja." Eva mengambil keputusan tidak akan menceritakannya kepada Agra, karena dia ingin. Agra benar-benar terlepas dari Malika.
Dalam mobil, orang yang di kejar oleh Eva membuka rambut palsunya dan kacamata yang bertengger di atas hidungnya.
"Ah..! aku bosan, sampai kapan aku harus terlepas dari ini semua. Letih, harus selalu menjadi pion." gumamnya.
"Kita langsung ke villa Non Mika?" tanya sang sopir.
"Iya Pak, bangunkan saya. Jika sudah sampai, penerbangan yang sangat melelahkan." gumamnya dengan mata terpejam.
"Kasihan Non Mika." batin sang sopir.
๐น๐น
Dengan terpaksa, Jeanny pasrah. Agra mengantarnya sampai di rumah.
"Stop..!" titah Jeanny.
"Terima kasih." tanpa menunggu Agra membalas ucapannya, jeanny pintu mobil lalu keluar.
"Hei kenapa kau ikut turun?" Jeanny melihat Agra keluar dari mobilnya.
"Aku mau berkenalan dengan orangtuamu," sahut Agra.
Agra berdiri tegak didepan pintu gerbang rumah Jeanny.
"Tidak boleh! hus..hus..pulang sana..!" seru Jeanny, seperti mengusir ayam.
"Pulang sana..!" Jeanny menarik tangan Agra, untuk masuk kedalam mobil.
Tubuh Agra tak bergerak, walaupun Jeanny sudah sekuat tenaga menariknya.
"Sana pulang! kau tidak diterima di rumahku." usir Jeanny.
"Aku ingin berkenalan dengan keluargamu..!" ucap Agra dengan tegas Agra.
"Aku tidak ingin kau berkenalan dengan orangtuaku, untuk apa?"Jeanny tetap kekeuh menolak keinginan Agra untuk berkenalan dengan keluarganya.
"Apa kata Mama dan Papa nanti, dikira Mama dan Papa. Aku sudah mendapatkan calon pengganti mas Yudha." benak Jeanny.
Agra jalan menuju bel, dan menekannya. Sedangkan Jeanny masih sibuk dengan khayalan dalam benaknya. Lupa dengan Agra.
Pintu gerbang terbuka, terlihat Mama Jeanny yang memakai celemek. Karena, saat bel berbunyi. Amira sedang membuat cemilan untuk sore hari sebagai teman minum teh.
"Selamat siang Tante, kenalkan saya Agra Barend." Agra mengulurkan tangannya, dengan sedikit bingung. Amira, Mama Jeanny menyambut uluran tangan tamu yang belum pernah ditemuinya.
Jeanny tersadar, saat mendengar Agra menyapa Mamanya.
"Hah..! pria gila." gumam Jeanny kesal.
"Mama!" Jeanny mendekati sang Mama, dan mendelik menatap Agra.
"Jean, bawa masuk temannya," ujar Mamanya.
"Dia bukan teman Jean Ma..!"
"Bukan teman? kalau bukan teman, ada hubungan apa dengan putri saya? rekan kerja?" bertambah bingung Amira, Mama Jeanny.
Apa jawaban Agra???๐ค
...๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น...
...Bersambung...