My Daughter'S Teacher

My Daughter'S Teacher
MDT



Jangan lupa untuk menekan tombol like ya kakak-kakak reader šŸ™


...Happy reading...


...****...


Ketika Jeanny ingin menendang Agra kembali, Albert dengan sigap menarik tangan Jeanny. Untuk menjauh dari Agra.


"Lepaskan mas! Jeanny ingin berkelahi ini.." Jeanny meronta ingin melepaskan tangan Albert yang memegang tangannya.


Michael tertawa keras, sampai orang yang melintas tidak jauh dari tempat mereka berada berhenti. Ingin tahu, apa yang terjadi.


"Maaf, bapak-bapak dan ibu-ibu. Tidak ada apa-apa, hanya sedang latihan akting," ucap Michael.


"Bert, lepaskan..!" titah Agra, karena tidak ingin melihat Albert memegang Jeanny. Walaupun, tidak ada cinta didalam hatinya. Dia tidak ingin melihat tubuh Jeanny dipegang pria yang bukan muhrimnya.


Albert melepaskan Jeanny, karena mendapatkan tatapan mata tajam.


"Oke..!" Albert mengangkat kedua tangannya ke atas, sejajar dengan kedua telinganya.


"Mana?" Jeanny mengulurkanĀ  tangannya kepada Agra.


Tangan Agra meraih tangan Jeanny, mengajak bersalaman.


"Agra Barend, Nyonya." Agra menyebutkan namanya.


"Jeanny bukan mau kenalan..!" semprot Jeanny kesal.


"Lalu, apa?" Agra pura-pura tidak tahu, padahal. Dia tahu, apa yang di minta oleh Jeanny.


"Surat perjanjian, yang Abang curi dari dalam tas Jeanny," kata Jeanny.


"Tidak ada, surat perjanjiannya sudah berada ditempat yang aman," kata Agra.


"Kembalikan, Jean akan membakarnya. Perjanjian itu sangat merugikan Jean," kata Jeanny.


"Surat itu sudah ditandatangani oleh kita berdua, tidak bisa dibakar dan diubah ," kata Agra.


"Jean tidak boleh, kenapa Abang boleh? Abang tidak adil..!" ketus Jeanny.


"Jeanny yang mengatakan boleh menambahkan sepuluh point lagi, tadi baru ditambah dua point," ucap Agra.


"Hei..! tidak boleh main kaki, mungkin akan aku tambahkan satu point lagi. Dilarang main tendang," ucap Agra, saat melihat kaki Jeanny ingin menendangnya kembali.


"Kalian pasangan yang unik," ujar Michael yang melihat Jeanny dan Agra.


"Unik..unik..!" gerutu Jeanny dengan mulut menggerutu.


"Untuk apa Jean di suruh ke sini? untuk melihat Abang bernostalgia dengan istri? menyebalkan." bibir Jeanny maju, mata melirik Agra dengan kesal.


"Bert, aku ada urusan. Kau selidik, wanita itu." titah Agra pada Albert.


"Beres, Bro." Albert mengacungkan dua jari jempolnya.


"Agra, aku sarankan. Terus terang kepada Om Abraham, Tante dan Oma. Mungkin mereka bisa membantu mencari siapa dibalik ini semua," kata Albert.


"Iya, akan aku pertimbangkan," jawab Agra.


"Ayo." Agra meraih tangan Jeanny.


"Kita mau kemana?" tanya Jeanny, yang mengikuti langkah lebar kaki Agra dengan setengah berlari.


"Pulang, kita belum pulang sejak semalam. Lisa sudah menunggu kita, Oma sudah mengirimkan pesan berpuluh-puluh kali," kata Agra.


"Terus, istri Abang bagaimana?" tanya Jeanny.


"Di bawa pulang, tidak mungkin aku tinggalkan," sahut Agra.


Jeanny menghentikan langkahnya, dan melepaskan pegangan tangan Agra.


"Jeanny mau pulang ke rumah Papa dan Mama saja, Jeanny bukan pelakor," ujar Jeanny dengan ketus.


"Ayo, pulang. Cukup main drama," ujar Agra, melanjutkan langkahnya.


Tetapi..


"Tidak mau, Jean mau pulang ketempat Papa dan Mama Jeanny saja." Jeanny tetap kekeuh tidak ingin pulang kerumahnya Agra.


"Jeanny bukan pelakor! masih banyak pria singel diluar sana, untuk apa yang masih ada pemiliknya..!" Jeanny tetap bertahan, tidak ingin mengangkat kakinya untuk melangkah.


"Jeanny tidak mau, Jean tidak bisa tinggal bersama dengannya," ujar Jeanny, raut wajah Jeanny sudah berubah. Sebentar lagi, air bening mungkin sudah akan membasahi pipinya.


"Siapa yang menyuruhmu tinggal dengan Malika? Apa kau mau tinggal di dalam laut? tempat peristirahatannya yang terakhir?" tanya Agra.


"Hah..! Abang mau membuang ku? kenapa laki-laki semua jahat..!" akhirnya, air mata Jeanny meluncur. Dia teringat dengan Yudha yang mengkhianati nya. Walaupun, Yudha mengaku di jebak.


"Jean! wanita itu bukan Malika..!" Agra, akhirnya mengatakannya pada Jeanny.


"Hah..!? Jeanny sontak kaget, mendengar ucapan Agra.


"Bukan Malika? bukan Mama Lisa?" Jeanny menatap wajah Agra dengan lekat, mencari apakah ada kebohongan dalam raut wajah Agra.


"Bukan istriku! dia orang lain, yang mempunyai wajah yang mirip." jelaskan Agra.


"Ayo kita pulang, nanti aku ceritakan di rumah." Agra menarik tangan Jeanny.


...***...


Saat Mikaela masih dalam kondisi tidur, Albert dan Michael memasang CCTV di dalam kamar Mikaela.


Michael, menepuk pundak Albert. Saat selesai memasang CCTV dibalik tirai penyekat, antara ranjang dan ruang duduk didalam kamar.


Albert menganggukkan kepalanya, sedangkan dia memasang CCTV di atas ujung ranjang. Setelah selesai, keduanya keluar dari dalam kamar Mikaela.


"Bert, aku yakin. Wanita itu saudara kembar Malika, tidak mungkin ada orang yang sama. Tanpa memiliki tali kekerabatan, orang sering mirip. Tapi, tidak ada yang sama persis," kata Michael.


"Apa kita lakukan test DNA? tapi dengan siapa? keluarganya di Belanda, tapi. Menurut informasi dari orang yang aku suruh menyelidiki latarbelakang perempuan yang bernama Mikaela, dia tidak tinggal dengan keluarganya. Masa lalu Mikaela tidak diketahui." Albert menuturkan, informasi yang didapatnya dari orang suruhannya.


"Dari keluarga Malika ?" tanya Michael.


"Agra hanya mengenal Mamanya, dan itu juga sudah meninggal," jawab Albert.


"Betul-betul memusingkan." Michael menghempaskan bokongnya di kursi yang jauh dari depan kamar tempat Mikaela di rawat.


Albert dan Michael meninggalkan rumah sakit, setelah kedatangan tambahan anak buah Albert.


...***...


Andi sedang menikmati nasi soto, di salah satu warung makan. Setelah berganti baju, dan membersihkan tubuhnya di warung tempat dia makan.


"Enak nasi soto nya?" tanya seorang pria yang memegang bahu Andi dari belakang.


"Enak, saya rekomendasikan," ucap Andi sembari menyantap makanannya, tanpa melihat siapa yang bicara.


Pria yang menyapa Andi, duduk di samping Andi.


"Nikmatilah, nanti didalam penjara. Tidak ada namanya nasi soto," ucap pria yang duduk di samping Andi.


Degh..


Andi mengangkat kepalanya dari nasi sotonya, dan menoleh kearah pria yang duduk di sampingnya.


"Hah ..!" mata dan mulut Andi bulat, saat melihat. polisi yang mengejarnya duduk di sampingnya.


Andi ingin berdiri, tetapi. Tangan polisi menekan bahunya, agar dia tetap duduk.


"Habiskan! sayang dibuang, katanya tadi enak," ujar polisi tersebut.


"Sudah tidak enak lagi Pak," ujar Andi dengan suara yang gemetar.


Matanya mengitari warung soto tempat dia makan, sang pemilik warung tidak ada lagi. Kini, segerombolan polisi yang duduk menatapnya.


"Jika sudah selesai, ayo. Kita menuju rumah tinggal gratis," ucap polisi yang duduk disisinya tadi


"Pak, apa salah saya? saya ini warga yang baik Pak, tidak pernah melakukan kesalahan. Saya ini selalu bayar pajak Pak, gaji bapak itu dari saya juga," ucap Andi.


"Karena gaji saya bapak ikut yang bayar, makanya Pak. Kami akan mengawal bapak menuju rumah bapak untuk sementara ini, sampai bapak terbukti tidak bersalah." tutur polisi dengan suara yang santun pada Andi.


Sedangkan polisi yang lain, berjaga-jaga. Takut, Andi melarikan diri kembali.


"Apa salah saya?" tanya Andi, dengan pura-pura tidak tahu letak kesalahannya.


"Di kantor polisi, akan bapak tahu."


...****...


To be continued...