
...Happy reading...
...***...
Albert mengerucutkan bibirnya, mengarah kepada Agra.
"Dia ingin kau mendekatkannya dengan Agra?" tebak Michael, matanya sedikit melebar.
"Ya, gila kan? betul-betul saudara kembar, menyukai pria yang sama," ucap Albert.
"Bro! jangan kau sampai terpikat dengan saudara Malika, ingat! kau sudah ada istri. Walaupun, pernikahanmu itu bukan atas kehendak kalian berdua. Tapi, itu pernikahan yang sakral. Tidak boleh jadi mainan..!" tutur Michael.
"Betul kata Michael, cintamu itu dulu pada Malika. Yang ini Mikaela, Lupakan duo saudara kembar itu. Buka hatimu untuk Jeanny." timpal Albert.
"Oh ya, bagaimana ceritanya. Kenapa, Jeanny hampir celaka?" tanya Albert.
"Hampir celaka? kenapa?" tanya Michael yang belum mendengar cerita Agra.
"Gara-gara rekomendasi dia..!" ujar Agra menunjuk Albert.
"Aku tidak sengaja, aku juga atas rekomendasi klienku. Yang berlibur kesana," kata Albert.
Agra menceritakan apa yang dialaminya saat menginap di resort, yang di rekomendasikan oleh Albert. Tentang arwah penasaran Lira yang menunggu sang suami.
"Hah! apa betul ada kejadian seperti itu? aku mengira, kejadian seperti itu hanya ada di dunia film saja." heran Michael, setelah mendengar apa yang menimpa Jeanny.
"Lihatlah..!" Agra memberikan rekaman CCTV di dalam ponselnya, supaya kedua temannya percaya dengan apa yang diceritakannya.
Mata Albert dan Michael tidak berkedip melihat apa yang mereka lihat dalam video, saat penyelamatan Jeanny yang berada di laut.
"Jeanny tidak sadar itu?" tanya Michael.
"Iya, matanya terus terbuka," jawab Agra.
"Sungguh mengerikan, aku tidak akan mau kesana. lihat, bulu tanganku berdiri." Michael menunjukkan, bulu ditangannya.
"Agra, jangan-jangan...." Michael tidak melanjutkan ucapannya, dia bangkit dari tempatnya duduk dan pindah ke samping Albert.
"Hih..penakut! sana, geser." Albert mendorong tubuh Michael yang mepet ke tubuhnya.
"Jangan-jangan apa?" Agra memicingkan matanya, menunggu apa yang akan Michael katakan.
"Dia mengikuti mu..!!" Michael mengatakannya, dengan suara yang sangat pelan.
"Gila kau..!" Agra mengambil bantalan kursi dan melemparkannya kepada Michael.
"Serius, aku merinding." Michael mengacungkan dua jarinya, mengatakan bahwa dia mengatakan yang sebenarnya.
"Diam kau Mich..!! kau membuat aku takut di tempatku sendiri." Albert kesal dengan Michael.
"Hahaha..! sorry." Michael tertawa terbahak-bahak, karena telah berhasil membuat kedua temannya takut.
"Sialan! aku kira kau benar-benar merasa ada yang ada aneh," ujar Albert, yang untuk sesaat tadi merasa takut juga.
"Santai Bro." ngekeh Michael.
*
*
Mikaela berada dalam kamar, dia mondar-mandir seraya mengigit kukunya. Otaknya terus berputar, mencari cara untuk melarikan diri dari rumah. Yang dikatakan oleh Albert, tempat teraman baginya.
"Tidak ada yang aku takuti, Maharani. Perempuan tua itu? cih..!"
"Aku harus keluar dari sini! aku harus menemui Agra. Hm..apa yang harus aku lakukan, agar bisa keluar dari sini? aku tidak mengenal satu orang pun di negara ini, teman-teman aku yang dulu. Aku sudah kehilangan kontak."
Mikaela dengan cepat menuju jendela yang ada di kamar, dan melihat satu mobil pergi meninggalkan rumah.
"Mereka pergi, semoga tidak ada orang lagi di rumah ini." Mikaela berjalan menuju pintu kamar, dan menempelkan telinganya ke pintu kamar. Untuk mendengarkan pergerakan diluar kamar.
"Tidak ada terdengar apa-apa." dengan nekat, Mikaela membuka pintu kamar.
"Tidak ada orang, sepertinya. Ada suara didalam kamar mandi." gumam Mikaela dalam benaknya.
Mikaela gegas mengambil tasnya, dan kemudian keluar dari dalam kamar. Dengan berjingkat, Mikaela melangkah menuju pintu depan. Matanya waspada, melihat kearah kamar mandi.
Mikaela memegang kenop pintu, dan membukanya dengan sangat pelan.
"Terbuka," ucapannya dalam hati, saat pintu bisa dibuka.
Mikaela sedikit menjulurkan kepalanya, untuk melihat situasi diluar rumah. Saat melihat, luar rumah dalam keadaan sepi. Mikaela langsung berlari keluar dari dalam rumah, dan menuju pintu pagar yang terbuka.
Mikaela terus berlari, tanpa berhenti. Walaupun, napasnya sudah terengah-engah. Tapi, dia tetap lari. Karena, dia tidak ingin berada didalam rumah yang membuatnya tidak bisa bernapas.
Setelah, merasa cukup aman. Mikaela berhenti berlari.
"Aman, aku harus kemana?" Mikaela bingung, kemana kakinya harus melangkah.
"Oh..aku ke villa saja, tempat itu tidak ada yang tahu. Nenek tua itu juga tidak tahu, aku harus berusaha sendiri. Aku tidak butuh pertolongan siapapun, mereka mendekatiku. Saat mereka membutuhkan uang, sekarang. Aku tidak akan perduli dengan saudara-saudara kakek, mereka semua sudah mati..!" geram Mikaela dengan saudara kakeknya, yang lepas tangan. Tidak mau melawan Maharani.
Mikaela mengeluarkan dompetnya, dan melihat uang dan kartu-kartunya masih utuh.
"Freedom..!" gumam Mikaela dalam benaknya.
*
*
Setelah melepaskan rasa rindu dengan Mama dan kamarnya, Jeanny gegas kembali.
Dalam taxi, kedua temannya menghubunginya dan mengajaknya untuk ketemuan.
Di sini dia berada, disalah satu cafe tempat nongkrong anak muda.
"Jean, bagaimana?" tanya Valerie.
"Bagaimana apanya? kalau bertanya yang jelas." Jeanny bertanya balik.
"Maper?" ulang Valerie lagi.
"Apa maper? yang aku tahu itu laper?" Jeanny memainkan bola matanya, mendengar pertanyaan Valerie yang tidak jelas.
"Malam pertama nyonya..!" timpal Bella, agar Jeanny paham dengan pertanyaan Valerie.
"Bilang saja malam pertama, pakai singkat kata. Pergunakan kata yang benar...!"
"Maaf Miss Jeanny." Valerie mengatupkan kedua tangannya di dada.
"Kalian kepo sekali, kalau ingin tahu rasanya. Nikah..!" Jeanny memainkan bibirnya, maju mundur.
"Belum ada jodoh," sahut Bella.
"Bagaimana dengan perjodohanmu Val?" tanya Jeanny.
"Batal..! gila, mana mau aku di jodohkan dengan anak dari kampung. Aku anak kota, di suruh tinggal di kampung? huh.. tidak ya..!" Valerie menggoyang-goyangkan jari telunjuknya.
"Jangan menghina pria dari kampung, kena batunya. bucin akut kau, Val..!" ujar Bella.
"Betul! seratus persen." timpal Jeanny.
"Batal, perjodohanmu?" tanya Bella.
"Iya, aku ancam Mama dan Papa. Jika mereka masih nekad, aku akan kabur," kata Valerie.
"Jean, suamimu." bisik Bella yang duduknya menghadap pintu masuk.
"What..! serius?" Jeanny tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Bella.
Valerie melihat kearah pandangan mata Bella, dan melihat Agra masuk kedalam cafe dengan langkah tegak. Tidak ada ekspresi terlihat dari raut wajah Agra.
Jeanny memiringkan kepalanya sedikit kearah belakang, karena dia duduk membelakangi pintu cafe.
Degh..
Pandangan matanya terserobok dengan mata Agra yang tajam.
"Alamaakk..!" Jeanny dengan cepat menarik pandangan matanya, dia menunduk dan menyeruput minumannya.
"Jean, sepertinya. Suami akan memakan mu." bisik Bella.
Tak..
Langkah kaki Agra berhenti tepat di samping kursi tempat Jeanny duduk.
Jeanny melihat sepatu Agra, sedikit demi sedikit. Jeanny mendongak dan nyengir menatap wajah Agra yang tidak ada ekspresi.
"Abang..!" Jeanny melambaikan jemari tangannya, senyum di bibirnya tercetak sempurna.
Bella dan Valerie tertawa dalam hati, melihat Jeanny. Seperti anak kecil yang tertangkap telah berbuat nakal.
Tanpa berkata-kata, Agra menarik Jeanny untuk berdiri dan langsung mengangkatnya.
"Abang...!" pekik Jeanny, saat tubuhnya melayang dan mendarat di bahu Agra.
Agra mengangkat Jeanny seperti mengangkat sekarung tepung, di panggul di bahunya.
Bella dan Valerie sontak terperangah, tidak mengira. Agra mengangkat Jeanny seperti itu.
"Abang...!" Jeanny meronta-ronta, tangannya memukul-mukul punggung Agra.
Pok..
Tangan Agra menepuk bokong Jeanny.
"Diam..!" titah Agra.
"Argh....!" pekik Jeanny, dia tidak perduli banyak mata yang memandangnya. Begitu juga dengan Agra, langkah lebar keluar dari dalam cafe.
...****...
To be continued..