
...Happy reading...
...***...
Cup..
Agra mendaratkan ciuman di sudut bibir Jeanny yang masih termangu.
Jeanny diam, tidak menjawab apa yang dikatakan oleh Agra. Sepertinya, jiwa Jeanny masih belum berada ditubuhnya. Masih berada di awang-awang.😝
"Kenapa bengong? apa masih akan nakal, dan membantah apa yang suami katakan ?" Agra kembali bertanya, karena Jeanny masih diam.
Jeanny menggelengkan kepalanya, dengan raut wajah bengong. Matanya bulat menatap Agra.
Agra tidak dapat menahan tawanya, saat melihat raut wajah Jeanny.
Agra tertawa terbahak-bahak, dan menarik tubuhnya dari atas tubuh Jeanny. Dia telentang dan tertawa.
Setelah puas menertawai Jeanny, Agra menoleh kearah Jeanny.
"Belum diapa-apain, sudah seperti orang tidak bernyawa? hei..sadar.!" jemari Agra mengetuk kening Jeanny.
"Aduh..!" Jeanny tersadar.
"Abang..!" Jeanny memegang keningnya, dan mendelik menatap Agra.
"Kenapa? mau marah? bantah cakap suami."
Jeanny menggelengkan kepalanya.
Agra bangkit dan duduk dipinggir ranjang, membelakangi Jeanny. Tangannya mengambil mengutak-atik ponselnya.
"Bang, tidak jadikan?" tanya Jeanny.
Agra menoleh menatap Jeanny.
"Jadi apa?" tanya Agra yang pura-pura tidak tahu, dengan arah pertanyaan Jeanny.
"Itu." Jeanny menyatukan dua jari telunjuknya.
"Mau? apa sudah siap ?" Agra meletakkan ponselnya kembali ke atas nakas.
Agra merebahkan tubuhnya kembali keranjang dan mengangkat tubuhnya sedikit melihat Jeanny.
Jeanny menggelengkan kepalanya.
"Kalau belum siap, kenapa bertanya?"
"Sini ." Agra menarik tubuhnya kedalam pelukannya.
"Aku tidak akan memaksakan, jika belum siap. Maaf, aku tadi hanya kesal. Diluar sana, musuh masih mengintai kita. Please, jangan pergi dengan diam-diam. Maharani itu sangat kejam, dia juga ada gangguan mental. Jika dia sudah tertangkap, kehidupan kita akan normal. Tidak ada bodyguard lagi."
"Kenapa tidak diadukan kepada polisi saja,biar mereka yang bertindak," kata Jeanny.
"Bukti, kita belum ada cukup bukti. Mikaela mengatakan, dia ada bukti kejahatan Maharani. Tapi, dia tidak memberikannya dengan percuma. Dia ingin imbalan," kata Agra.
"Imbalan? dia minta uang? untuk menukar informasi?"
"Tidak, dia minta aku untuk menerima cintanya," kata Agra.
"Hah! cinta ditukar dengan informasi? hahaha! kenapa orang sekarang semakin aneh saja. Apa dikiranya rasa cinta itu segampang itu datang kehati kita." Jeanny menertawai permintaan Mikaela yang sangat tidak masuk akal menurutnya.
"Apa kau juga belum bisa melupakan pria itu?" tanya Agra tiba-tiba, mengusik kenangan Yudha dalam hati Jeanny.
"Pria yang mana?" tanya Jeanny.
"Berapa banyak pria yang ada dalam hatimu ini?" Agra menunjuk dada Jeanny.
"Hanya satu, dia yang pertama dan dia juga yang pertama menyakiti hatiku ini," kata Jeanny.
"Apa kau tidak bisa melupakannya?"
"Aku bisa melupakannya, tapi. Perbuatannya itu tidak bisa, sebulan lagi kami menikah. Dia datang dan mengatakan tidak bisa menikah denganku, karena dia akan menikah dengan gadis yang telah hamil anaknya." Jeanny menceritakan semua mengenai hubungannya dengan Yudha, suaranya bergetar saat bercerita.
Luka lamanya kini kembali terbuka, airmatanya sudah membasahi pipinya.
"Sudah, cukup! jangan ceritakan lagi, jika itu membuatmu ingat kembali dengan luka yang ditorehkannya." Agra merengkuh tubuh Jeanny dengan erat.
"Aku pura-pura kuat didepan Mama dan Papa, karena aku tidak ingin mereka khawatir. Tetapi, di sini. Sangat sakit." Jeanny menekan dadanya.
"Keluarkan semua, jika itu membuat hatimu tenang. Dan setelah ini, tidak ada tangisan lagi. Jangan lihat kebelakang." Agra melabuhkan kecupan di rambut Jeanny.
"Aku dulu gadis yang manis, mengikuti semua apa yang dikehendaki olehnya. Tapi, dia masih mengkhianati cintaku. Apa aku salah, jika tidak mau kembali padanya. Walaupun, dia mengatakan bahwa dia di jebak. Kenapa dia bisa di jebak? itu karena dia memberikan celah untuk wanita itu menjebaknya. Ya, kan? dia menyuruh aku untuk menjadi gadis manis, sedangkan dia keluar dengan wanita lain. Sekarang, tidak ada lagi Jeanny yang penurut. Jeanny anak manis." Jeanny mengeluarkan keluhannya, yang selama ini ada didalam hatinya.
"Abang harap, Jeanny kembali menjadi gadis yang manis," kata Agra.
"Kenapa?"
"Lucu, ketika mendengar Abang menyebut diri Abang," kata Jeanny.
"Aku.."
"Stop, jangan katakan aku. Abang, lebih enak ditelinga." Jeanny memotong ucapan Agra
"Abang," ucap Agra.
"Yudha bekerja di Star," kata Agra.
"Iya, waktu resepsi pernikahan. Baru aku tahu, apa Abang akan memecatnya?" tanya Jeanny.
"Urusan perusahaan tidak bisa dikaitkan dengan urusan pribadi," kata Agra.
"Baguslah," ucap Jeanny lega.
"Apa kau masih mencintainya?"
"Kalau aku tidak, Abang percaya?" tanya Jeanny.
"Tidak."
"Abang saja, bertahun-tahun. Tidak lupa dengan istri Abang," kata Jeanny.
"Aku tidak lupa, bukan karena rasa cinta yang masih ada. Tapi karena aku merasa bersalah, jika hari itu aku datang. Kecelakaan itu tidak akan terjadi." ucap Agra yang hanya mampu dikatakannya dalam hati.
"Karena Lisa, yang membuat aku bertahan." batin Agra.
"Jika Yudha tidak bersama dengan wanita itu lagi, apa mau kembali padanya ?" tanya Agra.
"Tidak!" jawab Jeanny tegas.
"Jika Abang dikhianati, seperti apa yang aku alami. Abang mau kembali lagi?" Jeanny membalikkan pertanyaan yang diajukan Agra tadi, kepada Agra.
Agra diam.
"Abang bingung untuk menjawabnya, mungkin. Karena Abang belum pernah mengalaminya," kata Jeanny, karena Agra tidak menjawab pertanyaan Jeanny.
"Aku juga pernah mengalami pengkhianatan, tapi. Karena ada yang mengikat, pengkhianatan itu aku maafkan," ucap Agra.
Jeanny melepaskan pelukan Agra, dia duduk dan menatap Agra.
"Sakit kan?" tanya Jeanny.
Agra menganggukkan kepalanya.
"Sakit, karena. Pengorbanan kita tidak dihargainya, aku menutup mata dengan pengkhianatan itu. Mungkin itu terjadi, karena aku terlalu larut dalam bekerja."
"Apapun alasannya, pengkhianatan tidak dibenarkan. Seorang istri, harus mendampingi suami yang bekerja untuk keluarga. Apa mau hidup hanya dengan cinta saja.," kata Jeanny.
"Apa kau akan setia padaku selamanya?" tanya Agra, matanya menatap Jeanny yang menatapnya.
"Aku akan setia, jika Abang setia. Tapi, jika Abang ketahuan Abang berbohong. Siap-siap saja, tidak ada kata MAAF. Cukup sekali dikhianati, jangan ada kedua kali lagi."
Agra mengangkat tubuhnya, tangannya melingkar di pinggang Jeanny. Dan menarik tubuh Jeanny mendekatinya.
"Jean." suara lembut memanggil nama Jeanny.
Tubuh Jeanny semakin mendekati tubuh Agra.
"Jeanny." Agra menyebut nama Jeanny lagi, suaranya serak dan berat.
Jeanny menatap Agra, Jeanny tidak mampu menolak tangan Agra yang menariknya. Hingga, Jeanny berada di atas tubuh Agra.
Tiba-tiba, Agra membalikkan tubuh Jeanny. Dan, sekarang. Tubuh Jeanny berada dibawah tubuh Agra yang belum mengenakan pakaian, hanya segitiga pengaman yang masih ada ditubuhnya.
Agra memandang mata Jeanny dengan mata yang berkilauan, Jeanny tahu. Apa yang diinginkan Agra saat ini, walaupun dia belum pernah menikah. Tapi, dia tahu. Saat ini, Agra menginginkannya.
"Apakah hari ini aku menyerahkan kesucian ku padanya, dia suamiku. Walaupun belum ada rasa didalam hati, tapi dosa menolaknya." hati Jeanny galau.
Bibir Jeanny terasa kering, jantungnya berdebar. Jeanny ingin menarik napas dalam-dalam, untuk menenangkan diri. Namun, tak mampu dia lakukan.
Jeanny memandang Agra tanpa daya untuk menolak, apa yang akan dilakukan oleh Agra. Wajah Agra semakin mendekati wajahnya.
Dan...
Agra mencium Jeanny dengan perlahan-lahan, tanpa ragu mendapatkan penolakan. Jeanny dapat merasakan sensasi yang mengalir kedalam dirinya. Jemari Agra menyentuh apa yang dapat di sentuhnya. Sedangkan bibirnya, menyesap titik sensitif yang ada ditubuh Jeanny.
...***...
To be continued..