
0099. King Night avec sa concubine (Malam Raja bersama selirnya)
“Duke of Edinburgh memberi Anda waktu satu pekan untuk membersihkan nama mantan Ratu serta pelayan yang berkhianat. Apa rencana Yang Mulia? dua hari lagi Duke of Edinburgh sudah kembali ke ibu kota untuk meminta keputusan Anda.”
Pertanyaan yang sejatinya sudah pernah didenger itu kembali dilontarkan oleh Selir Agung Robelia yang baru saja menyeka ujung bibirnya dengan serbet. “Apa Yang Mulia akan memenuhi keinginan Duke of Edinburgh, atau tetap melindungi saya? Termasuk melindungi Archduke Klautviz de Meré yang telah membantu saya di pengadilan?”
Lawan bicaranya yang tengah menyesap anggur merah berusia puluhan tahun dengan santai, tidak langsung menjawab. Selesai dengan anggun merahnya, ia kembali menyuapkan satu potong sedang daging sapi panggang berkualitas yang kaya akan citarasa lezat. Jamuan makan kali ini benar-benar dibuat dengan istimewa.
“Apa Anda masih kebingungan? Kedatangan Anda malam ini …membutuhkan bantuan dari saya?”
“Diam, kemudian habiskan dulu makan malam mu, Katarina. Malam ini aku terlalu lelah, jadi aku akan beristirahat di sini.”
Tentu saja pernyataan itu disambut dengan gembira oleh wanitanya yang sudah haus belaian sejak lama. Mereka bahkan sudah lama tidak menghabiskan waktu berdua, sekalipun cuma makan bersama. Belakangan ini tugas kerajaan membuat mereka sama-sama sibuk.
“Kalau begitu saya akan segera meminta pelayan untuk mempersiapkan tempat tidur untuk Yang Mulia. Saya juga akan bersiap …”
“Tidak perlu,” kata sang Raja, menghentikan secara tiba-tiba. “Tidak perlu repot-repot menyuruh pelayan. Aku hanya akan beristirahat saja malam ini.”
Setelah berkata demikian, sang Raja kembali menikmati makan malamnya. Ditemani oleh wanitanya yang belakangan ini sempat bersitegang. Kini, setelah sekian purnama, mereka kembali berada dalam ruang lingkup yang dapat dikatakan lebih baik.
“Jadi, apa keputusan Yang Mulia terkait keinginan Duke of Edinburgh? Sudahkah Yang Mulia memutuskannya?”
“Sudah,” balas lawan bicaranya yang sekarang meninggalkan meja makan. Berjalan dengan tangan membawa gelas berkaki yang diisi oleh anggur merah ke tepian jendela. “Keputusan sudah aku ambil.”
“Apa keputusan Yang Mulia? bolehkah beritahu saya?” tanya Selirnya, penasaran. Ia merengek, ingin tahu apa yang telah diputuskan oleh sang kekasih. Namun, sang kekasih tidak langsung menggubris.
“Kamu akan tahu lusa.”
“Kenapa tidak sekarang?”
“Karena aku tidak bisa mengatakannya sekarang,” jawan sang Raja.
Kedatangannya ke istana Selir setelah sekian lama, tentu saja membawa pertanda. Para penghuni istana Selir sampai terkejut ketika mendapati rombongan Raja mereka tiba di istana Selir. Tentulah mereka terkejut, karena mereka pendengar isu tak sedap mengenai dinginnya hubungan Raja dan selirnya belakangan ini.
“Baiklah, saya akan menunggu dengan sabar sampai lusa, karena saya punya keyakinan bahwa Yang Mulia tidak akan menyakiti saya.” Setelah berkata demikian, wanita bertubuh mungil dengan pakaian malam yang cukup menerawang itu memeluk pinggang liat sang kekasih dari belakang.
Untuk beberapa saat tidak ada respon atau reaksi apapun dari pemilik pinggang liat tersebut, baru pada sepersekian detik berikutnya, ada pergerakan. Selir Raja sempat waspada, takut-takut ia kembali mendapatkan penolakan. Belajar dari sebelum-sebelumnya, sang kekasih masih belum mendapatkan kestabilan dalam mengolah emosi. Salah mengambil langkah sekali saja, ia pasti akan mendapatkan kerugian.
“Lebih baik sekarang kita istirahat.”
Tuh, kan, menghindar? Atau memang sang Raja sedang ingin main rahasia-rahasiaan? Namun, bagi Katarina yang sudah lama menginginkan kebaikan sang Raja, tentu saja tidak dapat menolak ajakan tersebut. Kali ini kekasihnya itu yang datang sendiri, menghampiri, serta menawarkan diri untuk bermalam di peraduannya. Sebagai seorang wanita, ia tentu saja punya sisi “manja” yang ingin dipuaskan setelah perang dingin di antara mereka berlangsung.
Tiba-tiba Raja Robelia itu bertanya ketika mereka berdua telah menaiki ranjang. Siap menjemput mimpi bersama, setelah sekian lama menjaga jarak.
“Tentu saja. Anda adalah satu-satunya orang yang saya percayai. Anda tahu sendiri, saya yatim-piatu yang hidup sebatang kara semenjak memutuskan untuk menjadi wanita Anda.”
Fakta terakhir yang diungkapkan selirnya memang tidak salah. Ia hanya yatim-piatu yang tinggal sebatang-kara setelah memilih jalan ekstrim untuk menembus perbedaan status di antara mereka. Namun, itu adalah konsekuensi yang harus ditanggung dari jalan hidup pilihannya.
“Bagus, tetaplah percaya padaku, Katarina. Aku tahu kamu sangat mencintaiku,” ujar Raja Robelia itu seraya menarik dagu sang Selir agar wajah cantik itu mendongkrak ke arahnya. Satu kecupan singkat kemudian ia curi.
Yah, walaupun hanya satu kecupan singkat di bibir, bagi Katarina itu sudah lebih dari cukup untuk memulai lembaran baru. Namun, bukan berarti ia tidak waspada. Hubungan di antara mereka tidak polos seperti ini. Biasanya, walaupun terjadi perselisihan, mereka akan tetap terlibat hubungan panas yang menggelora di setiap malamnya. Beda dengan sekarang, karena sang kekasih begitu kentara membatasi hubungan fisik di antara mereka. Entah apa alasannya.
“Malam ini Anda benar-benar tidak menginginkan saya?” pancingnya dengan tangan sudah bergerilya di dada bidang sang kekasih yang tidak tertutup rapat, karena pakaian tidur bagian atasnya sudah tersingkap.
“Tidak. Aku hanya butuh teman tidur.”
“Ah, begitu rupanya,” gumam Katarina, lirih serta sedih.
“Jangan terlalu banyak berpikir.” Lamunannya kemudian dihancurkan oleh suara rendah sang kekasih, bersama dengan pinggang rampingnya yang direngkuh kian dekat. “Temani aku tidur dengan nyenyak malam ini. Belakangan ini aku kesulitan tidur.”
Dengan senang hati Katarina membalas perlakuan sang kekasih. Kian merapatkan tubuh, membawa dirinya merebah di antara dada bidang yang tersaji di hadapannya. “Itu karena Anda tidur tanpa saya.”
“Begitu kah?” gumam Raja Robelia yang sebenarnya sudah mulai jengah. “Tapi, aku tidak bisa tidur bukan karena dirimu. Melainkan karena mimpi yang berkaitan dengan mantan Ratu tercintaku,” lanjutnya di dalam hati.
“Sekarang Yang Mulia bisa tidur dengan nyenyak, karena ada saya.” Selirnya berbisik dengan percaya diri.
“Semoga saja,” respon Kaizen sebelum menutup mata dengan sempurna. Siap berjumpa dengan bayang-bayang istri tercinta yang kerap membuat tidurnya tidak nyenyak.
Tidak ada yang tahu jika ia mengalami gangguan tidur, karena terus diganggu bayang-bayang sang istri. Kemudian, di pagi hari ia akan merasakan rasa mual hebat yang mengocok perut, sehingga semua isi di dalamnya berlomba-lomba untuk dikeluarkan lewat mulut. Raja Robelia itu sejatinya benar-benar tersiksa, namun menutupi rasa tersiksanya dengan baik dari dunia. Biar Tuhan, dia, Kaelus, serta pelayan pribadinya yang tahu.
Lalu, soal Khayansar, ia telah mengambil sebuah keputusan besar. Bersamaan dengan itu, ia juga tengah menunggu kabar dari wilayah seberang perbatasan Robelia. Menanti kabar soal adik tirinya yang belum ditemukan hingga detik ini. Entah apa yang sebenarnya terjadi di medan pertempuran, sampai-sampai Elang Muda Kekaisaran itu bisa menghilang begitu saja. Rencananya, jika lusa masih tidak ada kabar dari wilayah seberang perbatasan Robelia, ia akan mengirimkan Kaelus beserta seribu pasukan berkuda untuk memerangi wilayah seberang perbatasan Robelia. Bagaimana pun caranya mereka melawan, ia akan mengupayakan para pejuang Robelia untuk merebut kekuasaan pemimpin wilayah seberang perbatasan Robelia.
💰👑👠
TBC
Gimana readers setelah baca bab ini 🤧 Masih mau lanjut? Spam komentar NEXT di sini 👇
Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗
Tanggerang 02-08-23