
0056. Le Retour du Premier Amour de Kayena (Kembalinya cinta pertama Kayena)
“Bagaimana, Matahari Kecil Kekaisaran? Bunganya cantik?”
“Jongmal meomu yeppeo!” seru pemilik gelar Matahari Kecil Kekaisaran tersebut. Menggunakan salah satu bahasa kerajaan Asia yang ia pelajari.
“Matahari Kecil Kekaisaran mengatakan; benar, cantik sekali,” ujar penerjemah bahasa yang mengiringi perjalanan mereka semenjak tiba di taman milik keluarga Grand Duke Pexley.
“Bunga-bunga di sini dirawat dengan baik, oleh karena itu keindahannya selalu terjaga.” Pemuda bertubuh jangkung berusia 16 tahun yang bertugas menjadi pemandu Matahari Kecil Kekaisaran Astoria itu tampak detail menjelaskan setiap hal yang menarik perhatian sang Matahari Kecil Kekaisaran.
Sedangkan pemilik gelar Matahari Kecil Kekaisaran itu sejak tadi cukup hidmat mendengarkan sembari sesekali membuka buku catatan yang sengaja ia bawa.
Katanya, sang ayah yang merupakan Kaisar Astoria yang saat ini berkuasa memberinya tugas untuk menghafal beberapa informasi penting terkait negeri Robelia.
“Bukan bunganya yang aku bilang cantik,” katanya tiba-tiba. Membuat pemuda yang beda 9 tahun dengannya tampak menautkan kening.
Khayansar de Pexley sejak tadi membahas topik soal tumbuhan yang di tanaman di tanah luas milik keluarga Pexley. Pasalnya calon pewaris tahta Kekaisaran Astoria itu tampak tertarik. Lantas, kenapa Matahari Kecil Kekaisaran bisa berkata demikian? Apa ada hal lain yang menarik perhatiannya?
“Tapi, Tuan Putri Pexley.”
Tertegun. Itu adalah respon Khayansar yang saat baru berusia 16 tahun, namun sudah memiliki tubuh setinggi gapura kabupaten. Lengkap dengan bahu lebar yang pelukable dan sandarable hasil latihan di Akademi Militer.
“Maksud Matahari Kecil Kekaisaran … Adikku Cayena, cantik?”
“Benar.” Tanpa malu apalagi dusta, Matahari Kecil Kekaisaran yang tampak tampan dan menggemaskan dalam balutan pakaian khas kerajaan Astoria berwarna putih dan lilac menjawab. “Boleh kah aku membawa Tuan Putri Pexley ke Astoria untuk dijadikan Putri Mahkota? Ayahanda pernah berkata jika aku diperbolehkan menikahi Putri manapun, asalkan keluarga kerajaan mengenal keluarganya dengan baik.”
Khayansar hampir saja ternganga, namun respon shock-nya sudah diwakili oleh sang adik—Cesare de Pexley yang entah berantah muncul dari mana bersama topik utama dalam pembicaraan ini. Little Kayena de Pexley.
“Yang Mulia Putra Mahkota tidak bisa membawa Kayena begitu saja, Kayena adalah milik kami,” katanya dengan bersungguh-sungguh. Tangan kirinya menggenggam erat tangan mungil Kayena yang baru berusia tiga tahun jalan empat tahun. Kayena kecil tampak menggemaskan dengan gaun tradisional yang diberikan Permaisuri Astoria sebagai hadiah.
“Aku menyukai Adik kalian,” ucap Matahari Kecil Kekaisaran Astoria yang baru saja berusia 7 tahun. Masih terlalu dini baginya berucap soal rasa suka. Namun, dengan gamblang ia menatap Khayansar dan Cesare tanpa rasa takut. Seolah-olah meyakinkan mereka jika niatnya akan terlaksana jika bicara langsung pada sang ayahanda.
Pemilik nama Kwang Sun yang berarti sangat bagus itu merupakan putra mahkota Kekaisaran Astoria. Sebuah kekaisaran yang ada di semenanjung Astoria, masih bagian dari wilayah Asia. Wilayah yang diberkahi dengan sumber daya alam melimpah-ruah, sehingga bisa menjual berbagai hasil alam ke negeri-negeri adikuasa di Eropa.
Kedatangan keluarga kekaisaran Astoria sendiri ke Robelia untuk memenuhi undangan terkait kerjasama di antara dua negeri. Kebetulan, Kaisar Astoria secara pribadi mengenal Grand Duke Pexley. Oleh karena itu, Kaisar dan Permaisuri berkesempatan untuk mengunjungi estat keluarga Pexley yang berada di Kyen. Mereka turut serta membawa putra mereka, yaitu Putra Mahkota Kwang Sun. Matahari Kecil Kekaisaran yang menuruni ketampanan, kecerdasan, serta keuletan kedua orang tuanya dalam menjalin kerja sama antar sesama.
Siapa yang menyangka jika Matahari Kecil Kekaisaran Astoria akan langsung tertarik pada Tuan Putri kesayangan 3 pria beda usia dari keluarga Pexley?
Kayena kecil juga tampak lengket dengan Kwang Sun yang baru dikenalnya. Usia mereka terpaut 4 tahun, menjadikan mereka tampak seperti adik-kakak beda negeri. Namun, Matahari Kecil Kekaisaran enggan disamakan dengan Khayansar dan Cesare yang merupakan kakak bagi Kayena. Sejak awal ia sudah mengklaim Kayena sebagai calon permaisuri Astoria, sekalipun ia pernah mendengar langsung dari mulut Putra Mahkota Robelia yang saat itu baru berusia 7 tahun; jika kelak Kayena akan menjadi Ratu di Robelia, bukan Permaisuri di Astoria.
Pertemuan pertema yang bisa dibilang singkat itu pada kenyataannya sangat berkesan bagi Kwang Sun. Ia tidak pernah lupa pada nama Kayena de Pexeley, sekalipun puluhan tahun telah berlalu. Namun, keinginannya untuk menjadikan Kayena sebagai Permaisuri urung terlaksana, ketika neneknya mengadakan pemilihan Putri Mahkota tanpa persetujuannya. Dari pemilihan tersebut, keluar putri Menteri Pertahanan Astoria sebagai pemenang, yang kemudian diangkat menjadi Putri Mahkota sekaligus calon istri Raja Astoria berikutnya. Di waktu yang bersamaan, Kwang Sun mendapat kabar soal pernikahan Kayena dengan Putra Mahkota Robelia. Kaizen Alexander Kadheston.
Setelah sekian tahun berlalu, kini mereka dipertemukan kembali dalam situasi yang bisa dibilang … lebih kondusif. Mengingat hanya ada Kayena dan tentu saja Kwang Sun yang sekarang telah menjadi seorang Kaisar. Tampak semakin rupawan dengan pakaian kebesaran seorang Kaisar Astoria.
“Apa kamu masih mengenaliku, Kayena?”
Kayena kembali mendapatkan kesadaran setelah menerima pertanyaan yang sama. “Iya, Yang Mulia. Saya … mengenali Anda.”
“Siapa aku?” tanya Kwang Sun dengan suara beratnya yang terdengar sangat ramah di telinga. “Panggil nama ku, Kayena. Tolong,” pintanya.
Kayena sampai menunduk, menghalau akses kontak mata tercipta di antara mereka. Entah kenapa ia terlalu sungkan menatap wajah rupawan Kaisar Astoria.
Kaysan; berarti seseorang yang bijaksana. Nama yang digunakan Kwang Sun ketika pertama kali berkenalan dengan Kayena. Kayena ingat betul bagaiman dulu ia bisa mengingat wajah dan nama Kaysan, karena pada pertemuan kedua mereka, Kwang Sun maupun Kayena sudah sama-sama beranjak remaja.
“Jadi kamu masih mengenaliku, Kayena.”
Sebagai jawaban, Kayena menganggukkan kepala sopan. Setelahnya ia mendengar gemercik kain, menandakan jika pria yang duduk di depan sana pasti baru saja beranjak.
“Senang bisa bertemu dengan mu lagi.”
Suaranya pun terdengar semakin dekat. Kayena yakin seratus persen jika sekarang ia bisa mendengar suara langkah kaki serta mencium aroma harum maskulin yang membuat perutnya tiba-tiba mual dan kepalanya berputar. Tunggu, ini bukan karena efek salah tingkah. Melainkan karena … Kayena juga tidak tahu kenapa. Buru-buru ia membekap mulut serta hidungnya dengan kedua tangan.
“J-angan mendekat, Yang Mulia Kaisar.”
Pria rupawan itu berhenti tepat di depan Kayena. “Ada apa? wajah mu tampak pucat?” kecemasan langsung tergambar di wajahnya.
“Saya ….”
“Tunggu sebentar, biar aku panggilkan tabib,” potong Kaisar Astoria yang ternyata mahir menggunakan bahasa Inggris serta Prancis, bahasa yang Kayena gunakan untuk berkomunikasi sehar-hari.
“Tidak perlu, Yang Mulia Kaisar. Saya hanya perlu …” Kayena menelan kalimatnya lagi, ketika mual dan pusing yang melanda kian menjadi-jadi. Membuat pandangannya tiba-tiba mengabur.
Sebisa mungkin ia tetap menjaga kesadaran, supaya tidak ambruk begitu saja di depan cinta pertamanya pada zaman kanak-kanak. Namun, terkadang realita tidak seindah ekspetasi.
Sebelum Kayena sempat melarikan diri, kesadarannya sudah semakin menipis. Sebelum benar-benar habis, ia masih sempat mendengar suara Kaisar Kwang Sun atau Kaysan yang memanggil namanya dengan risau. Setelahnya, Kayena hanya melihat kegelapan.
💰👑👠
Kedatangan rombongan Kayena di tanah Astoria sudah tersebar. Terutama di segala penjuru istana Kekaisaran Astoria. Rumor mulai bertebaran semenjak Kayena tiba, hingga menghadap sang Kaisar. Wanita cantik dari Robelia itu tidak keluar lagi dari peraduan pribadi Kaisar, sehingga membuat banyak pihak berspekulasi yang tidak-tidak. Ada pula pihak yang merasa senang, karena pada akhirnya, setelah Putri Mahkota wafat, Kaisar menunjukkan tanda-tanda akan segera memiliki Permaisuri baru.
Padahal, kenyataanya Kayena sedang mendapatkan perawatan di dalam peraduan sang Kaisar. Tabib istana—orang yang bekerja mengobati orang sakit secara tradisonal—dipanggil langsung untuk mengecek kondisi kesehatan Kayena. Kima yang mendapati Kayena jatuh pingsan sempat risau, namun ditenangkan oleh tangan kanan yang dikirim Khayansar. Dalam rombongan mereka juga diikutsertakan seorang dokter dari Angkatan Laut yang cukup mendalami bidang kesehatan serta memiliki jam terbang terbilang tinggi. Jadi, Kayena langsung ditangani oleh dua orang ahli dalam bidang kesehatan.
“Bagaimana?” tanya Kwang Sun yang tidak pernah beranjak sedikitpun dari tempat tidurnya—di mana Kayena berbaring tak sadarkan diri.
Tabib yang sempat berdiskusi dengan tentara yang ahli dalam bidang kesehatan itu menghadap Kaisar, kemudian menjawab sambil menunduk. “Menurut hasil pemeriksaan, ditemukan denyut nadi yang terus meningkat pada tubuh Nona Kayena.”
“Apa artinya? Apa dia sakit parah? Atau hanya efek kelelahan akibat menempuh perjalanan jauh?” cecar Kwang Sun dengan tangan menggenggam telapak tangan kanan Kayena.
Tabib itu semakin menunduk, kemudian mengucapkan sebuah kalimat yang berhasil membuat mereka semua—yang terdiri dari Kwang Sun, Kima, serta tangan kanan Khayansar, terdiam dengar keterkejutan yang menimbulkan banyak tanda tanya di kepala.
“Kemungkinan besar telah terjadi kehamilan pada Nona Kayena.”
💰👑👠
TBC
Catatan : Cerita ini hanya fantasi, jadi jika ada kesamaan nama tokoh/tempat, bukanlah sesuatu.ang disengaja.
Sumber semua foto; pinterest.
Gimana readers setelah baca bab ini?
Masih mau next? Spam komentar NEXT di sini 👇
Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗
Tanggerang 11-06-23