
0060. Cadeaux Pour Le Roi et Sa Maitresse (Hadiah untuk Raja Tiran & gundiknya)
Aroma harum yang khas dan kuat tercium ketika earl grey tea dituangkan ke dalam cangkir di hadapan Raja Robelia. Jenis teh hitam yang dicampur minyak bergamot dari jeruk serta lemon terbaik itu sangat popular di Inggris. Biasanya, para pecinta teh akan menikmatinya setiap hari, tidak terkecuali mantan istri sekaligus Ratunya. Menurut penuturan mantan pelayan yang bekerja untuk Ratu Robelia itu, earl grey tea hampir tidak pernah absen di-restok ketika persediaan sudah menipis. Sama seperti Chamomile tea, earl grey tea juga sangat disukai oleh wanita cantik itu.
Pagi ini, entah evil dari mana yang membisiki telinga, sehingga ia tiba-tiba meminta dihidangkan earl grey tea hangat, alih-alih secangkir kopi yang biasanya menemani agenda rutin di pagi hari. Omong-omong, sudah satu minggu berlalu semenjak kehilangan mantan istri sekaligus mantan Ratunya itu. Sampai detik ini pencarian masih tidak membuahkan hasil. Dari kaca mata pengamatan pun, keluarga Pexley tampak masih tenang-tenang saja. Sampai-sampai memunculkan opini; bahwa semua ini telah mereka rencanakan.
“Salam hormat untuk Matahari Kekaisaran Robelia.”
Kaizen, Raja Robelia yang pagi itu berpakaian dinas militer mengangkat pandangan ketika mendengar sebuah sapaan. Di depan sana—lebih tepatnya sekitar 5 langkah dari pintu masuk ruang kerjanya, berdiri dua orang pria yang membawa sebuah peti berukuran sedang. Mereka masuk dikawal oleh Kaelus.
“Siapa mereka, Kael?”
“Pembawa pesan dari Kyen, Yang Mulia.”
“Pembawa pesan?” bingung Kaizen. “Apa yang kalian bawa?” tanyanya langsung pada kedua pria yang dikatakan sebagai pembawa pesan dari Kyen tersebut.
“Surat dan hadiah dari Duke of Edinburgh, Yang Mulia.”
Kening Kaizen berlipat-lipat ketika mendengar gelar bangsawan milik Khayansar diucapkan. Entah apa yang akan dibahas mantan kakak iparnya itu. Apa soal Kayena?
“Bawa kemari suratnya,” titah Kaizen.
Salah satu dari dua pria itu kemudian maju. Menghadap Raja Robelia guna memberikan sepucuk surat yang dilengkapi dengan lambang kehormatan milik Duke of Edinburgh. Kaizen membukanya dengan segera setelah menerima surat tersebut. Membaca dengan seksama setiap untai kalimat yang dituangkan di atas selembar kertas tersebut.
“Arrete de chercher mon frére, car tu n’es plus rien pour lui. Vous n’avez pas le droit de simplement savoir où il se trouve. J’ai aussi apporté un petit cadeau d’un village reculé. Votre maitresse aimera certainement le cadeau que je vous ai offert.”
Singné : Duke of Edinburgh
(Hentikan pencarian terhadap Adikku, karena kau bukan siapa-siapa lagi baginya. Kau tidak berhak untuk sekedar mengetahui keberadaannya. Aku juga membawakan hadiah kecil dari sebuah desa terpencil. Wanita simpanan mu pasti suka dengan hadiah yang aku berikan).
Tertanda : Duke of Edinburgh
“Hadiah?” kebingungan masih belum sirna ketika Kaizen selesai membaca sepucuk surat yang dikirimkan Khayansar. Ia juga penasaran, kenapa tiba-tiba Katarina dibawa-bawa dalam surat tersebut. “Apa isi peti yang kalian bawa?”
“Kami diperintahkan untuk membukanya ketika menghadap Anda bersama Selir Katarina.”
Kaizen menyipitkan mata. “Kau tidak memeriksanya, Kealus?”
“Tidak, Yang Mulia,” jawab Kael jujur. “Mereka berkata jika hadian yang dibawa tidak berbahaya. Bahkan Duke of Edinburgh telah memberikan jaminan dengan stempel miliknya.”
Setahu Kaizen, Khayansar tidak akan gegabah dalam memberikan stempel. Itu berarti jika hadiah yang dikirimkan olehnya tidak mengandung unsur yang membahayakan. Namun, tetap saja ia dibuat penasaran dengan isinya.
“Segera panggil Selir Agung Katarina, Kaelus. Beritahukan kepadanya jika aku menunggu kedatangannya dalam waktu setengah jam.”
Kaelus mengangguk. Ia kemudian pamit undur diri guna menyampaikan pesan tersebut pada selir Agung Katarina yang kebetulan tidak berada di istana selir. Wanita bertubuh mungil itu pada waktu yang bersamaan tengah berada di istana Ratu untuk mengambil beberapa dokumen dari ruang kerja Ratu Robelia. Jika bukan karena alasan pekerjaan, ia tidak mungkin mendapat izin untuk memasuki kawasan istana Ratu.
Semenjak Kayena meninggalkan Robelia, izin masuk ke wilayah istana Ratu diperketat dari sebelumnya. Tidak boleh sembarang orang yang masuk. Yang tinggal di wilayah tersebut juga hanya para pelayan yang telah mengabdi lebih dari 5 tahun pada Kayena—terhitung semenjak Kayena masih menyandang gelar sebagai Putri Mahkota. Kaizen tidan ingin istana Ratu rusak atau disalahgunakan, selama pemiliknya pergi untuk sementara waktu. Ia ingin istana Ratu tetap terjaga, sehingga tidak ada perubahan sebelum dan sesudah ditinggalkan pemiliknya.
“Yang Mulia Selir, semua dokumen yang Anda cari sudah dikumpulkan.”
“Kita pergi sebentar lagi,” sahut Selir Agung Katarina yang tengah menjajal kursi kerja milik Kayena. “Nyaman juga,” komentarnya.
Selain luas, ruang kerja milik Kayena juga nyaman dan menyenangkan. View yang tergambar dari balik jendela juga dapat menyegarkan mata yang lelah akibat seharian memeriksa dokumen atau sekedar laporan keuangan. Dinding-dinding berwarna putih dan keemasan dilapisi oleh perpustakaan yang menempel, hingga menyentuh langit-langit ruangan. Menjadi rumah bagi berbagai macam buku yang dapat mempermudah dalam mengasah wawasan. Tak lupa ada unsur flora yang kian menghidupkan suasana, seperti bunga-bunga hidup yang ditanam dalam pot.
“Apa aku cocok duduk di sini, Kyara?”
Pelayan muda yang memeluk beberapa buku serta gulungan dokumen itu tampak menggelengkan kepala. “Tidak untuk saat ini, Yang Mulia,” jawabnya jujur.
“Kenapa?” sentak Katarina, tidak terima. “Bukan kah tempat ini sudah siap untuk menerima pemilik baru?”
“Benar, Yang Mulia,” sahut Kyara lagi. “Namum, menjadi seorang Ratu tidaklah semudah yang Anda bayangkan. Dari riset yang saya lakukan, menjadi seorang Ratu, sekaligus pendamping Matahari Kekaisaran, itu artinya Anda sudah siap menyerahkan jiwa dan raga Anda untuk Robelia.”
Katarina berdecak mendengarnya. “Kata-kata mu terlalu rumit untuk dimengerti,” balasnya. “Bagiku, menjadi Ratu itu mudah. Setelah Kayena pergi, aku tinggal mengandung penerus Raja Robelia agar dapat menempati posisi Ratu.”
“Jika jalur itu yang Anda pilih untuk menjadi Ratu, lantas bagaimana dengan kinerja Anda setelahnya? Selain melahirkan seorang pewaris tahta, Anda juga akan dituntut untuk menjadi istri, ibu, serta Ratu yang layak bagi rakyat. Apakah Anda sanggup, Yang Mulia Selir?”
Katarina mendesah kesal seraya mengebrak meja. “Kau telah merusak angan-angan ku dengan kalimat sial*n itu, Kyara!”
“Maaf, Yang Mulia. Saya tidak bermaksud demikian. Saya hanya …”
“Stop it!” potong Katarina jengah. “Sudah aku bilang—“
“Yang Mulia Selir …”
“Diam. Aku bilang diam!” seru Katarina marah. Ia kemudian menolehkan kepala ke arah pintu masuk, di mana suara yang baru saja menyela berasal. “Kau …”
“Saya datang membawa perintah Raja.”
Katarina sempat mengira jika yang baru saja menyela adalah salah satu pelayannya. Ternyata tangan kanan Kaizen; Kaelus.
“Tumben,” gumam Katarina sembari beranjak dari kursi yang ia duduki. Semua itu tak luput dari pantauan Kaelus.
“Satu lagi, Yang Mulia Selir.” Seharusnya Kaelus segera beranjak, kemudian pergi. Dikarenakan tugasnya telah dilakukan sebagaiman mestinya. Namun, ia hendak memberikan warning terlebih dahulu pada wanita simpanan tuannya. “Raja telah berupaya keras untuk melestarikan setiap jejak yang ditinggalkan Ratu Kayena. Jika beliau sampai mengetahui kelancangan Anda yang baru saja menduduki kursi itu, kira-kira apa lagi yang akan beliau berikan selain umpatan dan hukuman?”
“Kau—“
“Anda jangan sombong, hanya karena sekarang Anda adalah satu-satunya wanita Raja. Jangan lupa jika sebelum Anda, ada wanita lain yang sempat singgah di hati Raja,” ujar Kaelus, memotong kalimat Katarina lagi dengan sebuah fakta tidak mengada-ngada.
“Tutup mulut mu, pengawal rendahan. Sebelum aku memotong lidah mu!” Katarina berang, tentu saja. Siapa Kaelus, sampai-sampai berani menakut-nakuti dirinya dengan fakta tersebut.
“Jangan pernah lupakan fakta jika saya lebih lama berada di sisi Yang Mulia Raja, ketimbang Anda,” balas Kaelus. “Anda pikir bisa dengan mudah menyingkirkan tangan kanan Raja?”
Katarina tersenyum miring. “Aku pasti akan menyingkirkan kamu suatu hari nanti!”
“Coba saja,” sahut Kaelus. Masih dengan raut wajah datar dan tenang, layaknya air yang tak terusik sama sekali. Sekalipun ada angin rebut yang meluluhlantakkan sekitarnya. “Jika hari itu tiba, maka Anda juga akan mendapati kenyataan bahwa Anda telah menyingkirkan satu tangan Raja. Setelahnya, Anda akan melihat bagaimana Raja hidup tanpa tangan kanannya.”
Puas membuat wajah Selir Raja mengeras, Kaelus pun berbalik badan begitu saja. Membiarkan Katarina menatap punggung tegapnya dengan tatapan seumpama laser. Tergambar jelas dendam kesumat Katarina pada pria pemilik wajah tegas tersebut.
Setelah perdebatan singkat dengan Kaelus, Katarina langsung bergegas pergi menuju istana Raja. Lebih tepatnya tempat kerja pria rupawan yang diidamkan oleh para Senorita bahkan Senora bangsawan di luar sana.
“Yang Mulia memanggil saya?”
“Hm. Duduklah,” kata Kaizen ketika Katarina sudah tiba di ruangannya. “Ada hadiah yang ingin aku tunjukkan pada mu.”
“Hadiah?” binar tampak menyelimuti netra Katarina. Sudah cukup lama Kaizen tidak memanjakannya dengan berbagai hadiah istimewa. Namun, hari ini adalah pengecualian. Mungkin ini adalah awal baik bagi hubungan mereka yang sempat renggang.
“Untuk saya?” katanya ketika sudah duduk di samping Kaizen. Tak lupa meninggalkan kecupan singkat sebagai sapaan di bibir sang kekasih, walaupun tak direspon sama sekali.
“Untuk ku dan kau,” sahut Kaizen.
“Memangnya dari siapa hadiah yang Anda maksud?”
Kaizen menoleh. Memindai wajah wanita yang belakangan ini ia hindari karena … aroma parfum rose yang menempel di tubuhnya kerap membuat mual. “Duke of Edinburgh,” jawabnya.
Siapa sangka jika jawaban tersebut berhasil membuat Katarina terdiam cukup lama.
“Duke of Edinburgh? Tumben sekali,” responnya setelah beberapa saat terdiam. “Apakah Duke of Edinburgh memiliki tujuan tertentu lewat hadiah ini?” batinnya. “Lebih baik kita segera buka hadiah dari Duke of Edinburgh, Yang Mulia,” usul Katarina kemudian.
Kaizen mengangguk tipis, kemudian memberikan Kaelus kode untuk membuka peti berukuran sedang yang tadi dibawa oleh dua orang. Kaizen dan Katarina kompak menunggu dalam diam, ketika Kaelus membuka dan mengeluarkan isi dari peti tersebut. Rupanya ada sebuah karung berlumuran cairan berwarna merah seperti …
“Darah?” celetuk Katarina seraya menggunakan jari telunjuknya, mengarah pada noda merah yang dimaksud sebagai darah. Ia bahkan sampai beranjak dari tempatnya duduk.
Kaizen mengerutkan kening melihatnya. “Buka, Kaelus.”
“Baik, Yang Mulia.” Kaelus yang patuh kemudian membuka ikatan pada karung tersebut, kemudian mengeluarkan isinya dengan cara dibalik. Dengan demikian, isi karung tersebut akan berhamburan keluar dengan sendirinya.
Terungkapnya isi hadiah tersebut disambut dengan jeritan nyaring Katarina, serta keterkejutan yang juga tampak nyata di wajah Kaizen.
“Hadiah macam apa yang dikirimkan oleh Duke of Edinburgh, Yang Mulia?!” Katarina yang histeris dan ketakutan, langsung berbalik dan memeluk Kaizen.
Siap juga yang tidak histeris melihat 3 kepala manusia menggelinding begitu saja dari sebuah karung.
“Tenang,” ujar Kaizen seraya mengelus punggung Katarina yang tampak menegang. Pikiran dan tindakannya sedang tidak sejalan, dikarenakan isi kepalanya sedang memikirkan maksud dari tujuan Khayansar mengirimkan tiga kepala tersebut. Sedangkan tindakannya didasari oleh naluriah yang terjadi secara ilmiah.
“Kenapa pengawal Anda tidak memeriksanya terlebih dahulu,” dumel Katarina yang masih menyembunyikan wajahnya di dada Kaizen.
Kaizen tidak merespon apapun. Isi kepalanya masih berkelana kemana-mana, sampai ia mengingat isi dari pesan yang dikirimkan oleh Kaizen. Tindakan yang ia lakukan berikutnya adalah membentangkan jarak di antara mereka, kemudian menatap kedua mata wanitanya dengan seksama.
“Jawab satu pertanyaan ku dengan jujur, Katarina.” Kedua tangannya menahan kedua lengan Katarina dengan erat. “Apa kau … mengenal mereka?”
“T-idak!” Katarina menjawab dengan tergagap. “Saya tidak mengenal mereka sama sekali.”
“Benar kah?” selidik Kaizen. Tatapannya masih terkunci pada netra Katarina yang bergerak gelisah. “Lalu mengapa Duke of Edinburgh mengatakan jika kau akan menyukai hadiah yang dia kirimkan.”
💰👑👠
TBC
Catatan : Cerita ini hanya fantasi, jadi jika ada kesamaan nama tokoh/tempat, bukanlah sesuatu yang disengaja. Sumber semua foto; pinterest.
Gimana readers setelah baca bab ini? Masih mau next? Spam komentar NEXT di sini 👇 soalnya hari ini aku bakal double up 😘
Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗
Tanggerang 16-06-23